Monday, April 20, 2009

bikinin tugas bubu, part 1

Cala Ibi;
Sebuah (her)story

Dalam wacana feminisme, sangat penting menulis dengan gaya autobiografikal. Sebagaimana diungkap oleh Hélène Cixous dalam The Laugh of Medusa,
“Women must write herself: must write about women and bring women to writing, from which they have been driven away as violently as from their bodies –for the same reasons, by the same law, with the same fatal goal. Woman must put herself into text –as into the world and into history— by her own movement. ”
Ini dikarenakan genre autobiografi, seperti The Confessons milik Agustinus mengeksklusi perempuan. Narator/penulis autobiografi, seperti ditulis Georges Gusdorf dalam Smith dan Watson , “representasi” dari orang-orang terbaik pada masanya, yang tak pelak lagi dikonstruksi sebagai laki-laki, putih, dan Barat. Tulisan semacam itu hanya legal untuk laki-laki yang menunjukkan pencapaian publik. Sejarah pun tak jauh berbeda. Ia kerap menjadi (his)story, cerita tentang laki-laki yang memang punya lebih banyak akses publik. Akibatnya, perempuan berakhir pada peran figuran, dan halal jika tidak disebutkan. Perempuan “biasa” tidak cukup “luarbiasa” untuk diceritakan. Maka, para feminis memutar haluan dan menulis secara autobiografis, yang tak berarti dan tak mesti autobiografi.
Carolyn Heilburn dalam Aquarini menyatakan bahwa ada empat cara bagi perempuan untuk menulis hidupnya. Satu, ia sendiri menulis dan menamainya autobiografi; dua, perempuan menulis hidupnya, menyebutnya fiksi; ketiga, laki-laki atau perempuan menulis hidup perempuan dan mengatainya biografi; dan yang terakhir, perempuan menulis hidupnya dengan menghidupnya tanpa kesadaran apalagi penamaan proses yang tengah berlangsung.
Jika dilihat dari kategori diatas, maka novel-novel karya perempuan seperti NH. Dini, Ayu Utami, Oka Rusmini dan Nukila Amal dapat kita sebut sebagai kategori nomor dua. Perempuan-perempuan itu, masing-masing menulis perempuan, menulis Diri perempuan. Pada kesempatan ini, saya hendak memilih novel Nukila Amal, Cala Ibi sebagai subjek tulisan, karena meski tak sepopuler Ayu Utami, ia dianggap penting dalam khazanah sastra Indonesia kini. Pun karena pilihan kata, penuturan dan cerita, ia penting sebagai contoh penulisan khas perempuan.
Beberapa orang yang saya temui menyerah dalam hanya beberapa lembar buku itu. Yang lain mencoba bertahan lalu mengulang dua tiga kali membacanya. Yang lain membaca, lalu menyesal, agak merutuk, sedang sebagian lainnya memuji habis-habisan, memberi kritik gemilang dan menganggapnya cukup monumental.
Nukila, yang sempat saya temui tengah tahun lalu mengatakan ia tak begitu banyak membaca, apalagi tentang posmodernisme (ia baru membaca-baca buku filsafat posmodernisme ketika ditawari memberi kuliah umum di Universitas Parahyangan). Ia juga tak begitu antusias dilabeli feminis, dan mengatakan bahwa Cala Ibi sempat tertunda beberapa tahun.
Jadi, bagaimana mungkin seorang lulusan sekolah tinggi pariwisata, tidak begitu banyak membaca filsafat, tidak begitu saja mengakui dirinya feminis, bisa menulis buku yang dipuji kritikus? Nukila hanya bilang, dia hanya menulis. Dia menulis, dan menulis. Dia menulis sebagai dirinya, menulis kata-katanya, menulis sebagai perempuan yang menulis bahasanya.
Dalam pilihan kata dan penuturan, novelnya kerap tak disebut prosa. Kata-kata puitik, penuturan yang metaforis, jika merunut pada pakem prosa yang menginginkan bahasa yang cukup gamblang akan mengkategorikan Cala Ibi sebagai penyimpangan. Cala Ibi mengambil jalan berputar dan menantang logika prosa.
Saya menganggap penyelewengan pilihan kata dan penuturan yang dilakukannya sebagai khas perempuan. Ketika Cixous dan Irigaray ramai-ramai menganjurkan L’ecriture Feminine, yang diterjemahkan ‘bebas’ sebagai ‘menulis tubuh’ , Cala Ibi menyahut panggilannya. Tubuh perempuan yang tidak terpusat, bisa mereproduksi dirinya sendiri, atau yang disebut Cixous sebagai “tanpa ujung, tanpa anggota, tanpa bagian terpenting. Jika tubuh perempuan adalah utuh, maka ia terdiri dari bagian-bagian utuh, bukan objek parsial tetapi suatu rangkaian yang terus menerus bergerak dan berubah..” Metafora dalam Cala Ibi tersebar, mereproduksi dirinya sendiri, menentang logika phallus (baca:prosa) yang gamblang dan terpusat. Ari J. Purwawidjana, dalam esainya, “Menegosiasikan Tubuh dalam Produksi Sastra dan Kesadaran Kelas Menengah”, mengatakan bahwa narasi metaforis menunjukkan usaha keluar dari Logos untuk menciptakan semesta yang seluruhnya miliknya . Karena itulah, menulis tubuh perempuan, menulis layaknya tubuh perempuan, menjadi penting ketika bahasa yang ada sedemikian laki-laki dan seperti tubuh laki-laki, hingga pengalaman dan Diri perempuan tak dapat diungkapkan sesuai dengan perempuan.
Dalam tataran cerita, Cala Ibi dapat diadaptasi dengan fase penulisan ala Elaine Showalter : feminin, feminis, dan female. Feminin adalah konstruksi yang semata sosio-kultural. Feminis mengacu pada gerakan perempuan pada tahun 1960an sebagai gerakan politis, dan female, sebagai istilah biologis . Showalter mengadaptasi tiga term penting dalam feminisme dalam jenjang penulisan.
Fase feminin, perempuan menulis sebagaimana dititahkan dalam norma laki-laki, nilai maskulin. Pada tahap feminis, perempuan mulai mengenyahkan cengkraman maskulin dan menetapkan posisi yang tak tergantung pada pandang laki-laki. Terakhir, pada female, perempuan membangun dan mengeksplorasi tulisan, memperlakukan teks seperti tubuhnya.
Secara garis besar, Cala Ibi berkisah tentang Maya, yang mengalami petualangan surealis bersama naga jelmaan boneka yang diberikan keponakannya, Laila. Dalam perjalanan di “mimpinya”, Maya berkelana dalam sejarah Diri, yang ia temukan dalam riwayat pulau kelahirannya. Perjalanan itu membuatnya mempertanyakan kembali (perempuan).
Nukila membuka risalah dengan mengisahkan asal-usulnya. Dia menggambarkan ayahnya sebagai “anggrek bulan, putih dari hutan” dan ibunya sebagai “mawar merah di taman dekat pagar pekarangan”. Dan untuk Maya, ia adalah “bayi merah muda”, campuran dari keduanya. Pada kelanjutan tutur, Maya kemudian menyebut bahwa dirinya lebih dekat dengan ayah yang rasional, dan menganggap ibunya, meskipun pemberani, tak dapat dimengerti bahasanya.
Bukaan kisah seperti itu telah menunjukkan keberpihakan perempuan pada hal maskulin karena feminin adalah marjinal. Ibunya tak dapat dimengerti karena Maya hidup dalam bahasa laki-laki, dimana bahasa perempuan menjadi asing dan tak dapat dipahami. Ungkapan lain yang menandai fase feminin adalah ketika Nukila menceritakan sejarah nama tokohnya.
Maya Amanita. nama yang barangkali terdengar amat perempuan, dan begitu biasa. Namun, Nukila memberi cerita yang membuat kita berpikir dua kali dalam memberi nama.
Nama itu… pemberian seorang kolega temannya… Amanita, klasifikasi Linnaeus, genus untuk jamur beracun. Amanita muscaria, spesies yang paling beracun. Yang memakannya akan berhalusinasi, melihat imaji-imaji aneh yang tak benar-benar ada, sureal. Diikuti sakit keras mengigau, ceracau kata-kata yang tak jelas karena imaji-imaji dalam kepala. Delirium.
Dan seakan untuk melengkapi tema tak benar-benar ada, di depan nama itu ada nama lain, diberi ayahku. Maya. Ilusi, khayali, tak nyata, tak benar-benar ada… Fantasmagoria..

Penamaan ini membuka ruang alasan yang lapang untuk jalan cerita paralel antara Maya dan mimpinya, deliriumnya, Maia. Nama menjadi ramalan tak terelakkan, sebuah takdir. Dengan penamaan seperti ini pula, kita dihadapkan pada masalah Ayah (laki-laki) yang menganggap anak perempuan sebagai semu, tiada (Maya). Tokoh Maya sendiri mengungkap ketidaksukaannya pada nama (takdir)nya sendiri.
…seorang jamur beracun yang tak benar-benar ada… Aku tak pernah ingin merujuk diriku dari namaku, melihat diriku dari namaku… aku mesti menghela apa-apa ke mana-mana: marga, nama keluarga, garis ayah, rangkaian panjang sejarah. Menempel di belakang dua namaku… Bayangan yang mengikuti sepanjang jalan

Dengan demikian, secara perlahan, Nukila beranjak melihat pertentangan antara Diri dan Logos, namun tak bisa lepas darinya. Tokoh Maya yang membenci nama dari ayahnya, tetap mengandalkan sang ayah yang kemudian mengecewakannya karena tak menanggapi prestasinya. Disini, Nukila masih mempertahankan asumsi laki-laki sebagai sumber utama kebenaran, prestasi Maya belum terasa benar tanpa anggukan setuju dan tepuk tangan ayah. Pada ayahlah nilai-nilai kebenaran dapat dipercaya.
Fase feminin berakhir ketika Maya berubah menjadi Maia. Melalui mimpi, Maya memecahkan “cermin” dan menemukan Maia. Maia, pergeseran satu huruf tersebut menghadirkan resistensi, menolak ilusi, merayakan eksistensi dengan bertualang menafsir ulang sejarah, Diri-nya dan Diri-tempatnya. Maia adalah bagian dari Maya, dirinya dalam mimpinya. Dalam “Mengibu-anak”, Nukila menggambarkan penemuan ini dengan penanda yang signifikan, tubuh.
Tubuh perempuan memiliki kapasitas reproduksi tubuh lain, Diri lain dalam proses melahirkan. Berbeda dengan stereotip yang biasa dialamatkan pada perempuan melahirkan yang menganggap persalinan sebagai proses yang membebani, mencekam, membahayakan dan traumatis, Nukila merayakan proses itu, yang disebut Aquarini sebagai “kekuatan kreatif ragawi (perempuan) ”.
Kau rasakan ajaib itu: seakan mengalami keduanya, kau sang ibu, kau bayi perempuan itu. Kau ibumu, kau anak ibumu, kau ibu anakmu, kau ibu ibumu, kau ibu dari ibu ibumu, kau para ibu perempuan pendahulu, kau telah ada sejak berabad-abad lalu. Kau anak dari dalam tubuhmu… Ketika tubuhku bukan lagi milikku. Betapa sakit tubuhku saat mengandungmu. Lebih sakit ketika melahirkanmu. Sempat kukira aku akan mati, oleh segugut itu, sekarat yang takkan pernah dimengerti lelaki

Kesakitan tak lagi mencekam, kematian bukan ancaman, dan yang lebih penting, proses itu sepenuhnya milik perempuan, takkan pernah dialami—secara otomatis—takkan pernah dimengerti laki-laki. Seorang Diri yang lain hadir, ia berbeda, tapi bukan Liyan. Diri yang satu tidak mengurangi Diri yang lain. Maia tidak mengurangi Maya, Maya tidak memerintah Maia. Ada proses dialog diantara mereka yang kerap bertarung, namun Seorang tak menafikan Yang Lain. Pada Maya, Maia berkata
…kau tidak semaya namamu. Itu semata nama, cuma kata. Terlalu jauh, terlalu kabur, terlalu tak cukup, bahkan sewenang-wenang, untuk menyatakan yang nyata. Tapi hanya itu yang kita punya. Setidaknya, berilah makna. Urailah sepanjang detiknya, kuaklah seluas lembarnya,… Maknailah, meski hanya sebuah kata sederhana… Sobeklah selubung apa-apa, cadar yang rajutannya berjalin-jalin. Senyumlah pada perempuan di balik cadar itu… ia tak semaya namanya

Disini, Nukila menunjukkan bahwa resistensi, penolakan terhadap ayah/Logos/takdir dapat terjadi. Perempuan dapat mencoret bahasa laki-laki dengan pemaknaan yang khas perempuan. Pola yang sama ada ketika penafsiran ulang sejarah Maluku. Bai Guna Tobona adalah mother-earth, perempuan yang menyingkir dan disingkirkan, yang ditemukan kembali oleh Maya dalam “pembacaan” sejarah. Perjalanan Maya dalam melihat masa lalu tempatnya adalah bentuk pengembalian perempuan pada tempatnya dalam sejarah. Dengan demikian, Bai Guna Tobona menolak disingkirkan. Maya menolak penghapusan leluhur dan semestanya, karena semesta ini adalah semesta perempuan.
Titik terakhir yang akan saya soroti adalah bagaimana dalam cerita, Maya menulis mimpinya. Maya menemukan Maia dalam mimpi, sehingga mimpi perlu ditulis, agar Maia tak jadi ilusi. Setiap perempuan perlu menulis Dirinya, entah itu tubuhnya, mimpinya, maupun reproduksi makna akan eksistensinya dengan bahasanya.
Menulis memang tak mudah, dan bungkam dalam kesunyian tanpa makna pernah menjadi titik “aman dan nyaman” bagi Maya. Ini karena Maya belum menemukan bahasa perempuan, dan ia memilih bungkam daripada berada dalam definisi kaku laki-laki.
Adakah makna. Jika ada, dimana makna berada. Ataukah tidak ada… menakutkan. Selamat datang di hutan di dalam hutan, hutan tulisan sang perempuan! …bisakah kau lihat berlapis-lapis hutan tak berhingga, hutan di dalam hutan di dalam hutan? …Sebuah saja sunyi. Betapa kau merindukan sunyi itu, sunyi yang sederhana… Dalam dirinya, adakah tiadakah makna… Makna, ada atau tiada, bagaimana kau tau? …saat itu hutan, dunia, segala, masih sesederhana tampakannya, apa-apa masih seperti apa adanya.
....
Karena makna belum mengikuti…

Menulis adalah menghamili diri dan melahirkan. Ia bersitatap dengan ancaman kematian, namun kemudian dapat menjadi kemenangan dan pengalaman paling pribadi sekaligus kreatif perempuan. Memaknai diri adalah pilihan yang membebaskan, tapi juga serupa sekarat, harus dialami, harus diperjuangkan. Pengalaman tubuh perempuan adalah penanda ia Ada, pembeda bukan untuk menjadi Liyan dalam sebuah dikotomi kaku yang mentransgresi tubuh. Tubuh penanda ada, sebuah eksistensi. Tidak kurang dari tubuh-tubuh lain. Perempuan harus menulis pengalaman (tubuh)nya. Cixous lebih jauh menyatakan
And why don’t you write? Write! Writing is for you, you are for you; your body is yours, take it. I know why you haven’t written… Because writing is once too high, to great for you, it’s reserved for the great- that is for “great men”…
Perempuan tidak menulis terkadang karena menulis terlalu mahal, terlalu tinggi. Tapi pengalaman itu mesti direbut perempuan, mesti dirayakan dengan sukacita dengan kepercayaan bahwa itulah yang tepat untuk menegakkan eksistensinya. Begitu pula halnya dengan tubuh. Tubuh dan teks adalah milik perempuan, dan pengalaman dengan kedua hal tersebut dapat merebut kuasa perempuan atas dirinya sendiri. Seperti juga Maya, yang kemudian tenggelam dalam semesta sunyi, semesta kata, semesta sejarahnya, sejarah tubuhnya dan sejarah perempuan.
KEPUSTAKAAN

Amal, Nukila. Cala Ibi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004
Amiruddin, Mariana. Penulisan Feminin dan Maskulin: Daya Hidup, Seks, dan Narasi, pada http://kompas.com/kompascetak/0411/03/Bentara/1355059.htm, diunduh pada 4 November 2008.
Barry, Peter. Beginning Theory: An Introduction to Literary and Cultural Theory.Manchester: Manchester University Press. 1995
Pearsall, Marilyn (ed.). Woman and Values: Readings in Feminist Recent Philosophy.California: Wadsworth. 1993
Prabasmoro, Aquarini Priyatna. Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra dan Budaya Pop, Yogyakarta: Jalasutra. 2006.
Purwawidjana, Ari J. Menegosiasikan Tubuh dalam Produksi Sastra dan Kesadaran Kelas Menengah dalam Seks, Teks, dan Konteks. Bandung: Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran dan kelompok Belajar Nalar. 2004

No comments: