Saturday, November 1, 2008

jadi penulis, 20 oktober

Ada banyak orang berharap saya menjadi penulis. Salah satunya, tentu adalah saya sendiri. Tentu, sebagai seseorang yang nyaris selalu memperkarakan setiap masalah, saya berkutat dalam tarik ulur pemikiran tak perlu tentang apakah saya punya cukup bakat atau tidak sebagai penulis. Awalnya, saya memikirkan hadits nabi Muhammad yang berbunyi, “orang dimudahkan untuk apa ia dicipta.” Sejak itu, saya berharap ada kemudahan dalam saya menulis. Lalu saya pikir lagi, nabi ditakdirkan menjadi nabi, tapi ia juga kesusahan. Jadi, entah ia dulu menghibur diri atau meracau, atau saya cari selamat, jalan saya menjadi penulis tidak akan begitu mudah.

Persoalan kian akut ketika saya sadar saya tak begitu cakap membuat makalah. Dan meskipun tanggapan orang-orang pada puisi saya cukup bikin ge-er, saya tak bisa terus-terusan menulis puisi. Atau mencatat, karena puisi kerap berkejaran dengan catatan hutang di benak saya. Saya juga tak pandai membuat cerpen, tak konsisten membuat novel, dan malas membuat artikel. Esai-esai saya Cuma berakhir di folder ‘tugas’, tanpa pernah selesai.

Tambah sial, saya pingin mati muda. Kalau tak punya karya, apalagi?

No comments: