Wednesday, March 30, 2011

semisal undian

beri aku satu alasan, maka aku akan berhenti mereguk hadirmu. akan kulepas kau, karena barangkali citacitamu untuk bebas tersangkut cintaku. tapi jangan pergi hanya karena kau pikir tanpamu aku takkan sendiri, karena kau akan salah semata. orang datang dan pergi ke beranda hidupku karena aku tak menguncinya. sesekali mereka mengetuk pintu, melongok jendela, dan segera mereka kabur karena aku tak pernah berusaha menutupi siapa sesungguhnya diriku, dan aku tak ingin menyembunyikanmu. aku sedih karena ternyata aku senang dikunjungi, dan seperti orang lain, benci cepatcepat dilupakan. tapi aku ingat kau. kau yang kerap asyik sendiri, tapi tak pernah meninggalkanku. pada akhirnya aku tahu, akan selalu dirimu yang menyambut limpahan kecup kerinduanku. orang lain hanya datang untuk basabasi di halaman, sedikit penasaran lalu pergi tanpa jejak. hilang. tak Ada sepertimu. orang lain hanya menganggapku semacam undian, kocokan arisan, siapa tahu kali ini beruntung. begitulah kesan tentang mereka. tak ada lagi yang cukup gila jatuh cinta sepertimu.


Saturday, March 13, 2010 at 11:13am

unknown

saya tidak tahu, mengapa kecerobohan saya hari ini menghapus jejak catatan tadi pagi. sebagai pemalas yang spontan, saya tidak pandai menyimpan kerangka tulisan. dan sebagai orang yang tidak disiplin, kerapian struktur kerap membuat saya depresi. ah, mungkin saya belum berjodoh dengan catatan itu. semoga kelak ia bisa kembali. sementara itu, lebih baik ngelindur yang lain. tentang sebuah dongeng...

ini tentang dia. tentang mata yang menarikdekap pada goda bahwa di genggamnya ada peta rahasia tualang harta karun yang berbahaya. sebagian kegilaan mendorongku untuk menyambut pinangannya dengan kenakalan-kenakalan yang telah pernah kupilih, yang biasanya berakhir menggelikan, sedang sebagian kegilaan lain mengutukdendaminya karena menyalakan api di tumpukan keputusasaan yang lebih mudah terbakar dari sekadar birahi. aku menyambutnya dengan serapah ketersanjungan, meludahinya karena lancang masuk ke perhelatan sepi yang telah kurancang agar tak dihadiri satupun undangan. namun kerap kukejar dia, agar dia kembali dan tak bermain sembunyisembunyi, mengakui bahwa aku mengganggunya, bahwa dia tak ingin aku berlalu tanpa kecupannya, tanpa sedetik luput dari tatapbalikku. dia membuatku terkeping, berserak dan tak bisa merapatpadukan diri, mengutuhkan serpih kegilaan di ujung sandal jepitnya. keangkuhanku memenara, menjebakhimpitku pada kekecewaan karena di hadapku matanya kian sayu, sedang punggungnya menegaktegas dan tak sedikitpun itikad terlihat untuk mengintipku, mengikuti arahku, merebahratakan tiang tungguku yang rapuh.


Sunday, March 21, 2010 at 9:12am

bentol

katakata serupa bentol, dan saya tidak sabar untuk tidak menggaruk. semakin digaruk semakin gatal, semakin perih, lamalama berdarah. lalu berbekas. hitam. jelek. tapi biar saja. toh itu buktinya kulit saya hidup dan berinteraksi dengan nyamuk, udara dingin, air kotor, kutu kucing, debu, juga dengan tangan saya yang tidak bisa diam, suasana hati yang naik turun, pun watak saya yang temperamental.




Thursday, April 1, 2010 at 6:39am

:(

betapa sulit dan menyebalkan sekali menjadi saya. sulit karena itu menyebalkan, menyebalkan makanya sulit. selalu saja ada yang salah dalam hidup saya, selalu saja saya merasa bahwa saya mengesalkan, menyakiti, mengecewakan seseorang atau orang lain. terkadang rasanya ingin menghilang saja (bukan hilang seperti aktivisaktivis yang heroik itu), tapi saya tidak tau mesti sembunyi dimana. saya mengalami perubahan aneh yang tidak begitu saya sukai, karena akhirakhir ini, saya tibatiba lebih sering mengingat halhal yang tidak saya sukai, menghindari banyak hal, ketakutan dan sungkan pada banyak orang. barangkali jiwa saya tambah rusak, barangkali semakin lama saya semakin gagal jadi manusia (sepertinya semakin banyak kategori 'menjadi manusia' yang tidak bisa saya penuhi, entahlah.) saya bodoh dan ketakutan. saya mudah menyerah dan temperamental. saya terlalu banyak membicarakan diri saya sendiri.


Friday, April 23, 2010 at 8:00am

mengenai Hari Marsinah

maaf jika ternyata tulisan ini pendek dan miskin. tadinya mau nulis status, tapi kepanjangan.

Marsinah. nama itu barangkali dianggap bertuah bagi orangorang yang masih menaruh peduli pada sejarah pergerakan buruh di Indonesia. buat generasi alay (tidak merujuk spesifik pada kelompok umur, tapi fokus di batok kepala), nama itu samasekali tidak ada funky-funkynya. saya, di satu pihak, masih menganggap kiri itu seksi, maka nama Marsinah terngiang sebagai pukau, sebagai bekas luka yang magis, seolah cacat di kening Harry Potter, kematian Marsinah adalah tapak kesakitan 'kenangkenangan' dari tokoh jahat yang punya kekuatan besar. jika di masakini banyak yang mengusulkan mendiang menjadi pahlawan nasional, saya memberikan persetujuan penuh untuk itu. dan semestinya tak harus ada masalah. tapi seharian ini, saya banyak menemukan gagasan yang menurut saya agak mengecewakan.

beberapa orang yang menuntut Marsinah menjadi pahlawan, membuat perbandingan menggelikan dengan Kartini. sebagian menganggap bahwa Marsinahlah yang pantas jadi pahlawan, dan Kartini cuma perempuan cengeng, bahwa hari Kartini harusnya dihapus saja. orangorang ini menurut saya agak aneh, terutama bagi mereka yang terkenal sebagai penulis, apalagi berkelamin perempuan.

pertanyaan saya pada mereka, aapakah jika perempuan jenis unggulan satu menjadi pahlawan, maka yang lain mesti minggir? perempuan sering merasa kecewa karena porsi yang diberikan pada kita terlalu sedikit, tapi mengapa memperburuknya dengan ide menggusur perempuan satu demi yang lain padahal duaduanya punya kualitas sebagai pahlawan? pada yang merasa mereka penulis, atau setidaknya hobi menulis, tidakkah kita punya harga diri kolektif karena seorang perempuan diabadikan namanya sebagian besar karena dia melawan dan berjasa besar dari hasil penanya? apakah kita tidak malu menjadi orang yang makan dari tulisan tapi merendahkan penulis besar, mereduksi cetak tintanya sebagai sebatas curhat, padahal dia melampaui masanya dan tidak dibayar! dan jika memang ada jenis pahlawan satu yang lebih layak didaku daripada yang lain, harusnya ketika ada usul Gusdur jadi pahlawan, coret saja Jenderal Soedirman misalnya. tapi kan tidak seperti itu. baik Marsinah dan Kartini maupun Gusdur dan Jenderal Soedirman memiliki jalan kepahlawanan masingmasing, persoalan masingmasing, kegilaan masingmasing yang kesemuanya memiliki tempat untuk kita saluti. jika tidak, barangkali kita mesti bertanya sejauh apa makna pahlawan bagi kita, sedalam apa kita menghayati perjuangan mereka.

// hanya kemarahan yang akan membuat saya susah tidur kalau tidak dituliskan. end of note//



Saturday, May 8, 2010 at 12:11pm

draft

ada yang tak sekadar cantik pada bulumatamu yang panjang dan tak lentik. bulumatamu menjelma pedang terhunus melindungi matamu yang sayu. ya, matamu sayu, senantiasa hampir kuyu, senantiasa mengimpi, mencari sesuatu selain kesedihan di palung renungmu, yang membuatku berpikir bahwa ada yang lebih gelap disana ketimbang sekujur kulitmu, kulit sawo yang kerap kau sembunyikan dari tanya tentang iris silet yang tercetak dimanamana, bertubrukan dengan cetak gigimu sendiri. ada pesona yang tak hanya malaikati dalam caramu berjalan dan bicara, meski selalu kau lakukan dengan tergesa. "kaki dan lidahku tersuruksuruk diseret jarum jam yang tak henti berlari" tukasmu seketika, dan aku tak bisa melakukan apapun selain terpana.

ini draft sodarasodara. cuma di hapemah pilihannya publish atau cancel ajah, jd kpaksalah dipublish dlu...


Thursday, May 13, 2010 at 11:18am

perjumpaan (dengan) yang lain

Orang asing, selamat datang di hidupku. Hari yang dipenuhi kurap dan kalap, sedikit lelap pada sepertiga malam. Aku tidak ingin mengenalmu, kaulah yang datang padaku, menginginkan ini itu tentangku, denganku. Aku tidak memerlukanmu, merindukan kedekatan denganmu, aku bahkan tak ingin memikirkan apa-apa tentangmu. Orang asing, tiba-tiba aku pusaran debu di tengah gasing. kau datang seperti mimpi, seperti potongan rusuk jatuh menjelang subuh. Bukankah kutemui kembali, selebihnya harus kurapikan langit kubenahi gunung-gunung, menata riak-riak laut. Tapi kau datang, tanpa gema lonceng, spanduk, atau kibaran bendera. Jabat tanganmu masih terasa perih, padahal hari itu kau belum berani mencakarku, dan kaupun belum punya kebiasaan untuk memanjangkan kuku, meruncingkan tanganmu, sejenis kebiasaan tidak berguna karena tak bisa kau pakai untuk sekadar melubangi jendela tempat kelak bermukim baut.

Kau yang seperti mimpi, ijinkan sekejap lelap menyambutmu. Karena kesadaran yang terlalu penuh takkan mengijinkan pelukan erat, takkan memberi jarak yang layak untuk persengketaan yang berkerak. Setidaknya, kebodohan yang kusiapkan cukup memberi ruang untuk percakapan bulu-bulu halus, tentang angin yang berkelit ketika hempas napas dihembus. Baiklah, mungkin kita tidak perlu berurusan dengan kesadaran, mereka sekadar adar dalam sandar. Kau dan aku, menyaksikan perasaan asing menyingsing, berkerincing-kerincing, sedang aku selalu terlambat untuk sekadar terjaga, bahkan setelah bergelas-gelas kopi tandas.

Aku ingat kau tertawa, geligimu bercahaya, kau merasa menang karena aku terlena, bahakanmu ke ceruk-ceruk kenangan, berulangkali memanggil sejenis jengah dan marah, sebangun lelah dan kalah. Tapi aku akan membiarkanmu tetap menjadi orang asing bagi kesadaranku yang penuh. Bahakmu gemuruh yang jauh, hujan segera tiba membilas bentuk-bentuk yang hampir kukenali. Seandainya cinta mampu hinggap pada raut yang leleh, maka cinta tak lebih dari rasa manis eskrim yang kita jilat ditengah matari kemarau. Aku tak tahu musim apa yang lebih kau suka, tapi kemarau tak pernah menjadi cuaca favoritku. Bahkan dalam mimpi, yang kuingat dari ikal rambutmu adalah penghujung musim gugur, sedang senyummu selalu awal musim semi. Tentu, kau tak pernah tahu, karena saat kau singkap selimutku, yang kau temukan hanya gigil musim salju.

Tak perlu kau bebani diri dengan napas berat itu, Gangga tak pernah bermuara di mataku. Kita yang pernah mencoba mencuci hari-hari yang berkeringat, hanya menemukan sobekan almanak dengan angka-angka yang juga tertera dalam nadi, dalam senyummu atau dimana saja tempat kita bertemu secara tidak sengaja. Lalu, kita sepakat untuk saling melupakan wajah, menghilangkan rajah di kening masing-masing. Kelak, aku menemukanmu sebagai seseorang dengan kemeja lusuh, melempar-lempar kerikil memancing riak di danau itu. Aku menghampirimu, menjatuhkan buku yang kudekap, kau akan melirik dingin dan kembali memungut kerikil. Dalam hati aku akan mengutukmu sebagai orang yang segera memanen ombak, dan entah apa bunyi hatimu hingga kau genggam tanganku untuk menuntunku ke arah balik pohon itu.

Selalu saja ada suara-suara yang melarang kita untuk mendekati pohon itu. Mungkin mereka tahu tangan kita terlalu usil, memori kita selalu kerdil, hingga selalu saja gatal membubuhkan nama-nama, tetanda kita pernah disana. Bahkan hanya kita saja yang mau repot menebang pohon demi bersusah-susah membangun rumah. Kita tak pernah percaya pada susunan dedaun yang dibuat pohon, mencurigai rimbunnya sebagai sarang ular dan burung hantu. Tapi senja itu kita tidak mengurusi daun dan batang, kita juga hampir tak mendengar keretak ranting yang patah, kita sibuk berseteru dengan kitab suci dan pesona satu sama lain, lalu kita siapkan tempat duduk di hadapan penghulu yang bertanduk.




Suatu senja, 16 Mei 2010. Sekretariat LPIK.


Sebuah tandakata dari sua yang lain; Pradewi dan Pow Sirunggawir

sebuah surat untuk mr. x

kuakan lukaku melebar, dan itu karena aku bahkan tak bisa menyalahkanmu.
kelakuanmu membuatku mesti merujuk pada silam,
pada kertaskertas almanak yang telah kubakar,
pada suratsurat penuh rayu dan kesedihan yang mengibakan.
silam yang tinggal dikandung kutukan.
bersamanya ada telunjukku menyegel gatal bibirku untuk menyerapah.

tentu, barangkali kau tak bermaksud merobek jahitan lara,
kau datang karena sesuatu yang kau kira pesona,
atau barangkali terbetik dalam pikirmu dapat menyelamatkan nadiku dari pisau dapur yang kerap membuatku berliur.
atau mungkin kau pikir aku perlu kau temani untuk mengusir sepi dengan berbagi dosa?

tidak. kau seperti lampauku yang keparat,
tak menganggap godaan itu sebagai khianat.
aku tak keberatan merana karena tersesat,
selama aku tak perlu mengejarmu,
sedang kau membuat semua rambu tak berpihak padaku,
dan pada akhirnya kau akan mengelak dari tudingan sembari berkata enteng,
"dia perempuan kacau dan aku hanya mengigau",
padahal aku benarbenar bahagia saat kau memujiku dan tertawa denganku,
kau tentu tak tahu bahwa aku selalu payah menanggapi pisah.

jangan pergi, tapi janganlah beranjak lebih dekat lagi pada telaga ratap di mataku.

Monday, May 17, 2010 at 9:41am

hipnos

nyx, tolong bilang pada hipnos aku menunggunya. malam ini, aku menantinya, ingin menari dengannya. tapi tolong jangan sampai hades dengar. aku belum terlalu berminat ke kerajaannya. titip salam sayang pada persephone.

begitulah bintangmerah. aku sejenak undur dari jaga, mencoba lebih dalam menyusuri pejam. aku berharap bisa kembali dan membuatkanmu puisi, menggenggam telunjukmu dan menjerang air untuk tehmu. andai saja dalam hidup ini aku dapat membatukan lalu, dan hanya menjadi kekasihmu saja, tentu aku tak perlu banyak menenteng rasa bersalah. kau selalu percaya padaku, bahkan pada apa yang dapat diunggah dari tiap gelisah. kau mengizinkanku bermimpi dan berusaha terus menjadi penyair.

hipnos, tidak cukupkah satu pil saja untuk memanggilmu? kemarilah, aku tak akan lari. kita akan menari.


Wednesday, May 26, 2010 at 12:05pm

pilihan

saya telah memilih satu hal dan menunda yang lain. yang tertunda bukan hal yang tidak penting, tapi hal yang bisa saya lakukan nanti. dan pilihan saya ini tidak dapat menunggu lama. ia datang kini dan disini. saya tahu, pilihan ini tidak populer dan mengecewakan banyak pihak, terutama bagi orang yang berpendapat bahwa seharusnya saya dapat menjalani keduanya. memang begitulah baiknya, harusnya. tapi tekanan itu hanya membuat saya tidak melakukan apapun. saya dikejar-kejar ketakutan tidak dapat melakukan keduanya sungguh-sungguh. saya panik dan tertekan. memang betul pacar saya bilang, saya tidak membenci hidup, saya benci tekanan. saya sangat terbebani oleh harapan-harapan orang lain dan tuntutan yang mengekor dibelakangnya.

tapi saya menghargai orang-orang yang berharap lebih sebagai orang-orang yang berprasangka baik terhadap kemampuan saya, meskipun harapan mereka lebih besar dari kecakapan yang saya kenali. dan itulah sebenarnya yang kerap membuat saya tertekan. saya tidak mungkin marah dan menolak harapan-harapan orang lain, meski saya melakukan pengelakan-pengelakan paling ekstrem sekalipun. terkadang, saya hanya ingin mereka berdoa dalam hati saja tentang harapan-harapan itu, tapi saya terlalu percaya pada kebebasan berpendapat.

maka saya menguat-nguatkan diri untuk menghadapi semua harapan dan tuntutan, diam-diam pusing sendiri, namun pada akhirnya, setelah kecemasan mereda atau bahkan memuncak, saya akan menjalani harapan-harapan itu sebagai sesuatu yang tidak sengaja dan tidak terhindarkan, namun seterusnya dimaknai dan dijalani sepenuh hati. suasana hati saya yang berubah-ubah secara drastis kerap membawa saya pada banyak situasi yang membuat saya mesti melihat satu hal dengan banyak mata dalam waktu nyaris serempak dan itulah yang membuat hidup saya penuh dengan penundaan dan kekacauan, karena amatan-amatan yang tumpang tindh dan sensasi yang dtimbulkan amatan itu menimbulkan pertengkaran, tawa keras dan ratap dalam kepala saya.

hal yang semakin saya sadari semakin membuat saya kesepian karena itu hanya menjelaskan bahwa saya berbeda dengan orang lain dalam banyak hal. bahkan ketika menulis ini, salahsatu suara dalam kepala saya mengatakan bahwa saya terlalu cengeng dan pahit, mirip sinetron dan menyebalkan. bahwa tidak ada gunanya merengek disini dan mengemis-ngemis pemahaman oranglain dan ketika saya memutuskan sesuatu, saya mesti sudah melihat arah dari pilihan saya ini akan membuat saya harus membuktikan bahwa saya sungguh-sungguh dan permasalahan yang akan datang kemudian adalah sesuatu yang sudah bisa saya perkirakan, maka saya tidak perlu membuat drama tentang isi kepala dan sebagainya dan sebagainya.



Sunday, May 30, 2010 at 10:33pm

bunuhdiri

jika bertemu dengan iblis, dan dia menawar jiwa saya, tentu satu yang akan saya tukar adalah nasib buruk ibu saya. nasib buruk ibu saya yang utama adalah menikahi orang yang salah. dari situ nasib buruk lainnya membuntut. kelahiran saya misalnya, yang memang tidak direncanakan tapi seperti bonus dari paket pulsa (murah bersyarat juga bergangguan banyak maksudnya). tapi analoginya kurang tepat dan agak maksa.

ah biarin, kan saya tawar menawar dengan iblis. iblis kan tidak begitu memerhatikan kesalahan kecil seperti itu. dia tahu sekali kata bonus cukup untuk menjelaskan maksud kelahiran saya, apalagi jika ia ingat tuhan senang bercanda dan pemurah.

sampai dmana tadi? oh, lewat saja bagian ini. ini cuma bagian dari senam jempol dan trik saya supaya tulisannya keliatan panjang. oke, iblis sudah kebelet pengen menambah koleksi pendosanya. dengan ini saya tukar jiwa saya dengan terhindarnya ibu saya dari nasib buruk, dibayar kontan.

sah? sah katamu? tunggu dulu, apa kau yakin bahwa pernikahan ibumu adalah nasib buruk yang berdampak sistemik? bukankah semua ada hikmahnya? iya justru karena semua ada hikmahnya, mengapa dia mesti dibiarkan menjalani nasib seburuk itu? jika semua ada hikmahnya, dan saya yakin pada iman dan ketahanan ibu saya, maka dia juga akan mengambil hikmah dari nasib yang lumayan juga nasib yang baik. makanya dia harus dihindarkan dari nasib buruk itu, biar dia dapat yang terbaik.

bagaimana kau bisa tahu bahwa itu yang terbaik, sementara ibumu telah mengambil hikmah dari nasib buruknya? lah, terus kalau begitu itu yang terbaik? kita yang hidup dengan kesadaran bahwa hidup adalah satu garis lurus yang tak bisa dihapus-ulangi memang terpaksa menghibur diri dengan keikhlasan termurah bahwa segala yang terjadi pada kita sudah semestinya dan itulah yang terbaik, karena penyesalan lebih sedikit gunanya ketimbang bersyukur. tapi saya kan lain. saya punya penyesalan yang kuat dan itu bekal saya untuk bertatap muka dgn iblis dan menawarinya jiwa saya. ibu saya berhak untuk mengambil hikmah dari nasib yang lebih baik.

adapun konsekuensinya, selain jiwa saya akan jadi miliknya, adalah tidak akan pernah ada saya. dan jika kau pikir bahwa saya menganggap hidup saya keparat bukan kepalang, kau salah besar. saya senang meskipun saya kurus kering, emosian, tidak pandai debus, dan tidak bisa memasak. saya punya banyak teman baik dan saya mengagumi banyak hal. dan meskipun israel menyebalkan, saya suka produk mereka dan rajin nonton tivi. kucing saya luculucu dan saya cinta sastra, pun sempat bercitacita jadi budha atau bahkan hannibal. tapi semua itu sedikit lebih kecil dari perasaan bahwa ibu saya berhak punya hikmah dalam nasib baik. tentu sedikit lebih kecil maknanya karena iblis pun tahu bahwa saya kesulitan mewujudkan hal ini dan memikirkannya masak-masak.

iblis juga sama seperti kita, lebih senang makanan cepat saji, jiwa yang siap makan karena pikirannya masak. makanya tak semua orang bunuhdiri dengan sukses dan awet dalam sejarah. jiwajiwa tergesa dgn pikiran mentah biasanya lupa diolah dan membusuk di gudang iblis. duh udah ngantuk, jadi intinya kalau transaksinya berhasil, ibu saya akan punya nasib yang baik dan saya tak pernah dlahirkan. pradewi tri chatami sebagai bagian dari nasib buruk ibu saya takkan pernah ada.



gning waas, nya, ngabayangkeun bahwa kita tidak pernah ada, tidak mendapat kesempatan mengenal dua hal terbesar: ada dan tiada.

yu ah cangkeul.


hursday, June 10, 2010 at 3:43pm

stranger

aku tak pernah tahu bahwa -mu yang kau maksud itu aku. tak pernah tersebut namaku dalam sajak-sajakmu, kau bahkan seolah tak acuh meski sekali waktu kau mengaku mencuri-rekam parasku dengan kamera, diam-diam. tentu, kau membuatku berpikir kau hanya mengerjaiku, karena bahkan untuk menyebut rindu kau ragu dan mengirim kalimat-kalimat samar. takutkah kau pada pacarmu, pada pacarku? dan aku tak tahu berapa lagi perempuan yang kau puji cantik, bahkan arti cantik buatmu. bagaimana harus kusapa dirimu, sejak kau hanya sekali mengetuk jendelaku, sedang di persimpangan jalan kau acap memutar untuk tak berpapasan denganku...

poho ah. jaba tunduh



June 20, 2010 at 10:44am

dua puisi belum rampung

Lucifer

temuilah aku
dalam diam
dalam bisikan
dalam remang
dalam pejam
dalam rahasia
dalam kenangan.

aku,
yang menolak bersujud padamu,
yang terusir dan kekal
memanen sekian kemenangan
dalam dendam,
dan ribuan kekalahan
dalam putus asa
membakarmu dan memburumu
dengan cemburu
karena kalian selalu
lebih awal pulang pada-Nya:


tuhan
Orangtua
yang menyatakan cinta
dengan mengusir
aku dan kau
dan menghibur diri
dengan melihat kita
berseteru saat tersaruk
mencari arah peluk-Nya



June 21, 2010 at 11:27pm

kawali

di kawali, aku menunggumu datang padaku. kau memang datang, tapi bukan untukku. kau tak tinggal di sisiku, atau menggamit gusarku. kususuri jalanan dalam tuntunan kunangkunang kuning, mencari harum rindumu, mencari kelebat hasratmu, mencari sekedar alasan kau bernafas di mimpiku. tapi punggung kita lebih kerap bersitatap, dan kau menuduhku mengenyahkanmu, menyesatkanmu dalam labirin kehidupanku yang telah sekian lama menyasarkan pikiranku sendiri. tapi kurang panjangkah tanganku terulur untuk meraba jejakmu? kurang panjangkah langkah yang kuambil untuk menujumu? apa kau pikir aku bersedia begitu saja dipinang oleh kekalahan? tapi kau memang tak mengenalku, kau tak tahu seberapa cepat aku dapat larut dalam kalut, dan seberapa singkat waktuku memanen luka.



Sunday, June 27, 2010 at 4:51am

kembali

"kembalilah padaku, ishtar," bisikmu tibatiba.
aku terlalu terkejut oleh pintamu tak bisa menjawab apaapa. kenapa kau memintaku kembali, sedang aku selalu saja disini, menghitung guratgurat lembayung, membilang kemungkinan memelukmu di bawah bintangbintang. kaulah yang tibatiba memutuskan ingin pergi ke utara, berniat meninggalkanku dengan anak kucing yang kau curi dari rumah tetangga. atau tak sampaikah suratku yang kedua? aku selalu berpikir bahwa kau mengerti jalan pikirku, dan aku yang selalu luput menerka arah kesunyianmu.

kau mengecup mataku dan meraih ujung kelingking kiriku. "ada seseorang yang mencuri matamu, menculik ketenanganmu dalam mimpi," mengapa kau harus menjadi orang yang mengetahui lemahku, seolah pikiranku adalah buku panduan membuat kue tart untuk seorang pemula, sedang kau batu nisan yang menyimpan kenangan dalam dan rahasia.

"aku tak pernah punya niat pergi darimu,"

"nyawa tak pernah punya niat pergi dari sadar kita, tapi malaikat selalu tahu bagaimana memperdayai hidup sesuai dengan apa yang diterimanya sebagai tugas,"

"bagaimana kau bisa enteng bicara buruk tentang kawanmu, padahal kau sering minta rokok padanya?"

kau mengedip dan tersenyum.


poho deui we ah. maklum nulis ieumah tamba kesel teu bisa smsan. kieu yeuh nyatet luhureun balong teh, "ukuranmu (gurame) mengalihkan duniaku"


on Monday, June 28, 2010 at 5:47am

taman raflesia

bermain bola sabun di taman membuatku merindukanmu, cintaku. aku suka caramu membuat air sabun yang kau tampung sehabis kita mandi. kau selalu mengejekku, tapi lebih sering ikut berbinarbinar saat aku berhasil membuat bola sabun yang besar, atau jika bola sabun itu sanggup melayang jauh. ah, aku sendirilah yang sering berkata bahwa inilah caraku merayakan kesadaran cinta kita yang pasti singkat dan rapuh. cinta kita yang asyik dan kekanakkanakkan, cinta kita yang siasia dan perih saja.

di taman ini tak ada pelukmu. tak ada ledekanmu, tak ada handukmu, tak ada perang gayung yang selalu kita lakukan jika kau tak sengaja memecahkan bola sabunku. disini hanya ada keriuhan dan keramaian, wajahwajah asing yang mungkin takkan pernah kutemui lg. tapi ingatkah kau bahwa aku pernah tak mengenalimu, dan itulah terakhir kalinya kita bersama, dan aku takkan pernah bisa menemuimu lg? malam itu seolah semilir angin menerbangkan senyum, tatap mata, ciuman, bahkan katakata yang kukenal. seolah angin itu mencuri parasmu, dan menggantinya dengan wajah bintang telenovela yang terlalu ganteng dan terlalu ganjen. saat itu semua bola sabunku kecil dan cepat pecah. mereka seolah isyarat yang cepatcepat kukhianati. ternyata, aku tetap tak rela kau pergi.

tapi mencintaimu, yang kekasih orang lain itu, memang mewajibkanku untuk setia berkhianat, meski segera kuketahui, kita berdua tak cukup berbakat dalam hal itu, dan lebih terlatih untuk memamah perih: hingga kini bayang lengkung punggungmu yang kurus dan bungkuk selalu lebih jelas kuingat daripada bibir dan matamu. dan itulah yang kulihat selalu di dalam bola sabun, kini di taman ini.

heup ah. ieu letah asa pait, bieu bola sabuna peupeus hareupeun beungeut, jigana kaletak. puah, uyuhan beuritmah nu kieu ge didahar (lagu tea gning, TIKUS MAKAN SABUN)


Tuesday, July 6, 2010 at 5:23am

sehabis menangis di bis

Tadi, dalam pesan singkat kubilang padamu, “Tak usah menemuiku, aku ingin menangis sendirian. “ tentu saja aku bohong. Sambil bergelantungan dalam bus yang tak juga kenyang menambah penumpang, aku menangis. Beberapa orang mulai memerhatikanku; perempuan kurus yang satu tangannya terus memertahankan pegangan dan tangan lain sibuk dengan dua ponsel dan mata yang tiba-tiba menangis. Beberapa anak hanya memerhatikan boneka kucing abu-abu yang menyembul dari tasku yang isinya gagal kutata. Aku menangis, meski terus berusaha memelarkan kantung mataku agar airmata urung terjun ke pipi. Aku ingat kau tak suka aku menangis di tempat umum, kau pernah begitu marah dan meninggalkanku menangis sambil jongkok di pinggir gang. Mungkin kau lupa setelah itu aku kabur dan kau frustrasi mencariku kemana-mana. Tapi sejak itu, aku selalu takut jika ingin menangis di tempat umum.

Kenapa sedih? Entahlah. tadi aku begitu sedih dan terluka, ingin sekali marah pada kalender, pada jarum jam, pada tanganku, pada kakiku, pada wajahku, pada tubuhku, aku ingin mengupas kulitku dan melemparnya ke jendela. Dan aku berharap otakku turut loncat dengan sukarela. “Kenapa sedih?” “Kenapa tidak?”

Mencintaimu, kekasihku, terkadang menjadi semacam berjabatan dengan kesepian yang telah sering kutemui dan berulangkali saling tukar kartunama. Seolah dejavu yang tak ingin kuramal akhirnya apa, dan tak perlu kuingat-ingat lagi bagaimana rasanya. Kesepian yang kerap ingin membuatku berlari menuju jarak terjauh yang asing dan gigil.

Mengkhianatimu, kekasihku, adalah menghadiri jamuan luka yang lain. Pesta pora dari pura-pura dan rasa bersalah, ketakutan pada harapan dan kehendak yang ganjil. “Apa yang telah kau lakukan?” “Aku melakukan hal yang takkan pernah kau lakukan, takkan pernah kau balas, aku ingin pergi dari sepi yang terlalu sering kutemui, dengan orang lain. Aku mulai enggan berharap padamu. Bukankah itu sebuah pengkhianatan untuk kesetiaanmu yang gemilang? ”

Perempuan bodoh. Pengkhianatanmu hanya mainan kanak-kanak yang telah lama tak diproduksi ulang. Kau tetap asing dan diam-diam ditertawakan, dan pada akhirnya, kau adalah pengantin yang berdiri sendirian di altar, sibuk tersenyum pada tamu dan menunggu, mencoba menghitung renda pada gaun sembari memikirkan bagaimana caranya menyenangkan semua orang. Saat kau menoleh, satu-satu kau lihat punggung menjauh, tanpa salam dan lambaian tangan, sedang kau sendirian berpikir dan menghitung renda yang kemudian menjadi basah dan lepas.

“Kenapa kau masih saja mudah takut melukai orang lain dan menangis karenanya? Kenapa kau terus-terusan merasa bersalah dan bersedih?”






**lambung perih kadang bisa bikin lupa sebagian kesedihan. terutama kalau jadinya kesal karena dianggap mengganggu ibadah menulis**


Sunday, July 11, 2010 at 6:28am

kabut

Yang kau bisikkan padaku hanyalah kabut.
Tirai-tirai tipis dan basah, kelabu dan kabur.

Aku tak hendak mengelak,
kaulah yang mengambil jarak
karena katamu jeda,
seperti koma dalam sajak,
memberimu kesempatan
mengambil nafas lebih dalam,
juga memberi kesempatan
untuk mengeja kalimat-kalimat,
menyusun siasat.

Kau, memang dasar bangsat,
tak bilang bahwa jeda itu
sebenarnya kau hirup
untuk sedikit khianat.

Sialnya, aku hanya punya jatah beberapa menit
dalam telepon untuk memaki dan mengeparatimu,
batere dan pulsa sengaja bersekongkol
untuk memperunyam suasana hatiku.

on Saturday, July 17, 2010 at 4:46pm

aku ingin kembali menjadi kekasihmu saja

bukankah aku selalu menjadi mempelaimu
di ranjangranjang rahasia,
dimana kita berkalikali kawin
tanpa perlu penghulu, wali, apalagi saksi?

aku tak memerlukan
selembar surat untuk mengikatmu,
agar kau hanya menghasratiku.
aku hanya ingin kembali
menjadi kekasihmu,
mengawinimu dalam sunyi.
mencintaimu, adalah mengalami tegangan tinggi antara berserah dan terluka harga diri. sepanjang usiaku kau timbul tenggelam, merajai pikir dan menyelami batin yang paling ceruk. kau mengutus sayap iblis agar aku purapura bisa terbang, dan menusukku dengan trisula malaikat seakanakan haus darah dan luka. barangkali karena kau maha kau berhak menjadi megalomaniak terkasih. tapi kau selalu memahamiku, meski jarang mengikuti mauku. itulah pertanda kau mengenalku, kau tahu kemauanku lebih banyak menelangsakanku.

-tibatiba rindu pada ketek tuhannya. sori, kami akrab, jadi tak perlu ada huruf kapital diantara kami.



Thursday, August 12, 2010 at 9:38am
I

aku mengusir mereka, agar hanya kau yang mengetuk jendelaku. sengaja kupasang tirai tipis agar aku dapat menangkap hadirmu, meski hanya kelebat saja. kau memang lewat, tapi kau tak melompat masuk. takutkah kau pada naga penjaga dan penyihir jahat? ah, sayang, jangan bodoh. aku bukan putri yang menunggu pangeran. tak ada yang memberi mantra pengusir di halaman rumahku. tak ada benteng tinggi untuk dipanjat sebelum kau ketuk kacanya. lalu mengapa kau tak datang?

II

sayup-sayup aku mendengarmu memanggilku. kau tahu, iblis tak meminjamkan sayapnya lagi padaku, aku tak bisa terbang ke arah rindumu. kaulah yang harus menghampiriku. iblis akan lebih senang menolong bajingan sepertimu. jangan mengelak, kau tahu kau lebih keparat, lebih lihai berkhianat ketimbang aku, aku lebih peragu dan pencemas, dua sifat yang dijauhi tuhan, iblis dan malekat. aku sendirian dan kesepian. datanglah, aku perlu sedikit dosa dan hiburan...

p.s. dua cerita diatas berbeda.

Tuesday, August 17, 2010 at 8:25am
jatah kantukku akhir-akhir ini selalu dititip dalam pesan singkat darimu. pesan-pesanmu yang lucu, perhatian, terkadang menyebalkan hingga membuatku gemas. tapi aku selalu merasa nyaman, merasa aman menceburkan diri ke langit mimpi setelah kita saling bertukar pesan. seolah yakin bahwa kau menggamit tanganku, bertualang bersamaku. sempat terpikir bahwa kau bisa kugantikan dengan tuhan. rasanya belum nyaman. masih ada segan, masih ada perasaan bahwa dia adalah majikan. dan karena majikan lebih dekat pada diktator megalomaniak atau kapitalis haram jadah, agak susah membayangkan bahwa dia bisa diajak main di lelangit mimpi.

eh, ada sms dari si pacar. asik, asik, bakal bisa bobo...


Saturday, August 28, 2010 at 1:18pm

mourning morning

Siapa yang berhak berkata apa yang layak? tanyaku dengan telunjuk lurus menuding potongan gambar bentrokan dalam koran.

Kau tersenyum dan mereguk kopi, mengambil sebatang rokok namun urung membakarnya saat aku menjauh.

"Kelayakan, kebenaran, apapun namanya, adalah kata-kata paling ajaib sekaligus menyakitkan dalam sejarah manusia. Membuatmu berpikir, berharap, dan berjuang, membuatmu patah hati ketika melihat kenyataan. Patah hati yang akut kerapkali membuatmu marah, sedih dan depresi. Kau, perempuanku yang manis, sepertinya lebih sering mengalami dua hal yang terakhir."

Kita tidak sedang membicarakan tentangku.

"Kita membicarakanmu. Aku mulai khawatir, usia duapupuluhan memberimu kebahagiaan yang berlimpah, tapi juga mendatangkan serentetan kegelisahan. Kekacauan. Terutama pada orang-orang sepertimu."

Selalu, permainan pikiran dan watak ini menjadi topik hangat di tiap waktu. Mengapa kita tidak mencoba sesekali membuang waktu dan bergenit-genit membicarakan cuaca, atau pola belang bulu anak kucing.

"Pada akhirnya, kita tak bisa mengelak dari perbincangan tentangmu. Tentangku. Tentang kita. Lagipula, sudah lama aku ingin bicara tentang ini. Hanya saja, aku takut kau marah."

Mana bisa aku marah kalau kau bangun lebih pagi dan mengantar sarapan ke ranjang? Kejutan manis seperti ini jarang kau lakukan. Kau lebih sering membuatku kaget dengan tiba-tiba menghilang. Dan pemilihan waktumu untuk kembali padaku. Anehnya, aku justru tak pernah kaget saat tahu seluk beluk tentangmu. Ah, sial, kenapa juga aku harus merusak pagi yang cantik dengan potongan gambar di koran?

"Aku tak akan selalu ada disini, menemanimu, menghiburmu meski sebenarnya aku lebih sering membuatmu punya alasan untuk menangis."

Apakah kau akan meninggalkanku lagi? Ayolah, beritahu aku kapan kau akan pergi, jangan pergi begitu saja dan baru mengirim surat sebulan atau enam bulan kemudian. Kau ini tak bisa menulis surat atau memang sengaja membuatku frustrasi?

"Keabadian tubuh membuatku tak pandai menulis. Bukankah menulis adalah menyelamatkan kepingan hidup, membuatnya seolah abadi?"

Kenapa kau tak menelepon?

"Keabadian membuatku malas berurusan dengan teknologi. Apalagi yang berhubungan dengan kecepatan. Membuatku lebih sering merasa bosan."

Buatlah aku abadi, dan kita akan bosan bersama-sama.









Sial, kali ini aku membuatmu menangis.













--Sial, ada orang yang menggangguku menulis. haseum ah.


Tuesday, August 31, 2010 at 12:00pm

Monday, March 21, 2011

kau

kau menjelma menjadi ibu,
dan aku harus berusaha mulai belajar
menjadi seorang istri.

kau memberi jaminan
tanpa menyodorkan kartu garansi atau asuransi,
sedang aku baru belajar mencatat,
tak bisa membaca isyarat,
terus berharap selembar surat meminang yakinku.

kau mewujud ibu,
yang melupakan tagihan bulanan dan
gosip busuk tetangga,
hanya agar memberikan senyum paling selimut untuk pejamku.

kau menjadi ibu,
memelukku menyeka duri,
membiarkanku pergi sendiri
agar aku bisa berdiri,
berjalan dan menciptakan
jejak pada jalan yang kupilih.

Saturday, September 18, 2010 at 11:32pm

sucks!

mengapa manusia harus mengambil sisi positif dari semua hal? mengapa semua manusia harus menghibur dirinya? apa susahnya melihat satu peristiwa atau suasana sebagaimana adanya dan menunda pertanyaan mengapa? bukankah cukup buruk kau merasa sedih dan marah tanpa perlu berpura-pura dan melarikan diri dari perasaanmu yang sebenarnya? dan saya tidak mau membicarakan masa depan, karena jikapun ada masa depan, siapa yang bisa menjamin kalau masa itu tidak lebih baik dari sekarang? dan kalau memang lebih buruk, apa saya harus menghibur diri bahwa saya dulu pernah merasa senang atau ketika tidak lebih buruk, saya harus menoleh ke masa lalu dan mengenang yang lebih buruk? dan jika dua-duanya buruk saya harus melihat yang lain, orang lain yang bernasib lebih buruk dan mulai bersyukur bahwa saya lebih baik daripada dia? inilah alasan saya tidak suka penasihat spiritual atau tukang dakwah, ketika nasib kita buruk kita disuruh melihat orang lain yang lebih sial untuk bersyukur, padahal orang yang sial itu harusnya kita bantu, bukan digunakan untuk bersyukur!







sedang tidak mau bersyukur atau menghibur diri, berpura-pura semua hal berjalan dengan baik!

Wednesday, September 22, 2010 at 3:39pm

halo, selamat tinggal

entah mengapa, semakin lama saya semakin kesulitan mengucap halo dan selamat tinggal. saya kerap merasa terjebak ketika dalam suatu ruangan saya bertemu dengan orang yang tidak begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari, apalagi cuma bersapa di bukumuka. keadaannya tidak begitu buruk jika ia tidak sedang sibuk, lalu melihat saya dan tersenyum. yang buruk adalah ketika orang itu sedang sibuk, kami saling menyadari kehadiran, tapi kemudian tidak saling menyapa. saya selalu canggung dan akhirnya berpurapura bahwa orang itu tidak ada, sambil merasa bersalah karena sebenarnya saya harusnya menyapa. keadaan seperti itu biasanya bikin mulas. membuat saya ketakutan. saya tidak mau dianggap judes atau sok akrab, meskipun sering melakukan keduanya. begitu banyak ketakutan terhadap apa saja dan siapa saja. dan itu bukan karena takut disakiti, tapi takut menyakiti, menyinggung, membosankan, atau apapun. saya malu. saya takut orang tau bahwa saya bodoh dan membosankan. entahlah.

Tuesday, September 28, 2010 at 12:11am

surat dari neraka

ishtar senja, atas rayumu aku mencoba menulis surat. aku membayangkan bibir mungilmu tersenyum, lalu tertawa seusai membaca surat ini. tentu, perempuan yang karib dengan katakata sepertimu akan tergelak meski ditahan karena kasihan, membaca surat yang kutulis matimatian. memang, ini bukan kali pertama aku menulis surat. aku pernah remaja dan dimabuk kasmaran, menulis cinta dengan huruf kapital dimanamana, dengan jantung berdegup tak karuan menulis segala macam kata paling gombal yang ada di kubangan tinta, di tempurung kepala. tapi itu kesalahan yang kucoba tebus dengan menggadaikan kematianku-hidup, kusebut-dan menjadi mahluk aneh yang digilai produser film, band metal, dan berkat aktor tampan: semua perempuan muda. setelah kesalahan sialan itu, jika perlu aku hanya menyalin. tiap wilayah di seluruh dunia ini selalu ada penyair, entah mereka menulis, bergumam atau menyanyikannya. aku tinggal menyalin dan memberikannya pada perempuanperempuan kesepian atau perempuan manapun yang kutemui saat aku kurang kerjaan. itu terkadang menyenangkan karena seperti kau tahu, aku hidup terlalu lama dan malas mencatat. semua kata mulai pudar dan makna mengelupas, berserakan dan aku tak tertarik lagi untuk membenahi prasangka dan kejemuanku terhadap katakata.

lalu kau hadir.
sampai kini, aku tak tahu apakah harus menyebutmu kutukan atau berkah, tapi firasatku mengenai dirimu adalah praduga paling tepat yang pernah kumiliki: aku akan menyesal jika aku tak menyambutmu dalam hidupku. kau selalu bertanya mengapa, mengapa, dan aku selalu mengelak dari jawab. kali ini, akan kusebut beberapa...
barangkali, yang menarik perhatianku adalah keceriaanmu (yang semakin langka), musim semi yang selalu kucium dari ujung rambutmu, atau kemurunganmu yang kian dalam, labirin kesepian yang mengherankan dan terkadang menjengkelkan, kegigihanmu untuk mudah bertanya dan terluka, sinismu yang akut dan hampir membuatku frustrasi (untuk manusia yang berumur pendek, jumlah keluhanmu benarbenar mencengangkan!), pelukanmu yang erat dan manja, kecupankecupanmu yang manis...

tidakkah kau merasa bahwa aku mencurangimu dengan meringkus pesonamu pada halhal yang hanya bagian kecil darimu? inilah mengapa aku tak suka mengapamu, baik dalam perkara alasan mencintaimu, maupun menulis surat. aku tak punya keyakinanmu pada keajaiban puisi, meski kerap tersentuh oleh ketulusan penyairnya atau pengagum beratnya sepertimu. ingatanku baik, dan lebih bagus jika banyak yang kulupakan, karena meski waktu luangku banyak, nyaris semua ingatanku adalah kekalahan yang sama: aku mencintai sesuatu, mencintai orangorang, dan mereka mati, hilang. sebaik apapun persahabatanku dengan izrail, ia selalu mengambil yang kukasihi.

itukah yang ingin kau baca? tentu bukan. itu bahkan bukan yang ingin kuceritakan. tapi sama dengan yang terjadi padamu, kita mulai mengangkat pena, membayangkan tulisan secantik peri, dan saat membaca, kita sadar kita berhadapan dengan monster jahat yang kerasukan iblis paling haram jadah.
tapi aku tak akan menghapus dan memperbaiki surat ini. biar kau sulap saja surat jelek ini jadi apapun yang kau inginkan.

oiya, aku sedang di neraka. berjemur...

Sunday, October 3, 2010 at 12:57am

balas suratmu

jika saja aku bukan orang yang selalu penasaran pada kertas bertulisan, barangkali suratmu takkan pernah terbaca olehku. suratmu kutemukan tergeletak di kaki ranjang, masih mengepul dan bau gosong, mencipta kerut di keningku. tak ada amplop, prangko, tandatangan atau cap bibir. hanya tulisanmu, bersambung dan miring, jauh lebih rapi dari tulisan tanganku.

hei, kau salah. aku tidak kasihan dan menahan gelak. aku tertawa senang, melompatlompat, berulangkali membacai suratmu. sampai aku sadar aku belum sarapan, kumaki suratmu karena jika ada kau disini, tentu kau telah memasak untukku. aku teringat harihari libur itu, kita menganggur: aku bersajak, kau memasak. kita bahagia, meski aku tak bersenangsenang.

aku sedang tak bisa menulis puisi, sayang. dan ini membuatku lebih merana ketimbang waktu lainnya, dan aku mulai merasa seperti orang yang tangannya telah dipotong tapi kerap bermimpi tangannya masih utuh, dan seperti semua imajinasi yang terkait dengan kenangan, kenyataan selalu hadir dengan sebagai pemutus harapan paling keji. kau pasti bertanya apa hubungannya. sejujurnya, aku tak tahu, manisku. hanya saja aku ingin cepatcepat membalas suratmu, dan sementara pikiranku mencari topik yang menarik, aku mengoceh dulu saja. anggap saja seperti pemanasan dalam olahraga. kupikir karena menulis adalah olahjiwa, mungkin kegiatan ini juga butuh pemanasan. aku kan tak punya hak istimewamu, menulis surat sambil berjemur di neraka.

oiya, apa kabar neraka? kau masih adaptasi? kirakira mana yang lebih mengerikan: hidup selamanya di dunia atau kekal di neraka? atau malah membusuk di surga? kupikir jika tuhan memang seasyik kata nabi, yang kita perlukan bukan sungaisungai dan pohon buah terbalik, tapi seniman dan pelawak yang bisa bikin suasana semarak. sayang tuhan dan nabi tahu kalau seniman, seterkenal dan sekaya apapun, bukan contoh yang populer buat kesalehan. tapi kan tak semua yang baik mesti dikabarkan. karena apa gunanya rasa takut dan malang kalau semua hal ternyata baikbaik saja? ini bukan berarti aku pemuja teror. semua hal buruk yang dilebihlebihkan itu membuat capek saja. tapi semua hal yang buruk harus diberitakan, agar kita tidak menganggur dan mencoba memperbaikinya.

lalu apa sebenarnya yang hendak kusampaikan?

aku merasa ditinggalkan, bingung dan sengsara.
pulanglah, jangan tinggalkan aku seperti semua orang yang kini membenciku.
pulanglah, aku kesepian dan takut.
pulanglah.
aku meracau.




p.s. ini surat balasan ishtar senja pada drakula, yang mengirim surat dari neraka, yang dipublish di catatan setelahnya. nuhun.

October 4, 2010 at 10:15pm

bad friday

selalu saja ada alasan untuk mengeluh dan menangis, merasa sakit dan tak mau makan. aku tahu, hal buruk yang diulang barangkali mesti berubah wujud menjadi sesuatu yang berada dalam kotak berjudul "harap maklum". tapi tidak untukku. tiap ulangan dari itu adalah menumbuk nyeri yang sudah menumpuk, karena luka ternyata semacam sampah plastik yang tidak membusuk setelah dikubur. satusatunya jalan mungkin mengumpulkannya dan membuat sesuatu yang berguna, tapi aku bukan mesin serba otomatis yang sekali pencet bisa bekerja. aku barangkali bisa seperti itu, jika kau mau menyentuh luka yang kau buat, membebatnya, dan berjanji padaku takkan membiarkan hal yang sama kembali menyakitiku. itu mungkin jadi berat bagimu, karena kau sendiri tak yakin kalau kau bisa berhenti melakukan kesalahan yang sama.

satu hal, aku tak pernah berhenti berharap pada orangorang yang kusayangi. itulah mengapa hal yang kau anggap kecil bisa amat memerihkan: marah dan kecewa padamu adalah hal terakhir yang terlintas dalam pikirku. aku malu harus kecewa padamu. dan kau mungkin takkan memahami itu.


Friday, October 8, 2010 at 4:00pm

andai

saya tahu, saya sangat manja jika tertekan oleh kuliah. tak seperti orang lain yang mesti menahan liur karena tak sanggup kuliah, atau bekerja keras cari biaya sendiri. saya juga tak salah masuk jurusan. ilmu antropologi adalah ilmu yang saya minati, dan banyak berjasa dalam memperluas wawasan saya. dosendosen juga profesional. satu dua orang tak sesuai harapan sih wajar. tak semua orang pintar cakap mengajar, dan tak semua yang cakap mengajar bisa cukup toleran, atau bahkan mengakui mahasiswanya pintar. tapi kasus itu kiranya terjadi di tiap kampus, tiap cerita membutuhkan karakter yang lebih buruk dari yang lain, meski tak selamanya itu jahat. lalu apa yang membuat saya tertekan?

umur saya duatiga. semester tujuh. ipk satukomasembilan, sks yang dianggap lunas baru separuh. ibu saya dua tiga tahun lagi pensiun. keterampilan saya terbatas. mental saya apalagi. dan sepertinya, jika takdir dan kewarasan saya baikbaik saja, saya akan hidup agak lama lagi di dunia. mungkin menikah dan beranak. mungkin juga semua lakilaki serempak sadar kalau saya alien, tak cocok untuk diajak sumpah sehidup semati dan membiakkan manusia lagi.

ah sialan, semakin tua semakin sulit ketawa. dasar saya bungsu sial, yang tak punya hak istimewa untuk hanya memikirkan diri saya sendiri. pengetahuan dan kesadaran malah membikin ini hati renta, dan terbelalak memikirkan bahwa semua orang memaksa saya hidup normal. yaya, cari nilai dan dapatkan ijazah, lalu cari kerja dan cari uang banyak. hiduplah seperti seharusnya. ingat, beras+buku+baju itu bukan sekonyongkonyong datang dari langit. kalau tidak lulus kuliah mau apa?

ah, kampret, andai saja saya punya hak istimewa untuk jadi mahasiswa menahunThursday, October 14, 2010 at 12:51am
seperti waktu para dosen saya muda dulu. andai saya punya kemampuan beragam, tak hanya mengeluh dan menghitung halhal yang membuatnya minder-daftar kebodohan yang tak kunjung habis itu- andai saja di indonesia ini ada pekerjaan yang gajinya tinggi tapi tak bikin hati dan logika saya linu, andai saja saya bisa tidur dan tak perlu mengoceh.

Thursday, October 14, 2010 at 12:51am

love

kekasihku, diantara banyak keluhanku pada tuhan, terkadang kekesalan yang sengit, dia mengirim hadiah untukku: kehadiranmu. kau menjadi cerminannya yang cerlang, kerapkali terlambat, menggoda, menjengkelkan, tapi menghibur dan slalu menerimaku. aku bebas datang padamu, dan kau selalu merentangkan tanganmu lebar, agar aku mudah mendekapmu, melekatkan kepalaku di dadamu. kau kerap ngambek padaku, tapi disaat semua orang ngambek dan menghakimiku, kau berdiri membelaku dengan pemahaman yang menakjubkan.


Sunday, October 17, 2010 at 12:57am

letter2Ishtar

Ishtar Senja,
Perempuan yang tak ingin menua.
Pernah kau tanya, bagaimana rasanya menjadi muda selamanya? Aku tak tahu, jawabku, karena aku renta. Tubuhku tak mengkerut, kulitku takkan keriput, tapi jiwaku telah lama kisut. Hari berlalu lambat untuk makhluk sejenisku; kenangan yang berjejalan, penyesalan tak terhapuskan, sedang aku tak lagi tahu bagaimana caranya menangis dan tertawa,
sampai kau mengingatkanku.
Ingatkah kau waktu kau pertamakali kuberitahu siapa sesungguhnya diriku? Kupikir kau akan terkejut, tapi reaksimulah yang membuatku terkejut: kau hanya menaikkan alis lalu tersenyum, dan bilang,
"hei, sudah kuduga itu, tapi apakah kau gay? soalnya, di film-film, kalian selalu dekat dengan siapa yang membuat kalian. dan itu biasanya laki-laki. kalian nampaknya mencari perempuan hanya untuk diperdaya dan dimakan."
Setelah empatratus tahun, aku nyaris lupa aku bisa terkejut. Saking kagetnya aku pergi dan kau tak mau membahas itu lagi. Kupikir, ini waktunya kau mengetahui sejarahku dari awal

BERSAMBUNG.

Saturday, October 30, 2010 at 8:39pm

saya dan mario

Pertemuan pertama saya dengan Mario Vargas Llosa adalah saat kakak saya menyerahkan novel pertamanya, The Time of The Hero untuk diterjemahkan, sekira tahun lalu. Pikiran pertama saya adalah, ""Shit, panjang kieu..." Tapi saya menerimanya, siapa tahu novelnya bagus. Saya tidak pernah mendengar tentang Mario Vargas Llosa sebelumnya, mungkin karena memang saya kurang gaul, dan saya pikir dia penulis yang kurang penting dibanding Gabriel Garcia Marquez. Pada halaman-halaman awal, saya sudah mengira bahwa novelnya akan menarik, tapi saya menemui kesulitan besar karena novel itu berkisah tentang Akademi Militer, sedang saya, meskipun punya kakek pensiunan tentara, amat tak akrab dengan lingkungan akademi militer.



Setelah mengerjakan berhalaman-halaman, saya amat tertarik dengan novel itu, saya tak bisa berhenti membacanya, dan mulai penasaran dengan si pengarang. Maka, seperti remaja belasan tahun yang gandrung pada selebritis saya mulai bertanya-tanya pada Google. Damn, ternyata dia lebih dari sekadar tenar, dia salahsatu sastrawan terpenting abad duapuluh. dia bahkan terlibat jauh dalam politik. Fujimori, yang saya tahu dari berita karena ia kabur ke Jepang dan sekarang dipenjara, adalah yang pada tahun 1990 mengalahkannya dalam pemilu presiden. Wow! Penemuan saya membuat saya senang, tapi juga ketakutan karena saya takut hasil terjemah saya jelek.



Saya berusaha fokus mengerjakannya sebaik mungkin. Hal pertama adalah saya harus mengenal Peru, terutama kota Lima, karena jusul asli novel itu adalah La Ciudad y Los Perros, yang artinya Kota dan Para Anjing. beruntung, saat itu saya sedang mengambil matakuliah Antropologi Perkotaan, dan saya memilih essay tentang kota Lima untuk tugas dan presentasi, agar saya mendapat gambaran tentang kota tersebut. Hal lain yang membuat saya sedikit kesulitan adalah pemetaan kota itu. Saya, yang sering tersasar di kota sendiri agak bingung saat Mario membicarakan tempat-tempat, jalan-jalan, dan peta yang saya dapat dari google kurang memadai untuk membuat saya mengerti tata letak, tata kota itu. Sampai sekarang, saya masih ingat kesalahan-kesalahan terjemahan itu jika saya sedang membaca hasil karya terjemahan, atau bahkan karya dalam bahasa Indonesia. Agak lebay, memang. Oke, sangat lebay. Tapi biarlah lebay, biar saya tidak terlalu berbeda sama orang lain :P



Balik lagi ke Mario Vargas Llosa. Kamis, tanggal 07 Oktober 2010 petang adalah kali pertama saya mengetahui bahwa dia memperoleh anugerah Nobel di bidang Sastra, dan sejak itu, saya cengar-cengir senang sepanjang malam, ikut senang, ikut bersemangat, meski saya pikir, mestinya dia dapat ini dari dulu, dan akhirnya panitia Nobel kembali memilih sastrawan terkenal juga. Saya berusaha mencari alamat emailnya, dan berniat mengirim email norak yang menyatakan bahwa saya adalah salahsatu penggemarnya, dan saya ikut senang dia dapat Nobel. Sayang, niat itu tidak pernah terlaksana, karena saya, si gaptek ini, tidak berhasil menemukan emailnya. Saya masih berharap bisa menghubunginya, dan membicarakan karya-karyanya, pandangan politiknya (apakah ia masih percaya pada pasar bebas, yang sebenarnya tidak banyak memberi kebebasan selain kebebasan pada orang kaya untuk semakin kaya, kebebasan pada jurang pemisah antara kaya-miskin supaya dia tambah nganga?)





yah begitulah. (asa banyak yang mau ditulis teh tapi lupa lagi.)



http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163973

yang jatuh dari airmata

sedari awal, aku tahu bahwa kelak kau mungkin bercermin dan menemukanku dalam tanda memar di sudut hatimu. aku membikin masa mudamu cedera, dan tiba-tiba kau terbangun dengan garis-garis kerut di wajah: tubuh yang renta sebelum usia menua. siapa bilang waktu cepat berlalu saat kau bahagia? waktu terbang bukan karena senang, tapi karena kau menghilang. kau menghilang, melenyapkan mimpi demi cita-citaku, melenyapkan diri demi utuhku. aku mereguk jiwamu sampai nyaris tandas, tiap teguk hanya menambah dahaga, aku tak pernah puas, kau menahan gemas.

dan akhirnya, kau tiba pada satu kesimpulan yang selama ini selalu tak ingin kudengar: tak mungkin kita berjalan bersama tanpa membunuh yang lain. aku, yang hidup dalam negeri dongeng selalu membayangkan bahwa kita akan bisa hidup bersama dan mewujudkan harapan masing-masing. tidak. yang terjadi adalah yang selalu kubayangkan akan terjadi: rambutku kusut di depan layar, diserap kesepian. itu mungkin lebih baik. aku lebih mampu menghadapi kesepian dibanding rasa bersalah, meski kedua-duanya bukan pilihan favoritku. tidak. aku sudah terlalu banyak memilih, dan nyaris semua berakhir bencana, dan kali ini petaka tak terelakkan: tak ada pilihan lain kecuali menghentikan hal yang tak lagi bisa diharapkan. memikirkan kita hanya menutup harapan lain. harapan yang lebih besar. tentu. aku berharap kau bisa hidup dan merengkuh semua yang semestinya telah kau dekap.

aku memang tak bisa menahan jatuhnya airmata, tapi aku merasa sedikit kebal. tak ada sesal selain perasaan bahwa maaf terlambat kuucap dan tak mengubah apa-apa. betapa aku merasa begitu miskin karena hanya mampu membayar dengan kata maaf dan terimakasih untuk semua hal yang telah kau lakukan. aku kehabisan tenaga untuk menulis. aku mulai bangkrut. sial, aku dikejar kosong!

December 3, 2010 at 7:25am

kiss me, thrill me

Edit
kiss me, thrill me.
by Pradewi Tri Chatami on Wednesday, December 8, 2010 at 4:51pm
jika kau menemuiku hanya untuk menciumku, lebih baik kau tak pernah menginjakkan kakimu lagi disini. aku tidak dalam suasana baik untuk bercumbu, meski cuaca hendak membuat es belulang dari tubuhku. aku sedang memikirkan hal lain. sesuatu yang membuatku hidup. sesuatu yang lebih dari ini, kini. kau tahu, aku tak pernah bahagia jika hidupku tidak dalam bahaya. kali ini, mimpi-mimpiku buruk: semuanya cerita peri tabah yang kawin dengan pangeran, rukun dan makmur hingga akhir waktu. itu membuatku sedikit sedih. bakarlah lilin di rambutku, agar setidaknya kepalaku merasakan hal yang nyata. jangan kurung aku disini. tak ada bunga musim semi, gerimis yang manis, atau badai topan. disini terlalu aman, lemparlah aku ke kolong jembatan, biarkan aku bertemu keramaian, atau biarkan aku membusuk sendiri di museum dan perpustakaan. ah, aku rindu taman itu! tempat gelandangan berbaur dengan bunga rumput dan lampu-lampu temaram.

aku ingin pergi dari sini, jauh, jauh dari semua hal yang mengancam kewarasanku. kau tahu, akhir-akhir ini aku terlalu sering melamun dan tidak mengerjakan apapun. aku tidak bisa belajar di kelas, tidak bisa tenang membaca, tidak bisa menulis, aku terus mengulang kesialan yang sama. tanpa belajar dan membaca, tanpa menulis dan bekerja, pengetahuan yang tersisa hanyalah bahwa aku goblok. tak ada yang lebih keji daripada setiap hari terbangun menyadari bahwa aku hanyalah sampah. aku butuh aku yang lain, yang baru, yang bertenaga, yang siap menempuh bahaya. kau membuatku lemah. dan setelah lemah, kau membenci kelemahanku. barangkali aku masih dalam bahaya.

kemarilah, peluk aku. cium aku.


hadeuh, gak bisa konsen.

sebel.

sedih.


December 8, 2010 at 4:51pm

mungkin yang lain

inilah mengapa aku lebih suka menulis surat padamu, meski kini kau tak punya lagi waktu untuk sekadar membacanya. aku tahu, diam-diam kau berharap aku sepertimu, yang bisa menyimpan masalah dan gundah jauh dalam palung renungmu sendiri. kau mulai kewalahan oleh semua masalahku, yang tak pernah repot-repot kuselesaikan. kau bosan menjadi pengasuh dan menganggapku mau menang sendiri ketika aku menyebutmu mengeluh atas hal-hal remeh. ya, jangan minta bantuan, dan aku bersyukur tak menceritakan masalahku padamu. sampai kini, aku masih ingat semua hal yang kau katakan, yang membuatku berpikir bahwa mungkin akhirnya kau sadar, aku bukan perempuan yang bisa kau bagi hidupmu. ya, kau telah meralatnya. kau bilang tak akan melepasku. tapi semakin lama, kau membuatku semakin yakin untuk mundur. tentu, tak mudah melepas harapan saat menoleh ke belakang, pada masa tersulit yang selalu berakhir bahagia, setidaknya, di ujung tiap kesusahan itu kita tetap bersama.

apa bedanya kali ini?

ya, apa bedanya kali ini? bukankah aku kerap merajuk dan tetap tak bisa hidup tanpamu? aku harus bisa. aku harus mampu. dari semua yang kau katakan padaku jumat itu, mungkin kita harus berpisah dalam waktu dekat, meraih apa yang kita impikan, dan kembali bersama setelah kita hidup mapan. kita terlalu lama bersama dalam kesusahan, dan akhirnya merasa tak sanggup terus hidup dalam kecemasan, tarik menarik tuntutan, dan kekacauan lainnya. kau berhak mendapat ketenangan, bebas dari semua rengekanku. ya, kulihat itu makin mungkin.

lupakan saja semua mimpi buruk yang kau miliki denganku. tanpaku, langkahmu mungkin lebih ringan. lagipula, semakin lama aku semakin tak berguna. tak ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu sekadar lega. sekadar tenang.

aku akan biasa saja. menderita dan meratap kan sudah biasa bagiku. tapi setidaknya, aku tak lagi malu karena membebanimu.

December 12, 2010 at 5:45pm

time out

seperti orang lain, saya butuh jeda.
seperti orang lain, saya butuh dihargai.
seperti orang lain, saya butuh waktu senggang.
seperti orang lain, saya butuh istirahat.

tolong, sudah cukup buruk perlakuannya pada saya, dan kita membencinya karena ia selalu mengeluh dan tak peduli pada orang lain. kali ini saya berada di puncak muak, di hulu ledak. saya tidak ingin mengacuhkanmu. dan memang tak bisa, tidak jika saya tak pergi dan itu berat sekali.
tolong, jangan buat saya merasa seperti tong sampah. bahwa yang kau butuhkan dari saya hanyalah telinga dan stamina untuk mengatasi kekalahan yang tak putus.
saya disini, perkataan saya ini dan itu, mengapa kau mau membanggakan yang lain dan tak mengakui segala jerih saya?
tolong, untuk kali ini, saya diperbolehkan untuk merasa cukup jenuh.
tolong, jangan bunuh kantuk saya, jangan memberi kesempatan pada lambung saya untuk menyiksa hari-hari saya.

saya ingin tidur, saya memerlukannya. tolong.

December 15, 2010 at 3:14am

di kamar

akhirnya, aku punya waktu untuk menghabiskan waktu sendiri di ranjang. sendiri di kamar, menutup pintu dari dengung kulkas dan raung tv menyiarkan gosip selebriti. aku tidak sedang sakit. aku hanya ingin sendiri, berbaring, berselimut, menghindari jamuan cahaya matahari. aku ingin menangis, tapi tidak bisa. aku ingin merobek dadaku dan mencabut jantungku. tidak. aku ingin tidur tanpa harus terbangun oleh kecupan orang asing. aku ingin lelap, dan terbangun sebagai salahsatu pahlawan yang berkeliaran malam-malam dan menangkapi penjahat. penjahat besar yang membikin pajak mahal untuk bukuku, orangorang yang mengurangi butir nasi di piringku. aku benci matahari. dia juga membenciku. tapi aku juga sedang kesal pada hujan yang bersikap sok pahlawan dalam melerai aku dan matahari. siapa yang kini butuh kau, hujan? kau cuma bikin banjir.

ibu, aku mau tidur. tapi aku ingin sekali menangis dulu. aku janji tidak berisik. aku akan menangis pelan. lagipula aku takut jika menangis keras, kantuk tidak akan nyaman berkunjung.

aku haus. tapi aku tak mau keluar kamar. aku pinjam siletmu, bu. untung tadi aku menaruh gelasku di meja. dan untung aku punya buah di dadaku. kau tahu, aku pandai mengupas buah. buah di dadaku berair banyak. sedikit saja mengupas sudah banyak yang bisa kuminum.

kantuk tak suka aku mengupas buah di dadaku. ia pergi. ah, keberuntungan sedang ada di pihakku. aku menemukan jarum jahit ibu. aku tak pandai menjahit, tapi kalau cuma pasang kancing dan ritsleting, enteng, lah. mungkin mataku lebih cantik dengan aksesori baru. tapi kalau menjahit kelopak begini mesti hatihati, kau tak mau salah menjahitkan kelopakmu pada bola matamu. bukan apa-apa, tapi jahitannya longgar. percuma.

hei, aku akhirnya menangis.

menangis dalam gelap.

December 24, 2010 at 9:18am

draft (Biru)

dia terlihat lebih cantik dari yang pernah kulihat. menutup mata indahnya, dia terbaring, rambut panjang kemerahannya terurai dan sebuah mahkota daun jeruk menghiasinya. dia mengenakan gaun hitam berlengan tulip, kulitnya nampak lebih putih.

dalam sekedipan mata, aku melihatnya duduk di dermaga, tujuh tahun lalu. tanpa menoleh, dia berkata padaku, "lelaki pantai, siapa yang pertamakali menggambar Nyai Roro Kidul?" kuingat, aku menangkup pipinya, tersenyum dan menggeleng.
"aku hanya ingin tahu, apakah benar gaunnya berwarna hijau? bukankah kalian tak bisa membedakan hijau dan biru. dan lautan begini biru, kubayangkan ia bangkit dan bergaun biru, dari warna samudera. gaun hijau lebih cocok untuk peri hutan."
"aku tidak tahu, sayangku. aku tak pernah melihatnya. dulu, buyutku melihat temannya direngkuh oleh Nyai, dan beliau bilang Nyai bergaun hijau. tapi seperti yang kau bilang, bahasa kami tak bisa membedakan warna hijau dan biru. mungkin juga warnanya biru, tapi buyutku tak bisa membedakannya. hijau atau biru, beliau hanya punya satu kata: hejo. apa kau bertemu dengan Nyai?"
"tidak. kupikir, jika aku kawin denganmu, lelaki pantai, aku ingin cantik seperti Nyai. tapi kupikir, gaunku atau kebayaku lebih baik berwarna biru laut. selebihnya, biar seperti lukisan Basuki Abdullah."
"kau tak takut Nyai marah?"
"aku melakukan ini untuk menghormatinya. agar sesuai dengan latar pantai ini. sebenarnya ada yang lebih cocok, tapi kau pasti tidak mengharapkan mempelaimu hanya memakai bikini."
"kalau kau mau pakai bikini, lebih baik sekarang saja, tapi hanya di kamarku."
"bermimpilah, aku tak akan ke kamarmu kalau tak kau kawini."

dan aku memang hanya bisa bermimpi. aku bermimpi dia memakai bikini, melepas bikininya, lalu mengenakan gaun biru laut. aku bermimpi dia menungguku di pelaminan, menungguku pulang melaut dengan anakanak kami. aku memimpikan semua yang hilang dari hidupku. semua yang kutinggalkan. semua yang tak pernah luput kusesali.

aku meninggalkannya, dan kini dia pergi selamanya.

"aku ingin sendiri. aku butuh waktu untuk memikirkan hubungan kita."
"terserah. aku tak bisa memaksamu untuk melakukan apapun, atau tidak melakukan apapun."

aku bahkan tak ingat mengapa kami bertengkar. mungkin karena kami memang sering bertengkar. tapi setelah meninggalkannya, aku selalu merindukannya, merindukan kebersamaan kami. aku kehilangan langkah untuk menemuinya. untuk menjemputnya dari kesepian dan penantian. aku lebih memilih pergi dan tak menoleh lagi. kupikir dia akan lebih tenang tanpaku. entah apa lagi yang kupikirkan. semuanya makin kabur, lebur di airmataku. kabar tentangnya datang, kabar yang tak ingin kudengar.

"datanglah ke rumahku. aku ingin bertemu. aku ingin bicara." begitu isi pesan singkatnya. lama aku berpikir, hingga kuyakinkan kakiku untuk pergi.

keluarganya memelukku. "ini permintaan terakhirnya, sebelum dia mendonorkan tubuhnya."

disanalah dia, terbaring menungguku. kakaknya menunjukkan buku catatan harian di tangan kirinya. "dia ingin kau membaca buku hariannya, ada banyak hal yang ingin dia katakan padamu disana."

hanya aku, dia, dan buku catatan hariannya. dulu kami selalu bertukar buku harian, seolah pesan singkat, puisi dan surat belum cukup untuk menyatakan perasaan kami. dia selalu bilang, dia takut kehilanganku di laut. tak selamanya seluler bisa mengantar pesan kami, dia ingin memastikan segalanya. dia selalu merasa semua yang dia lakukan belum cukup untuk menyentuh jiwaku. kekasihku, peri hutan yang diantar pelangi ke muara. kuraih tangan kirinya, sebuah garis dalam tercetak di pergelangannya. aku ingin sekali memarahinya, memarahiku, karena aku selalu terlambat mencegahnya melukai tangannya. tuhan, Nyai, apa yang kulakukan?

kuambil bukunya, sambil tetap menggenggam tangannya. aku tak berani menyentuhnya selain tangan itu, aku takut melukainya.

"sudah kukira, aku akan menyerah dan datang padamu. kali ini yang terakhir, demi tuhan dan Nyai, aku tak berani mengusikmu lagi. aku tak akan membicarakan bagaimana aku menghadapi kesepian dan kerinduan, dan bagaimana usahaku setia dalam penantian. kau akan melihatnya dalam catatan harianku.
hal pertama yang harus kau tahu, adalah keputusanku untuk mengakhiri hidupku selagi tubuhku sehat. kupastikan tubuhku masih berfungsi agar kelak bisa membantu hidup orang lain. hidupku tak banyak berarti. tak banyak yang bisa kulakukan, karena satusatunya yang becus kulakukan adalah menunggumu, berharap kau kembali. menulis semakin sulit karena aku tak bisa berkonsentrasi dalam membaca. tanya keluargaku, aku masih memelihara hawa nafsu membeli buku, tapi tak lagi membacanya. aku tak pandai melakukan hal lain. dan akhirnya, setelah bertahun menabung kesedihan karena tak lagi membukakan pintu depan untukmu, kurasa aku tak sanggup lagi bertahan. usaha terakhirku hanyalah menjaga kesehatan agar setidaknya, kematianku bisa memberi peluang hidup untuk yang lain.
aku menyesal harus membuatmu pergi, dan karena aku tak sanggup untuk melupakanmu, aku harus pergi dari semua jejakmu. aku harus pergi dari rumah, dari biru langit, dari biru samudera, dari rindu, dari tubuhku. kau lihat, aku bahkan tak sanggup menulis surat. lebih baik kau baca saja catatan harianku..."

ada banyak jejak tinta yang kabur karena basah, kukira dia menangis sewaktu menulis, sebagaimana kini saat aku membaca. tuhan, Nyai, kuatkan diriku untuk terus membaca...




-draft. bersambung. maaf, wangsitnya tersendat garagara timnas kalah...

December 26, 2010 at 9:48pm

restless

barangkali, pikirmu lebih mudah jika kau bersembunyi di rahim sunyi, memaksaku untuk membencimu. tentu, lebih mudah meninggalkanku jika aku marah padamu, karena kau tahu ketahananku dalam membalasmu lebih sering berujung ekstrim, mengejarmu atau berbalik arah. keduanya baik bagimu, kau tinggal diam dan tak perlu repotrepot melakukan apaapa, membeli sejenak istirah dan kebebasan yang kau pikir telah kurenggut. kau tak akan menyesal, bahkan jikapun menyesal, kau tahu kau tinggal melangkah pergi, setiap reaksi buruk dariku akan kau balas lebih buruk, lalu kubalas lagi. mungkin sebenarnya kita lebih tegar dalam saling membenci dan menjatuhkan, kita hanya terkecoh oleh penampilannya yang manis.

tidak. baru saja kita yakin bahwa tak mungkin ada cinta yang lebih kuat dalam hidup kita selain yang kita rasakan. mengapa kau begitu ngotot ingin mengambil jalan yang paling berseberangan denganku? seolah kau takut jika sekali saja kita sama. kau tak perlu takut kehilangan dirimu jika ada kesamaan yang kita bagi. tak ada yang benarbenar baru, tak ada yang benarbenar lepas dari yang lain di kolong langit ini. aku tahu, menjiplak adalah laku terkutuk, semacam pernyataan bahwa kau tak punya harga diri. tapi kau berusaha terlalu keras hingga tak satu jalanpun berani kau tempuh. atau mungkin kita terlalu banyak dipersulit hidup hingga tak sanggup hidup bahagia? bahagia terlalu asing dan penuh tipu, sedangkan depresi selalu saja blakblakan. kebahagiaan terlalu menyilaukan, membuat tubuh tak kerasan.

aku lelah. rambutku rontok.



Monday, January 3, 2011 at 7:21am

secarik sajak

Friday, January 7, 2011 at 12:47am

harap

: untuk kakakku dadi







barangkali masih ada harap

yang sempat tercatat

di tiap ratap:

di tiap bulir

sajak yang

tak henti ngalir.





barangkali masih ada harap

yang sempat tertambat

pada gambar perahu

yang berlayar

ke telaga matamu







**puisi aslina ditulis dina kertas salambar. raib. jadi weh maksakeun.... huhu......

surat cinta untuk seseorang di menara

sebenarnya aku tahu, kau pergi tanpa pamit karena memang tak ada niat darimu untuk undur diri dari hidupku. hanya saja, kerapkali aku menemukan wajah kesepian lebih buruk dari wewe gombel. lebih dari itu, aku merindukanmu. tanpamu, terkadang rasanya aku terjebak di sebuah ruangan yang luas, kedap suara namun penuh cahaya super terang, membuatku sesak dan silau, bingung dan terasing. kosong. tanpa orang yang benarbenar memahamiku, kepalaku sakit. berulangkali aku membangun yakin bahwa aku bisa bertahan, dan memang terkadang bisa, saat melihatmu masih mencintaiku. tentu, saat aku merasa kau menjauh, aku ketakutan dan merasa begitu tak berdaya sendirian. mengertilah, bahwa tak selamanya aku betulbetul bisa kerasan dalam mencoba bertahan. bahwa sesekali aku masih perlu kau jenguk dan perhatikan. aku tak meminta 25 jam sehari kau di sampingku. rutinitas adalah kanker yang kurang ajar dan luarbiasa berbahaya. bukan cuma kau yang didesak memantapkan jalan hidup, kaupun tahu tiap tekanan dalam hidupku. aku tak pernah berniat menekanmu untuk merapikan hidupku, kekacauan bisa lebih panjang kuceritakan dan aku tahu, tiapkali tekanan menghampiri, aku selalu bisa membuka jalan yang lain. harus kau tahu, jalan lain bisa terbuka karena kaulah yang menjadi kekasihku. tak akan lagi ada lelaki yang hilang akal dan mencintaiku sesungguh kau. dan tak akan ada lagi lelaki yang dengan mudahnya mendapat seluruh kepercayaanku, segenap kesetiaanku. kita saling mencintai habishabisan, dan terlalu banyak pertengkaran tak perlu yang kita habiskan. setiap hal itu terjadi, kita kerap waswas dan merasa tak aman, tapi aku lebih memilih cerita cinta kita yang realistis dan jauh dari skenario sinetron. setiap bahaya yang luput ditulis dalam puisi, setiap rawan yang mendewasakan. denganmu, aku tak pernah kehabisan ingin untuk mencipta. baik itu puisi nelangsa atau surat kasmaran. semua yang bisa mengukuhkan duga bahwa aku juga cukup tangguh untuk kelak yang mesti ditempuh.



kau tahu, barangkali kau lebih penyair ketimbang aku. aku terlalu meletup dan amat tak sabaran, hanya bisa setengahsetengah dalam tiap hal, meski berjuang lebih keras di satu jalan. kau mampu hidup sendiri, berpikir panjang dan tentu saja bersabar, melihat semua lebih dekat dan waspada mengendus bahaya. kau mengimbangi kegilaanku dengan tekun, menghitung langkah dengan hatihati agar aku tetap aman. pikirankulah yang kacau, dan kadang aku kehilangan jejakmu. imanku lemah dan selalu harus diyakinkan oleh kehadiran, dan terkadang kupikir ada baiknya juga jika aku dikurung di satu tempat, membiasakan diri menghadapi diriku sendiri. tapi mungkin karena itu pula kau pergi, aku saja tak pernah kerasan bercermin. tidak. kita berdua samasama kuat, samasama lebih memilih bertahan, dan sialnya, kadangkadang bareng pula kelelahan. dulu akulah yang selalu curiga, janganjangan kita bukan jodoh, saking beratnya persoalan yang mengganggu hubungan kita. tapi bukankah tak mungkin persoalan antara perasaan kita menjadi berat jika cinta kita tak sedalam itu. tapi mulailah kita bertengkar, sambil diamdiam menyesali katakata yang tak pernah kita niatkan. lalu kita takut saling menyakiti, takut kesalahan terulang sambil menuduh dan marahmarah. tidak. aku tak pernah berniat menyalahkanmu dalam apapun, sebagaimana kau tak pernah punya niat mengataiku. kita tibatiba terjebak dalam pusaran curiga dan kecemasan dan berupaya menyelamatkan diri. yang kulakukan adalah merajuk, dengan jalan yang paling buruk dan menjauhkan diriku darimu. dan karena itu aku marah. aku merasa tak berdaya, untuk sekadar dekat denganmu. aku bingung dan putus asa karena dalam keadaan seperti ini, apapun yang kulakukan selalu salah dan membawamu jauh. jika seperti itu, rasanya aku tak mungkin membuatmu bahagia. bahwa kau membenciku. dan jika aku mengajukan itu, kau akan menganggapku tak pernah mengerti keinginanmu dan semakin menjauhkanmu dariku. tuhan, menuliskannya saja menyakitkan.

sebenarnya aku tahu, kau pergi tanpa pamit karena memang tak ada niat darimu untuk undur diri dari hidupku. hanya saja, kerapkali aku menemukan wajah kesepian lebih buruk dari wewe gombel. lebih dari itu, aku merindukanmu. tanpamu, terkadang rasanya aku terjebak di sebuah ruangan yang luas, kedap suara namun penuh cahaya super terang, membuatku sesak dan silau, bingung dan terasing. kosong. tanpa orang yang benarbenar memahamiku, kepalaku sakit. berulangkali aku membangun yakin bahwa aku bisa bertahan, dan memang terkadang bisa, saat melihatmu masih mencintaiku. tentu, saat aku merasa kau menjauh, aku ketakutan dan merasa begitu tak berdaya sendirian. mengertilah, bahwa tak selamanya aku betulbetul bisa kerasan dalam mencoba bertahan. bahwa sesekali aku masih perlu kau jenguk dan perhatikan. aku tak meminta 25 jam sehari kau di sampingku. rutinitas adalah kanker yang kurang ajar dan luarbiasa berbahaya. bukan cuma kau yang didesak memantapkan jalan hidup, kaupun tahu tiap tekanan dalam hidupku. aku tak pernah berniat menekanmu untuk merapikan hidupku, kekacauan bisa lebih panjang kuceritakan dan aku tahu, tiapkali tekanan menghampiri, aku selalu bisa membuka jalan yang lain. harus kau tahu, jalan lain bisa terbuka karena kaulah yang menjadi kekasihku. tak akan lagi ada lelaki yang hilang akal dan mencintaiku sesungguh kau. dan tak akan ada lagi lelaki yang dengan mudahnya mendapat seluruh kepercayaanku, segenap kesetiaanku. kita saling mencintai habishabisan, dan terlalu banyak pertengkaran tak perlu yang kita habiskan. setiap hal itu terjadi, kita kerap waswas dan merasa tak aman, tapi aku lebih memilih cerita cinta kita yang realistis dan jauh dari skenario sinetron. setiap bahaya yang luput ditulis dalam puisi, setiap rawan yang mendewasakan. denganmu, aku tak pernah kehabisan ingin untuk mencipta. baik itu puisi nelangsa atau surat kasmaran. semua yang bisa mengukuhkan duga bahwa aku juga cukup tangguh untuk kelak yang mesti ditempuh.



kau tahu, barangkali kau lebih penyair ketimbang aku. aku terlalu meletup dan amat tak sabaran, hanya bisa setengahsetengah dalam tiap hal, meski berjuang lebih keras di satu jalan. kau mampu hidup sendiri, berpikir panjang dan tentu saja bersabar, melihat semua lebih dekat dan waspada mengendus bahaya. kau mengimbangi kegilaanku dengan tekun, menghitung langkah dengan hatihati agar aku tetap aman. pikirankulah yang kacau, dan kadang aku kehilangan jejakmu. imanku lemah dan selalu harus diyakinkan oleh kehadiran, dan terkadang kupikir ada baiknya juga jika aku dikurung di satu tempat, membiasakan diri menghadapi diriku sendiri. tapi mungkin karena itu pula kau pergi, aku saja tak pernah kerasan bercermin. tidak. kita berdua samasama kuat, samasama lebih memilih bertahan, dan sialnya, kadangkadang bareng pula kelelahan. dulu akulah yang selalu curiga, janganjangan kita bukan jodoh, saking beratnya persoalan yang mengganggu hubungan kita. tapi bukankah tak mungkin persoalan antara perasaan kita menjadi berat jika cinta kita tak sedalam itu. tapi mulailah kita bertengkar, sambil diamdiam menyesali katakata yang tak pernah kita niatkan. lalu kita takut saling menyakiti, takut kesalahan terulang sambil menuduh dan marahmarah. tidak. aku tak pernah berniat menyalahkanmu dalam apapun, sebagaimana kau tak pernah punya niat mengataiku. kita tibatiba terjebak dalam pusaran curiga dan kecemasan dan berupaya menyelamatkan diri. yang kulakukan adalah merajuk, dengan jalan yang paling buruk dan menjauhkan diriku darimu. dan karena itu aku marah. aku merasa tak berdaya, untuk sekadar dekat denganmu. aku bingung dan putus asa karena dalam keadaan seperti ini, apapun yang kulakukan selalu salah dan membawamu jauh. jika seperti itu, rasanya aku tak mungkin membuatmu bahagia. bahwa kau membenciku. dan jika aku mengajukan itu, kau akan menganggapku tak pernah mengerti keinginanmu dan semakin menjauhkanmu dariku. tuhan, menuliskannya saja menyakitkan.


