Monday, April 20, 2009

bikinin tugas bubu part 2

Perempuan dan Tubuhnya;
(Lagi-lagi) Tentang Seks dan Seksualitas

Seorang penyair, Saut Situmorang namanya, mengeluarkan pendapat menarik ketika membincang sastra di Indonesia . Kala itu, ia membincang adanya kanonisasi sastra, dan ia menyebut Ayu Utami sebagai salah satu diantara mereka yang “Manikebuis” sebagai perempuan yang merusak trend sastra karena mengungkap seks dalam novel-novelnya (dan membuat novelis lain ikut-lkutan seperti dia). Tak hanya berhenti di situ, ia juga mengkritisi feminis Indonesia yang dianggap latah karena membicarakan tentang seksualitas perempuan. Cixous, Irigaray, Beauvoir adalah perempuan kulit putih kelas menengah Perancis, maka seks dan seksualitas perempuan menjadi tema utama mereka karena itu masalah kaum perempuan di sana, yang kulit putih dan kelas menengah, dan Perancis. Feminis Indonesia mestinya lebih banyak berkata tentang perempuan buruh, yang gembrot, jalan di pasar becek, dan berjerawat.
Saya terhenyak, seks dan seksualitas adalah persoalan yang tak kunjung usai dikupas dalam kehidupan manusia di manapun dalam berbagai zaman. Seks, kata Malinowski, adalah peletak dasar kebudayaan . Ada banyak ritus budaya yang berawal dari masalah seks di berbagai budaya di dunia, dan yang paling gamblang dapat dilihat dari simbol (dan simbolisasi) yang hadir dalam prosesi pernikahan. Dilain pihak, seks sebagai wacana (di Barat), menurut Foucault baru muncul sekitar tiga abad ini, dimana tak ada hal lain yang bisa membuat banyak pihak begitu turut campur, dari gereja dan istana negara hingga kaum akademisi, dimana seks jadi memiliki ciri-ciri menahan diri, diam, dan munafik . Inilah masyarakat Scientia Sexualis, seks tak lagi masalah pribadi, kesenangan atau keseharian yang dialami (dan dinikmati, pun dimaknai), tapi menjadi masalah hukum, kebenaran ilmiah, bahwa kebenaran secara ilmiah dalam seks adalah yang esensial, seks menjadi komoditas dalam pertaruhan kebenaran, dengan berbagai prosedur ditata dalam kekuasaan/pengetahuan berdasar pada pengakuan dosa. Dari sanalah, sensor sekaligus lubang intip pada seksualitas pertama-tama berlaku. Dan keduanya kemudian bekerja luas pada tataran ilmiah pada abad ke-19.
Dalam tataran ini, wacana seks adalah untuk mendefinisi rezim kekuasaan/pengetahuan/kenikmatan yang melanggengkan wacana seksualitas manusia di dalam masyarakat kita. Isu utamanya adalah untuk menjelaskan fakta bahwa seksualitas itu diperbincangkan, untuk menemukan siapa yang melakukan pembicaraan, dari posisi dan sudut pandang apa seksualitas dibicarakan, institusi apa yang mendorong orang membicarakan seksualitas serta institusi apa yang menyebarkan hal-hal yang dibicarakan itu.
Masyarakat Timur, pada umumnya, memiliki apa yang disebut Ars Erotica . Seks adalah masalah kenikmatan, dan pengalaman tubuh yang intens menghadirkan makna ilahiah pada dirinya. Kebenaran pada Ars Erotica terletak pada kenikmatan itu sendiri. Pembeberan “praktek” seperti dalam Serat Centhini atau Kamasutra tidak kemudian menjadikan seks sebagai urusan ilmiah, kebenaran, apalagi kegunaan, tetapi menyisakan kerahasiaan karena keyakinan pada asumsi bahwa kenikmatan adalah pengalaman adalah momentum, pengetahuan yang sebenarnya hanya dapat diperoleh pada setiap kegiatan seksual itu sendiri.
Berangkat dari perbedaan prosedur kebenaran diatas, satu pertanyaan, dimana posisi perempuan? Tentu, dengan melihat prosedur kebenaran seperti itu, saya membayangkan perempuan seperti Cixous, Irigaray dan kawan-kawan memang perlu menegosiasikan makna seks dan seksualitas mereka. Perempuan Indonesia ada pada pihak yang mendingan, jika kita melihat bahwa kita adalah bagian dari Masyarakat Timur. Ars Erotica mensyaratkan pelaku kegiatan seks sebagai subjek. Sialnya, saat ini, batas Timur dan Barat tak lagi seterang bumi kala dibawah matahari siang, dan pengesahan UU Pornografi membuat dahi saya berkerut, tubuh (dan seksualitas) perempuan yang dikerat norma, moralitas dan hukum, saya mau tak mau mesti merujuk pada posisi perempuan yang rawan, posisi mereka yang terjebak dalam arus modernitas mengharuskan mereka memutar jalan agar menjadi subjek, kini mereka bukan lagi kehilangan subjektivitas, mereka juga dijadikan kriminal. Asumsi tradisional yang berangkat dari prasangka agama Ibrahimik yang menyebut perempuan sebagai penggoda mendapat legalitasnya kini. Perempuan yang mesti bertanggungjawab atas kemerosotan manusia dari surga. Mereka yang memegang kunci moralitas, hal yang sungguh tak pernah saya pahami seutuhnya. Bagaimana mungkin lelaki tak ambil bagian dalam kesalahan moral yang terjadi dalam kehidupan? Bukankah kehidupan (dan moralitas) juga dijalani laki-laki? Patriarki juga ternyata seperti yang disebut Aquarini, mengesampingkan kenyataan bahwa laki-laki juga kelompok manusia yang beraneka .
Dalam keadaan seperti ini, membincang tubuh (dan seksualitas) perempuan di Indonesia tak lagi terasa latah atau menganggapnya sebagai kegenitan intelektual feminis yang (hanya) membaca Perancis. Kita tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa jikapun seksualitas adalah urusan kaum menengah, di Indonesia perempuan semacam itu eksis. Perempuan cantik, tidak berjerawat, tidak berjalan di pasar becek itu ada. Lagipula, memangnya hanya perempuan kelas menengah saja yang bertubuh dan memiliki seksualitas? Sebenarnya apa yang esensial dari tubuh (dan seksualitas) hingga relevan dibicarakan oleh semua orang dimanapun?
Tubuh adalah penanda primer manusia, kata Faruk HT . Lebih jauh, ia berkata, tubuh adalah satu-satunya indikator yang paling niscaya atau bahkan mutlak dan yang terkesan alamiah dari eksistensi manusia sebagai pribadi. Ungkapan terkesan alamiah menyiratkan betapapun tubuh adalah yang terberi, pada kenyataannya, tubuh tak lepas dari kondisi sosio-kultural seorang individu. Berbeda dengan Foucault yang menyoroti wacana seks dimulai selama tiga abad terakhir, Anthony Synnott mengambil langkah jauh ke belakang untuk melihat bagaimana perlakuan dan gagasan tentang tubuh berkembang dalam beberapa periodisasi peradaban di Barat. Anthony mengawalinya dengan pemujaan Yunani pada tubuh, terutama Sparta (penekanan dari penulis). Dari beberapa filsuf, lahirlah gagasan tentang tubuh yang kelak amat mewarnai pemahaman Barat (dan akhirnya juga pada Islam, penulis). Betapa krusialnya tubuh, hingga dosa besar lahir dari tubuh, pun tiap laku religius mensyaratkan pengorbanan tubuh.
Sampai kita pada permasalahan tubuh perempuan. Clare Goldstein, melihat permasalahan inti tubuh perempuan pada kehidupan perempuan dan feminisme dengan ungkapannya, “this whole female gender thing did, after all, start the day I was born with a vagina”. Bagaimanapun juga, permasalahan perempuan, gender dan sebagainya, berawal ketika (ia) lahir dengan vagina. Meminjam ungkapan Ayu, kisah ini berawal dari ‘selangkangan’ . Permasalahan perempuan berawal ketika ia lahir dengan vagina, karena vagina tak semata organ tubuh yang netral. Vagina, yang ‘terberi’ itu, adalah juga seperti bagian tubuh lain yang seperti telah disampaikan sebelumnya, mencakup pemaknaan sosio-kultural yang kelak mengambil alih fungsi ‘alamiahnya’ dan menjadi order bagi kehidupan perempuan. Namun, tubuh jugalah yang dapat membuat perempuan mengelak dari order yang mengungkung tersebut. Itu sebabnya, menurut Germaine Greer, tubuh perempuan diandaikan sebagai ajang pertempuran (battlefield) dimana ia bertempur memperjuangkan kebebasannya. Tubuh sebaiknya menjadi media bagi perempuan untuk keluar dari ketertindasan, serta tekanan yang membuat dirinya terpinggirkan dan segala hal yang membuat membuat jiwanya tak berdaya. Kaum perempuan seharusnya bangga dan harus terus bicara tentang diri dan tubuhnya, ketika kaum perempuan menyensor tubuhnya sendiri, patuh seperti yang masyarakat katakan dan menafikan hak-haknya, maka ini berbahaya karena pada waktu yang sama, ia telah membungkam bahasa (speech) dan nafasnya; semua hal yang menjadi elemen penting dalam hidupnya . Beauvoir dalam The Second Sex menegaskan posisi tubuh dan seksualitas perempuan dengan penekanan bahwa
“manusia adalah mahluk dengan seksualitas; perempuan adalah individu yang lengkap, setara dengan laki-laki, hanya jika ia juga manusia dengan seksualitas. Menolak femininitas adalah menolak sebagian dari kemanusiaanya”

Dalam realita sehari-hari, perempuan dikaitkan dengan seksualitas jika dia hanya sebagai objek seks, atau femme fatale, penggoda. Lebih dari itu, seksualitas perempuan ditiadakan, direduksi sedemikian rupa hingga tubuhnya hanya berfungsi sebagai alat reproduksi. Hampir semua perempuan pernah mengalami pelecehan seksual, atau mengenal seseorang yang pernah mengalami pelecehan seksual, karena dalam kebudayaan patriarkal, perempuan adalah objek seks, objek tatapan laki-laki. Maka, urusan seksualitas perempuan, harus saya ulangi penekanannya, bukan semata masalah cantik, seksi, menggoda, tidak berjerawat, atau kelas menengah, apalagi hanya (di) Perancis, seksualitas perempuan tidak eksklusif, dan merupakan permasalahan perempuan pada umumnya. Tubuh tidak lebh rendah dari jiwa, begitu ujar D. H. Lawrence, maka masalah menegnai tubuh tidak bisa dianggap remeh.
Perempuan, dalam kerangka agama, adat, maupun negara selalu diharapkan menjadi aseksual di depan publik, namun binal dalam kamar. Begitulah seksualitas perempuan. Salah bertingkah menurut aturan ‘sederhana’ itu akan berakibat fatal. Dalam agama, menyadari dan menunjukkan seksualitas di depan publik berakibat kemerosotan dari Surga, bahkan menyeret ke neraka. Menurut adat, perempuan yang tak sesuai norma akan terus-menerus ddicap dan dikucilkan, dan kini, negara memantapkan aturan tersebut pada perundangan. Oleh karena itu, tak salah jika Kate Millet dengan lantang bilang, “sexual is political” .
Dalam agama Ibrahimik , penggambaran seksualitas yang gamang ditunjukkan dengan bagaimana kitab suci mengambil contoh perempuan yang saleh dan tidak saleh. Maryam, sebagai satu-satunya perempuan yang dijadikan nama Surah dalam Al-Quran, menunjukkan bahwa kesalehan adalah aseksual, dan hanya menjalankan fungsi reproduksi. Seumur hidupnya dibaktikan pada Allah, dan ketika Allah berkehendak padanya sebagai ibu dari seorang nabi, maka hidupnya kemudian berjibaku dengan usaha mempertahankan kesucian dan mengantarkan seorang nabi lahir dan hidup di dunia. Perempuan pertama di dunia, Hawa, memang tak sepenuhnya diangap pendosa maupun saleh. Ia menjadi penggoda Adam agar memakan buah dari pohon terlarang (mitos ini lebih banyak berkembang pada Yudeo-Kristiani, namun Islam pun tak jarang mengadopsinya). Dalam berbagai mitos, buah dada kemudian diidentikkan dengan buah terlarang yang tersangkut dan menubuh ketika akhirnya Hawa menyadari bahwa buah yang ia makan terlarang (bandingkan dengan mitos jakun yang berasal dari buah terlarang juga, bagaimana pada mitos paralel ini laki-laki lebih cepat menggunakan nalar dan menyadari dosa, dan jakun kemudian tak punya hubungan dengan seksualitas, sedang buah dada selamanya menjadi penanda dalam seksualitas). Karena Hawa ikut bertobat, dan kemudian melahirkan banyak anak yang kelak menjadi ras manusia, maka ia dimaafkan, namun perempuan akan memiliki buah dada sebagai ‘tanda mata’ dan kesakitan ketika menstruasi, hamil dan melahirkan sebagai ‘dosa asal’.
Dalam Islam, satu lagi penggambaran perempuan yang memberi warna dalam urusan seksualitas. Dia adalah Zulaikha. Konon, dia adalah istri gubernur (yang notabene orangtua angkat Yusuf), yang kesengsem melihat ketampanan Yusuf, dan kemudian menggodanya. Yusuf tentu dengan salehnya mengelak, meski ia tak memungkiri kecantikan Zulaikha. Namun dalam kisah ini, yang selalu ditonjolkan adalah bagaimana kemudian Zulaikha balik menuduh Yusuf yang menggodanya, dan Yusuf memlih mengakui kesalahan yang tidak ia lakukan agar ia masuk penjara saja, agar tidak tergoda. Dari kisah ini, kita dapat melihat bahwa perempuan kerap memungkiri seksualitasnya, dan laki-laki memilih mengakui bahwa ia saja yang menggoda, karena begitulah umumnya. Begitulah yang lebih alamiah, perempuan yang digoda laki-laki, dan laki-laki memilih mengakui menggoda dan dipenjara, karena galibnya laki-laki yang menggoda, dan tidak akan dapat menahan godaan sehingga harus dikurung saja dalam penjara. Pada cerita selanjutnya, dikisahkan pula Zulaikha menjadii cibiran masyarakat, dan untuk membalas cibiran itu, ia mengundang kawan-kawan yang mencibirnya untuk melihat langsung Yusuf. Kawan-kawannya yang juga terpesona digambarkan menatap Yusuf sambil tak sengaja mengiris tangan mereka dengan pisau yang tadinya mereka pakai untuk memotong buah-buahan.
Deskripsi ini lagi-lagi menegaskan bahwa perempuan ‘mesti’ membatasi diri dalam menghasrati laki-laki. Saya bayangkan, jika yang terjadi adalah kebalikkannya, perempuan cantik yang ‘dipertontonkan’, maka sekumpulan laki-laki itu akan mengambil langkah lain untuk menuruti hasratnya. Mengapa perempuan yang terpana hanya dapat ‘dengan tidak sengaja’ melukai dirinya sendiri? Hasrat mereka pada ketampanan Yusuf hanya ditindaklanjuti dengan menyakiti diri sendiri. Mengapa perempuan-perempuan itu tidak bersiul atau mengeluarkan celetukan-celetukan seperti laki-laki yang kebetulan mendapati perempuan berjalan di depannya? Mengapa masokisme lebih sering diatribusikan dan bahkan ‘dinaturalisasi’ pada perempuan? Dan mengapa Yusuf tidak merasa bersalah dan tidak dipersalahkan karena berjalan di depan perempuan-perempuan itu bahkan ketika perempuan-perempuan itu jadi terluka sebagaimana kerap perempuan dipersalahkan dan menyalahkan dirinya ketika terjadi pelecehan dan perkosaan?
Saya mafhum, seksualitas perempuan memang berbeda dengan laki-laki. Namun itu tidak berarti membenarkan bahwa perempuan punya kecenderungan masokis dan pasif, sehingga perempuan-perempuan itu hanya dapat menyakitii diri mereka sendiri dan Zulaikha harus memfitnah Yusuf. Deskripsi-deskripsi ini, terlebih kebanyakkan tafsirnya, tidak memihak pada perempuan sebagaii mahluk yang dikaruniai hasrat dan seksualitas. Hasrat seksualitas pada perempuan adalah monster, monstrous feminine yang membuatnya memfitnah laki-laki dan menjebloskannya ke dalam penjara, bahkan membuatnya menyakiti diri sendiri. Dilain pihak, perempuan yang menolak hasrat laki-laki (baca:suaminya) diangggap berbuat nusyuz, durhaka. Ia berhak dihukum dan dimurkai malaikat. Malaikat yang aseksual pun turut campur dalam urusan kamar manusia, bersekongkol dengan kepentingan laki-laki. Dengan posisi seperti ini, perempuan mengalami kekalahan pertama dalam memperjuangkan (hak) seksualitasnya.
Kekalahan kedua dapat dilihat dari bagaimana budaya dan ritusnya bekerja. Bagaimana produk kosmetik membanjiri media dengan iklannya yang sebagian besar mengimbau perempuan agar menjadi putih, berambut lurus dan hitam, serta langsing, agar dapat menaklukkan laki-laki dan disayangi. Perempuan dianjurkan untuk menjadi konsumtif dan menggadaikan tubuhnya demi wajah yang lebih putih, rambut yang lebih lurus dan lebih hitam, dan tubuh yang lebih langsing. Dengan demikian, laki-laki memperhatikan perempuan dan mengasihinya, sehingga perempuan menjadi bahagia. Hal ini menunjukkan bahwa agar bahagia, satu, perempuan harus banyak membelanjakan uangnya untuk kosmetik. Dua, tampilan perempuan mesti sesuai dengan kriteria mata laki-laki (dalam setiap iklan kosmetik, mata laki-laki adalah pusat penilaian), dan tiga, hanya dengan persetujuan laki-laki untuk memperhatikan dan menyayanginya, perempuan dapat hidup bahagia selamanya, dapat mengubah hidupnya jadi lebih bermakna (iklan POND’S terutama mengekspos tiga hal ini).
Tradisi juga menunjukkan keberpihakannya pada seksualitas laki-laki. Upacara Siraman dan menginjak telur sebagaimana yang diceritakan Aquarini . Menginjak telur adalah tradisi dalam pernikahan Jawa (Aquarini menyebut Sunda juga, namun dalam adat Sunda, sebenarnya tak ada tradisi semacam ini). Perempuan berjongkok di depan laki-laki yang telah menginjak telur, dan perempuan itu mesti membasuh kaki laki-laki dengan air mawar, terus sampai bersih, dan tetap berjongkok sembari menundukkan pandangan sampai laki-laki menyentuh bahunya sebagai pertanda ia dapat bangun. Laki-laki yang menginjak telur, yang kotor, dan perempuan tetap yang betanggungjawab hingga mesti bersimpuh membersihkannya. Belum cukup penghinaan itu, ia juga mesti menunggu laki-laki yang menentukan kebersihannya agar ia dapat dihormati dan dikasihi laki-laki.
Dalam sastra, perempuan seperti Ayu Utami malah dicemooh habis-habisan oleh Saut yang menyebut bahwa Pramoedya sebagai satu-satunya sastrawan di Indonesia. Padahal, Pramoedya juga menggambarkan adegan persetubuhan yang sangat menyudutkan perempuan. Annelies dan Minke dalam Bumi Manusia adalah salah satunya. Annelies merasa bersalah ketika Minke menyadari bahwa Annelies tidak lagi perawan, bahkan mengatakan bahwa . Dan Minke yang kemudian mengetahui bahwa Annelies diperkosa kakaknya tidak mengerti trauma yang dialami perempuan, malah bersetubuh lagi dengannya. Pram memang membela perempuan, dalam novel Gadis Pantai, ia menunjukkan betapa budaya dan laki-laki menghabisi hisup Gadis Pantai. Ia juga, melalui Minke menganggap Nyai Ontosoroh sebagai perempuan yang menakjubkan (meski agak menakutkan juga), tak seperti masyarakat yang mencibirnya sebagai Nyai. Namun, apakah itu berarti apa yang ditanyakan Aquarini benar, bahwa laki-laki yang berhak menggambarkan persetubuhan dan kekuatan perempuan, feminis maupun misoginis?
Tidak cukup dibungkam budaya dan dikalahkan dalam agama, negara ikut-ikutan menyengsarakan perempuan. Dengan Undang-undang Pornografi, yang alih-alih menghukum pelaku industrinya, negara malah menghukum perempuan dengan menempatkan perempuan sebagai kriminal, juga sebagai yang mesti dilindungi, dalam pornografi. Apakah laki-laki tidak dapat menjadi pelaku kejahatan pornografi atau menjadi korbannya? Undang-undang pornografi juga mencederai relativisme budaya dengan ujaran anggota dewan, “masyarakat Papua mestinya belajar dari orang Jawa”. Jika masalahnya adalah moralitas, apakah bahaya moral datang hanya dari seksualitas? Lebih-lebih, apakah masalah moral hanya datang dari perempuan yang berpakaian seksi dan dianggap menggoda? Semakin jelaslah watak patriarki dan ibuism dalam negara.
Sebelumnya, dalam Panca Dharma Wanita, negara menegaskan tugas seorang istri, satu, harus mendukung karier dan tugas suami. Dua, memberikan keturunan, tiga, merawat dan membesarkan anak. Empat, menjadi ibu rumahtangga yang baik. Dan lima, menjadi penjaga masyarakat. Penjaga masyarakat, inilah yang kemudian melandasi Undang-Undang Pornografi mengharuskan perempuan berbuat yang baik dan benar supaya dapat menjadi penjaga masyarakat yang benar. Agar masyarakat memiliki moral yang benar dan negara dapat berkembang ke arah yang lebih baik. Bagaimana mungkin perempuan diharuskan menjaga masyarakat sementara masyarakat yang krap berbuat jahat pada perempuan? Lalu dimana laki-laki? Apakah ia tak wajib menjaga masyarakat juga? Apakah ia tak boleh dilindungi dari pornografi? Sekali lagi, patriarki juga menenggelamkan laki-laki ke dalam apa yang diharuskannya sebagai laki-laki, dengan menafikan bahwa laki-laki memiliki kecenderungan dan latarbelakang berbeda. Bahwa mereka juga berkelompok-kelompok.
Untuk posisi yang tidak nyaman ini, Beauvoir, dan kelak Irigaray menawarkan siasat yang tidak begitu mudah. Perempuan dapat menjadi Subjek ketika ia mengobjekkan dirinya sendiri. Permainan Subjek-Objek ini tidak mudah, untuk tak menyebutnya berbahaya, karena dapat memurukkan perempuan pada pasifitas yang lain. Memang, ditengah akutnya ketimpangan ini adalah jalan pertama yang dapat ditempuh, tapi perempuan juga mesti memikirkan cara lain, agar perempuan tak melulu mesti mengobjekkan dirinya agar menjadi Subjek. Saya juga tidak menganjurkan perempuan untuk menjadii maskulin. Perempuan boleh memilih apa yang sesuai untuk mereka, begitupun laki-laki, karena laki-laki pun berhak menjadi feminin sesekali. Saya hanya dapat menganjurkan wacana dan pergerakan perempuan jangan pernah berhenti dan merasa puas, karena kita melawan sistem yang terus berupaya beroperasi agar tetap dapat menundukkan perempuan dan memakainya habis-habisan. Pertarungan makna dan pergerakan yang melawan sistem itu juga mesti tetap beroperasi untuk menandinginya, dan maksudnya bukan berarti feminisme sebagai yang periferal dibanding patriarki, namun untuk merujuk pada counter-ism yang dapat menyejajarkan diri dan mengurangi polusi kemanusiaan yang ditimbulkan patriarki.




KEPUSTAKAAN

Beauvoir, Simone de, The Second Sex, (terj. edisi Indonesia) Jogjakarta: Pustaka Promothea, halaman tahun hilang

Foucault, Michel, Ingin Tahu Sejarah Seksualitas, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia bekerjasama dengan FIB UI dan Forum Jakarta-Paris, 2008.

HT, Faruk, Tubuh, Kebudayaan, dan Seksualitas dalam Seks, Teks, dan Konteks, jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Unpad dan Kelompok Belajar Nalar, 2004

Prabasmoro, Aquarini Priyatna, Kajian Budaya Feminis, Tubuh Sastra dan Budaya Pop, Yogyakarta: Jalasutra, 2006

___________________________, Seks dan Seksualitas Perempuan dalam Kebudayaan Kontemporer, dalam Seks, Teks, Konteks , jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Unpad dan Kelompok Belajar Nalar, 2004

Riawanti, Selly, bahan matakuliah Pengantar Antropologi I, Jurusan Antropologi Sosial, Universitas Padjadjaran, 2007.

Synott, Anthony, Tubuh Sosial: Simbolisme, Diri, dan Masyarakat, Jogjakarta: Jalasutra, 2003

Utami, Ayu, Larung, Jakarta: KPG. 2002

Venny, Adrianna, Perempuan dan Tubuhnya, dalam Kumpulan Makalah Unduhan Lembaga Pers Women Studies Centre 2007-2008. Data tentang waktu dan sumber unduhan tak tercantum.

2 comments:

irvan mulyadie said...
This comment has been removed by the author.
irvan mulyadie said...

Asyik juga bahasannya....Menarik !!!