Monday, April 16, 2007

tambah tua

April 10, 2007, enam hari yang lalu, saya resmi berumur duapuluh, menurut hitungan tahun masehi. Sampai sekarang, tak ada perubahan yang berarti. Saya masih semalas dulu, masih se-emosional dulu, saya tak yakin ada hal yang baik yang pernah saya kerjakan.

Saya tambah tua. Tapi belum tambah dewasa, apalagi jadi bijaksana..

Friday, April 13, 2007

Isn't it ironic? (inget lagu Alanis Morisette)

Malam itu, telah begitu larut saya kira. Saya baru saja mengisi blog ini, dan sedikit cari data buat lomba pidato yang akhirnya tidak akan jadi saya ikuti. Saya jadi minder, seumur-umur gak pernah ikut pidato, dan saya samasekali gak berbakat.

Malam telah larut, hanya saja, saya buta waktu. Saat saya agak melek, saya hanya tahu malam beranjak pekat dan saya harus pulang. Saya cepat-cepat menyelesaikan petualangan saya, lalu mengajak kekasih saya ikut pulang.

"Fal, udah? Pulang, yuk?" Ajak saya.
"kamu udah? Bentar atuh, ya."

Saya menunggunya menutup jejaring dunia maya dengan pikiran dipenuhi rasa cemas. Saya tahu, ini bukan kali pertama saya pulang malam, dan bukan juga kali pertama saya dimarahi gara-gara terlambat pulang.

Saya menatap naufal, lalu ia menoleh. Sambil tersenyum ia bilang,
"Happy birthday to you.... Happy birthday to you..."

God! Saya mengalihkan tatap saya ke dinding, tempat dimana saya dapat melihat penunjuk waktu dan terkaget, jarum jam tepat menunjuk angka dua belas, umur saya sudah dua puluh sekarang!!

Naufal masih mengucapkan selamat ulang tahun, sementara saya merajut pikir yang agak menggelikan; seseorang yang seringkali tidak ingat ulangtahunnya sendiri mengucapkan selamat ulangtahun pada orang lain tepat waktu. Isn't it ironic?

Monday, April 9, 2007

manja (bukan judul lagu)

Manja. Barangkali kata itu yang menjadi rerangkum alasan kemandekan saya dalam berkarya akhir-akhir ini. Saya terbiasa ditemani dalam menulis. Saya pikir, menyenangkan sekali menulis bersama dan ujung-ujungnya saling kritik. Tapi pemikiran saya rupanya tak berkembang. Setelah teman-teman saya menulis sendiri, saya masih ketergantungan dan selalu minta ditemani. Saya tak kunjung mandiri. Padahal, menurut kawan saya, dalam hidup yang dilumuri dengan humor dan tragedi, dalam keseharian yang seringkali dilewati hanya dengan lamunan dan ucap penuh simpang, saya cocok sekali jadi penulis. Tapi saya kadung menjadi manusia pembosan, malas dan menatap miris diri, tanpa berambisi apapun yang heroik. Akhirnya, untuk menghindari manja, saya mungkin harus beradaptasi dengan makna heroik. Barangkali, dengan sedikit alih makna heroisme, saya takkan lagi manja. semoga.

tentang citra dan ketakutan

Saya tidak mengerti, ada orang yang sebegitu ketakutan akan citra yang moyak. Saya tahu, kondisi sosial di Indonesia memang begitu senewen masalah citra. Saya juga mesti mafhum, apabila ada beberapa orang dibesarkan dengan aturan jaga citra yang amat rumit, ketat, agak menegangkan bahkan mungkin mengerikan. Saya hanya tak suka jika saya harus ikut-ikutan ketakutan sebentuk citra yang rusak, padahal saat itu keadaan tak begitu berbahaya. Saya kadang begitu kesal karena akhirnya saya harus memikirkan banyak pendapat orang lain. Saya merasa kenyamanan hidup saya sedikit terampas karena itu. Saya benci. Saya tak mau ikut-ikutan memikirkan kemungkinan dosa dari tak menjaga citra. Saya benci saya harus terlibat dengan hal-hal semacam ini, dan bermimpi buruk tentang begitu mengerikannya citra saya di mata orang lain. Tolong, saya tak mau terjebak lebih dalam akan citra yang koyak. Tolong, saya takut...

just a little words on death

Saya tidak tahu, sejak kapan saya menyukai gagasan tentang kematian, terutama kematian saya sendiri, meski saya juga tidak tahu apa sebenarnya yang membuat kematian begitu menggiurkan. Seperti permen, barangkali. Tapi saya tak pernah melarikan diri dari imaji yang menurut saya agung tentang kematian. Saat nafas enggan lagi berhembus, saat nyawa dan raga bersitegang, saya selalu penasaran akan ekspresi orang akan kematian saya, meski lebih sering saya membayangkan kematian yang sunyi, yang dinikmati sendiri.

Saya bahkan membayangkan tak ada yang mengetahui kematian saya hingga saya hanya belulang (seolah sekarang saya punya sesuatu di tubuh ini selain tulang). Entahlah. pikir ini selalu merayapi pikir saya, berulangkali, dengan sedikit improvisasi di sana- sini, kadang sampai agak ekstrim sampai saya pikir saya amat sinting hanya karena telah berimajinasi seperti itu.

Teman saya suatu kali bertanya, 'Kenapa berpikir mati? Kenapa ingin bunuh diri?' Saya jawab tidak tahu. Bukannya main rahasia-rahasiaan karena ingin disebut misterius, tapi entahlah, saya juga tidak mengerti. Saya yakin dalam hidup ini ada banyak hal yang patut dihidupi, bahwa hidup ini begitu mempesonakan. Namun, kematian begitu erat merekat dalam pikiran saya.

Saya tak punya pengalaman yang indah dengan kematian. Saya seringkali sedih jika yang saya sayangi mati, termasuk kucing-kucing saya. Lalu ada apa dengan kematian? Kadang saya pikir saya tak begitu berharga bagi kehidupan yang amat saya kagumi, dan sebaiknya saya mengundurkan diri dari dunia ini.

Lain kala, saya berpikir bahwa kematian menjadi kesunyian terindah, atau protes paling radikal bagi kehidupan. Ada juga masa ketika saya pikir, hidup dan mati sama-sama absurd, maka kenapa tidak mati saja sekalian? Toh saya sudah cukup menjilati beberapa absurditas dari sekelumit kehidupan singkat dan sempit yang sempat saya lalui. Berbagai alasan memenuhi pikiran saya, tapi tak pernah cukup. Tak pernah cocok. Selalu, pada akhirnya dapat saya bantah tanpa mengubah pemikiran saya tentang indahnya bunuh diri, mati muda dan sendirian saja.

Lalu kenapa saya jatuh cinta pada kematian? Pada kata 'mati' dan akankah cinta ini berakhir, seperti cinta saya pada beberapa hal lain? Saya tidak tahu. Mungkin takkan pernah tahu. Mungkin takkan pernah lagi ingin tahu. Entahlah...