Sunday, November 23, 2008

puisi dadakan

Hujan ini, kekasihku,

deras seperti jejak-jejak rindu

yang kutinggalkan di sakumu dua pertiga malam itu.

Masih kuingat, kau memelukku erat saat kuseka kecupmu dari nadiku

“Andai kau tak harus pergi saat fajar merekah matari pagi”,

bisikmu.

Kubuka jendela

(ruang rahasia itu, celah kecil untukmu menungguku),

lalu berlari mengejar bis kota.

Aku tak ingin menoleh, pamit atau berkata sampai jumpa

karena takut direnggut alpa dan kembali mendekapmu

~diam-diam kau merungai airmata,

takut kala senja memawar rindu tak dapat kau tawar~

Kita ditikam oleh mentari yang berulangkali karam

usai dengung mesin dan asap knalpot

menyertaiku

menatapmu dari jendela

(ruang kecil itu, berdebu disampingku),

Hingga rautmu hinggap di pelupuk mataku;

Hingga rindumu sampai di malam ini,

malam yang bertirai hujan, berselimut lelampu dan hentak lagu

Fakultas Sastra 13 November 2008.

Monday, November 17, 2008

lagi, insomnia

ini malam memang tak seburuk tempo hari. setidaknya, saya mengantuk. tapi bisa juga lebih buruk karena kali ini, tukak lambung sial itu kambuh..
fiuh, untung gak sakit gigi. setidaknya saya tak mesti mengubah lirik lagu dangdut itu...

Saturday, November 1, 2008

salah satu yang belum selesai 3

Senja mulai menua, dia masih mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Diliriknya matahari yang memawar, jatuh mendekati garis datar, memberi aba-aba pada nelayan untuk mencari peruntungan, mencari penghidupan. Dia mulai menarik nafas dalam, menatap layar putih bersih dihadapnya lekat, namun kembali menunduk melihat tombol-tombol di jatuh arah pandangnya. Satu-satu. Dan kilas peristiwa pelan mulai menyelinap dari sana. Dia sedang mandi, berkumpul dengan gengnya, tidur, berdekapan dengan lelaki asing yang ia temui di halte, mencuri mangga, merokok yang pertama, kencing berdiri seperti laki-laki... Ia menggelengkan kepalanya. Agak keras, hingga agak pusing.

Kenapa aku bahkan tak dapat mengurut peristiwa yang terjadi dalam hidupku?

Ia mulai mengetik, kemudian cepat-cepat menghapus tulisannya sendiri. Lama ia terdiam, memastikan layar dihadapnya kosong, hanya putih yang itu-itu lagi.

Aku mesti membuat novel, novel, NOVEL!

Awalnya ia sempat berpikir untuk menulis tentang nelayan tua yang jatuh cinta pada laut, meski laut kadang tak murah hati dan kemudian malah menenggelamkan dirinya. Tapi ia tak merasa berhak berbuat setega itu. Setiap orang mesti punya mimpi, ia khawatir nelayan yang selama ini hidup di sekeliling dirinya akan sadar bahwa mereka terjebak dalam sejenis kehidupan yang berat dan tidak memiliki pilihan lain selain menjalaninya saja, atau bahwa romantisme terhadap laut tak ada artinya selain mimpi usang yang sia-sia. Ia tak ingin banyak bertanggungjawab terhadap karyanya, maka ia merasa bahwa ia mesti menulis tentang seseorang yang takkan pernah ia temui dalam hidupnya, atau setidak-tidaknya, jika tak ada lagi pilihan, ia hanya boleh menulis tentang dirinya.

Ia mulai mengingat cerita tak usai yang menghantui kepalanya. Kenapa tak mencoba dengan perempuan itu saja? Akan menyenangkan sepertinya jika ia dapat menulis perempuan itu, perempuan yang selama ini hidup di kepalanya dan terperangkap disana. Semoga dalam aksara, ia dapat menuturkan riwayat hidupnya sendiri....

Perempuan itu menerawang, hanya sawah yang mulai menguning di sepanjang pandang. Ia memejam perlahan, mencoba mereka seperti apa jika surganya ditukar dengan anak-anak yang bermain gamelan, pemuda yang berlatih benjang, ibu-ibu menjajakan jajanan dan cinderamata, gunungan sampah, ia hanya melihat hingar, mendengar bingar...

Ia mulai menangis lirih. Betapa ia akan merindukan tempat ini, harum padi dan ibu-ibu yang membawa ani-ani. Ia akan rindu mendengar kecipak air kubangan saat kerbau mandi di dalamnya. Sambutan senyum ramah dari Pak Omon saat ia membawakan rantang makan siang untuk ditukar-pinjam saung kecil ini untuk menulis catatan hariannya yang kian tak karu-karuan. Ia selalu berpikir bahwa tempat ini akan selalu menjadi surganya, tempat yang kelak selalu tercatat dalam sebuah roman yang ia selalu angankan sejak umur tengah belasan, yang tak pernah ia mulai kerjakan.

Ingatan tentang roman membuatnya merasa jauh lebih buruk, seakan dirinya perlahan membusuk. Umur yang mencapai dua puluh satu, dengan nilai kuliah pas-pasan, karir organisasi yang berantakkan, keluarga yang rawan, pacar yang lebih sering menghadapinya dengan seribu satu alasan untuk terus kebingungan, dan kawan yang tak dapat ia andalkan, karena ia tak punya nyali meminta bantuan. Seorang sahabat terus mendorongnya menulis novel, karena menulis novel dapat membuatnya sedikit punya harga diri, bahkan hanya untuk menjadi pecundang dalam kehidupan nyata. Setidaknya ia harus punya karya, dan sahabat yang satu itu keras berpendapat ia bisa.

Ada apa dengan keyakinan? Mengapa orang lain mesti terus meyakini kemampuannya saat ia merasa bahwa ia ditakdirkan menjadi seorang pecundang, hingga merasa dirinya hanya lepra yang berbahaya bagi kehidupan sosialnya, karena hanya itu peran yang cocok untuknya. Ada apa dengan keyakinan, hingga karena keyakinan orang lain ia mesti mencoba berusaha, saat ia hanya menjalani keseharian dengan segenap khayal yang memungkinkannya mendapat seribu satu alasan untuk melarikan diri dari kenyataan, yang akhirnya membuatnya membela diri dengan kesimpulan bahwa yang ada dalam pikirannyalah kenyataan, dan ia dapat mengubahnya dengan sekali pencet remote control...

Selalu, meski ia berkesimpulan demikian, ketika senja mengetuk pintu, menghadirkan malam tempat ia merajut kelam dan meraut muram hingga halimun turun dan ia masih menenun lamun, ia sadar hidup tak semudah menonton televisi sendirian dengan remote control di tangan. Ia akan menarik dirinya dan kembali pada keseharian yang itu-itu juga, dimana ia adalah orang yang tak bisa menggenapkan diri karena ia kukuh mengepal ilusi tentang kesempurnaan, ia bahkan merasa tak dapat paripurna sebagai pecundang.

Ia memilih tak mengerjakan roman yang selalu ia impikan, karena sebelum pengerjaan, ia sudah ketakutan bahwa ceritanya akan berakhir menjadi selera kodian, bahwa diksi yang ia pakai akan diidentikkan dengan penulis yang sudah mapan, bahwa plotnya akan panjang, bertele-tele dan membosankan. Lebih dari itu, ceritanya akan kering makna, dan beban intelektualnya sebagai mahasiswa jurusan anu, yang membuat tulisannya mesti mencerminkan pengetahuaanya akan bidang itu. Ia ingin semuanya sempurna, bahwa pembaca akan merasa bahagia seperti saat ia menuliskannya. Karena pikiran seperti itu pula, ia tak ingin menuliskan pengalaman hidupnya. Ia merasa bahwa seluruh hidupnya hanya serangkaian usaha percobaan pembunuhan terhadap dirinya sendiri. Ia tahu ia berlebihan, namun tetap menanggapinya dengan berlebihan pula.

Neng, moal waka uih? Tos wengi, bilih ibu nyeuseulan[1],” suara Pak Omon mengagetkannya lebih dari berita televisi. Ia tersenyum dan pamit, takut-takut membuat lelaki renta sebatang kara itu khawatir. Lagipula, sudah waktunya menonton kartun, lalu menemani ibunya nonton sinetron, lalu nonton film, lalu, ah, tentu, memikirkan hal yang itu-itu lagi.

Matahari mengetuk jendela, ibunya menggedor-gedor pintu. Ia sibuk memikirkan bagaimana caranya menghindari hari ini, dengan kesadaran bahwa ia tak mungkin berhasil dan berakhir dengan mengutuk matahari, tuhan, dan pacarnya. Jika belum puas, maka ia akan mengutuk sistem pendidikan, puntung rokok yang terlalu panjang, amerika, stalin, televisi, matahari, tuhan dan pacarnya. Setelah itu, ia baru akan bangun dengan enggan, menyetel musik keras-keras, mandi sambil berteriak-teriak.

Ia hendak mengambil pakaian saat handuknya jatuh dan bayangan telanjangnya tertangkap cermin. Ia tak begitu akrab dengan cermin, terbukti cermin di kamarnya telah berganti entah berapa jumlah, hingga ujung kiri atasnya yang kini pecah sedikit, dan ayahnya bosan membeli yang baru, dan ia bersyukur untuk itu.

Tubuhnya masih basah, air masih menitik dari ujung rambutnya, ujung tangannya. Ia melihat pacarnya memeluk dari belakang, nafas jatuh silih berganti dengan lenguh di sekujur tubuhnya. Ada lima ujung jari menyusur punggungnya, lima jari lain menyibak rambutnya, nafas berhembus di sekeliling lehernya perlahan, diseling satu dua kata yang membuatnya tertawa, lalu akhirnya, dengan satu kecupan di kening ia merasa lengkap. Ia menggigit bibir, tersenyum ganjil, kemudian mulai berpakaian.

Ia melangkah ringan ke ruang makan, dimana ibunya siap menyuapinya satu dua sendok sarapan, sebelum ia tergesa berpamitan. Ia berjalan, sengaja memutar agar dapat melewati pematang, kali ini dengan hati-hati. Semalam hujan, jalanan agak licin pagi ini. Hari Selasa, gerutunya, ia benci dosen dua matakuliahnya, namun dari dulu ia memang selalu tahu, Selasa adalah hari terburuk dalam sejarah sekolahnya, sejarah kuliahnya, hingga ia tak lagi terkejut jika ia harus berhadapan dengan dosen yang membosankan pada hari ini.

Tapi dalam kendaraan ia gusar memikirkan pagi ini. Ia terlambat dan mesti duduk di depan, langsung bertatap muka dengan orang yang paling ingin ia hindari hari ini. Ia merasa sial sekali, lalu menelpon pacarnya yang takkan mengangkat telpon itu, dan mengutuk pacarnya karena membuatnya terlambat pagi ini, meski ia tahu betul bahwa pagi ini, yang dialamati serapah itu masih tidur, lelap dibalik bantalnya.

“Weuh, telat lagi! Untung si bapa belum dateng!” seru kawannya. Ia tersenyum lega. “Pagi ini dingin, AC-nya gak usah dinyalain, ya?” pintanya sambil duduk di sudut kanan, tempat teraman untuk tidur dalam tiga jam kuliah, dosen sial itu datang.

Ia baru saja akan tidur ketika kawannya mengingatkan tugas kelompok yang mesti dikumpul esok. “Nyantey, gampanglah. Besok juga jadi, kamu tau beres aja,” katanya, mencoba menyingkirkan denyar gusar. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan demi selesainya tugas itu. Ia merasa ketakutan akan tanggungjawab mengerjakan tugas dan kemampuan yang dirasa pas-pasan. Ia hanya ingin membuat makalah yang sempurna, tapi ia tak merasa bisa. Ia merasa diteror dan ingin menjerit keras, namun yang ia lakukan hanya corat-coret di binder, mencoba mengalihkan ketakutannya. Ia hilang selera untuk tidur, meski ceramah dosennya mengundang kantuk dari segala kalangan. Ia benar-benar tak lagi berselera, dan mencoba menghibur diri dengan coretan yang entah apa.

Bayangan sahabatnya muncul seperti setan dalam film kartun, lengkap dengan tanduk dan trisula, melompat-lompat dari titik hitam, lalu mendekatinya sambil tertawa terbahak, cenderung mengejek, “Tulis novel, minimal kau punya alasan untuk gagal kuliah, hahaha....” Ia menggeleng. Setan yang baik, mengingatkannya untuk punya harga diri saat gagal kuliah membayang di pelupuk mata. Tapi ia mau semua sempurna, lengkap dengan sisipan pengetahuan umum, konflik yang meyakinkan, alur yang tak biasa, plot yang kuat...

“Anda punya alasan apa mencoret buku dengan garis serumit itu?” sontak ia terbangun, dosennya tersenyum mengancam, menunjuk coretannya yang kini warna-warni. Oops, gawat, pikirnya, aku mesti ngomong apa?

“Oh, ini, pak, ng, jadi saya tidak terlalu mengerti apa yang tadi bapak jelaskan, dan coretan ini simbol perjalanan ketidakmengertian saya,” karangnya cepat dan samasekali tak meyakinkan, terlebih saat dosen itu tersenyum, lagi, dan berkata, “Saya belum menjelaskan apapun, baru bertanya pada kawan-kawan anda yang lain. Kalau masih mengantuk, silakan jalan-jalan keluar...”

“Saya tak lagi mengantuk, pak,” jawabnya lemah. Selasa, Selasa, haruskah aku mengusulkan hari itu dihapus saja agar aku tak sesial hari ini? Rutuknya. Ia kemudian tersenyum kecil, membayangkan bagaimana ia akan meyakinkan teman-temannya untuk berdemo masalah penghapusan hari Selasa, lalu menulis kepada Dewan Keamanan PBB perihal teror hari Selasa bagi umat manusia. Bagi dirinya.

Ingatannya melayang pada sebuah artikel dalam koran tentang tahunbaru, katanya kaisar Romawi—ia lupa namanya—pernah membuat dunia dalam semalam beranjak dari tanggal sekian ke tanggal neuneuneuneu—ia lupa tanggal yang dimaksud—karena ternyata perhitungan kalender sebelumnya salah. Fiuh, ia menyesal tak mencatat artikel itu, setidaknya agar khayalannya kali itu lebih lengkap dan melegakan, hingga ia tak perlu ingat bahwa ia terjebak dalam kelas membosankan dengan kesialan yang sepertinya belum akan berakhir... Ia mengutuk dirinya karena menganggap remeh catatan, toh ia akan dapat mencari artikel itu kalau ia butuh. Lalu bagaimana jika kejadian ini berulang, saat ia tak di rumah dan hanya dapat bersandar pada ingatan yang payah? Ya tuhan, bahkan ia mesti berpikir keras untuk melengkapkan khayalan yang kini ia lupa apa muasalnya...

Kemudian ia ingat, ia ingin membakar hari selasa. Dan tawa sahabatnya dalam bentuk setan kartun, titahnya yang bergaung, “Novel, novel, tulis novel..” Baik, menulis novel memang lebih masuk akal dan bisa diupayakan ketimbang menghapus Selasa dari penganggalan. Kalau perlu, dalam novelnya ia akan menghapus hari Selasa, mencari padan katanya dan membuat hari baru. Atau tidak perlu yang baru, biarkan jumlah hari menjadi genap tanpa kehadiran Selasa. Rasanya akan menyenangkan menuliskan hal itu.

Tapi, bagaimana jika orang yang berkepentingan dengan hari Selasa menganggapnya ancaman dan menganggap ia berbuat makar, bid’ah, dan sebagainya, dan sebagainya? Bukankah akhir-akhir ini orang mudah protes pada hal-hal seperti itu? Barangkali dalam novelnya ia perlu membuat sistem almanak yang baru, agar orang yang berkepentingan dengan kehadiran hari selasa tidak merasa terganggu, tidak merasa kehilangan.

Masalah hari Selasa sudah beres. Bagaimana dengan watak, alur, hal-hal yang jauh lebih substansial dari novel? Siapa yang kira-kira ia inginkan untuk membaca novel itu. Novel itu mesti sempurna, menyajikan hal yang lain, patut untuk dibaca dan disimpan dalam lemari buku untuk kemudian dibaca kembali. Atau dibicarakan orang-orang tanpa merasa jengkel. Tapi semakin bermimpi, semakin ia sakit hati. Ia menyesali ambisinya yang menyedihkan, tidak tahu diri, dan melupakan bahwa ia menulis semata pembuktian pribadi pada dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, jika novelnya jadi, seburuk apapun, ia telah menjadi ibu. Dan ibunya punya cucu, ibunya mesti maklum kalau cucunya tak istimewa.

Ia melangkah malas ke kantin, menyapa kawan-kawannya dan memesan kopi hitam. Ada hal yang lebih penting, mulai menulis. Ia baru mengeluarkan laptopnya saat kawannya datang, menyeruput kopi yang katanya pesanannya dan membicarakan kewajibannya di kelompok kajian. Obrolan itu kemudian meluas menjadi film-film yang bagus dan puisi favorit mereka. Seketika, ia merasa perlu berkata Eureka! Tentu ia menahan diri, dan hanya menyela percakapan itu dengan mencatat kecil dalam handphone-nya, puisi dan film. Kemudian mereka mengobrol lagi, sampai gelas kopi yang ketiga, dan ia pamit kuliah lagi.

Dosen matakuliah kali ini selalu saja punya humor kecil yang membuat kelas tertawa. Ia sering larut dalam gelombang tawa, terkadang setelah menolerir humor yang ia anggap seksis, atau apalah, namun ia menahan diri untuk tidak protes. Konteks, konteks.. Untung dosen itu tidak bodoh, kalau tidak, tentu ia tidak akan berpikir panjang untuk menyikat lelucon yang sebetulnya menyinggung cara pandangnya dalam relasi gender. Tiap penekanan penting selalu ia catat dalam ingat, hingga ia tidak sembarangan protes. Seperti, dosen itu pernah bilang bahwa sekitar abad pertengahan, ucapan perempuan dianggap tak dapat dipercaya. Dosen itu tegas menyatakan bahwa praktek asumsi itu berlaku di masa lalu, hingga ia hanya perlu menyayangkan masa itu. Tapi kalau dosen itu masih akan terus membuat lelucon dengan perempuan cenderung sebagai kelas kedua, ia memikirkan kemungkinan membalas dengan lelucon yang mengolok laki-laki. Dan ia punya seribu satu cara membuat lelucon seperti itu.

Tugas, tugas. Dosen ini memberi tugas. Tidak terlalu sulit, hanya saja, untuknya setiap hal yang ditugaskan akan menjadi seratus kali lebih rumit. Ia benci mengerjakan tugas. Ia tidak suka dipaksa menulis dengan tema tertentu, apalagi dengan jumlah halaman yang dibatasi, dan serangkaian aturan lain dalam relasi yang tak menguntungkannya seperti tugas dari dosen kali ini. Lagi-lagi, panggilan untuk membuat novel terdengar seperti tawaran menghabiskan akhir minggu dengan petualangan baru, pelarian dari keseharian yang membosankan, memenjarakan...

Ia pulang dengan tergesa, karena diluar banyak sekali orang berkerumun, dan ia merasa mereka akan menelannya, atau ia akan mengganggu keasyikan mereka yang berkerumun, meski ia tidak tahu kenapa. Yang jelas, ketakutannya akan kerumunan meningkat akhir-akhir ini. Kadang ia juga merasa sangat bodoh, tapi ia memang punya ketakutan tak jelas pada banyak hal, dan semuanya tidak mengindikasikan kepintaran yang lain. Mungkin ia memang tidak punya nyali dalam menghadapi hidupnya. Jika sampai pada pikiran itu, ia akan kembali beriman pada keyakinan bahwa ia lahir untuk menjadi pecundang.

Ia memutuskan mampir ke tempat sahabatnya, meski tempat perhentiannya sudah lewat dan ia mesti berjalan cukup jauh. Ia berjalan dengan perasaan rawan, takut kalau ia akan mengganggu sahabatnya yang penyendiri, tapi ia juga tidak ingin pulang, ia masih kesal pada ayahnya. Lagipula, ia akan berusaha tak mengusik apapun disana, membiarkan sahabatnya asyik sendiri. Namun ia tetap tak tenang meski sahabatnya tak membanting pintu dan mengusirnya pulang. Ia merasa ia tak berhak berada disana, dan semestinya ia diusir namun tahu sahabatnya tidak akan tega melakukan hal itu, tetap ia berpikir bahwa semestinya ia diusir. Bahwa ia hanya mengganggu. Maka ia berceloteh apa saja, sambil membayangkan sahabatnya akan membawa lakban atau menyumpal mulutnya dengan kaos kaki.

Mengapa ia mesti berpikir buruk seperti itu pada sahabatnya sendirir? Tapi perlakuan seperti itu tak terlalu buruk, pikirnya lagi. Mungkin ia berhak mendapat yang lebih buruk. Ia kemudian ingat pada ayahnya, dan merasa menyesal akan kelahirannya. Setidaknya, jika ia tak ada, ayah tak akan memarahi ibu saat ia melakukan kesalahan sepele, dan ayah tak perlu memukulnya. Mungkin itu akan meringankan dosanya. Ia kemudian merasa begitu terluka, dan merasa bahwa tak sepantasnya ia ada. Ia memang mesti mati muda. Tiba-tiba ia merasa lelah dengan pikirannya sendiri, dan mulai menangis. Ia kepayahan menerka nama luka yang membuatnya mengucurkan airmata, lalu sadar sia-sia menamai luka, ia merasa seluruh usaha dalam hidupnya sia-sia...

Ia ingat novel itu. Ia mesti menulis. Cepat-cepat ia mengeluarkan laptopnya dan bersiap menulis, berharap kali ini tidak akan terlalu sia-sia, atau cerita ini meringankan hatinya atau apalah. Ia mengutuk tujuan, dan mulai menulis...

Perempuan itu menjerit, mengamuk, berteriak-teriak. Ia kemudian melompat dari tempat tidur dan memecahkan kaca. Ia ingin sekali membakar tempat tidur, namun kakaknya datang dan mendekapnya erat, lalu menamparnya keras, menyuruhnya mengucap istighfar. Perempuan itu diam. Setelah kakaknya yakin ia tidak apa-apa, ia dibiarkan keluar kamar dan mandi. Beruntung rumah sudah sepi kali ini, kalau tidak, ia akan ditanya oleh semua keluarganya, dan jawaban apapun akan membulatkan tekad mereka untuk memasukkannya ke rumah sakit jiwa.

Perempuan itu merasa tidak segila itu. Hanya entah sejak kapan ia mulai mengalami hal-hal seperti itu. Mimpi-mimpi mulai mengganggunya, dan yang ia lakukan hanya menghindari mimpi itu menjadi kenyataan. Mimpi itu terasa nyata dan ia merasa takut sekali.

Perempuan itu menarik nafas panjang. Keningnya berkerut, ini bukan seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Kenapa tulisannya jadi seperti ini? Ia tak merasa berniat menulis seperti ini. Ia hendak menampilkan paranoia, namun perempuan dalam ceritanya, apalagi kakaknya sama sekali tidak mendukung hal itu. Ia mencoba melihat apa yang salah, apa yang ia rasa salah, dan kurang. Kali ini ia tidak gegabah menghapus tulisannya, tapi menulis yang baru. Moodnya sedang sangat baik. Biasanya ia begitu sadis, sekali tak suka pada karyanya, ia akan memaki, menghapus, lalu membuat cerita baru. Tidak kali ini, ia juga tidak tahu kenapa.

Jarum jam menyelinap melewati tengah malam. Dilihatnya karyanya. Ia suka perempuan yang ia tulis itu. Apalagi ia memiliki sawah yang selalu ia impikan, meski tentu, ia berniat buruk dalam menyusahkan kehidupan perempuan itu. Ia berniat membuat perempuan itu merasakan kehilangan lingkungan yang ia sayangi, seperti ia kehilangan hutan bakau dua tahun lalu. Ia begitu senang perempuan itu mirip dengannya, namun memiliki apa yang tak ia punya. Perempuan itu lebih jujur akan ujaran di hatinya, pikirnya bangga. Ia jatuh cinta pada perempuan itu. Entah kenapa.

“Ira, kamu nulis diary?” perempuan itu cepat-cepat menyimpan file calon novelnya dan memutar musik. “Aku dah beres. Kamu dari kapan disana?”

Lelaki itu tersenyum, mengusap kening kekasihnya, “Maaf aku telat. Tadi aku gak enak badan. Kamu gak papa, kan?”

“Ah, sudahlah. Kamu dah makan?”

Perempuan itu menarik pacarnya ke dapur, memasak nasi goreng, karena memang hanya sebatas itu yang ia bisa. Pacarnya lagi-lagi terlambat, tapi ia tak lagi hendak protes. Ia merasa hal itu percuma, sia-sia. Ia bahkan tak lagi mengumpat dalam hati, ingatannya melayang ke tokoh novelnya, ia bayangkan perempuan itu mengutuk pacarnya, melakukan apapun yang ada dalam pikirannya. Entah kenapa, memikirkan hal itu, ia jadi lega. Ia tak sabar meneruskan riwayat perempuan itu, perempuan yang kini hidup lagi di kepalanya.



[1] Sunda : tidak pulang? Sudah malam, nanti ibu marah

salah satu yang belum usai 2

Perempuan itu pulang, memungut arah kenangan yang terbuang, kembali ke kampung halaman. Ia berharap senja tak hilang, namun ia tak lagi percaya pada harapan, dan meraut malam dengan sisa hati yang buram, yang kelam. Ia mencoba melupakan nama-nama, melupakan tempat, melupakan setiap jengkal ingatan yang hanya dipenuhi sesal.

Angin bertiup sepoi menyapanya, memanggil namanya, namun perempuan hendak melupakan nama, termasuk namanya. Bulan terang menyambutnya, namun hati perempuan terlalu gelap. Awan bertanya pelan, bintang hanya berkedip tak mengerti. Ada apa dengan perempuan, manusia yang selama ini paling bersahabat dengan alam?

Perempuan itu tetap berjalan meski ringkih, tertatih. Sepanjang jalan ia hanya dapat mengingat seseorang yang paling ingin ia lupakan. Ia merasa dadanya lebih sesak daripada sesaknya lalu lintas New Delhi, seperti ribuan kilo kesedihan menggelantung di hatinya yang terluka.

salah satu yang belum selesai (prosa)

Gelap mulai menghalau matahari surut ke barat. Perempuan itu masih duduk diujung dermaga, sesekali menoleh saat ada langkah kaki di belakangnya, seperti menunggu, namun tak juga henti ia menanti. Dan tunggu itu membuatku cemas akan berujung pada buntu yang itu-itu juga. Yang tiga hari ini telah kusaksikan.

Aku tak mengenalnya, jika kenal berarti kami mesti berjabat tangan lekat sambil bertukar nama. Tapi tiga hari ini aku telah jelas tahu bentuk punggungnya, wangi parfumnya, caranya berjalan, binar matanya, rambutnya, dan cemas yang satu dua kilas tertukas saat ia mulai duduk diujung dermaga, pukul empat belas sampai sembilan belas.

Awalnya aku menyangka ia adalah anak nelayan sederhana yang menjemput kedatangan ayahnya dengan keranjang penuh bekal dari ibu. Ia memakai kaos putih panjang dan rok hijau yang tak henti melambai karena sapuan angin, berlalu dengan keranjang dipangku. Ia memikatku dengan cara klasik, dengan tatap matanya yang sebening telaga, yang sanggup merampung pusaran tanya dalam dada akan arti hadir hawa. Tatap mata yang mengunci lidahku dengan simpul mati, pola yang sama dengan yang ia lakukan pada nyaliku untuk bersinggung lebih dari pandang dengannya.

Maka, aku menunggu. Menunggu untuk cukup berani menghampirinya. Namun jika aku tak juga mampu melarikan diri kehadapnya, biar nanti kucegat saat ia lewat. Aku mulai merancang percakapan yang singkat namun layak diutarakan padanya, juga ayahnya, jika mereka terpaksa aku cegat. Aku sampai pada kesimpulan bahwa aku mesti mengarang sandiwara agar bisa berkenalan dengannya. Picisan, memang, tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Aku terus merancang drama, sampai tak hirau pada waktu, juga acuh pada apa yang ia lakukan, ia pikirkan, padanya yang nyata, yang duduk diujung dermaga.

Aku masih sibuk mencari salam pembuka yang tepat untuk memulai percakapan dengannya saat ia tiba-tiba lewat kembali dihadapku dengan kepala tertunduk dan keranjang yang berayun malas ditangan kanannya. Aku hendak menyapa dan memanggilnya, namun aku takut ia menganggapku orang iseng. Aku hendak menyusul, namun takut ia menganggapku jahat. Anggapan-anggapan itu, ditambah pikiran kenapa ia pulang sendirian membuatku tambah gugup sendiri, menyisakan bayang punggungnya yang menjauh ke timur, sebelum akhirnya ditelan kelam malam. Aku melirik jam

tanganku, delapan belas lebih dua puluh lima menit, dan tersadar nelayan baru akan pergi melaut. Siapa yang setadi ia tunggu datang dari laut?

Namun kemarin aku mulai sadar, ia tak mencari seseorang dari laut. Kusaksikan ia diantar bocah kecil, kali itu ia tak membawa keranjang. Ia masih berjalan terburu, dengan punggung membungkuk dan lirik kanan-kiri yang amat hati-hati. Aku mencari tatapnya, namun tak selirik pun jatuh pada kelopak mataku. Kupaku kakiku di tempatnya, menikmati hadirnya dari jauh. Kuputuskan, aku akan mengamatinya lebih cermat, mencatatnya singkat namun setepatnya dalam ingat agar tak kehilangannya lagi seperti sebelumnya. Ia mengenakan blus hitam pendek dengan jaket rajut putih dan celana jins biru muda model pipa. Ia masih menggerai rambutnya, hitam kemerahan, agak bergelombang tanpa poni.

21 oktober 2008. 01:46-02:10am

Akhirnya, dengan sangat kesal, saya mesti mengumumkan bahwa saya kena insomnia akut malam ini. Badan saya lemas, tadi pulang malah gemetar, tapi saya tidak mengantuk sekalipun. Padahal, saya telah berbaik sangka, bahwa mungkin ini giliran saya bersemangat, tidak begitu depresi, dan sebagainya, dan sebagainya.. Ternyata, saya cuma bisa sekali dua menguap, tanpa dapat ditindaklanjuti dengan tidur pulas. Dan esok pagi, ah, sial sekali jatah bolos kuliah saya sudah habis, dan habis karena saya memang sakit, bukan terlambat dan kabur ke kantin seperti semester lalu.

Lalu kenapa insomnia ini berkunjung? Datang tak diundang, dan tak juga pulang dengan usiran segala cara. Makhluk ini lebih menyebalkan ketimbang jelangkung dan kawan-kawan. Setidaknya, ada mantra yang bisa mengusir mereka. Atau sesajen. Tapi insomnia, oh insomnia. Tidakkah sebaiknya dikau datang kalau saya perlu mengerjakan tugas dadakan? Tidakkah kau tahu ini bukan jadwal ronda saya? Dan saya memang tidak punya jadwal ronda. Atau mungkin saya keluar saja menggantikan orang-orang yang sedang dapat jadwal ronda? Atau saya jadi nyamuk dan bisa kenyang dengan membuat orang lain bentol-bentol.

Semestinya tidak begini. Semestinya saya menulis sesuatu yang jauh lebih baik dari ini. Sialan... saya ingin tidur, saya ingin bermimpi, meski dalam mimpi itu saya keserempet angkot atau dimakan buaya. Saya ingin tidur. Saya lelah...

jadi penulis, 20 oktober

Ada banyak orang berharap saya menjadi penulis. Salah satunya, tentu adalah saya sendiri. Tentu, sebagai seseorang yang nyaris selalu memperkarakan setiap masalah, saya berkutat dalam tarik ulur pemikiran tak perlu tentang apakah saya punya cukup bakat atau tidak sebagai penulis. Awalnya, saya memikirkan hadits nabi Muhammad yang berbunyi, “orang dimudahkan untuk apa ia dicipta.” Sejak itu, saya berharap ada kemudahan dalam saya menulis. Lalu saya pikir lagi, nabi ditakdirkan menjadi nabi, tapi ia juga kesusahan. Jadi, entah ia dulu menghibur diri atau meracau, atau saya cari selamat, jalan saya menjadi penulis tidak akan begitu mudah.

Persoalan kian akut ketika saya sadar saya tak begitu cakap membuat makalah. Dan meskipun tanggapan orang-orang pada puisi saya cukup bikin ge-er, saya tak bisa terus-terusan menulis puisi. Atau mencatat, karena puisi kerap berkejaran dengan catatan hutang di benak saya. Saya juga tak pandai membuat cerpen, tak konsisten membuat novel, dan malas membuat artikel. Esai-esai saya Cuma berakhir di folder ‘tugas’, tanpa pernah selesai.

Tambah sial, saya pingin mati muda. Kalau tak punya karya, apalagi?

Sunday, February 24, 2008

life is, however, stranger than any fiction...

perempuan itu terkejut mendengar dering telpon di ruangannya. bagaimana mungkin? bagaimana mungkin ia menulis tentang seseorang yang ternyata memang hidup? tapi begitulah.

harold crick, seorang karyawan dinas pajak yang selalu saja menghitung semua hal dalam hidupnya, tiba-tiba mendengar seseorang menarasikan hidupnya. datang ke psikiater ia dituduh schizophrenia. namun ia berkeras bahwa persoalannya bukan karena sakit jiwa, tapi seseorang memang menarasikan hidupnya. dari sana ia bertemu seorang kritikus sastra yang menganggapnya karakter dari sebuah cerita.

saya benar-benar terpesona oleh film satu ini. dalam film ini, masalah kemanusiaan dan sebagainya dan sebagainya tak dianggap serius. ini tentang sebuah karya sastra, dan hidup juga bergantung pada genre cerita. bagaimana mungkin ada seorang manusia yang menyerahkan hidupnya pada seorang penulis karena ia merasa kematiannya akan membuat naskah itu paripurna sebagai karya sastra?

saya juga ingat pada puisi sapardi yang berjudul metamorfosis. seseorang entah dimana sedang menimbang-nimbang hari lahir kita, juga mereka-reka sebab kematian kita. bagaimana jika di semesta ini sebenarnya manusia saling menulis riwayat satu sama lain? bagaimana jika seorang yang kita temui di angkot ternyata memegang kunci kehidupan kita? saya pernah membayangkan semesta macam itu, bahkan mencoba menuliskannya. kurang berhasil, project itu masih gentayangan.

mungkin, seiring perjalanan hidup, saya masih saja beriman bahwa life, however, is stranger than any fiction ever written. karena itu, saya tak jadi mengusaikan tulisan itu, dimana manusia saling menulis dan sebagainya. mungkin juga suatu hari nanti saya akan meneruskannya. we'll see