Sunday, February 24, 2008

life is, however, stranger than any fiction...

perempuan itu terkejut mendengar dering telpon di ruangannya. bagaimana mungkin? bagaimana mungkin ia menulis tentang seseorang yang ternyata memang hidup? tapi begitulah.

harold crick, seorang karyawan dinas pajak yang selalu saja menghitung semua hal dalam hidupnya, tiba-tiba mendengar seseorang menarasikan hidupnya. datang ke psikiater ia dituduh schizophrenia. namun ia berkeras bahwa persoalannya bukan karena sakit jiwa, tapi seseorang memang menarasikan hidupnya. dari sana ia bertemu seorang kritikus sastra yang menganggapnya karakter dari sebuah cerita.

saya benar-benar terpesona oleh film satu ini. dalam film ini, masalah kemanusiaan dan sebagainya dan sebagainya tak dianggap serius. ini tentang sebuah karya sastra, dan hidup juga bergantung pada genre cerita. bagaimana mungkin ada seorang manusia yang menyerahkan hidupnya pada seorang penulis karena ia merasa kematiannya akan membuat naskah itu paripurna sebagai karya sastra?

saya juga ingat pada puisi sapardi yang berjudul metamorfosis. seseorang entah dimana sedang menimbang-nimbang hari lahir kita, juga mereka-reka sebab kematian kita. bagaimana jika di semesta ini sebenarnya manusia saling menulis riwayat satu sama lain? bagaimana jika seorang yang kita temui di angkot ternyata memegang kunci kehidupan kita? saya pernah membayangkan semesta macam itu, bahkan mencoba menuliskannya. kurang berhasil, project itu masih gentayangan.

mungkin, seiring perjalanan hidup, saya masih saja beriman bahwa life, however, is stranger than any fiction ever written. karena itu, saya tak jadi mengusaikan tulisan itu, dimana manusia saling menulis dan sebagainya. mungkin juga suatu hari nanti saya akan meneruskannya. we'll see

No comments: