Saturday, November 1, 2008

salah satu yang belum selesai (prosa)

Gelap mulai menghalau matahari surut ke barat. Perempuan itu masih duduk diujung dermaga, sesekali menoleh saat ada langkah kaki di belakangnya, seperti menunggu, namun tak juga henti ia menanti. Dan tunggu itu membuatku cemas akan berujung pada buntu yang itu-itu juga. Yang tiga hari ini telah kusaksikan.

Aku tak mengenalnya, jika kenal berarti kami mesti berjabat tangan lekat sambil bertukar nama. Tapi tiga hari ini aku telah jelas tahu bentuk punggungnya, wangi parfumnya, caranya berjalan, binar matanya, rambutnya, dan cemas yang satu dua kilas tertukas saat ia mulai duduk diujung dermaga, pukul empat belas sampai sembilan belas.

Awalnya aku menyangka ia adalah anak nelayan sederhana yang menjemput kedatangan ayahnya dengan keranjang penuh bekal dari ibu. Ia memakai kaos putih panjang dan rok hijau yang tak henti melambai karena sapuan angin, berlalu dengan keranjang dipangku. Ia memikatku dengan cara klasik, dengan tatap matanya yang sebening telaga, yang sanggup merampung pusaran tanya dalam dada akan arti hadir hawa. Tatap mata yang mengunci lidahku dengan simpul mati, pola yang sama dengan yang ia lakukan pada nyaliku untuk bersinggung lebih dari pandang dengannya.

Maka, aku menunggu. Menunggu untuk cukup berani menghampirinya. Namun jika aku tak juga mampu melarikan diri kehadapnya, biar nanti kucegat saat ia lewat. Aku mulai merancang percakapan yang singkat namun layak diutarakan padanya, juga ayahnya, jika mereka terpaksa aku cegat. Aku sampai pada kesimpulan bahwa aku mesti mengarang sandiwara agar bisa berkenalan dengannya. Picisan, memang, tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Aku terus merancang drama, sampai tak hirau pada waktu, juga acuh pada apa yang ia lakukan, ia pikirkan, padanya yang nyata, yang duduk diujung dermaga.

Aku masih sibuk mencari salam pembuka yang tepat untuk memulai percakapan dengannya saat ia tiba-tiba lewat kembali dihadapku dengan kepala tertunduk dan keranjang yang berayun malas ditangan kanannya. Aku hendak menyapa dan memanggilnya, namun aku takut ia menganggapku orang iseng. Aku hendak menyusul, namun takut ia menganggapku jahat. Anggapan-anggapan itu, ditambah pikiran kenapa ia pulang sendirian membuatku tambah gugup sendiri, menyisakan bayang punggungnya yang menjauh ke timur, sebelum akhirnya ditelan kelam malam. Aku melirik jam

tanganku, delapan belas lebih dua puluh lima menit, dan tersadar nelayan baru akan pergi melaut. Siapa yang setadi ia tunggu datang dari laut?

Namun kemarin aku mulai sadar, ia tak mencari seseorang dari laut. Kusaksikan ia diantar bocah kecil, kali itu ia tak membawa keranjang. Ia masih berjalan terburu, dengan punggung membungkuk dan lirik kanan-kiri yang amat hati-hati. Aku mencari tatapnya, namun tak selirik pun jatuh pada kelopak mataku. Kupaku kakiku di tempatnya, menikmati hadirnya dari jauh. Kuputuskan, aku akan mengamatinya lebih cermat, mencatatnya singkat namun setepatnya dalam ingat agar tak kehilangannya lagi seperti sebelumnya. Ia mengenakan blus hitam pendek dengan jaket rajut putih dan celana jins biru muda model pipa. Ia masih menggerai rambutnya, hitam kemerahan, agak bergelombang tanpa poni.

No comments: