Sunday, October 23, 2011

mengapa sudah lama saya (nampaknya) tak menulis lagi.


Ini bukan salah siapa-siapa. Bahkan, ini bukan kesalahan. Hanya kekalahan lain, di sebuah pertarungan yang itu-itu saja; melawan letakutan-ketakutan yang menyumbat setiap pori-pori, yang membuat pikiran saya berjerawat dan berdaki. Saya masih menulis, tentu. Hanya saja tidak dipublikasikan. Tidak seluruh catatan harian perlu dikabarkan, apalagi, menulis kini seperti berhadapan dengan air gunung yang dingin ketika hendak mandi; tangan yang menjulur ragu menyentuh air, kemudian sejenak bimbang, tidak mau mandi tapi sudah terlanjur telanjang. Di masa-masa panik seperti itu, pilihannya ada tiga: memakai pakaian dan urung mandi, mandi tapi tergesa dan belum tentu bersih, atau sengaja menantang gigil dan istiqomah mandi dengan rinci, sebersih mungkin. 

Saya kerapkali memilih yang pertama, karena saya bukan main pemalas. Ini buruk sekali. Bagaimana mungkin seorang yang berharap menjadi pengrajin kata-kata menghindari bercebur-ceburan dengan kata-kata. Oh, bisa jadi demikian, hanya saja, sudah hampir dapat dipastikan, keterampilannya menurun tajam--kalau bukan terjun bebas lalu mampus ringsek di jurang. Tapi sebenarnya, saya gerah juga. Maka kadang-kadang ada pilihan keempat: mengelap seluruh badan. Tentu saja tidak sesegar mandi, tapi cukup membawa lega dan memuat saya dapat tidur cukup. Dan ketika terbangun, yang pertama terlintas adalah saya harus mandi hari ini. Jika saya tak ingin pergi kemanapun, tentu saya akan menarik selimut, dan berusaha memejam mata. Tapi jika saya ingin pergi, ingin beranjak dari tidur yang sudah tak dapat dilanjut lagi, saya akan memaksa bangun dan mandi. Serinci mungkin. Sebersih mungkin.

Kali lain, saya kerap merindukan mitra menulis, yang mengirimi saya sepucuk surat dan mengharuskan saya membalasnya. Seperti seorang teman atau kekasih yang mengetuk pintu dan mengajak saya berjalan-jalan, dan saya harus mandi dan berapi-rapi. Yang saya butuhkan, akhir-akhir ini, adalah keberangkatan. Jika terus tinggal disini, saya hanya akan berdiam diri, bau, dan dekat dengan undur diri. Menghilang. Karena saya sedang tidak tahan berdua-duaan dengan bayangan sendiri, meskipun di tempat ramai dan banyak orang asing, saya cenderung tiba-tiba tak disana, tak dimanapun selain pergi ke sarang ketakutan-ketakutan yang sebenarnya cukup berlebihan dan menggelikan. 

Lebih dari semua yang saya rindukan, saya rindu sekali menulis puisi. Pekerjaan yang sebenarnya baru beberapa tahun saya seriusi ini seru sekali. Tak ada yang lebih menggairahkan ketimbang berjam-jam menulis puisi, seburuk apapun hasilnya. Rasanya lelah sekali menunggu dapat menulis puisi lagi. Seolah-olah waktu habis begitu cepat sedang saya tak merasa bahagia. Bukan cuma tak bahagia, saat takbisa menulis puisi, rasanya saya menua dengan teramat cepat, dan usia saya terampas sia-sia. Saking putus asanya, kadang-kadang saya ingin jadi penyair ngepet sajalah. Saya pikir saya akan dapat memaksa seseorang untuk menjaga lilin dan telur selama saya keluyuran dan mencuri ide-ide. Tapi sialnya, tak ada satupun dukun yang bisa saya hubungi untuk mewujudkan mimpi itu. Terpaksa, saya mencatat hal-hal lain, untuk menjaga kegatalan menulis. 

Misalnya, saya mencoba menulis perempuan. Tadinya sih, dijuduli sebulan menulis perempuan. Ternyata saya tak sanggup menahan gigil dan hanya dapat beberapa kali menulis serabutan. Ya, semoga saja bisa cukup baik untuk dibagikan di blog atau bukumuka ini pada duadua desember. Kalau tidak, well, berarti keadaan saya lebih mengkhawatirkan daripada yang selalu saya sangkakan.

Tolongin baim, ya alloh....

Thursday, September 22, 2011

Arsip: Puisi-puisi yang dimuat di Jurnal Sajak

A NIGHT AFTER THE LOVE THAT I WANT TO MAKE

malam ini aku tak mau mandi.

masih meruap peluhmu di pepori rambut
dan kulitku. di labirin telingaku tersesat
nafasmu, di mana aroma pasta gigi berusaha menggusur rokok kretek. tak
kubiarkan tanganku menggaruk apapun, meski nyamuk mendarat di mana pun sesukanya
dan membuatku bentol

aku tak ingin menghapus sidik jarimu.

ah, ada kancing kemejamu tercecer di lantai. Biar kusimpan di toples, bersama
helai
rambutmu yang tadi sempat tertinggal
di jejariku. sambil memandangi toples,
aku tibatiba ingat pelajaran biologi, tentang bintilbintil di lidah. aku meragukan wilayah kekuasaan rasa, karena
runcing ujung lidah maupun pangkal milikmu terasa manis, mungkin karena sisa permen
yang kau kulum sehabis merokok, yang membuat gigimu ngilu
dan kau akhirnya memutuskan untuk gosok gigi.

adakah kau kecap bedanya rasa
antara bahu dan lututku, leher dan punggungku?

kau telah pulang, sedang kini aku meringis
mengingat iris kukumu memanjang di punggung
dan perutku, merinding merasai hidungmu menyusur dada kiriku sungguh
lengket tubuhku
yang berembun hingga kini,

tapi tetap aku tak mau mandi.

sabun akan membilasku,
aku tak sanggup membayangkan sabun bersekongkol dengan shower menjadi
semacam penghapus yang menyapu katakata pak guru
di papan tulis, sementara aku belum selesai mencatat...

tidak, aku tak mau mandi malam ini.


**Sempat dimuat di Pikiran Rakyat 04 April 2010

NARCISSUS

Narcissus, kemarilah. Apa yang kau cari
di telaga itu?
Wajah siapa yang kau amati dari air yang tak jernih lagi?
Narcissus, mengapa kau tak mau bercermin di mataku saja, atau perlukah
kupakai lensa kontak agar kau merasa lebih kerasan sekadar menemukan kau
masih tampan?

Echo, diamlah. Apa lagi yang mesti kau serukan, saat katakata yang berloncatan
hanyalah gema yang tidak dianggap apa-apa? Mengapa mendendam karena kata
cinta yang dipaksa pendam sedang kau memang lebih baik diam?

Nemesis, hentikan ayunan pedangmu.
Mengapa mencelakai anak muda yang baru mengenal rupanya sendiri?
Apalah yang kau sebut kesombongan,
saat tidak akan adil jika kecantikan
hanya dibagi untuk satu orang lain saja?
Bukankah hati yang patah berjamaah akan bisa ditanggung lebih mudah
daripada seluruh negeri menanggung iri
pada gadis yang bahkan tak bisa
mengungkap perasaannya sendiri?


**Sempat dimuat di Pikiran Rakyat 04 April 2010

AKU INGIN KEMBALI MENJADI IBUMU SAJA

aku ingin kembali menjadi ibumu saja.
selalu mendekaplekat dirimu hanya untuk meneguhsiapkan hati, untuk
menyapihmu. aku ingin kembali menjadi ibumu saja.
senantiasa menyiapkan makan malam dan doa, yakin bahwa kau akan
baikbaik saja, bahwa aku perlu menyambutmu pulang, meski tak lagi
kau dentingkan sendok ke piring, dan ranjangmu serapi bulan lalu. bahkan
ponselku semakin jarang berdering.

aku ingin kembali menjadi ibumu saja. yang menangis saat kau lelap, selalu
siap menghalau gundah dengan senyum dan seribu kata bijak yang barangkali
tak sengaja kujiplak.
aku ingin kembali menjadi ibumu saja. memberi dan mencereweti, tanpa
terluka hargadiri saat kau membuang semua ke pojok ingatan,
menyisakan janji salin tanpa kau cuci dari jejak ingkar.
aku ingin kembali menjadi ibumu saja. bertanya bukan
untuk menggiring,
menjawab bukan untuk gelisah yang sengaja dijaring.

aku ingin kembali menjadi ibumu saja.
menua dalam tunggu tanpa layu.


**Sempat dimuat di Pikiran Rakyat 04 April 2010

DENGKING

ringkik malam tersesat di jam tanganku.
membuat puisi-puisiku gemetar
dan aksara-aksara berhamburan.
hujan menancapkan tanya yang itu-itu juga,

“Haruskah kutiduri resahmu tiap fajar mekar?”

ranjang dingin, dan aku sibuk menjilati jemari
sehabis kau cabuti kuku-kuku yang selalu
mencakari mimpimu.


**Sempat dimuat di Pikiran Rakyat 04 April 2010

ANOTHER UNTITLED

Telah kuseka nafasmu
dari leherku;
tapi menghapus
degup jantungmu
di nadiku
tak semudah
mengenyah
remah roti
di sudut bibirmu
tempo hari...

NEGERI INI

negeri ini kucintai dan kubenci dengan alasan yang sama:
karena tak ada yang biasabiasa saja.

Semua di negeri ini selalu terlalu lebih atau sangat kurang, hingga selalu
mencetak pertanyaan yang semua jawabannya tak muat. Dengan itu aku mencintainya,
karena membuatku berpikir keras dan tertawa, menulis dan membaca.

Tapi dengan itu pula negeri ini kubenci,
karena harapan mengempis dengan cepat
dan kecewa datang jauh sebelum lonceng dibunyikan.

Negeri ini selalu mendatangkan semuanya
serba tanggung, bingung dan canggung.

Terkadang cerewet seperti sinetron yang mengandalkan
perempuan pesolek selalu menangis
berhadapan dengan lelaki perajuk di tiap episode.

Namun terkadang dia pendiam tak ubahnya keset yang bertahuntahun hanya
mampu menyambut dengan cara mempersilakan ucapan selamat datangnya dinjak
semua kaki pendatang maupun pemergi.

Negeri ini kucintai karena melahirkan banyak puisi, dan kubenci
karena diselasela tiap sajak terlalu deras airmata dan hela putus asa.

SINDANGSARI, 
LAPORAN PERJALANAN HARI PERTAMA

Barangkali itulah tangga ke surga.

Padipadi gemuk menguning dalam sawah bertingkat diselingi ubi atau kacang tanah,
juga tembakau: yang dalam mataku tampak seperti nasi liwet, ubi dan kacang rebus,
juga rokok kurus yang dilinting sendiri.

Aku luput melihat betapa sepinya kampung selain beberapa orang, embikan
kambing dan lenguh sapi. Aku juga alpa mengabsen tikus ditengah gerumbul padi
yang tinggi, ataupun mencermati secarik kertas di papan pengumuman luar kantor
desa berisi tarif pengurusan administrasi yang jelas disebut dalam dua versi, perda
dan non perda (tanpa mencantumkan bunyi perda apalagi penjelasan tentang siapa itu non perda).

Aku hanya bisa menghitung dua sekolah dasar, negeri dan islami, sembari
mengeluhkan jalan penuh batu yang merusak sepatuku. Aku terpesona pada
sekawanan bambu, selangselang yang mirip nadi, dan keliaran anjing. Aku tak
menghidu bekas longsor dan banjir sejak terheranheran melihat serakan sampah
plastik ditepi jalan setapak.

Aku tetap tersenyum meski tak kujumpai pemuda, hanya anak wanita dan orangtua
yang jelasjelas tak masuk kriteria untuk kugoda. Hingga akhirnya, aku hanya
mengingatkan diri untuk berbaju cerah dan berlengan panjang. Tak ada pohon tua
dan besar yang dengan bijak menghalau terik saat kau menyusur jalan lebar berlubang
itu.


*Sindangsari adalah nama sebuah desa di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang. Desa ini dipilih menjadi tempat penelitian untuk matakuliah Metode Etnografi. Puisi ini lahir setelah observasi hari pertama, 19 April 2010

YANG LUPUT DARI MAUT

adasaja yang luput
dijemput oleh maut.
Perlahan mengabut dalam sekali angin bersiut.
Memerangkap jeda
mengusir Tanya;
tak acuh pada almanak lusuh.

DOA SEBELUM TIDUR

Dua pertiga malam,
simpang sepi;
Pada piyama aku berjanji
Kali ini meriap mimpi
tanpa sesaji jeri
dan asap duka,
tanpa mantra lara.
Semoga matahari lupa
bangun dari cakrawala
dan aku tak perlu terjaga.

MATA-BULAN

Selalu, sabit rembulan di sudut matamu
pelahan berubah menjadi gerhana,
menghunus bimbang di antara leluka yang mengambang;

Menuntunku dari simpang sepi
Ke purna sunyi...


**Sempat dimuat di Pikiran Rakyat 04 April 2010

JAM MALAM

Malam mengangkat senapan
Rumah-rumah dibekap
Jalan-jalan dilapangkan
di sela-sela peluru dan serdadu.



Thursday, June 23, 2011

pada suatu sore (gagal nonton)

Ini saya curhat dulu. Kalo males baca, sekip ajah langsung ke bawah. Okeh.

Sore tadi, saya pergi ke Gedung Indonesia Menggugat untuk acara nonton bareng dan diskusi film Il Postino. Acara di jadwal mulai jam tiga sore, dan saya tiba di GIM jam setengah empat. Di lahan parkir, saya lihat banyak mobil. Agak mengherankan, tapi kemudian saya lihat pintu kafe samping tertutup, pasti ada acara di kafe, pikir saya, karena minggu sebelumnya pun ada acara di situ. Saya agak bergegas, melongok ke dalam, ada layar putih, tapi tak ada gambar film. Saya agak kaget juga ada banyak kursi di dalam. Formal amat, biasanya kami lesehan saja nonton. Sebelum saya masuk gedung, kekagetan saya bertambah ketika mang-mang berbaju security bertanya “Ada perlu apa, Mbak?” Astaga, saya kan kesini nyaris tiap minggu. Bukannya sok beken, tapi tempat ini amat familiar, dan pengunjung tetapnya adalah wajah-wajah yang saya kenal. Saya sudah amat biasa datang, jadi ketika ditanya ada perlu apa, saya jadi agak blah bloh dan menjawab kurang yakin, “mau nonton.” Mang-mang itu tersenyum dan mempersilakan saya.

Saya masuk, tapi di ruang yang mestinya dipakai nonton, isinya diskusi, bapak-bapak semua. Sekilas saya baca, Saresehan Sepakbola. WTF? Seorang teman yang boleh dikata ‘panitia’ acara nonton akhirnya bilang kalau acara nonton batal. Ruangannya dipake gitu. Shit. Dalam bingung saya ikut dia ke atas, ke IM Books,selirik saya lihat ada kopi dan cemilan di kafe. Pasti dari acara itu. Saya mengobrol sebentar dengan AQ, yang mengonfirmasi batalnya acara nonton. Oke, saya minta aja deh file filmnya. Dan saya dapat banyak sekali bonus film. Horeeeee. Saya kesal juga acara batal. Dan saya bilang, boleh gak nyicip makanannya. Lumayan.

Saya ke bawah, ambil kopi. Yah, kopinya encer. Kurang pahit. Di meja saya temukan makalah yang saya foto dan twitkan. Oh, acara bola. Saya cuma kepikiran kasih tahu Zen, dan karena tidak dijawab, saya jadi pingin tahu acaranya. Mengendap-endaplah saya ke pintu ruangan, dan ngambil makalah satu lagi. Lewat di depan pintu, saya foto-foto sebentar keadaan di dalam. saya malas masuk. Ngapain juga? Jadi saya kembali ke kafe, ngopi dan membacai makalah-makalah itu, sedikit ngobrol-ngobrol. Yap, acara ini dadakan. Baru dua hari kemarin ada pemberitahuan.

Saya sudah kehabisan obrolan, akhirnya saya dengar isi diskusi nyebut-nyebut Persib. There, dituntun magic word itu saya langsung masuk ke dalam ruangan, meskipun isi ruangannya haseum sekali, cuma bapak-bapak tua, dan ternyata mereka membicarakn persib sebagai PT., bahwa bola di Indonesia belum jadi bisnis, bahwa PT. PBB itu bla bla bla. Busa-busa semua. Sampai tiba sesi terakhir tanya-jawab. Saya gak begitu menyimak pertanyaan-pertanyaan dan juga jawaban, kecuali yang nanya soal George Toisutta (dari Jakarta FC), yang dijawab oleh Sumaryoto, yang intinya George Toisutta, sesuai yang ia tahu dari Cipta Lesmana George itu Bandung Raya dan PSAD, dan keduanya tidak berafiliasi dengan PSSI. Belum beres Sumaryoto bicara, seorang bapak-bapak interupsi, gak terima sama omongannya. Saya agak ngarep suasana berubah chaos, karena si bapak-bapak itu, yang ternyata dari PSAD kelihatan emosional. Tapi, ternyata tidak terjadi chaos. Maklum juga, sudah pada tua, dan hari sudah sore, jadi mereka mungkin tidak punya tenaga buat berkelahi.

Sumaryoto menjawab cukup diplomatis. Cari aman kalau kata saya mah. Dia bilang ya itu kan kata Cipta Lesmana, bla bla bla, sampai akhirnya bapak-bapak dari PSAD itu melunak, merayu-rayu Sumaryoto, bilang kalau Agum itu susah diajak bicara, dan dia berharap Sumaryoto dapat membawa perubahan. Dia percaya Sumaryoto dapat membawa perubahan. Tapi kalau nyambung sama omongannya di luar, Sumaryoto hanya berharap KLB mencapai kuorum, dan mudah-mudahan tidak ada perubahan. Poor you, bapak GT fans... jadi gitu. Saya penyimak diskusi yang buruk kalo gak ada catatan dan gak ada rekaman. Apalagi gak nikutan dari awal. Jadi mungkin sekali saya salah ngerti. Atau apalah. eh, saya udah minta soft copy makalah pak Sumaryoto, dengan alasan makalah yang di-print gak ada halaman pertamanya. Tapi dia gak mau kasih

Well, curhatnya udah kebanyakan. Jadi ini saya scan makalahnyah.

p.s. halaman pertama ari makalah Sumaryoto gak ada.

Makalah satu:

Sarasehan Sepakbola Indonesia
"Menggugat Prestasi
" Bandung, 23 Juni 2011

"Sanksi FIFA, Perlukah Dikhawatirkan?"
Oleh: HADI BASALAMAH

Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional Indonesia (GRSNI)

Sekapur Sirih
Kurun dua bulan terakhir, sepakbola Indonesia digegerkan oleh untaian kata berbunyi "Sanksi FIFA." Melihat kebelakang, sebenarnya kata-kata yang sama sempat beredar di masyarakat tepatnya pada tahun 2009 yang lalu. Namun bedanya, kata sanksi pada tahun tersebut langsung disuarakan oleh FIFA namun gemanya tidak dahsyat seperti saat ini. Pada saat itu, kejengkelan FIFA kepada PSSI sangat cepat dan tepat diantispiasi oleh mereka-mereka yang merasa 'memiliki' sepakbola negeri ini. Sedangkan kondisi 2-3 bulan terakhir, kata sanksi FIFA justru gencar dimunculkan oleh orang hidonesia sendiri dan gemanya jauh lebih menggegerkan karena mereka yang merasa 'paling mengetahui' bola negeri ini gagah bersahut-sahutan, meyakinkan kita bahwa bila Indonesia melawan kehendak FIFA, tamatlah riwayatmu kini. Padahal sungguh jauh panggang dari api. Alih-alih menentang statuta FIFA, kali ini justru kita yang bersemangat menegakkan statuta FIFA. Statuta yang sudah amat lama dipermainkan di negeri ini atas bantuan oknum FIFA di Swiss sana.

Seperti yang kita ketahui bersama, pada tahun 2009, FIFA sempat sangat kesal dengan Indonesia. Indonesia pada saat itu dianggap 'nekad' mengutak-atik pasal sakral dalam statuta FIFA, khususnya pasal yang melarang dengan tegas bahwa siapapun yang hendak menjadi anggota komite eksekutif" sebuah asosiasi sepakbola, haruslah bersih dari perkara hukum.

Peran Media Massa dalam polemik sanksi FIFA

Saat ini, selain kejujuran, akal sehat adalah barang langka di Indonesia. Begitu mudahnya seseorang atau bahkan sekelompok orang di Indonesia saat ini terpengaruh atau terperdaya oleh pemikiran yang menyesatkan. Celakanya, jalur efektif untuk membangun opini sesat dan penggelapan fakta justru dilakukan oleh (beberapa) media massa.

Media massa yang tujuan keberadaannya sesungguhnya sangat mulia karena memiliki peran besar membangun peradaban sebuah bangsa, di tangan yang salah malah menjadi alat menghancurkan peradaban bangsa itu sendiri. Khusus untuk kasus polemik sanksi FIFA ini, sangat telanjang terlihat di mata kita bahwa beberapa media bukannya menyampaikan semangat kejujuran dan pembelaan terhadap harga diri bangsa dari pelecehan oknum-oknum FIFA, sebaliknya malah menjadi agen-agen yang terdepan mengaburkan fakta, dan juga secara membabi buta dan teramat kasar berpihak pada sesuatu yang tampak benar dipermukaan, tetap sesungguhnya amat mencelakai bangsa ini bila tetap diberi peran.

Nah, bila dibanding dengan situasi saat ini, menurut hemat saya dan seharusnya memang begitulah adanya, kadar kesalahan Indonesia saat ini masih jauh sekali dari yang pernah dilakukan (ingat 2009) tapi tetap tidak dikenai sanksi. Rasanya aneh kalau kesalahan yang teramat fatal seperti memperkosa statuta FIFA saja tidak dihukum, masak hanya karena teguh mempertahankan keinginan untuk mendapat jawaban yang rasional, cerdas, dan jujur dari FIFA—soal kenapa kandidat ketua umum PSSI yang tidak pernah dihukum (dipenjara) tidak diijinkan menjadi peserta pemilihan— malah dihukum.

Lampiran; Fakta-fakta yang menjauhkan kita jauh dari logika sanksi

*Selama ini tidak terbukti ada intevensi pemerintah dalam kisruh PSSI, dengan demikian FIFA tidak punya alasan memberi sanksi bagi Indonesia.

*Dalam sidang Komite Asosiasi FIFA yang berlangsung Selasa (1/3/2011) sore waktu setempat di Zurich, Swiss, sanksi terhadap Indonesia tidak dibahas. Sekjen FIFA Jerome Valcke juga menegaskan tidak ada hukuman untuk Indonesia.

*Selain membebaskan sanksi, FIFA memberi kesempatan bagi Indonesia untuk menggelar kongres sekali lagi sebelum 30 Juni 2011, yang akhirnya diundur menjadi 9 Juli 2011.

*Indonesia tidak melanggar statuta FIFA. Sebaliknya, FIFA telah melanggar statunya sendiri karena melarang pasangan George Toisutta-Arifin Panigoro maju ke pencalonan ketua umum-wakil ketua umum PSSI.

*Wapres FIFA Pangeran Ali Bin Al Hussein justru kaget dan mempertanyakan alasan KN melarang George Toisutta-Arifin Panigoro ikut dalam Kongres PSSI.

*Sebaliknya, PSSI malah pernah melanggar statuta FIFA karena sebelumnya meloloskan nama Nurdin Halid dalam proses verifikasi calon ketua umum.

*Liga Primer Indonesia (LPI) yang dinilai ilegal dan jadi salah satu alasan pencekalan terhadap Arifin Panigoro telah diakui oleh PSSI melalui Komite Normalisasi (KN), itupun berdasar surat imbauan FIFA.

*Gagalnya Kongres PSSI di Hotel Sultan, Jakarta, pada Jumat (20/5) malam, lebih dikarenakan keputusan Ketua KN Agum Gumelar yang menutupnya secara sepihak. Padahal kongres berjalan kondusif. Kalaupun ada hujan interupsi, itu tak lebih hanya merupakan dinamika demokrasi.

*Kisruh di kongres itu merupakan puncak dari berbagai persoalan masa lalu. Sementara di sisi lain masyarakat berharap segera ada perubahan agar sepakbola nasional bisa diperhitungkan di tingkat dunia.

*Kasus yang terjadi di Indonesia berbeda dengan yang dialami Brunei Daressalam dan Bosnia. Brunei mendapatkan sanksi dari FIFA akibat intervensi pihak kerajaan terhadap otoritas sepakbola negeri kaya minyak tersebut. Brunei diskorsing 20 bulan dan sanksi itu baru dicabut 31 Mei 2011.

Sedangkan Bosnia dijatuhi sanksi 2 bulan karena Federasi Sepakbola Bosnia-Herzegovina (FFBH) memiliki tiga presiden sekaligus. Hukuman terhadap Bosnia lebih pendek karena mereka cepat menyelesaikan masalah internalnya.

Menurut saya bahwa pada hakekatnya kekisruhan ini adalah resistensi dan arogansi dari rezim lama telah gagal dalam kepengurusannya membina dan membangun sepakbola Indonesia 10 tahun terakhir ini yang ingin tetap berkuasan dan dengan boneka-bonekanya untuk menggagalkan semua gerakan reformasi sepakbola Indonesia. Kita semua tahu bahwa kegagalan dalam kepengurusan dan pembinaan rezim lama ini adalah karena "salah ures", sepakbola telah digunakan sebagai alat kepentingan kelompok dan individu yang tujuannya bukan prestasi dan fair play, tetapi kekuasaan politiknya demi memperkaya diri dan pertarungan pundi-pundi ekonominya. Cukup sudah, kejenuhan masyarakat bola akan fenomena ini dengan gerakan reformasi untuk mengembalikan olahraga yang kita cintai ini kepada pemiliknya haras tuntas selesai pada kongres 9 juli nanti. Ancaman-ancaman sanksi yang mereka gaungkan kita haras hadapi dengan tegar, selama tak ada pelanggaran terhadap statuta, dan sampai saat ini belum ada kasus dari gerakan reformasi ini yang melanggar rambu-rambu statuta dan atau electoral code. Vice President FIFA, Prince Ali dan Executive Board o/AFC sekarang sudah mulai sadar bahwa kekisruhan di Indonesia karena adanya konspirasi oknum-oknum rezim lama dengan kroni-nya di FIFA untuk tetap bisa berkuasa dengan segala cara.

Seandainya Sanksi FIFA tetap terjadi

Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional Indonesia (GRSNI) adalah salah satu unsur dari puluhan unsur pecinta sepakbola yang ada di Indonesia yang ingin melihat sepakbola Indonesia maju. GRSNI adalah salah satu unsur pecinta sepakbola Indonesia yang menginginkan sepakbola negeri ini terbebas dari segala bentuk pengelolaan yang bersifat curang, dan koruptif. GRSNI juga berharap agar siapapun pengelola sepakbola ngeri ini, haruslah memiliki rasa malu bila tidak sanggup mencetak prestasi dan mengharumkan nama Indonesia. Dan oleh karenanya siap mundur setiap saat.
Barangkali karena kita dianggap membandel tetap ngotot menuntut FIFA untuk menjawab secara rasional dan sungguh-sungguh jujur perihal larangan FIFA atas sosok yang bersih dari perkara hukum untuk maju ke podium pemilihan, maka kita haras dibungkam dengan sanksi.

Seandainya sanksi itu terjadi, menurut hemat kami tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Mengapa demikian? Saya mencoba menjawab hal ini dengan berkaca pada sebuah kalimat filosofis berikut; kekuasaan akan selalu ditutup dengan kebohongan, dan kebohongan adalah alat yang selalu digunakan untuk melanggengkan kekuasaan.
Oleh GRSNI, kata kunci yang haras dibongkar dari untaian kata filosofis di atas adalah pada kata kebohongan. Maka kebohonganlah yang selama ini hendak kita singkirkan jauh-jauh. Kita ingin kebohongan yang mengakibatkan sinar kebenaran ditubuh sepakbola Indonesia terus tertutup, akhirnya terkuak terang. Bila seandainya sanksi itu tiba, maka itu adalah momentum yang tepat bagi kita untuk menerangi rumah sepakbola yang seharasnya tempat memajang berbagai bukti prestasi malah menjadi gudang menyimpan segala kebohongan dan kebusukan perbuatan oknum perusak sepakbola Indonesia.

Selama masa sanksi terjadi, kita haras bergerak bersama mengusir mereka yang selalu menjual harga diri bangsa ini lewat sepakbola, kita harus tegar bekerja keras membenahi sepakbola kita yang miskin prestasi karena "salah uras".
Intinya, kami hanya ingin menyampaikan bahwa, bangsa ini tidak perlu khawatir bila kita sampai terkena sanksi, karena sesungguhnya hal yang terpenting dalam masa tersebut adalah:

1. Reformasi Organisasi Sebagai Langkah Awal:

A. Adopsi Statuta FIFA secara utuh
Pentingnya statuta FIFA diadopsi oleh anggotanya ditegaskan oleh induk organisasi sepakbola dunia itu dalam kata pengantar standar statute FIFA yang dipublikasikan pada Juni 2005.

B. Standarisasi Keanggotaan Klub PSSI
Agar sebuah klub sepakbola dapat diakui sebagai klub professional, maka salah satu syarat dalam lisensi klub profesional adalah klub tersebut mempunyai status badan hukum yang berorientasi laba (dalam hal ini perseroan terbatas).

C. Merintis Gedung Milik Sendiri
PSSI sebagai organisasi tertua di Republik Indonesia sudah seharasnya menunjukkan kapasitas sebagai organisasi yang mapan dan mandiri. Apalagi sepakbola Indonesia sejatinya kaya akan komoditas-komoditas usaha yang belum tergali secara maksimal. Hingga hari ini, PSSI belum mempunyai asset tersendiri yang layak dibanggakan. Kantor masih sewa, lapangan latihan untuk timnas pun masih pinjam. Ini jelas tidak membanggakan bagi sebuah organisasi tertua dan berpengalaman di mdonesia. Sementara negara yang bara merintis semacam Timor Leste telah menyelesaikan pembangunan gedung tersendiri untuk federasinya berkat bantuan FIFA melalui program FIFA Goal Programme. Kantor PSSI milik sendiri sesungguhnya dapat diwujudkan melalui FIFA Goal Programme, karena FIFA ingin semua anggotanya dapat mandiri dari ketergantungan sebagaimana FIFA dapat menghidupi organisasinya melalui produk-produk kompetisinya. Maka dari hasil pendapatan yang diperoleh melalui produk-produk kompetisi yang dikelolanya, FIFA ingin memberikan kontribusi balik kepada para anggotanya dalam wujud FIFA Goal Programme.

D. Memperjelas status Independensi Klub dan Liga
Liga tanpa klub, maka bukan merapakan liga. Liga tidak akan ada tanpa pesertanya, yaitu klub sehingga wajar jika dikatakan bahwa klub-klub adalah pemilik sebenarnya dari sebuah liga atau kompetisi. Maka dari itu sebenarnya pengelola liga adalah suatu badan organisasi yang mendapat amanah dari para klub anggotanya untuk mengelola pelaksanaan liga yang bersangkutan dengan tetap memegang asas melindungi kepentingan klub pesertanya. Konsep ini sudah diterapkan dalam pelaksanaan kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI). Klub-klub itulah yang menentukan bagaimana roda kompetisi LPI digulirkan. Klub-klub itu pulalah yang menentukan bagaimana roda kompetisi LPI digulirkan. Klub-klub itu pula yang menikmati keuntungan dari pemasukan yang berhasil diraih LPI melalui penjualan hak siar kepada stasiun televise dan penjaringan sponsor.

E. Peningkatan SDM di bidang Teknik
Persepakbolaan kita memang sudah tertinggal cukup jauh dari Negara-negara tetangga di ASEAN, apalagi Asia. Tak hanya dari segi prestasi, kita juga mulai tertinggal jauh dalam menghasilkan tenaga-tenaga di bidang teknik seperti pelatih, wasit, serta pelaksana pertandingan lainnya. Untuk itu, kita perlu segera mengejar ketertinggalan itu sekarang juga. Kursus-kursus dan penyegaran untuk pelatih maupun wasit perlu diperbanyak. Di sisi lain, peningkatan kualitas dan standarisasi pun harus dilakukan agar tenaga pelatih maupun wasit kita kembali diperhitungkan di pentas internasional.

F. Good Football Governance
Tata kelola yang baik sangat penting untuk sebuah federasi sepakbola. Terutama guna mewujudkan pengelolaan yang efektif dan menunjukkan akuntabilitas serta transparansi. Hal ini demi kepentingan semua klub dan kemajuan persepakbolaan Indonesia. Tata kelola yang baik tidak serta-merta menjamin keberhasilan persepakbolaan nasional bila tidak diiringi dengan perbaikan manajemen, pengawasan, dan yang paling penting keberlanjutan dari PSSI baik di tingkat pusat maupun daerah dan seluruh elemen pendukungnya, termasuk klub.

2. Kompetisi yang Mandiri dan Profesional

A. Melepaskan diri dari ketergantungan terhadap APBD
B. Mendorong kemandirian klub
C. Transparansi keuangan dan peniadaan biaya Nonteknis
D. Mengelola dukungan masyarakat
E. Memantapkan Liga Profesional
F. Sinkronisasi pelaksanaan kompetisi

3. Pembinaan Usia Muda yang Lebih Serius

A. Pentingnya Standarisasi SSB
Standarisasi SSB tidak saja dibutuhkan untuk mencetak pemain-pemain berbakat di Indonesia agar bisa bersaing dengan Negara-negara lain. Standarisasi juga dibutuhkan agar SSB tidak sekedar menjadi institusi bisnis, melainkan juga bertanggung jawab dalam mencetak bakat-bakat muda dibidang sepakbola. Standarisasi SSB setidaknya meliputi tiga hal:

- Standarisasi kurikulum
- Standarisasi tim pelatih melalui lisensi kepelatihan
- Standarisasi infrastruktur

B. Pemassalan Festival Sepakbola Usia Dini
Selama ini, lembaga pengelola sepakbola di Indonesia masih memprioritaskan pembinaan pemain-pemain senior melalui penyelenggaraan kompetisi senior. Untuk pembinaan usia dini dan usia muda justru pihak-pihak swasta seperti Medco Foundation, Danone Aqua atau Kompas Gramedia yang member perhatian lebih pada segmen ini. Pihak swasta itu secara rutin mengadakan kejuaraan tahunan untuk para pemain usia muda.

C. Kerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional
Pembinaan pemain usia dini (grass roots) dan usia muda akan dilakukan dengan melibatkan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Sebagai kementerian yang membawahi sekolah-sekolah formal di seluruh Indonesia, Kemendiknas bisa dikatakan mempunyai sumber daya besar berupa bakat-bakat yang tersebar di seluruh Indonesia. Para pemain usia dini dan muda yang merupakan calon-calon pemain profesional ini sebagian besar merupakan pelajar-pelajar yang mengenyam pendidikan formal di sekolah-sekolah umum.

D. Revitalisasi Diklat Sepakbola
Salah satu contoh embrio pembinaan usia muda yang melibatkan Kemendiknas adalah Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP). Sayangnya, embrio itu tidak mampu dipertahankan sebagai wadah pembinaan berkesinambungan. Belakangan perhatian terhadap program PPLP semakin berkurang. Akibatnya program ini bisa dikatakan belum mampu beroperasi secara maksimal dan cederung terbengkalai.

E. Pembentukan Akademi Sepak Bola Tingkat Nasional
Kebutuhan akan adanya Akademi Sepakbola yang dikelola oleh PSSI menjadi salah satu jawaban untuk pembmaan pemain usia dini dan usia muda. Akademi semacam ini, selain harus ada di level klub, sepatutnya juga ada di level federasi.

F. Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Pelatih
Persoalan lain yang selama ini menjadi hambatan dalam pembinaan pemain usia dini dan usia muda adalah masalah jumlah dan kualitas pelatih. Untuk pelatih senior dengan lisensi tertinggi yang berhak melatih tim-tim profesional, meski dikatakan masih kurang, tapi jumlahnya sudah lumayan memadai di Indonesia sehingga sebagian besar diantaranya bahkan tidak berkesempatan menangani klub professional.

4. Penerapan Sport Science dalam Sepakbola Indonesia

A. Tantangan Penerapan Sport Science
Persoalan Indonesia dalam penerapan Sport Science adalah minimnya SDM, karena perguruan tinggi di Indonesia, khususnya FPOK, masih menitikberatkan pada kependidikan olahraga, bukan pada iptek olahraga. Sport Science sendiri merupakan aplikasi dari basic science seperti matematika, fisika, kimia dan biologi. Sport Science ini harus tertuang dalam panduan operasional yang jelas, detail, dan kreatif. Formulasi itu perlu disusun dan disebarluaskan agar diketahui oleh pelaku sepakbola di negeri ini, dari pengurus PSSI, pengurus klub, dan stakeholder sepakbola lainnya.

B. Pelaksanaan Kerjasama Internasional untuk penerapan Sport Science
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengadaptasi pendekatan Sport Science dari Negara yang telah maju di bidang ini. Hal ini membutuhkan hubungan baik antarnegara yang bisa membuahkan pertukaran iptek. Pelaku sepakbola nasional Arifin Panigoro telah mengawalinya melalui kerjasama dengan Australian Institute of Sport (AIS). Negara ini memang dikenal luas telah mengembangkan Sport Science secara konsisten dan sudah tampak hasilnya dalam performa tim nasional Australia. Pertemuan pertama telah dilakukan pada 5 April 2011 di Jakarta dengan perwakilan AIS untuk pembicaraan awal mengenai kerjasama ini. Pihak Kemenpora pun sudah melakukan hal ini, mulai menjalin kerjasama dengan Korea National Sport University (KNSU). PSSI dapat mempererat komunikasi dan kerjasama dengan Kemenpora, sebagai kementerian yang membawahi bidang olahraga dimana sepakbola termasuk di dalamnya, untuk mempercepat proses pembelajaran dan penerapan sport science dalam lingkungan sepakbola nasional.

5. Pembentukan Tim Nasional yang berkualitas

A. Pembenahan Tim Nasional yang menyeluruh
Timnas adalah produk dari sebuah proses panjang yang saling berkesinambungan. Dari permasalahan infrastruktur, pembinaan usia dini, kualitas kompetisi, serta bagaimana manajemen timnas itu sendiri dijalankan. Infrastruktur yang memadai adalah kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar. Hanya dengan infrastruktur yang memadai, maka talenta-talenta yang kita miliki akan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Pemerintah harus berperan aktih memenuhi tersedianya infrastruktur ini. Di sisi lain, tugas PSSI juga untuk meyakinkan pemerintah bahawa tanpa peran serta mereka, akan sulit melahirkan dan menumbuhkan bakat-bakat yang ada di negeri ini.

B. Pembentukan Manajemen Tim Nasional yang Mandiri
Hal ini dilakukan agar dapat memberikan prestasi maksimal, dan timnas pun harus dibangun secara progresif dan menyeluruh. Pembentukan timnas tidak boleh lagi dilakukan secara instan. Untuk itu, timnas harus dikelola secara profesional dengan ditunjang oleh manajemen yang mandiri, kuat, dan memiliki orientasi bisnis. Ke depannya, manajemen timnas harus bisa menghasilkan pemasukan dari kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Dengan begitu, mereka akan bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa bergantung kepada kucuran dana dari PSSI maupun bantuan dari Pemerintah melalui APBN. Bahkan manajemen timnas diharapkan kelak justru bisa memberikan kontribusi lebih besar kepada PSSI. Bukan saja berupa prestadi yang telah lama diidam-idamkan pecinta sepakbola di Tanah Air, melainkan juga kontribusi dari sisi komersial.
Demikianlah makalah saya, semoga bisa membantu dan membuka wawasan mengenai sanksi FIFA. Semoga Allah SWT menunjukkan kepada kita sosok kebenaran dan jalan yang lurus agar perjalanan sepakbola kita terus di ridhoi dan diberi keberkahan. Amin. "Mari Bung, Benahi dan Rebut Kembali!" Wasalam. Terima kasih.

Makalah 2:

MAKALAH
"TUJUH BUTIR MENUJU SUKSES KLB PSSI"

















Oleh:
Drs. H. Sumaryoto
Ketua Indonesia Football Watch (IFW)/
Anggota Komite Normalisasi PSSI













Jakarta, 23 Juni 2011

mengusung George Toisutta dan Arifin Panigoro. Padahal kalau kedua nama tersebut diakomodasi, atau paling tidak sekadar dibacakan dalam KLB, otomatis FIFA akan menjatuhkan sanksi karena dengan demikian KLB dianggap gagal lantaran tidak sejalan dengan garis kebijakan FIFA. Sanksi itu berupa suspend hingga banned (pembekuan).

Siapa yang akan rugi bila PSSI terkena sanksi? Tentu kita semua. Lihatlah nasib anak-anak kita yang sedang belajar sepakbola dan bermimpi bertanding di event internasional. Bila PSSI terkena sanksi, mimpi mereka pun akan kandas.

Lihat pula adik-adik kita yang kini menjadi pemain sepakbola profesional dan menggantungkan hidup keluarganya pada sepakbola. Bila PSSI terkena sanksi, mereka pun akan gantung sepatu dan kehilangan mata pencaharian. Kalau keluarga mereka telantar, siapa yang mau bertanggung jawab?

Lihat pula nasib pelatih, wasit, dan inspektur pertandingan yang menggantungkan hidup pada sepakbola, serta pedagang kali lima yang biasa mengais rezeki di setiap pertandingan sepakbola. Bila PSSI terkena sanksi dan pertandingan-pertandingan berkurang, sumber nafkah mereka pun terancam.

Lihat pula nasib Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang akan berlaga pada SEA Games XXVI di Palembang, November mendatang. Bila PSSI terkena sanksi, otomatis Timnas tak akan bisa bertanding, kendati di kandang sendiri. Kesebelasan negara lain juga tidak berani bertanding melawan Indonesia, karena mereka pun akan langsung terkena sanksi. Bahkan mungkin tidak akan ada pertandingan sepakbola di SEA Games 2011.

Demi suksesnya KLB PSSI, semestinyalah masing-masing pihak menanggalkan hawa nafsu atau egosentrisme masing-masing. Dalam konteks ini perlu dilakukan pertemuan antara Ketua KN Agum Gumelar, George Toisutta, Arifin Panigoro, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, dan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/Komite Olimpiade Indonesia (KONI/KOI) Rita Subowo. Pertemuan tersebut untuk membangun kesepakatan setengah kamar, sehingga KLB di Solo tinggal ketok palu saja. Bila perbedaan pendapat antar-pihak-pihak tersebut sudah dapat diselesaikan, maka 80 persen dari persoalan KLB sudah selesai.

Butir kedua yang menjadi prasyarat suksesnya KLB adalah dukungan dari delegasi pemegang hak suara.
"Vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan," kata pepatah Latin yang dipopulerkan oleh Alcuin pada abad ke-8 dan sejarawan Inggris, William Malbesbury, pada abad ke-12.

"Salah satu dari lima cara untuk menang adalah merebut simpati dan dukungan rakyat/' kata Sun Tzu, filsuf dan ahli strategi perang asal China yang hidup pada tahun 500 Sebelum Masehi (SM).

Dalam konteks ini, terutama untuk mengukur seberapa besar kekuatan suara masing-masing pihak, perlu dipetakan kekuatan para pemegang hak suara KLB, antara yang mendukung keputusan FIFA dan yang menolak keputusan FIFA melarang George Toisutta dan Arifin Panigoro. Peta kekuatan suara ini sangat penting bagi lancar dan suksesnya KLB.

Berdasarkan pengamatan sementara, kekuatan pendukung keputusan FIFA atau segaris dengan tugas KN adalah 51 dari 100 suara delegasi pemegang hak suara KLB, dan kekuatan yang menolak keputusan/ketetapan FIFA adalah 49 dari 100 suara delegasi pemegang hak suara KLB, atau rasionya 51:49.

Tabel Peta Kekuatan Suara

No. Delegasi KLB Pendukung FIFA Penolak FIFA Jumlah
1. Pengprov PSSI 14 19 33
2. LSI 7 8 15
3. Divisi Utama 6 10 16
4. Divisi I 9 5 14
5. Divisi II 9 3 12
6. Divisi III 6 4 10
Jumlah Total 51 49 100

Catatan: Dari 101 Delegasi Pemegang Hak Suara, 1 (satu) di antaranya terkena diskualifikasi, yakni PSM Makassar, sehingga jumlahnya menjadi 100.

Dalam kaitan ini perlu dilakukan pertemuan Ketua KN Agum Gumelar dengan semua calon Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan komisioner Komite Eksekutif PSSI Periode 2011-2015.
Butir ketiga yang menjadi prasyarat suksesnya KLB PSSI adalah kecakapan KN dalam memimpin sidang. Untuk itu, diperlukan strategi jitu.

"Strategi adalah senjata paling ampuh dalam sebuah perang," kata Sun Tzu, filsuf dan ahli strategi perang asal China, penulis buku "The Art of War" atau "Seni Berperang", yang hidup pada tahun 500 Sebelum Masehi (SM). Dalam "The Art of War", Sun Tzu juga menulis, "Panglima yang cakap merupakan aset yang paling berharga."
Dalam kaitan ini, KN selaku "Panglima" KLB juga harus cakap dan memiliki strategi jitu supaya dapat mengendalikan para peserta, sehingga bila ada peserta yang mencoba memancing kekisruhan seperti yang terjadi pada Kongres PSSI 20 Mei 2011 di Hotel Sultan, Jakarta, pemimpin sidang dengan mudah dapat mengendalikannya.

Apalagi, dalam strategi ke-18 dari 36 strategi perangnya, Sun Tzu menulis,
"Kalahkan musuh dengan menangkap pemimpinnya. jika tentara musuh kuat tetapi dipimpin oleh komandan yang mengandalkan uang dan ancaman, maka ambil pemimpinnya. Jika komandan mati atau tertangkap, maka sisa pasukannya akan terpecah belah atau lari ke pihak anda. Akan tetapi jika pasukan terikat atas sebuah loyalitas terhadap komandannya, maka berhati-hatilah karena pasukan akan dapat melanjutkan perlawanan dengan motivasi balas dendam."

Belajar dari pengalaman penyelenggaraan Kongres PSSI 20 Mei 2011 di Hotel Sultan, Jakarta, yang berakhir deadlock, maka perlu dibentuk Steering Committee (SC) atau Panitia Pengarah dan Organizing Committee (OC) atau Panitia Pelaksana. Dari tujuh komisioner KN, perlu ada penegasan pembagian tugas, tiga orang sebagai SC, tiga orang sebagai OC, satu orang, yakni Ketua KN Agum Gumelar sebagai Ketua SC/OC. Perlu pula dibentuk Panitia Lokal KLB.

Butir keempat yang menjadi prasyarat suksesnya KLB PSSI adalah kelengkapan dan kesiapan perangkat KLB, seperti dasar hukum yang menjadi legitimasi KLB, administrasi, hotel tempat KLB, ID Card delegasi, fasilitas Electronic Voting atau E-Voting, setting arena KLB, layar, sound system atau tata suara, kertas suara, papan nama dan sebagainya.

Butir kelima yang tak kalah penting bagi prasyarat suksesnya KLB PSSI adalah suasana kultural dan spiritual serta kondisi keamanan Kota Solo, keamanan di dalam dan di luar arena KLB, dan atmosfer sepakbola Kota Solo yang kondusif.

1. Suasana Kultural.
Solo dikenal sebagai Kota Budaya yang warganya memiliki tingkat kesantunan yang tinggi. Kesantunan ini diharapkan bisa "menular" ke para peserta KLB, sehingga mereka bisa bersikap santun di arena persidangan. Terkait hal ini, Walikota Surakarta Joko Widodo selaku tuan rumah mengambil prakarsa bahwa para peserta KLB yang mendarat di Bandara Adi Sumarmo akan disambut dengan tarian tradisional, serta disediakan pendamping atau pager ayu hingga ke tempat KLB. Juga akan dilakukan kirab peserta KLB. Panitia juga akan menggelar pertunjukan wayang kulit pada malam sebelum KLB dengan dalang Ki Jlitheng Suparman dari Sukoharjo dengan lakon "Lahirnya Gatotkaca", diiringi dengan pentas musik keroncong oleh Grup Musik Keroncong "Gesang".

2. Suasana Spiritual.
Masyarakat Solo meyakini bahwa 9 Juli 2011 atau 7 Ruwah dalam penanggalan Jawa, jatuh pada hari Sabtu Pon yang berwatak lakuning banyu (aliran air), wasesa segara (seperti laut), di mana para pemimpin, termasuk pemimpin KN, pemimpin klub sepakbola dan Pengurus Provinsi PSSI yang menjadi peserta KLB, diharapkan dapat lembah manah (rendah hati) dan sabar.

3. Keamanan.
Kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) Kota Solo relatif stabil sehingga sangat kondusif bagi penyelenggaraan KLB. Kondisi Kamtibmas di dalam dan di luar lokasi KLB juga diupayakan kondusif.

4. Atmosfer Sepakbola.
Atmosfer sepakbola Kota Solo juga sangat mendukung. Pasca-penetapan Solo sebagai lokasi KLB, misalnya, masyarakat sepakbola kota ini langsung menggelar doa bersama demi suksesnya acara KLB. Inilah atmosfir yang kita harapkan.

Butir keenam yang menjadi prasayat suksesnya KLB PSSI ialah sikap tegas pemerintah. Dengan diberikannya kesempatan terakhir ini, kita juga berharap pemerintah tidak gamang lagi. Pemerintah wajib turut serta menciptakan iklim kondusif bagi terselenggaranya KLB. Langkah paling konkret dan mudah dilakukan adalah mengimbau George Toisutta-Arifin Panigoro untuk legawa menerima keputusan FIFA. Apalagi masih ada beberapa tokoh alternatif yang tak kalah kelas dari keduanya untuk memimpin PSSI. Sebagai KSAD, kita yakin bila pemerintah mengimbau, Pak George Toisutta niscaya menurutinya. Begitu pun Pak Arifin Panigoro yang kita kenal dekat dengan Pak SBY.

Butir ketujuh yang menjadi prasyarat suksesnya KLB PSSI adalah doa restu dari seluruh rakyat Indonesia bagi aman, lancar, tertib, damai, dan demokratisnya penyelenggaraan KLB sehingga berhasil melahirkan pengurus baru PSSI yang bersih dan profesional. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Doa adalah senjata bagi orang beriman."

Untuk itu, marilah kita berdoa bagi suksesnya KLB PSSI di Solo.
KLB adalah kesempatan terakhir yang diberikan FIFA setelah Kongres 20 Mei 2011 gagal. Untuk itu, marilah kita gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, karena kesempatan emas tak pernah datang dua kali, dengan menanggalkan hawa nafsu dan egosentisme kita masing-masing. Marilah kita selamatkan PSSI dari ancaman sanksi FIFA dengan menyukseskan KLB di Solo supaya berhasil melahirkan pengurus baru PSSI demi masa depan sepakbola Indonesia.

Marilah kita gunakan KLB sebagai ajang rekonsiliasi (islah) bagi pihak-pihak yang selama ini berbeda pendapat.

Akhirnya, izinkan saya menutup makalah ini dengan mengutip ayat (11) Surat Ar Rad: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya."

Jakarta, 23 Juni 2011

.
Sumaryoto



***maaaaaaap, agak berantakan. sayanya keburu lapar mau ngedit teh. gapapa yah. da baik :)

Tuesday, April 12, 2011

berlari

Hari ini hari Senin, jadi mestinya aku belum kena sial. Maka aku berusaha mengangkat kelopak mataku, sekedar memicing ke arah ponsel, ada beberapa pesan masuk. Sebentar aku memejam, untuk dapat membuka mata lebih lebar. Kutatap sekeliling, ruangan ini masih memenuhi setiap kategori yang aku tempelkan dalam kenang untuk seruang sekretariat.

Aku masih memeluk erat Beruing, takut ia tiba-tiba pergi dan aku akan merasa rapuh luarbiasa karenanya. Seolah hanya dia yang kumiliki untuk melawan dunia yang dipenuhi penyihir jahat. Kualih pandang pada mata kecilnya, mata yang memahami sendiriku, kejatuhan dan sepiku. Ia seolah menghiburku, jangan kenangkan Eden, buah manis dan lelaki; semua yang akan kau temui lagi hanya jika kau berjalan dan hidup. Begitu katanya, kerap ketika cemas mulai mengunyahku. Tapi sepatuku tinggal sebelah, dan aku punya banyak hal yang mesti kukerjakan disini.

Kemarin, aku meninggalkan lelaki itu tanpa pamit yang baik, cuma karena aku takut akan dentang jam yang bergema dua belas kali. Karena aku takut ia mengenaliku sebagai perempuan yang meninggalkannya selepas diusir dan turun dari Eden. Aku meninggalkannya karena ingin ia mengenalku sebagai perempuan yang lain. Mengenangku sebagai perempuan baru, yang tidak menuntutnya untuk mengembalikan buah manis yang sudah habis, atau Eden yang sudah kikis. Aku tak peduli jika aku menghabiskan sisa hidupku dengan tidur di dekat tungku dan dibisingi orang-orang yang lebih mengerikan dari sinetron manapun. Setidaknya aku tahu ke mana mesti pergi. Aku punya kawan-kawan yang mengubah sampah menjadi lawakan yang nyaris tak habis-habis. Tapi diantara kawanku itu ada dia. Dia yang memegang sepatu kiriku, yang mungkin penasaran dengan sepatu kanan dan kaki yang melangkah tergesa meninggalkannya. Dia yang sepertinya tak lagi mengenaliku.

Aku selalu saja tergesa untuk meninggalkannya. Selalu saja menurut pada kaki yang letaknya jauh dari hati. Dulu cuma karena dia menghabiskan buah manis dari iblis. Iblis memberinya padaku sebagai hadiah selamat datang katanya. Aku tak tahu apa-apa tentang larangan Tuhan, karena mungkin itu urusan lelaki dengan majikannya. Aku kesal karena dia tiba-tiba merebut buah itu dari tanganku, sambil berkata bahwa tak semestinya aku menerima apapun dari Iblis. Kubilang aku iba, dan salut karena tangannya bisa menjangkau buah dari pohon yang kau pagari. Kami bertengkar dan mengganggu tidur siang Tuhan, yang secepatnya menghempas kami dari Eden. Ia memelukku, agar kesakitan itu ia tanggungkan langsung. Aku tak mengerti apa-apa selain merasa berdosa karena ribut-ribut dan mengganggu istirahat majikan. Aku tak mendengar apa-apa yang ia jelaskan. Aku bingung, dan canggung. Aku terlalu terbiasa hidup enak dan bahagia. Kesedihan dan kejatuhan sangat tak tertahankan buatku.

Lama-lama, aku merasa ini semua salahku. Aku mulai mengetahui bahwa buah manis itu tak boleh dimakan, dan kami mesti waspada terhadap Iblis. Aku mulai menjauh darinya. Mulai merasa bahwa aku berpengaruh buruk baginya. Suatu hari, aku pergi meninggalkannya. Aku tak membangunkan tidurnya dan pergi begitu saja. Aku berlari ke arah barat, karena yakin ia tak akan mengejarku atau melacak arahku. Aku tak tahu bahwa tak seperti Eden, bumi ini bulat. Berulangkali kami bertemu dalam tatap sendu dan kaku. Aku kesepian dan sengsara tanpanya, sedang mungkin baginya, selalu ada yang belum lunas, karena aku berlari dan dia tak punya kesempatan menagih sepi yang aku hibahkan padanya.

Dia tak pernah tahu, bahwa derap kakiku sejak itu selalu saja berkhianat pada rinduku. Berkali-kali kami mati dan hidup kembali, untuk menagih janji pertemuan yang tak pernah punya undangan. Dan tiapkali aku bertemu dengannya, aku selalu terlalu malu untuk mengenalkan diriku. Aku kemudian berani berbalik, meski terlambat, dan menemukannya dalam pesta dansa membosankan seorang pangeran murung. Aku tak berani bilang siapa namaku, mungkin dia telah lupa nama asliku. Maka aku mengajaknya mabuk, agar dia tak ingat siapa sebenarnya aku. Malam itu cantik sekali, bulan sipit sabit dan bintang seperti lelampu kota. Aku ingin merengkuhnya dan bilang kita pergi saja, tapi kemudian dentang jam sialan itu mulai mengertap. Alkohol sudah habis, dan aku gemetar menghadapi kemungkinan dia mengenalku. Maka sekali lagi aku lari, tersandung dan meninggalkan sepatu kiriku. Biar saja kakiku lecet, biar saja dia mengutukku atau apalah. Biar aku pergi dan menyesal sendiri, seperti malam ini. Malam dimana airmataku adu deras dengan hujan....

(belum diedit, takut keburu selasa, saya suka sial di hari selasa....)

tentang sebuah petang

Hanya saja, terlalu menyengat matahari dan tatapanku sedemikian kabur. Aku menggunakan ibu jari sebelah kanan untuk mengusap alis, berharap menepiskan cahaya yang berlebihan menengok mataku yang lelah. Keningku basah. Mempertahankan beberapa helai kesabaranku untuk menanti senja yang mulai meleleh di langit, jatuh perlahan namun akan hilang dalam seketika. Mataku terlalu lelah kukira, waktu tidur yang hanya sejumput lenyap kualami menjelang siang dan kembali terbangun ketika kukira ada yang berkelebat di samping tempat tidurku. Bayangan, wajahnya sekilas kulihat tapi aku tiba-tiba merasa mengenalnya. Mungkin seseorang yang hendak melarikan diri dari mimpiku namun aku keburu memergokinya. Dia yang lama mengintai saat-saat lenyap sekejap dari alam sadarku, ketika ambang mimpi terbuka pelan dan dia hendak menggantikan peran hidupku.

Menukar maya dengan hidup yang dia pikir penuh warna. Adakah ia ingin mencuri daging dan darahku, menjerit ketika tersandung, mengecap asin airmata dan amisnya luka yang terbuka? Kucampakkan bantal, hendak beranjak tapi masih tersisa pengaruh vodka, atau barangkali aku terengah karena sisa kejar-kejaranku dengannya. Aku punya dua pilihan; menutup tirai, mengusir matahari dan melanjutkan pertengkaranku dengannya, atau pergi ke tempat dimana aku telah berjanji dengan perempuan itu. Ah, kupilih merokok. Masih ada tiga batang yang memungkinkanku memperpanjang kemalasan dan mengelak dari lelah.

Sejauh ini, dia berhasil menyalin wajahku. Kukenali ia saat aku bersitatap dengan cermin, tetapi bayangan yang kutemui saat gegas jagaku lebih mirip dengan bayangan di cermin kamar mandi yang berembun, ditambah beberapa kepulan asap yang sengaja kuhembuskan di wajahku sendiri. Tapi cermin di kamarkupun telah ku singkirkan, karena mengingatkanku akan wajahnya. Langit senja di jendela, abu rokok yang sebentar lagi jatuh. Aku belum berniat membuatnya bermukim di asbak, mungkin akan jatuh di pangkuanku seperti keringat yang pelan terjatuh dari ujung bulu mata. Kenapa aku berkeringat, bukankah aku belum yakin pertarungan dan saling berkejaran dengannya benar-benar terjadi di kamarku yang sempit ini? Apakah ini sepenuhnya mimpi atau entahlah. Semoga tegukan vodka bisa membantu meyakinkanku.

Vodka cuma tinggal seteguk, maka keyakinanku hanya sebatas aku mesti mencari rokok lagi. Kuambil dompet, lebih kurus dari tubuhku dan disanalah aku kembali bertemu dengannya. Dia dalam lembaran foto yang lusuh, mencium rambut kekasihku, kekasihku, yang tak lagi pacarku. Kekasihku, perempuan jalang itu menungguku, berjanji duduk manis sejak senja lahir sampai aku menebas jeda dan jarak diantara kami. Kucabut foto dari dompetku, wajah yang kian mirip dengan wajahnya, wajah bersemut karena lusuh, sinonim wajah embun berasap di cermin. Kubakar foto itu, biar saja dia kepanasan bersama kekasihku. Jadilah abu, jangan pernah mampir, meski cuma di kantukku.

Aku memilih berseteru dengan wajah itu, wajah kalah yang berusaha merebut tempatku duduk menunggu senja. Kursi yang sudah seminggu ini terasa singgasana. Tidak terbuat dari gading gajah purba dan berhias emas, masih rotan yang itu juga, melukis garis-garis di pantatku kukira. Abu dalam asbak, selamat tinggal wajah yang hangus dalam abu, semoga tak ada lagi waktu tersisa untuk mengenangmu. Kau mengingatkanku pada cermin dan wajah seseorang yang bersikukuh merebut tempatku. Ah, aku benar-benar membutuhkan beberapa batang rokok lagi untuk benar-benar menggenapkan ucapan selamat tinggalku pada wajah itu bersama hempasan asap. Mungkin jejaknya memang mengendap dalam paru-paruku, tapi itu jauh lebih baik karena aku tak perlu melihatnya tersenyum getir lalu melemparkanku dari kursi ini. Mungkin bukan aku yang terlempar, maksudku ia mengambil alih bukan hanya kursi ini, tapi juga tubuhku bahkan.

Aku tak merasa perlu menemui perempuan yang menjadikan hatiku serupa acar, dimakan mentah dengan cuka. Aku memar sebelum lebih jauh perempuan itu menyiksa. Kuraih botol vodka, berharap masih ada setetes, tapi bening tubuhnya memantulkan wajah yang tadi kubakar. Wajah penguntit itu seolah enggan enyah. Bagaimana jika dia akan terus membayangiku seumur hidup, senantiasa berjaga mencuri sempat untuk bersalin tempat? Aku butuh lebih banyak rokok. Selot berdecit saat kubuka, pintu berderak, tiba-tiba pergelanganku terasa dingin seolah seseorang memegang tanganku dengan ketat. Tidak menarikku kemanapun hanya memegangku. Senja di luar seakan larut dengan cepat tetapi seperti ke arah tubuhku. Di depan pintu dan senja tulang pergelangan tanganku membeku, seperti dirasuki cuaca yang tiba-tiba, menjalar tumpahan senja. Aku terhempas. Tubuhku dicuri!


*tulisan ini milik pow dan che.

kamis ini, untuk pagi yang masih bersembunyi

dalam lelah, ia menghela nafas. ia menatap lelaki di sampingnya dan tersenyum, betapa mudah ia jatuh terlelap. lelaki itu begitu mudah terpejam hingga kadang perempuan itu cemas kekasihnya dicuri mimpi. ada sejuta peri dalam mimpi yang mau mengajakmu menari atau sekedar haha hihi.

perempuan itu menoleh. aku tak sanggup kehilangan tukang tidur ini, maka ia mesti bebas bernyanyi dengan mimpi. barangkali bisa hilang perih itu. perempuan itu menyelimuti kekasihnya dan mengecup kelopak matanya. aih, mata yg tak bisa kujewer, pikirnya.

ia beranjak, seketika menyurut dalam bayang, kembali pada kertas, pada bolpoin, pada tangan, pada badan, pada kepala, pada jejaring pikir seorang perempuan yg termangu di kursi, membelakangi dengkur halus kekasihnya..



Thursday, November 5, 2009 at 1:22am

sebelum lonceng berbunyi dua kali subuh ini

batuk terus menjegal kantuk.
lagilagi perempuan itu bersitegang dengan bebayang, hanya karena huruphurup di layar dan suara yg mengalir lewat ponselnya. barangkali memang ia terlalu kurangajar, masih saja menggenggam mimpi yg meminang airmatanya sendiri. ia yakin, karena sekali dua masih ada yg melamar sabarnya, meminang genang doa yg mengundang kenang, beriakriak di telaga benaknya.

ah, maaf tak kunjung menjabatnya, sehingga lagilagi melafal jejak dosanya yg semakin memenuhi setapak pandangnya. katakan padaku kekasihku, jika mimpi ini tidaklah keluar dari lapangan ikhlasmu. ia diam mengingat beku yang ia hadapi. lelaki itu mematung lalu hanya menyodorkan punggung.

oh dewadewa, kadang aku tak sudi memanggul kecewa dan tak bisa menambal sudut mataku yg bocor... tapi kalian dewa lelaki, tak mau mengerti dan turut menyalahkan perempuan ini.

perempuan itu meratap, hingga tak ada tembok harap, hingga tak ada ceria yg sekedar hinggap.

scratches

hanya tinggal seiris kelam pada dua pertiga malam. suarasuara sudah lama berhamburan keluar, hanya suara musik berebut lampu sorot kupingku dengan adzan. aku mencari-cari jejakmu, sekedar ucapan selamat malam, tapi aku malah bertabrakan dengan ucapan selamat pagi dari wajah yang tak kukenali. sementara dengkurmu pudar dalam dengusku.
***

sudah pernah kubilang, jangan jatuh cinta padaku. aku akan pelanpelan mencekikmu dengan kecemburuan dan seribu satu kegilaan yang lebih suka kau sebut tuntutan. tapi dulu kau delapan belas tahun, tak mengenal perempuan dan mendadak jatuh cinta. lebih dari sekedar naksir, kau memujaku. aku tak pernah dicintai seruncing itu, dan rasanya begitu terhormat karena tak pernah seseorang hanya mencintaiku seperti itu. maka kudekap kau makin erat, karena lamalama, yang aku tahu, di sekelillngku betapa sulitnya memaku tatap lelaki hanya pada seorang perempuan. tentu, ini juga karena berulangkali aku lebur, meski aku tak suka bercerita tentang bagaimana jiwaku guncang dan lelangit hatiku runtuh, hingga aku lebih suka mengarang cerita yang manis dan menyembunyikan sebagian lukaku. di kemudian hari, aku tak sanggup berbohong dan di depanmu pendetaku, aku melakukan banyak pengakuan.
***

mau nerusin keburu ngantuk ah.

surat untuk bintangmerah

Senja ini, aku berpayung pada secarik hujan. Mencium aroma tanah dan menghirup sejumlah waktu yang sempat singgah, aku teringat padamu.

Pernah kita kuyup, rintikrintik gerimis dari jaketmu yang kelabu, kita gagal menghindari gigil. Kau khawatir, mengingat ringkihku dan sempat kesal pada awan yang seolah pipis sembarangan. Aku bilang aku masih mencintai hujan, dan hadirmu serupa bianglala. Tentu, kau tidak belangbelang tujuh warna, tapi kau cantik, hujan membuat kau tampak lebih segar, dan hatiku jadi mekar.

Kita berjalan di sepanjang trotoar, genggam tanganmu diinterupsi pedagang kakilima dan klakson motor, dan kau mengeluh, susahnya jadi orang miskin, berjalan ditengah hujan dan tak bisa mempertahankan sebatas genggam tangan. Aku tertawa, dan bilang padamu jangan banyak berharap di negara kita dan sungguh aku tak peduli, karena tahu, tatapmu hanya rebah padaku.

Kau terus bertanya apa aku baikbaik saja, seolah tawa tak cukup meyakinkanmu bahwa aku bahagia dan tak kenapakenapa. Kita terus mencari alamat dokter sambil cemas jika aku benarbenar mengidap penyakit serius, dan tiap kau gelisah, kau mencubit tanganku dan menghela nafas panjang. Kau tak pernah tenang jika ingat aku sakitsakitan, tak dulu juga kini. Itulah sebabnya kau kerap marah jika aku tak cukup makan dan istirahat, sembari sesekali menyalahkan diri sendiri. Aku tak suka. Aku tak mau melihatmu sedih cuma karena aku ringkih.

Lalu tiba dimana kau yang terbaring, menahan demam dan rindu. Juga pusing karena aku kesal padamu. Sungguh, kala itu rasanya menyiksa mengetahui kau sakit dan aku bahkan tak bias sekedar mengintip. Kerinduan yang keraskepala dan sakit yang bengal, dan alamatmu tak pernah ada dalam petaku. Baru kemudian kuketahui, kata sabar luput dari benakku, kala itu.

Sabar, kekasihku, adalah anak kita yang paling susah kulahirkan. Ia hanya lahir dari rahimku yang penyayang setelah menunggu dua bulan, dengan ngidam yang menyengsarakan dan memusingkan. Aku hanya bisa berharap kau mau menjadi bidan dan aku cukup mampu untuk persalinan normal. Aku hanya yakin bahwa kau tak akan mencelakakanku dan tetap mencintaiku seperti biasa. Dan aku tahu itu, meski kadang rasanya ingin menarikmu dan bersembunyi di ketiakmu, nguselngusel di dadamu, atau menjambak gemas rambutmu. Tentu, aku lebih ingin mengusap punggungmu, seperti yang selalu kau minta sebagai pengganti ninabobo…

Matahari nyaris melesak di ufuk timur kini, dan hal terakhir yang kau pikirkan adalah kasihan karena aku belum lelap ditengah dingin dan lapar. Ah, sayang, pikirkan kendara dan ranjangmu, disini aku hanya ingin menuntas celah yang tadi senja terbuka. Surat kecil untukmu yang tertunda.
Aku cinta kamu. Kutunggu cubitan kecil ditanganku, dan bahumu untuk kugigit kecil.


sekre wsc, november 2009.

berhenti menulis

saya sedang memikirkan untuk berhenti menulis. sulit memang. rasanya seperti keinginan untuk berhenti makan, yang kadang-kadang kumat dan membuat saya kurus kering. memang, ini disebabkan oleh saya semacam perasaan kesia-siaan. saya merasa apa yang saya tulis biasa saja dan nyaris tidak berguna. bukan bermaksud untuk kualat pada jempol-jempol dan komentar yang katakanlah, menganggap tulisan saya cukup lumayan (dan membuat saya ge-er tentu), tapi saya kan cuma nulis tentang saya. apa gunanya. sedang untuk menulis diluar hal itu saya belum juga mampu. saya juga tidak menafikan bahwa baru saja ada teman yang minta di-tag tulisan saya yang lama, dan dia bilang terserah mau tag yang mana. barangkali itu cukup berarti bahwa dia memperhatikan tulisan saya dan cukup menyukainya. lalu apa gunanya?

keraguan ini memang muncul karena dipicu oleh orang lain juga. tentu, dia tak bisa sepenuhnya dianggap orang lain. tapi rasanya tak adil membebankan masalah seperti ini padanya. oh, dewadewa, rasanya sesak memikirkan berhenti menulis, ketika saya tahu, ini setidaknya hal yang paling bisa saya lakukan dengan riang dan agak becus, mengingat saya tidak bisa mengerjakan apapun dengan baik, dan saya selalu merasa (tentu, sebagian karena saya selalu dikata-katai "apa sih yang bisa becus kamu lakukan?" sialnya, ketika saya menulis, sebagian besar yang mengata-ngatai saya itu gak appreciate sama tulisan saya. dari situ juga mungkin, saya jadi merasa tulisan saya percuma, dan seakan-akan menjadi pelarian karena saya malas melakukan hal lain.)

saya memang cengeng. sentimentil. mungkin karena itu juga labil dan menyebalkan. mungkin karena itu juga saya merasa harus lari dari banyak hal, dan menganggap hidup saya aneh karena saya tidak sesuai untuk kehidupan. mungkin karena itu juga saya mudah kecewa pada diri saya dan orang lain. meski pada akhirnya, selalu merasa saya yang salah dan jahat. ah, betapa sakitnya perasaan seperti ini. betapa saya mesti banyak-banyak menangis lagi, betapa saya ingin tidur dan tak perlu bangun lagi.

kamar: rabu, 18 november 2009. 04....-05.19 WIB

saya marah maka saya menulis lagi.

surat pertama untuk Daya.
(kutulis surat ini dalam demam dan rindu. dalam dendam dan pilu.)

Daya,

barangkali keterlaluan, jika dalam rentang waktu persahabatan kita selama lebih dari lima tahun baru sekali ini aku menulis untukmu. iya, aku terlalu pengecut kukira. aku masih berpikir tak bisa membalas cerpen yang kau buat tentang kita, sewaktu kita masih duduk di bangku sma. entah kenapa selalu aku tersandung ketika mesti menulis untukmu. beribu kata yang berdesak malah tak berhasil menyusun paragraf, beribu rasa yang menyesak tak dapat disusun menjadi cerita yang lengkap. dan kini, kupersilakan rindu mengetuk layar lebih dahulu, biar jejariku tak dibebani banyak persoalan.

Daya,

dalam tahun ini, nasib sepertinya semakin keraskepala untuk menjebak kita menuju kutuk. bahkan aku masih terengahengah, mengejar nafas yang macet karena isakanku tak juga henti. kalau ada semacam wiper di mataku pasti akan agak mudah, mataku tak harus terus berembun. kau tau, dari mata turun ke jari, karena terus merungai mataku, jejariku gempa, hurufhuruf berloncatan; persis seperti perasaan kita.

Daya,

telah berapa kali kita berbagi mimpi agar jarum jam diputar balik, agar almanak menyurut. kita benarbenar berharap agar kita dapat mencegah sesal, karena sesal menjelma siksa. apalagi ini perkara nyawa. kau mendapat nyawamu kembali, sesaat ia sempat meregang (ah, dua hari tentu tak bisa sesaat, apalagi kesakitan yang kau alami membuat detik tak gegas pergi, seolah semua dalam adegan yang diperlambat, dan dimana aku? aku tak disampingmu!) dan jam enam ia tiba di hadapmu, setelah berbulan mengendap dalam perutmu. (Kenanga, ia cantik sekali. ia seperti bidadari yang terbungkus oleh 'halo'. halo itu tak mengapung diatas kepalanya, tapi mewujud selaput mirip gelembung sabun. ia cantik, putih bersih, dan sehat. kakinya masih terlalu mungil, tapi bayiku akan menjadi perempuan yang cantik dan istimewa. kalau saja dia bisa dewasa...) tentu, Daya. ia akan cantik dan istimewa. cerdas dan keraskepala. kubayangkan dia akan seperti mamanya.

Daya,

aku tak disampingmu. saat itu, aku entah dimana dan aku tak datang padamu. aku pernah menawarkan padamu untuk tinggal bersamaku, biar saja bayimu hanya punya mama dan tante, biar kita asuh berdua saja, tapi tawaran itu hanya satu kali, dan apa artinya, ketika kemudian aku malah mengirimimu pesan singkat banyakbanyak untuk mensponsorimu dalam misi yang dapat membuat kalian berdua mati. sungguh, aku belum sepenuhnya sanggup--mungkin takkan pernah, menghadapi kenangan tentang harihari itu, dimana aku lupa bahwa kau sebenarnya selalu memihak Hidup. aku terlalu gugup. aku kehilangan nyali yang kini kusadari, tak pernah betulbetul kumiliki. ah, tanganku masih bau amis darah bayimu.

Daya,

kita pernah berjanji akan menengoknya. jarak mempecundangi kerinduan kita; memaksa kau mengunyah kenang, aku mengulum bayang. hingga akhirnya geligimu retak dan kau telan, meracuni tubuhmu yang kini tak karib dengan sehat. tapi kau masih bisa saja berjalan, entah kekuatan macam apa yang kau punya, yang takkan pernah aku dapatkan. kau bilang kau cuma purapura, kupikir, berpurapura pun aku takkan sanggup. aku terlalu mudah cedera oleh masalah sepele, kehilangan sendal jepit pun bisa membuatku merana. maka aku sepertinya tak bisa menanggung kehilangan sepertimu, darah daging cinta. meski begitu, aku tak ingin menoleh sedikitpun dari lukamu.

Daya,

aku masih dapat menyerapahi bajingan yang sempat kau ludahi itu. sepertinya ia membangkitkan hobiku untuk memaki. ia yang pernah begitu kau cinta dan percaya, ia yang terlalu manja dan keji. ia yang tanpa kita tahu hanya dapat berpikir menggunakan jempol kaki. aku membencinya dan tanpa dipaksa turut mendendam, dan memberinya ruang seluas titik untuk dimaafkan. karena kegenitannya kau nyaris mati dan bayi kalian tak sempat kita gendong. demi tuhan, mengingat namanya saja langsung gemas aku ingin menghajarnya, mencabuti kuku dan giginya satusatu. bahkan ribbuan siksa tak cukup, takkan mampu membayar utangnya padamu.

Daya,

kau selalu percaya pada Hidup. aku terperanjat ketika kau ingin menyerah. tolong jangan menyerah. aku selalu berpaling padamu saat menyerah. bukankah kita pernah percaya bahwa kita kelak (boleh) bahagia? kau berjanji padaku bahwa kita akan bersenang-senang. bahwa aku akan kau ajak tinggal di apartemenmu. kau juga pernah bilang padaku bahwa kau ingin tak ada lagi perempuan yang mesti bernasib sepertimu. bahwa ia mestinya masih hidup jika dunia lebih ramah pada kesahmu.

Daya,

kau berhak bahagia. kau berhak Hidup. demi cintamu pada Livia, dan utang jenguk kita pada tanah Solo. kau tentu tau, bahwa ketika kotak Pandora terbuka, semua kejahatan dan keburukan, tiap penyakit keluar dari kotaknya, kecuali harapan. jika Pandora diizinkan menyimpan harapan, jika Hawa masih bisa berdoa ketika diusir dari surga, maka kita berdua masih punya tiket untuk berbahagia.

Daya,
aku menyayangimu. meski aku menjauh ke Timur dan kau tetap ke arah Barat, persetan dengan arah karena bumi ini masih bulat...


*aku menyatut nama Daya dari cerpenmu. nama Kenanga dari serakan cerita yang belum kurampungkan. Livia karena ia akan tetap hidup di semesta kasih kita. aku menulis ini saat menstruasi dan demam. maaf jika kau tak berkenan. aku masih ingin manjadi orang yang pantas kau panggil teman. i love you, dearest mate.

-kasur, hari pertama desember duaribusembilan. malam sampe adzan awal.

tentang malaikat yang pagi ini ngopi di pinggir ranjangku

1
aku hampir saja mengira dia adalah jelangkung, karena dia datang tak diundang, dan sepertinya akan pulang tanpa perlu diantar. tidurku tak begitu nyenyak, dan seperti biasa asam lambung yang menjadi sirine agar aku cepat-cepat bangun dan minum segelas air bening. tapi tiba-tiba mataku bertabrakan dengan cengirnya. sosok yang selalu saja kubayangkan sebagai lelaki (sungguh, ini garagara kalian para kiyai). dia bertanya kabar, dan kujawab saja buruk. dia nyengir makin lebar. dan setelah berbasabasi, kutanya maksud datangnya, dia malah bilang aku datang sesuai inginnya. eh? lalu dia mengeluarkan secangkir kopi dari jubahnya, menghirupnya.

tentu saja, aku tak perlu bilang bahwa aku yang memberimu mimpi yang baik dan melepas sayapku untuk terbangmu. tapi akhir-akhir ini kau banyak sekali mengeluhkan silaunya cahaya matahari dan mimpi buruk, juga seribu satu kesialan. jika sayapmu terluka, jangan datang padaku, aku ini bukan mantri atau dokter. kenapa kau tidak berterimakasih padaku waktu kau kuberi sayap, eh? kau memang pelupa kurangajar. tidakkah seseorang pernah memberitahumu bahwa hanya kenangan yang benar-benar nyata?

kau mau aku copot sayap itu? bagus, bagus.... setelah kau lukai baru kau kembalikan dengan jutaan kesah. kau ini berlebihan. umurmu duadua tapi umur gelisahmu berkalikali lipat. kenapa kau tak bersenangsenang seperti kebanyakan orang seumurmu? temanku bilang, mencabut nyawamu samasekali tidak sulit, dan kau sendiri tampaknya tak begitu keberatan. kau pikir kami tidak bosan menghadapi perengek sepertimu?

kupikir dulu kau ingin terbang, dan aku memberikanmu sayapku, seperti sering aku melakukannya pada orang lain. iya, itu artinya kau tidak luarbiasa istimewa, tapi kau sendiri tak begitu perlu menjadi seperti itu, eh? lagipula, kau tak berbakat menjadi orang hebat. mana ada orang hebat mau mengembalikan sayap. dan kau terlalu plinplan. orang plinplan mungkin bisa jadi presiden, tapi belum tentu bisa jadi orang hebat.

dia menyeruput kopinya. dan bilang bahwa dia tahu sakitku, maka takkan menawariku minum kopi. ternyata dia masih sangat sopan, memberiku alasan tak berbagi kopi. atau dia memang senang bicara? ah, biar saja. aku masih terlalu kaget karena datangnya. karena ini bukan mimpi. dan aku tau, hanya aku yang bisa melihatnya. begitu kan cerita di filmfilm? ah, aku ingin tidur lagi. malas sekali diceramahi seperti ini. palingpaling nanti dia bilang, aku harus banyakbanyak bersyukur, blahblahblah....

kau tau maksudku dan tidak menyukai kedatanganku. pecundang saja masih mengharapkan kedatanganku. kau ini memang benarbenar perengek. jenis manusia yang paling dulu dilempar ke neraka. tapi kau bahkan tidak peduli jika ke neraka. kalau kau berkeras tak mau mendengar, harusnya yang kau kembalikan adalah telinga, bukan sayap yang sudah penuh sayat.

kau yang membuat hidupmu susah. aku sudah memberimu masalah dan kau memperumit urusanmu. mungkin harusnya kau ikut tim perumus nasib. jarang ada orang yang memperumit urusannya sepertimu. kami para malaikat harus belajar tentang arti kata sial padamu. dan kau harus belajar cuti gelisah pada kami. jangan terlalu keiblisiblisan. dia juga awalnya perengek sepertimu. dan kau tau, kesepian apa yang dia emban karena rengekannya pada kaummu. kau takut pada sepi, tapi kau terus saja berulah. aku takkan berhenti bicara. siapa tau kau ingat satu dua ucapanku dan mau menurut. menurut seperti kami, jadi tak ada penjara sepi dan neraka. dan aku mungkin akan membantumu menjahit sayapsayapmu, agar kau bisa terbang lagi.

aku tak mau terbang lagi. aku ingin menjejak tanah. tapi barangkali sayap itu memang kuperlukan. dan kau tau untuk apa.

kalaupun aku tak tau, yang aku butuhkan adalah kau mau mendengarku. itu saja kali ini. senangsekali mengobrol denganmu, meski kau menurunkan derajat keraskepalamu kali ini. mungkin, lain kali aku mesti datang saat senja? saat kau bersemangat?




**tadinya mau update status, tapi gening panjang dan kepikiran jadi cerita. ini versi mentah. kalian tau saya tak bisa memasak, jadi tak usah berharap ini nanti matang.

kasur, 10 desember 2009, 12:35pm

rindu

(tiba-tiba sudut mataku bocor
ketika teringat
gelakanmu,
kekasihku)

kau dulu berkata
turun berkah seribu malam
pada namaku
kala kau rindu

betapa tiga baris
puisimu pernah bisa
merangkum
kita.

kita baru saja
mencari keping aksara
untuk kembali pada
kata bahagia

dan tiba-tiba,
seseorang berbisik
padaku,

kusapu jejakmu
kuhapus parasku,
agar aku makin
merindukanmu.

"bukankah rindu
tak mengecewakan
seperti cinta?"

malam terperosok
kedalam lengang.
embun meluluhkan
bisiknya.

tapi kau,
juga angin berbisik itu tahu,
tak pernah mudah bagiku
membasuh kata.

dan aku
kini parau
mengeja sendu.


**pusing. kamar, 13 desember 2009.
***terimakasih pada kakak saya, Maulida Sri Handayani. karena komennya, saya meralat bagian tengah puisi ini. ^_^

api

mulamula, api dan cahaya adalah sepasang anak kembar terkasih. merekalah yang membuat swarga terang dan hangat, sehingga warnawarni terlihat. hidup rasanya sudah cukup. tapi si kembar tak tau, bahwa mereka belum cukup. mereka tak tau apaapa, sampai mereka kemudian menyadari, orangtua mereka kerap menyendiri berjamjam, mencomot tanah disanasini, mengambil air di tiap sungai, orangtua itu sibuk sekali. lamalama, si kembar penasaran, terutama api. aku memberi kalian adik. jawab orangtua. cahaya tersenyum, sedang api agak cemberut. kau pasti akan lebih mengasihi adik baru itu. apa kami belum cukup? apa kami kurang baik? kurang lucu? orangtua menggeleng. api melengos.

beberapa hari kemudian, orangtua menuntun bentukan tanah. mereka tampak asyik sekali. mereka bercakap, dan orangtua menunjuk tiap benda, mengajaknya ke tiap sudut surga. cahaya kadang tertawa melihat gumpal tanah itu memegang sesuatu, atau terjatuh. dalam hati ia merasa bahwa adiknya itu hebat. sebaliknya, api terus saja menggerutu. sempat iseng ia membakar tanah dari belakang sampai orangtua marah sekali. api semakin gusar. ia mengingatingat selama ini hidupnya diberikan untuk orangtua. ia mencintainya, memberinya kehangatan, menjadi penerang saat cahaya tak ada. tapi orangtua malah membuat gumpalan tanah, bersamanya sepanjang waktu, dan tak lagi menghiraukannya. cahaya kerap menghiburnya, tapi api tetap susah menerima perlakuan orangtua, hingga tiba hari itu.

bersujudlah kalian pada adik kalian ini. cahaya meredup dan bersujud, sedang api malah berkobar dan nyaris membakar tanah jika orangtua tak cepat mendekapnya. apaapaan ini? aku ini api, dan dia cuma tanah, dengan mudah bisa kubuat musnah! namaku adam. jawab tanah. lalu ia mendongak, siapa namamu? api terkejut. apa itu nama? cahaya kaget namun tetap bersujud. kau lihat, dia bicara dengan suara, dia bahkan punya nama. orangtua menarik api. mengapa kau membangkang? tanyanya. aku tak suka padanya! tak cukup kau membuatnya kau menyuruhku bersujud untuknya! apa kau tidak tau bahwa aku mencintaimu, bahwa aku cemburu?



**terinspirasi ketika malam mengenang Rumi sang Pencinta di Kedai Buku Nalar. this is what i think of love and It.


Sunday, December 20, 2009 at 11:19am

farewell


akhirnya, hanya kurang dari duapuluh empat jam saya mesti mengganti kalender. kalender yang di tiap bulannya ada angka yang dicoret, dimaki, dinista, ditangisi, disyukuri, disumpahi, digelaki. betapa tahun yang berat dan sesak, gila dan berbahaya. terkadang, saya pikir tahun ini seolah keji tak berkesudahan, melelahkan. seolah saya tak diberi libur untuk merasa bahwa 'kali ini tidak ada apa-apa'. tahun ini penuh sekali dengan apa-apa.

hal pertama yg ingin saya tulis dan tertawakan adalah saya bertengkar hebat dengan dua lakilaki di rumah. yg pertama lebih dari sekedar pantas untuk saya gebuki habis-habisan (sayang, saya cuma sempat mematahkan gantungan baju yg saya pukulkan ke meja ketika dia makan, menarik kerah kemejanya, menyumpahinya, dan membekap mulutnya dengan tangan). dia adalah orang yang tidak usah disebut nama dan sapaan sopan lainnya, seseorang yang nyaris saya kategorikan sebagai sesuatu. seseorang yg membuat saya berpikir jangan-jangan saya ini pendendam, temperamental. seseorang yg memenuhi semua syarat masuk neraka jika memang itu ada. dan hukuman neraka manapun sepertinya cocok buatnya. ya tuhan, semoga saya tidak ada mirip-miripnya dengan dia, soeharto, dan hitler. amin. oh ya, sial sekali, ada banyak waktu ketika saya lupa saya benci padanya dan ingin menghabisinya. mungkin karena saya malas dan merasa repot untuk cuma mengingatnya.

laki-laki yang satu lagi membuat saya kabur dari rumah. bertengkar hebat satu kali, yang melukainya dan kadang membuat saya merasa itu adalah peristiwa konyol (saya tak melukainya. sumpah. tanya saja kalau tidak percaya). meskipun dia suka menyebalkan, tapi dia tidak jahat. dan saya hanya kadang kesal dan marah, tidak sampai benci. saya malah sayang padanya, dan menghargai jika dia berbuat baik dan manis di rumah, dan jika dia kumat menyebalkan, saya menggerutu diam-diam dan membuat lelucon tentangnya. masalah kabur, lihat saja catatan Beruing.

saya membantu dan mensponsori teman saya membunuh yang paling dikasihinya. meski dengan berbagai apologi untuk meringankan beban, saya merasa menjadi orang ketiga yang paling berdosa dalam hal ini. dan luka ini amat sukar dialihkan, disembuhkan, bahkan enggan saya enyahkan. saya tidak tau, harus seperti apa memperbaiki hal ini, kecuali janji pada diri saya sendiri bahwa saya tak akan pernah meninggalkannya lagi. adalah saya, sahabat paling goblok sedunia yang tidak datang untuk setidaknya setor kuping untuk curhatnya. seumur hidup, semoga dosa macam ini adalah yang pertama dan terakhir. amit-amit jika terjadi lagi, kemungkinannya adalah depresi super berat dan bunuh diri. saya tak mungkin berlumur darah lebih lagi.

saya memang cengeng. lembek. epesmeer. setiap masalah yang agak berat bisa jadi rumit, dan yang rumit menjadi rujit. seperti taun ini. saya terguncang mendapati saya bisa membenci dan mendendam, kabur, dan membunuh. sampai saya sempat meninggalkan laki-laki yang saya curigai sebagai belahan hati. sampai terkadang saya cuma bengong di jalan dan menghabiskan hari dengan mengutuk matahari. sampai saya tidak fokus studi. sampai kemudian ketika dua orang besar negara ini meninggal rasanya seperti mimpi.

ah, selamat tinggal duaribusembilan. pergilah jauh-jauh, jangan pernah sudi mampir.

farewell.



Thursday, December 31, 2009 at 12:41am

untuk seorang ibu yang hebat

bayiku mati. sejak saat itu, bahagia dihapus dari kamusku. beranda pikirku kelabu, dan hanya luka yang menjadi tirai hatiku. bayiku mati. tak ada yang menginginkannya selain aku, tak ada yang mencintainya selain aku. tidak bahkan ayahnya sendiri. aku mencintai bayiku setengah mati, membenci ayahnya sampai aku mati. tidak. sampai kubur pun aku akan tetap membencinya. karena jika hanya sampai mati, kini aku sudah mati. bagian dari diriku sudah mati. aku bahkan tidak tahu dimana mayatnya. apakah seorang ibu masih dapat disebut ibu jika ia membiarkan bayinya mati dan tidak tahu dimana kuburnya?

bayiku mati, bayiku mati. sahabatku bilang, aku tetap seorang ibu, jika aku masih rajin berdoa demi bayiku, jika aku masih menyimpan cintaku padanya, aku masih seorang ibu. tentu aku berdoa untuknya. mencintainya. dia bahkan selalu datang di mimpiku, menjelma gadis kecil yang lucu, barangkali dia tak marah padaku. bayiku, gadis kecilku, sejak dulu ia sekutuku, memahamiku dan tak pernah membangkang padaku.

ah, bayiku, bayiku, bayiku mati. aku merasa sendiri, sebatang kara. hari-hari kulalui dengan menyalin kesepian dan sandiwara yang itu-itu juga. hanya ada beberapa teman dan sahabat-sahabat yang dihitung jari yang sesekali menghiburku, juga keluargaku yang tidak mengetahui apapun. kelak, jika bayiku punya adik, akan kuberitahu bahwa dia punya kakak yang sudah meninggal.

bayiku mati, bayiku mati, bayi mungilku mati. ada berapa perempuan yang menjadi ibu sepertiku? di tengah kelelahan mencuri harapan, aku hanya ingin agar tak ada ibu yang bayinya mesti mati semuda gadis kecilku. perempuan harus bisa mempertahankan bayinya jika ia memilih begitu. perempuan lain harus punya pilihan itu. karena aku tidak.


$%$%#%&^%&%&$&*T(*&%*%&^%&**&)()*_(_+_)+_*^^$%%##@#%&*&(*()

*kumat being masochistic*

P. S. buat ibu yang satu ini, YOU ARE HUMAN AND YOU DESRVED TO BE HAPPY!


Saturday, January 2, 2010 at 9:13pm

o, bukumuka

aku sudah terbiasa dilupakan. diantara lesatan perbaruan status, tumpukan catatan, bongkar pasang wajah, aku menghilang. hanya satu dari sekian daftar teman. sesekali bertemu di jendela obrolan, atau coretan dinding. kadang orang-orang yang kupikir mungkin takkan kutemui tiba-tiba menyapa, barangkali terantuk pada kesepian, atau tercegat kebosanan. namun hanya sekali dua berpapasan. aku selalu merasa terlupakan, yakin bahwa beberapa jenak kemudian aku bukan sesiapa. hanya sepotong nama, wajah yang samar. tanpa kenangan, tanpa kerinduan, tanpa kebencian, tanpa cengang. tanpa kesan. seolah dengan masuk mengetik alamat surat elektronik dan katakunci, aku bersiap menjelajahi kota yang cepat mati, cepat bangkit kembali, gelombang kata angka tanda yang mungkin bisa menenggelamkan perahu nuh.

ah, aku hanya jenuh. (dan merasa bulat-bulat dilupa)



Saturday, January 23, 2010 at 5:16am

hurt

ada banyak tikus berkeliaran di tubuh kiriku. mereka memakan saraf di otakku, mengunyah katup jantungku, mencakari lambungku. mereka membuatku merasa sedih dan terbuang, meletupkan duka yang siasia. mereka membuatku kesakitan namun hanya bisa diam. aku ingin melompat memuntahkan mereka bersama otakku yang cecer, jantungku yang rombeng, juga lambungku yang penuh lubang. memuntahkan mereka semua, agar hilang setiap tangis dan ringis yang percuma.


Sunday, January 24, 2010 at 5:27pm

apalah arti kerinduan yang sejak sabtu kemarin terus kuserukan?

Monday, January 25, 2010 at 3:07pm


tapi kau tak datang. tak juga menelponku. tak mengirim surat, pesan pendek, apalagi titip bunga. aku sudah hapal tabiatmu tapi terus menabung harap. menumpuk mimpi. memanen sepi dan menadah perih.

tidak, kau tak juga datang. tak beri aku kejutan sekedar untuk mengesalkanku bahwa tuduhku meleset. kau tetap saja tak datang, tak peduli, tidak bahkan sedikit mengasihaniku.

pintu belum berderit dan salammu tak juga sampai. kau benarbenar tak datang.

because i feel like it

akhir-akhir ini, saya merasa bahwa kebebasan saya mulai habis. saya kerap resah dan hati saya kesemutan jika ingat bahwa saya semakin jarang berbuat dan berkata "Because I Feel Like It." sepertinya kesembronoan saya mulai membuat saya salah tingkah, tak bisa ditanggapi sebagai petualangan kecelakaan sejarah. beberapa orang bilang, itu tandanya saya mulai dewasa, tapi bukankah pepatah Cina mengatakan bahwa "Orang bijak adalah orang yang riang, karena dia menerima kenyataan". sedangkan saya jarang lagi merasa riang, meskipun selera humor saya tidak raib.

saya merindukan keriangan saya. kangen pada perasaan bebas yang ringan dan meringankan. saya memang masih beruntung ketimbang orang-orang lain yang mesti bekerja keras dan bahkan tidak bisa update status tiap hari, tapi saya kini tak lagi merasa tenang dan dikejar-kejar. saya tahu, itu adalah konsekuensi, lagipula itu pilihan saya sendiri, tanpa ada peluru di kepala saya. lalu kenapa saya merasa harus berlari lebih cepat?

mungkin saya harus menganggap ini semua bermain. saya sedang kucing-kucingan dengan tenggat, jadi wajar jika saya dan dia saling mengejar. dan bukankah lelah tak dikeluhkan ketika kita bermain?


Friday, January 29, 2010 at 8:26pm

being naive

barangkali, hanya sakit yang kerap mengingatkanku bahwa aku masih hidup, bahwa aku telah melewati sehat dan kebahagiaan. bahwa aku pernah tertawa, merasa lega. bahwa ternyata sudah lama rabuku menghirup udara dunia.

betapa sakit mampu mengurai dulu dan kini bukan hanya kejapan mata, bukan hanya rangkaian gambar dalam kenang yang dapat diputar berulang. dulu dan kini, bagaimanapun merupakan jembatan sekali seberang tak bisa kembali. berkali-kali, aku tersentak karena kini ternyata menghadirkan diri dalam bentak yang galak, cukup membuat muak dan sesak.

sebagai perempuan yang naif, saya barangkali terlalu banyak berharap. berharap pada Ayah yang tiba-tiba harus dianggap tiada, sembari terkadang masih merindukannya, berharap ia kembali dan menimang saya seperti masa kecil dulu. menatapnya sebagai orang asing adalah salah satu jalan menyadari bahwa dia pergi dan saya tak usah merapal mantra agar ia pulang kemari. jikapun ia pulang, ia akan menjadi orang asing, atau yang saya kenal dari dosa-dosanya yang kerap disempurnakan akhir-akhir ini. dia beranjak tua dan saya barangkali akan semakin dewasa, dengan takut-takut, harus saya akui bahwa saya takut mengikuti jalannya sambil mematangkan dendam.

dan saya mengulang naif padanya. tiba-tiba bertahun telah kami jalani berdua, tanpa saya sadari bahwa perjalanan membawa perubahan padanya. saya selalu merasa bangga, bahwa matanya akan selalu milik saya, karena darinya saya belajar untuk tak melihat yang lain. saya tidak pernah tahu bahwa saya bisa juga cemburu, dan bahwa akhirnya orang yang tidak pernah saya duga yang mengenalkan saya pada sensasi penuh jengah itu. sungguh, saya selalu merasa bahwa hanya ada saya, dan kini, saya harus mulai mendengar kembali kemungkinan bahwa semua orang bisa berubah dan meninggalkan saya tiba-tiba. mungkin tidak akan seekstrim itu. tapi matanya tak lagi milik saya, seketika, saya memutar kenang dan membuat alasan, semua yang saya yakini menjadi tidak masuk akal. menjadi sekabut mimpi, dan bumi yang saya pijak pelan-pelan hilang, saya mengambang, bertumpu pada cekat di kerongkongan dan kata-kata....


Saturday, January 30, 2010 at 7:34pm

morning sic

tanpa dihasut mendung di bandung pagi ini, mata saya terbuka dan tibatiba berhujan. barangkali memang sudah lama perih bertumpuk dan sudah semestinya hati saya remuk. tak ada lorong sepi seperti diangankan dalam puisi sapardi, tapi yang saya lakukan hanyalah menangis. mau juga berteriak, tapi apa kata tetangga? saya merasa terlalu berisik. saya berharap bisa patuh pada diam, agar saya tak perlu menyusahkan kupingnya dan mengesalkan pikirnya. ah, kau bahkan berpikir bahwa ada lelaki lain yang lebih mencintaiku, adakah ingin kau katakan bahwa ada perempuan lain yang lebih mencintaimu selain aku? yang kulakukan hanya merawat keriangan kasmaran, tapi mungkin tak menarik lagi karena kini kau dewasa sedang aku hanya menua. memang benar simpulku tempo hari bahwa mudah sekali aku dilupakan, semakin aku mencoba menyeruak hanya membuatmu semakin muak, dan memang, siapa tidak merasa kesal jika harus buang waktu melakukan ini itu? bukankah dengan beberapa batang rokok aku bisa menyuruh orang lain? baik, aku salah merapal mantra, tapi kau tak mau melahap sesaji, hanya melahap sembahku. apa kau tak tega mengusirku dan berharap aku menghukum buang diriku? ah, kau tak suka tanda tanya. lengkungnya membuatmu tersesat lamalama dalam pemilihan kata tanpa kemudian bisa meyakinkan dan melegakan dada kiriku. lalu dengan apa kubujuk hadirmu? puisi dan surat tak mampu mengundangmu, apalagi keluh dan butuhku. lalu bagaimana supaya aku berhenti berharap?


Monday, February 1, 2010 at 8:06am
obsesi, adalah kata yang tidak diternakkan di pikiran saya. dia berkeliaran di tetangga, di iklan, di slogan. saya yang semakin lama semakin tak mesra dengan semboyan menjadi pemalas dan sibuk dengan murung dan marah. saya masih kaget dengan perubahan iklim dalam karakter saya, mungkin karena ada semacam el nino, yang mengguruntanduskan jiwa saya. keinginan saya tidak jelas, apalagi usaha mencapainya. memang, saya jadi rajin menulis, jadi berharap suatu saat jadi penulis, dan meski belum heroik, setidaknya saya berusaha. di sisi lain, saya menunjukkan minim bakat sebagai mahasiswa. nilai saya jelek, kehadiran saya dicegat sakit dan terlambat, tugas saya keteteran, dan ujian saya paspasan. saya tidak pandai merayu dosen juga tidak cukup putus asa untuk matimatian mengejar nilai dari dosen. jika dosen bilang saya tidak boleh ujian setelah bolos lebih dari empat kali, dan ketika ditawar oleh tugas tidak mempan, maka saya memilih untuk tidak repot2 lagi masuk kelasnya. daya bujuk saya lemah. saya tidak mau mengemis nilai, dan jika saya tidak cepat lulus, dosendosen yang tidak bisa saya tawar turut andil dalam keterlambatan itu. bukan, bukan saya ingin melempar tanggungjawab, tapi saya telah berusaha menawar dengan wajar, jika dipersulit terus, maka saya tidak mau merendahkan diri lagi. tidak saat ini. dan saya tidak mau bayar buat nilai. dosen sudah digaji dan saya sudah bayar spp. untungnya, memang belum pernah saya dimintai uang oleh dosen.
saya sebenarnya bingung menghadapi kuliah. di satu sisi, saya kadung jatuh cinta pada antropologi. keluasan cakupan dan cara pandangnya membuat saya bergairah, dan saya merasa butuh banyak tau lagi, karena akan menjadi bahan yang melimpah jika saya ingin membuat novel. saya juga merasa bahwa meskipun pacar saya bilang saya tumpul dalam kritik sosial, sebenarnya saya punya semacam awareness bahwa banyak masalah di sekitar saya yang beberapa celahnya dapat dijawab antropologi. saya bangga belajar antropologi, meski tidak begitu bangga menjadi mahasiswi fisip unpad. dan tentu, saya ingin bisa meneliti. kalaupun kelak ternyata tidak ahli, setidaknya saya bisa tahu cara mengambil data (dan hati kalau bisa) masyarakat. lalu kenapa saya malas? kenapa saya sakitsakitan? itu mungkin di bab lain. saya merasa tidak begitu bodoh, dan akhirakhir ini semakin disibukkan oleh pertanyaan mengapa kemampuan saya tidak maksimal? adalah ketua jurusan dan dosen wali saya yang menggugat kecuekan saya dengan kepercayaan mereka akan kemampuan saya dan kekhawatiran mereka akan nilainilai yang memprihatinkan. saya jadi malu sendiri karena mereka, dan banyak teman di antrop kerap membenturkan saya pada pendapat bahwa saya bermasalah karena saya tidak sebodoh jumlah ipk saya.

kini, saya harus punya jampijampi khusus agar bisa lulus. dua kata sederhana yang jika dikerjakan berat juga sebenarnya. dua kata, semangat dan rajin. dua kata itu agar saya punya obsesi sarjana.

Tuesday, February 9, 2010 at 7:50pm

sayu

konon, orang bilang mata saya itu sayu. kesannya saya nampak mengantuk, sedih, sakit, melamun. saya selalu menganggapnya sebagai bagian dari takdir, lebih permanen dari kesialan di hari selasa. karena mata sayu ini, banyak orang mengira hidup saya sulit, tragis, kesinetronsinetronan. memang, ada banyak hal yang saya alami yang pasti seketika membuat orang bersyukur karena tidak punya nasib seburuk saya. tapi itu tentu masalah cetek dbanding orangorang hebat lain yang dipercaya untuk menyelesaikan masalah lebih besar. tapi untuk apa mengukur derita, toh chairil selalu berkata, "nasib adalah kesunyian masing-masing". sungguh, binatang jalang yang terbuang itu saya amini.

pada mata sayu ini memang kerap banyak kesedihan. tapi setengahnya adalah duka karena luka orangorang terdekat saya. tiapkali saya tau orang di dekat saya punya masalah, bersedih atau marah, saya tidak bisa masa bodoh. saya yang cengeng ini pasti turut sedih, dan ributribut berdoa. hati saya acap hanyut pada kepedihan yang selalu hampir selesai, hanya hampir. perih menggapaigapai dari dada kiri, merambat pada kerongkongan, dan merobek tanggul airmata di sudutsudut jendela jiwa itu. saatsaat itu, saya kerap berharap punya mata yang berbinar, agar bisa membuat orang di dekat saya itu menjadi segar, ringan, agar beban bisa disimpan. maka saya sekuatnya menahan sedih itu, setidaknya agar tak menangis di depan empu masalah. adakalanya saya membuat lelucon, sering bersikap galak, dan di waktu lain saya tak kuat, sekonyongkonyong menangis. sebelum momen terakhir itulah, mata saya benarbenar sayu.

ditulis karena sudah lama ingin menulis ini. untuk mamah dan kdua kakak juga keluarga, sahabat, teman dan tentu bintangmerah.

saya ingin menjadi lebih kuat agar bisa menguatkan orangorang yang saya sayangi...


Wednesday, February 10, 2010 at 8:32pm

lullaby

ada yang berangkat saat kedua kelopak lekat.
menuju dunia yang bercahaya pekat,
kabut yang menggeliat.

ada yang pulang saat mata memejam.
kepada harap yang meluap,
doadoa ganjil yang malumalu,

dan pertemuan yang selalu saja hampir.

selamat merenangi malam,
merenungi kalam.
jika kalian berharap mendapat cerita "dewasa", tidak usah melanjutkan membaca catatan saya. saya tidak pandai merangkai kisah yang di dalamnya harus mencantumkan ukuran beha, diameter dan panjang penis. sungguh cerita seperti itu selalu membuat saya heran, bagaimana kau tau ukuranukuran itu? apakah sebelum bercinta masih punya waktu untuk lihat ukuran beha, atau bawa meteran tukang jahit untuk mengukur panjang dan lingkar? bah, omongkosong. bercinta bukan sedang ingin membuat bangunan hingga tak perlu semua terukur pasti.

oke, sudah saya bilang, saya tidak akan bikin cerita esek-esek. belum kepikiran. yang kepikiran sekarang adalah pikiran saya macet. ada lampu merah yang mengganggu kelancaran katakata, hingga yang ingin saya ungkap malah terjebak, terperangkap, menunggu lampu merah berubah hijau agar ceritanya runut, agar katakata melintas wajar, tidak tergesa karena terlambat, tertahan oleh lampu merah yang terus menyala di otak saya. ah, padahal banyak yang ingin saya ceritakan. tapi sama seperti kondisi lampu merah lain, katakata berdesakan, berimpitan, masingmasing menunggu ingin melesat duluan ke tujuan. kalau sudah begini saya yang jadi pusing. rangkaian kalimat yang hendak saya ceritakan bisa bertebaran, berloncatan, berhamburan, sibuk sendiri sampai lupa diri bahwa mereka, meskipun bisa berpinak menjadi cerita sendiri, saat ini hanya bagian dari satu cerita biasa dalam catatan harian.

duh, bising sekali kepala saya! katakata meniru kendaraan di kotakota, berebut memencet klakson! sialan!

Monday, April 4, 2011

suicidal dream

saya tau, banyak orang menganggap bunuhdiri adalah tindakan pecundang putus asa, bahwa itu jalan pintas. hahahaha. saya sudah tidak ingin lagi jadi pahlawan, tidak peduli omongan orang. sudah lama dianggap tak berguna selain jadi keranjang sampah dan penganggur, juga tidak punya bakat apaapa. saya sering memimpikan saya lompat dari jendela gedung tinggi, kehabisan darah karena memotong urat nadi, dan menenggelamkan diri di sungai seperti virginia. apa hari baik untuk mati? apa saja asal jangan selasa. saya masih punya mimpi, tapi sepertinya mimpi saja sudah cukup baik. nanti juga ada orang yang lebih berbakat akan mewujudkan mimpi saya. hahahaha. saya ingin tertawa merayakan nyeri dan sepi. merayakan kekalahan pada nasib atas semua harap saya yang selalu diejek nasib dengan cara yang paling merendahkan harga diri. kau cengeng, kau egois dan otoriter. terserah. kadang terlambat itu fatal. siapa bilang terlambat lebih baik daripada tidak samasekali? orang yang menciptakan peribahasa itu tentu tidak mengerti pentingnya unit gawat darurat dan tidak pernah diusir dari kelas oleh dosen disiplin. terlambat sama dengan tidak samasekali. ah, umurmu baru dua dua. iyah, twenty three sounds sexy. aku sengaja tidak makan. bukan hanya tidak selera, kadang aku sengaja agar tubuhku sakit juga, karena sakit perasaan tidak dapat izin dokter. juliet, mana obat purapura matimu? jika tak mati hari ini aku butuh obat itu, tapi jangan bilang2 pada pacarku, nanti dia sebodoh romeo. penyihir, berikan aku apel yang kau berikan pada putri yang membuatnya tertidur di peti kaca. ah, tak ada asahan, pisau dapur ini tumpul dan atap rumah trlalu rendah, aku tak bisa terbang! kepalaku sakit, perutku juga. kenapa? minta makan? diam, aku ingin mengobrol dengan izrail. pus, pus, pus... ah, apa kau masih panen di haiti? datanglah di jam makan siang, aku menunggu.



Saturday, February 13, 2010 at 10:27am