Wednesday, July 18, 2007

teuing tuwh...

Tiba-tiba memori menjerat rautmu,
dan sebongkah kisah
tentang semangkuk mie rebus
yang kau sajikan di senja yang suram
mengemuka,

ketika kita berkeluh tentang peluh,
tentang asmara yang redup,
tentang cinta yang
perlahan dipadamkan.

Berita dipenuhi prasangka yang digembungkan,
dan kemanusiaan yang dikempiskan,

katamu beku.

Angin malam berdesir,
“Lalu kapan kita dapat bersepakat dalam mencari kebenaran?”

Rerajut kata menyerangku,
seribu kilah menghardikku.
Tersungkur,
aku berharap
melupakan nama-nama dan kata-kata

Namun kau tak setuju,
Pilihlah satu!
serumu kala itu,
seperti saat
bersujud pada tuhan
dan pemilihan kepala negara.

Seperti waktu itu, aku menolak
Kategori.
Nilai.

Aku menangis.
Kau murka.

Subuh itu,
liur menetes dari batang penismu,
Sperma tumpah dari mulutmu.

Sedang aku,
bermimpi diperkosa
hantu perompak,
Tentara,
Ulama,
dan kepala negara.

No comments: