Sunday, November 23, 2008

puisi dadakan

Hujan ini, kekasihku,

deras seperti jejak-jejak rindu

yang kutinggalkan di sakumu dua pertiga malam itu.

Masih kuingat, kau memelukku erat saat kuseka kecupmu dari nadiku

“Andai kau tak harus pergi saat fajar merekah matari pagi”,

bisikmu.

Kubuka jendela

(ruang rahasia itu, celah kecil untukmu menungguku),

lalu berlari mengejar bis kota.

Aku tak ingin menoleh, pamit atau berkata sampai jumpa

karena takut direnggut alpa dan kembali mendekapmu

~diam-diam kau merungai airmata,

takut kala senja memawar rindu tak dapat kau tawar~

Kita ditikam oleh mentari yang berulangkali karam

usai dengung mesin dan asap knalpot

menyertaiku

menatapmu dari jendela

(ruang kecil itu, berdebu disampingku),

Hingga rautmu hinggap di pelupuk mataku;

Hingga rindumu sampai di malam ini,

malam yang bertirai hujan, berselimut lelampu dan hentak lagu

Fakultas Sastra 13 November 2008.

No comments: