Friday, November 30, 2007

masih belajar

aku menjumpaimu bagai sisa igau panjang

dari mimpi yang lengang.

Kau datang dengan kegelapan,

sisa cahaya berkilat dari pedang berkarat,

Ksatria terluka atau

penjahat yang nyaris tamat riwayat.

Semua ku abai-tanggap,

aku mesti sigap menerima sergapmu

aromamu serupa maut,

kuhirup dalam,

sebelum akhirnya sadar,

wajahmu lembayung mawar

dan tawamu adalah

lagu musim semi

kau bukan mati

yang tengah kunanti

belajar bikin puisi

[kita]

-untuk bintang merah-

....

”Barangkali kita ada dalam

lesatan panah jam

yang kerap tenggelam”

Pun berjatuhan bersama guguran

almanak harian

Kita kerap beradu sentuh

dalam rindu dendam dan rengkuh,

lalu lepas,

Hingga

kadang

hempas..

Namun kita jua

kerapkali

paling mengerti,

saling pahami

Bahwa dalam hidup yang

singkat

dan

tak

ramah ini,

terbentang sunyi,

Isyarat hati

yang

tak melulu berbunyi.

Bandung, 2-3 November 2007

Kawanku,

Jika kita terbuang,

kuputuskan

Tak larut di pusaran

Kawanku,

Kuputuskan pulang

Memungut arah kenangan hilang

Bernama kampung halaman

Kawanku,

Kita acap bersilang terka

Meludah murka,

Tetapi berulangkali di degup jantungmu

Aku rebah

Saat gelisah mulai buncah

Atau saat letih menagih rintih

-2007-

mengingatmu,

hanya

mengeja luka dan leka

nyeri dan jeri

tanpa nama,

tanpa aksara

bahkan,

tanpa

airmata.

-2007-

Wednesday, September 19, 2007

Tugas Kuliah

SEKS di DEPAN KAMERA[*])

Berawal dari tersebarluasnya video yang berisi rekaman prosesi hubungan intim antara seorang mahasiswi UNPAD dan mahasiswa ITENAS yang kemudian beredar di pasaran dengan tajuk “Bandung Lautan Asmara”, seks di depan kamera kini bukan lagi sesuatu yang asing. Baik foto maupun video semacam itu bersilangan di keseharian kita. Bagaimana mungkin hal tersebut terjadi?

Beberapa kasus berawal dari masalah dengan keluarga. Adanya komunikasi yang timpang membuat anak memilih bergaul lepas tanpa batas. Selain itu, seks, dalam masyarakat timur nyaris sinonim dengan tabu. Kontrol norma yang ketat mengerat-ngerat hal-hal yang berbau seks hingga pendidikan seks tak pernah mendapat tempat yang terhormat dalam kurikulum pendidikan. Sedangkan masa remaja adalah masa yang penuh dengan rasa ingin tahu, terkadang rasa ingin tahu itu sangat besar hingga tak lagi bisa menunda untuk terjawab. Mulailah secara sembunyi mereka menonton video porno, dan sebagian dari mereka membawanya ke tataran praktis tanpa pengetahuan yang cukup akan keamanan dan kesehatan dalam berhubungan intim. Beberapa kawan di daerah pedesaan yang terjerat masalah aborsi dan menikah karena hamil tidak mengetahui bahwa berhubungan seks dapat menyebabkan kehamilan.

Kemajuan teknologi, dalam hal ini penemuan kamera digital, ponsel berkamera dan merebaknya warnet, tak dapat dipungkiri memiliki andil tersendiri dalam meledaknya fenomena seks di depan kamera. Kini, saat kamera digital dan ponsel berkamera telah banyak di pasaran, semua yang memilikinya, atau mungkin kenal dengan orang yang memilikinya, dapat merekam atau menjepret adegan mesra mereka. Tak pelak dari murid SMP, selebritis, hingga anggota DPR memiliki rekaman yang telah tersebar luas di masyarakat. Dengan banyaknya warnet, masyarakat memperoleh akses tak terbatas untuk sekedar melihat, atau ikut memasarkan.

Hal terakhir yang merupakan penyebab fenomena tersebut adalah mengglobalnya ideologi kapitalisme yang menjadikan seks dan tubuh sebagai komoditi yang dapat didaur ulang tanpa henti. Situasi negara yang belum pulih benar menyebabkan anomie, dimana tradisi dan norma silam dianggap basi, sedang masyarakat tak jua menemukan pengganti. Disinilah, kapitalisme berbiak subur. Semakin banyaklah orang berpaling pada materi, berharap dengan begitu akan merasa yakin kembali pada sesuatu—apapun itu yang dapat mereka percayai.

Seks di depan kamera adalah sesuatu yang serius, hingga negara mesti berpartisipasi dengan memasukkan pendidikan seks sejak dini dalam kurikulum resmi sekolah. Selain itu, perlu ada pengaturan dalam dunia maya, agar orang tak lagi dapat serampangan mengakses, atau terutama meng-upload video atau foto porno. Tak lupa, tindakan tegas bagi produsen dan distributor foto maupun video porno. Pada tingkatan keluarga pun hendaknya diwujudkan komunikasi yang sehat, hingga masalah seperti seks dapat dibicarakan dengan baik dan benar, hingga anak/orangtua tak melakukan hal-hal yang dapat merusak citra keluarga.

Kini, sebagian kaum muda telah sadar akan bahaya seks di depan kamera. Beberapa memulai kampanye “Jangan Bugil didepan Kamera”. Kiranya, kampanye tersebut dapat menyadarkan semua orang, terutama kaum muda, untuk bertindak lebih bijaksana dan menghormati tubuh(diri)nya bukan sebagai komoditi semata.



[*] Diajukan untuk memenuhi tugas II Matakuliah Pengantar Sosiologi I

Friday, August 3, 2007

lulus spmb

akhirnya, meski saya tak yakin saat tes, ternyata saya lulus spmb. artinya, saya harus serius kuliah, harus cepat lulus, karena kakak saya yang juga mulai kuliah lagi mengajak balap lulus kuliah. fine. saya tidak akan pernah lupa semua hal yang saya dapat dari uin, sekalipun itu adalah nilai jelek, jaminan gak lulus matakuliah, tengkar diam dengan pejabat mahasiswa, dekan saya yang pake gelar palsu, terutama, saya gak bakal lupa sama wsc, elpik, suaka, geng BIang RUsuh, arie and extravert-nya, A, dan BUBU. still love thee, NAUFAL..

Wednesday, July 18, 2007

teuing tuwh...

Tiba-tiba memori menjerat rautmu,
dan sebongkah kisah
tentang semangkuk mie rebus
yang kau sajikan di senja yang suram
mengemuka,

ketika kita berkeluh tentang peluh,
tentang asmara yang redup,
tentang cinta yang
perlahan dipadamkan.

Berita dipenuhi prasangka yang digembungkan,
dan kemanusiaan yang dikempiskan,

katamu beku.

Angin malam berdesir,
“Lalu kapan kita dapat bersepakat dalam mencari kebenaran?”

Rerajut kata menyerangku,
seribu kilah menghardikku.
Tersungkur,
aku berharap
melupakan nama-nama dan kata-kata

Namun kau tak setuju,
Pilihlah satu!
serumu kala itu,
seperti saat
bersujud pada tuhan
dan pemilihan kepala negara.

Seperti waktu itu, aku menolak
Kategori.
Nilai.

Aku menangis.
Kau murka.

Subuh itu,
liur menetes dari batang penismu,
Sperma tumpah dari mulutmu.

Sedang aku,
bermimpi diperkosa
hantu perompak,
Tentara,
Ulama,
dan kepala negara.

love again..

sehabis makan malam

Ada jejak yang sesak sehabis makan malam itu.
Kita tahu, bahwa ada tengkar di udara dalam setiap tawa,
Juga ada amarah yang menyelinap di sebotol tequilla yang akhirnya tak kau habiskan.

Lalu di bawah purnama kita bercinta, seolah cinta itu masih ada.
Kita terus merapatkan tubuh,
Berharap kehangatan,

Meski kita akhirnya mengerti,
Kita hanya dua orang asing,
Bersama dalam dingin dan kering.

-2007-

l o v e

Cinta1

Bagaimana jika waktu mulai berpendar
Dan ruang perlahan menghilang?
Saat puisi tak lagi mampu memberi arti
Apakah kau masih akan berdiri disana,
Menanti untuk kembali bersemi?
Kau bilang kau tak terikat
Tak pernah bersyarat
Tapi kaupun mengarat,
Saat semua mulai pekat.

-2006-

puisi cenah

sajak untuk malam

-buat anita-

Di ambang petang, aku menunggu detak jam
Ingin segera menyetubuhi malam
Biar kukecup dia dengan puisi
Kupeluk dia dengan sajak
Nanti sesekali kita tahajud bersama,
lalu mengajak Tuhan menghisap ganja,

Habis itu,
Kita hitung titik bintang di langitnya yang kelam.

-2006-

jejakkata

(tak bisa memberi judul untuk yang satu ini)

Di sebuah tempat serupa rumah ibadah
Orang-orang berdzikir tentang Tuhan-Tuhan palsu
Mengutuk setan berwujud angin dari barat
Lalu berseru lantang Tuhan Maha Besar, entah berapa ratus kali
Dalam doa mereka menghujat
Siapapun yang tak mengamini mereka

Di simpang jalan,
Mereka menutup semua gerbang
Dan berkata-kata hanya dengan satu bahasa
Yang mereka yakini sebagai kata-kata Tuhan

Ah, anjing, katanya Tuhan itu Maha Anu,
Tapi kita selalu sibuk melembagakan diri-Nya.

tak usah menyeru nama Tuhanmu, karena sesungguhnya Ia melampaui semua tanda baca

-2006-

Monday, April 16, 2007

tambah tua

April 10, 2007, enam hari yang lalu, saya resmi berumur duapuluh, menurut hitungan tahun masehi. Sampai sekarang, tak ada perubahan yang berarti. Saya masih semalas dulu, masih se-emosional dulu, saya tak yakin ada hal yang baik yang pernah saya kerjakan.

Saya tambah tua. Tapi belum tambah dewasa, apalagi jadi bijaksana..

Friday, April 13, 2007

Isn't it ironic? (inget lagu Alanis Morisette)

Malam itu, telah begitu larut saya kira. Saya baru saja mengisi blog ini, dan sedikit cari data buat lomba pidato yang akhirnya tidak akan jadi saya ikuti. Saya jadi minder, seumur-umur gak pernah ikut pidato, dan saya samasekali gak berbakat.

Malam telah larut, hanya saja, saya buta waktu. Saat saya agak melek, saya hanya tahu malam beranjak pekat dan saya harus pulang. Saya cepat-cepat menyelesaikan petualangan saya, lalu mengajak kekasih saya ikut pulang.

"Fal, udah? Pulang, yuk?" Ajak saya.
"kamu udah? Bentar atuh, ya."

Saya menunggunya menutup jejaring dunia maya dengan pikiran dipenuhi rasa cemas. Saya tahu, ini bukan kali pertama saya pulang malam, dan bukan juga kali pertama saya dimarahi gara-gara terlambat pulang.

Saya menatap naufal, lalu ia menoleh. Sambil tersenyum ia bilang,
"Happy birthday to you.... Happy birthday to you..."

God! Saya mengalihkan tatap saya ke dinding, tempat dimana saya dapat melihat penunjuk waktu dan terkaget, jarum jam tepat menunjuk angka dua belas, umur saya sudah dua puluh sekarang!!

Naufal masih mengucapkan selamat ulang tahun, sementara saya merajut pikir yang agak menggelikan; seseorang yang seringkali tidak ingat ulangtahunnya sendiri mengucapkan selamat ulangtahun pada orang lain tepat waktu. Isn't it ironic?

Monday, April 9, 2007

manja (bukan judul lagu)

Manja. Barangkali kata itu yang menjadi rerangkum alasan kemandekan saya dalam berkarya akhir-akhir ini. Saya terbiasa ditemani dalam menulis. Saya pikir, menyenangkan sekali menulis bersama dan ujung-ujungnya saling kritik. Tapi pemikiran saya rupanya tak berkembang. Setelah teman-teman saya menulis sendiri, saya masih ketergantungan dan selalu minta ditemani. Saya tak kunjung mandiri. Padahal, menurut kawan saya, dalam hidup yang dilumuri dengan humor dan tragedi, dalam keseharian yang seringkali dilewati hanya dengan lamunan dan ucap penuh simpang, saya cocok sekali jadi penulis. Tapi saya kadung menjadi manusia pembosan, malas dan menatap miris diri, tanpa berambisi apapun yang heroik. Akhirnya, untuk menghindari manja, saya mungkin harus beradaptasi dengan makna heroik. Barangkali, dengan sedikit alih makna heroisme, saya takkan lagi manja. semoga.

tentang citra dan ketakutan

Saya tidak mengerti, ada orang yang sebegitu ketakutan akan citra yang moyak. Saya tahu, kondisi sosial di Indonesia memang begitu senewen masalah citra. Saya juga mesti mafhum, apabila ada beberapa orang dibesarkan dengan aturan jaga citra yang amat rumit, ketat, agak menegangkan bahkan mungkin mengerikan. Saya hanya tak suka jika saya harus ikut-ikutan ketakutan sebentuk citra yang rusak, padahal saat itu keadaan tak begitu berbahaya. Saya kadang begitu kesal karena akhirnya saya harus memikirkan banyak pendapat orang lain. Saya merasa kenyamanan hidup saya sedikit terampas karena itu. Saya benci. Saya tak mau ikut-ikutan memikirkan kemungkinan dosa dari tak menjaga citra. Saya benci saya harus terlibat dengan hal-hal semacam ini, dan bermimpi buruk tentang begitu mengerikannya citra saya di mata orang lain. Tolong, saya tak mau terjebak lebih dalam akan citra yang koyak. Tolong, saya takut...

just a little words on death

Saya tidak tahu, sejak kapan saya menyukai gagasan tentang kematian, terutama kematian saya sendiri, meski saya juga tidak tahu apa sebenarnya yang membuat kematian begitu menggiurkan. Seperti permen, barangkali. Tapi saya tak pernah melarikan diri dari imaji yang menurut saya agung tentang kematian. Saat nafas enggan lagi berhembus, saat nyawa dan raga bersitegang, saya selalu penasaran akan ekspresi orang akan kematian saya, meski lebih sering saya membayangkan kematian yang sunyi, yang dinikmati sendiri.

Saya bahkan membayangkan tak ada yang mengetahui kematian saya hingga saya hanya belulang (seolah sekarang saya punya sesuatu di tubuh ini selain tulang). Entahlah. pikir ini selalu merayapi pikir saya, berulangkali, dengan sedikit improvisasi di sana- sini, kadang sampai agak ekstrim sampai saya pikir saya amat sinting hanya karena telah berimajinasi seperti itu.

Teman saya suatu kali bertanya, 'Kenapa berpikir mati? Kenapa ingin bunuh diri?' Saya jawab tidak tahu. Bukannya main rahasia-rahasiaan karena ingin disebut misterius, tapi entahlah, saya juga tidak mengerti. Saya yakin dalam hidup ini ada banyak hal yang patut dihidupi, bahwa hidup ini begitu mempesonakan. Namun, kematian begitu erat merekat dalam pikiran saya.

Saya tak punya pengalaman yang indah dengan kematian. Saya seringkali sedih jika yang saya sayangi mati, termasuk kucing-kucing saya. Lalu ada apa dengan kematian? Kadang saya pikir saya tak begitu berharga bagi kehidupan yang amat saya kagumi, dan sebaiknya saya mengundurkan diri dari dunia ini.

Lain kala, saya berpikir bahwa kematian menjadi kesunyian terindah, atau protes paling radikal bagi kehidupan. Ada juga masa ketika saya pikir, hidup dan mati sama-sama absurd, maka kenapa tidak mati saja sekalian? Toh saya sudah cukup menjilati beberapa absurditas dari sekelumit kehidupan singkat dan sempit yang sempat saya lalui. Berbagai alasan memenuhi pikiran saya, tapi tak pernah cukup. Tak pernah cocok. Selalu, pada akhirnya dapat saya bantah tanpa mengubah pemikiran saya tentang indahnya bunuh diri, mati muda dan sendirian saja.

Lalu kenapa saya jatuh cinta pada kematian? Pada kata 'mati' dan akankah cinta ini berakhir, seperti cinta saya pada beberapa hal lain? Saya tidak tahu. Mungkin takkan pernah tahu. Mungkin takkan pernah lagi ingin tahu. Entahlah...

Wednesday, March 14, 2007

Wow!!

Hehe, ditodong bikin blog, euy....