Sunday, January 9, 2011 at 10:38pm

tears

beberapa orang menganggap bahwa yang jujur hanyalah airmata. saat luka teramat nganga maupun melayangi riang, satu dua butirnya adalah bukti paling absah, tak bisa terbantah. tentu, siapapun itu tak pernah melihat buaya menangis. sebab jika pernah, mereka barangkali akan menyeberang ke sisi lain dan berkata bahwa airmata dusta semata. atau mungkin mereka tak pernah menonton sinetron, dimana airmata berasal dari tetes air dalam botol kecil dan naskah juga seruan sutradara. sejujurnya, dalam seni peran, airmata bisa mendapat posisi lebih terhormat. saya sendiri kerap bertanya, jika seseorang memerankan yang berada dalam naskah (saya bingung mesti memakai kata seseorang atau sesuatu di hadapan kata tokoh), dan sang aktor menghayati perannya, sampai menangis karena peran itu -dalam suasana dan plot di naskah- mendorongnya untuk menangis, saya tak bisa menentukan itu bohongan atau betulan. apakah memang tak tertahankan atau untuk memperdaya. karena untuk menghayati peran dibutuhkan sekurangkurangnya simpati, dan simpati saja bisa menghasilkan airmata yang jujur. bagaimanapun, derita itu berasal dari naskah, yang merupakan karangan. dan dalam arahan sutradara. dan jika kita mengubah kata naskah menjadi nasib dan sutradara menjadi tuhan, sejujur apakah airmata dalam hidup kita? seterbuka apapun kalimat dan adegan, secuek apapun sutradara, keduanya tetap ada dan tak terhindarkan. gerak hanya sebatas nyali kita menyodorkan kemungkinan, dan menurut saya, tak pernah senyum sang pengarah lebih lebar tinimbang saat kita menghampirinya dan menjejalinya dengan penafsiran kita, karena ia bukan cuma pengarah. ia pencipta. kita, ciptaan itu, hanya berhasil kalau kita lebih brilian dari yang diharapkan.

sebentar, sebentar. tadinya saya mau nulis tentang airmata bahagia. kenapa tibatiba jadi ada tuhan? lalu kemana pacar saya, yang tadi ada dalam kelebat inspirasi dan niat?

hei, terlalu banyak dan dalam tulisanmu! tulisanmu tambah jelek!

apa kamu ikutikut kesini segala? asam lambung harusnya diam saja di lambung, tak usah punya keinginan buat tercantum.

eh, kantuk datang...

akankah kau masih mencintaiku?

Kekasihku,
Aku tak begitu percaya ada surga. Mungkin aku tak mau percaya. Akankah kau masih mencintaiku jika kelak kau bertemu bidadari?

Kekasihku,
Jika aku tetap kukuh hendak bunuh diri, berapa lamakah selamanya? Masihkah kau akan mencintaiku jika aku tak lagi sanggup membalas sekadar tatapanmu?

Kekasihku,
Kau selalu bilang mengagumi kecerdasanku,menyukai keseluruhanku, meski kadang membenci rapuhku. Akankah kau masih mencintaiku jika aku tak lagi keras kepala? Akankah masih nyala gairahmu jika aku tak lagi mudah gelisah?

Kekasihku, aku mencintaimu, karena kau daging dan darah. Bukan pangeran dalam dongeng yang dikutuk mengalahkan naga dan mencuri cium atau menenteng sebelah sepatu ke penjuru negeri demi mencari pujaan hati dan janji akhir bahagia. Aku mencintaimu karena bahagia denganmu bukan tiba di akhir, tapi kukuh menyelinap di setiap mimpi, nyeri dan jeri. Bahagia denganmu bukan hanya pernah dan kini, tapi juga masih akan.

Kekasihku,
Akankah kau masih mencintaiku, jika aku tak mengatakan ini padamu?


**maap, nulisnya kepotong tidur, dan gak jelas juga keliatannya di hape teh...

Thursday, February 24, 2011 at 9:54pm

money money money

Bertanya tentang apa yang belum dibicarakan tentang uang barangkali sama dengan bertanya apa yang belum dibicarakan tentang tuhan dan cinta. Ketiga hal ini penting, beberapa berpikir salahsatu lebih penting dari yang lain, sebagian besar membuat masalah karena tingkat kepentingan salahsatu hal tersebut.

Jika seseorang bertanya pada saya, mana yang akan saya pilih diantara ketiganya, saya mungkin tidak akan bisa menjawab. Saya butuh tuhan, untuk sesekali diseru saat saya sial, beruntung, kaget, dan tidak ada lagi yang bisa diajak curhat: sesuatu yang bisa dicium tanpa perlu bibir lembab, dipeluk tanpa kehadiran daging. Saya butuh uang, well, nyaris untuk segala hal setiap hari. Dan tentu saja cinta penting. Jika disuruh memilih antara punya pacar ganteng atau kaya, mungkin saya akan memilih yang ganteng. Jadi apa yang lebih penting? Tidak tahu.

Sumpah, saya tidak tahu apa yang lebih penting. Yang jelas, akhir-akhir ini saya bermasalah dengan uang. Yang menyebalkan adalah, saya bingung kenapa ini mesti jadi masalah buat saya. Karena terkadang ini adalah masalah orang lain yang kemudian saya ketahui. Terkadang pusing juga kalau cuma punya telinga dan tidak bisa bantu apa-apa. Yaya, terutama saat kau sendiri bermasalah. Meskipun masalahnya tidak begitu besar, namun karena ditumpuk masalah orang lain, yang pada akhirnya entah kenapa jadi masalah saya juga. Memangnya gimana masalahnya?

Saya tibatiba ragu harus mulai dari mana. Dan kalau saya sudah mulai, kapan berhentinya? Ini terlalu konyol. Entah kenapa juga saya habiskan sebelas menit untuk menulis yang tidak jelas saya baca di ruang publik begini. Iyah. Apalagi jika masalahnya adalah karena masalah ini saya jadi tidak bisa tidur dan ingin menangis. Tapi bahkan airmata saya juga urung turun, mungkin lebih ragu dari saya. Atau mungkin airmata saya tahu ada banyak orang yang lebih berhak menangis garagara masalah ini. Seperti mereka yang menceritakan masalahnya kepada saya. Seperti mereka yang tidak bisa saya bantu. Atau mungkin saya memang kebelet menangis bukan sepenuhnya karena masalah uang. Tapi perkara hargadiri. Iyah. Saya kecewa karena apa yang saya lakukan tidak dihargai oleh orang yang mestinya menghargai usaha saya. Dan ini karena uangnya kurang. Hei, saya masih mahasiswa, meskipun dengan nilai buruk, dan entah kapan lulus, tapi saya cuma nyaris menganggur, dan tentu tidak bisa dibandingkan dengan orang lain yang sudah pegang ijazah. Atau tidak punya kegelisahan macam saya: yang selalu harus mengurusi masalah orang lain dan direweli banyak orang. Tidak banyak lho orang yang membuang waktu dengan cara saya: main lalu menangis, dikejarkejar kecemasan dan urusan orang lain.

Iyah. Saya tidak bisa tega dan abai pada masalah yang sampai di mata dan kuping. Meski pada akhirnya tidak bisa bantu apa-apa juga. Tapi saya muak pada simplifikasi masalah. Agak terlambat juga untuk mengeluh. Iyah. Saya suka meledak mendadak. Di saat semua orang berpikir, apa masalahmu? Bukannya tadi juga ketawaketawa? Nah itu masalahnya. Saya tidak tega buat bilang, urus saja urusanmu sendiri dan sepenuhnya abai. Kalaupun saya cuekin orangnya, saya bakal dikejarkejar rasa bersalah. Si rasa bersalah itu jauh lebih jawara daripada preman antekantek rentenir manapun di jagat raya ini. Mereka bisa mengikutimu sampai kamar mandi, menyingkirkan kekhusukan saat mandi dan buang air. Dan mengganggu tidur. Satusatunya pengalih adalah kasmaran. Dan atau buku yang menarik. Dan film bagus.

Balik lagi ke uang. Jika saja kalian tahu, tokoh yang paling saya sebal dalam spongebob adalah Mr. Crab. Yah, meskipun Patrick mungkin dungu, dan Squidward tidak memiliki cukup rasa humor, itu lebih baik daripada orang yang tak bisa melepas kata uang dalam nyaris semua percakapan. Mungkin sebesar itu kesebalan saya sampai saya sebenarnya tidak suka membicarakan uang dengan orang-orang yang paling dekat. Tapi karena uang adalah bagian dari tiga hal paling penting, hal itu menjadi tak terelakkan dan saya harus meminggirkan masalah selera demi menjadi pendengar yang baik. Pada beberapa kasus, sebenarnya tidak begitu masalah. Sebagian lain, menjadi masalah besar karena saya kerap jadi terseret. Dan yang paling menyebalkan adalah ketika saya harus banyak meluangkan waktu untuk menghitung uang saya agar bisa cukup dibagi dengan yang lain dan ternyata tidak cukup, lalu keluhan demi keluhan jatuh menimpa telinga. Please, apa lagi yang kau harapkan dari pengangguran terselubung?

Dengan menulis ini, ini menjadi salahsatu balas dendam yang tidak tepat sasaran. (Sebenarnya, adakah balas dendam yang tepat sasaran? Kecuali nama kita tuhan atau hukum, rasanya tak ada yang berhak menimbang perihal dendam.)


Udah ah cape.

February 25, 2011 at 2:22pm

kelahiran

Ibuku selalu bilang,

aku lahir dibawah naungan dewa kegelapan,

di waktu yang amat tidak tepat.



Bagiku, tak pernah ada dewa kegelapan,

yang ada hanya kehabisan minyak atau tak ada kayu yang dapat dibakar.

Dan tanggal berapa serta jam berapakah itu waktu yang tidak tepat?

Ada duapuluh empat jam, duabelas bulan, tujuh hari dalam seminggu,

dan tak satupun bernama waktu yang tidak tepat.



Aku atau waktu yang tak tepat itu, Bu?



Aku tak dendam padamu setelah tahu kau hanyutkan aku,

meski aku tak mungkin dapat menghanyutkan anakku sendiri.



Jika anakku memang harus dibunuh,

aku akan menemaninya mendegup jantung untuk yang terakhir kali.

Aku akan menatap matanya sampai kemudian jariku yang mesti memejamkannya.

Aku akan memberinya penguburan yang layak dan doadoa,

serta taburan bunga dan gerimis airmata.

Aku tak akan membiarkan anakku hanyut begitu saja dalam keranjang.



Pernahkah terpikir bahwa aku bisa mati dimakan buaya?



Terkadang pasrah dan sombong tiada beda,

apa yang membuatmu berpikir bahwa kau cukup istimewa

sehingga tuhan memberimu isyarat dan doamu dijamin kabul sepenuhnya?



Kau tak bisa menyalahkanku mengibu pada perempuan yang menyusuiku,

yang mendongeng sebelum aku tidur,

yang bersenandung di kala aku gelisah.

Kau tak bisa memintaku menjadi anakmu,

aku bahkan agak keberatan menjadi anak tuhan.



Bu, apakah kau menjual kelahiran anakmu

untuk kelahiran anak tuhan?





*maksain nulis. Lama gak nulis bikin kejangkejang.*



**maap yah diedit terus. asa belum enakeun wae...


Sunday, February 27, 2011 at 8:17pm

untuk pow sirunggawir

Lelaki dalam cerita, masihkah kau baru menemu lelap saat fajar tiba? Aku mengamati jejakmu, dari jalan lain, hati-hati di belakang. Terkadang, aku sengaja mendahuluimu, diam-diam menyimpan cermin di pinggangku, mengintip arahmu. Kau menolak naik perahu saat banjir besar, kau menertawakan berhala tapi menolak turut mengayun kapak di altar, kau juga tak tak ikut pergi ke gunung mencari wajah Tuhan. Tapi kau mau menyepi di gua dan pasrah dalam penyaliban. Dalam hela putus asa, kau tak memanggil Bapa, namun memikirkan petunjuk dari sembahyang Bunda.

Aku masih menyimpan puisi-puisimu, ratapan yang tak terjangkau telinga kelelawar, demikian rahasia hingga kadang aku tak berhenti mengulang-baca. Kau memasang perangkap dan kita terjebak disana selamanya, di bawah naungan pesona sihir kata-kata. Aku mengekormu, memungut apa yang kau jatuhkan, dan menyalin semua yang kau katakan. Aku adalah muridmu yang paling rajin, mungkin karena itulah, dikala kebangkitan, akulah yang dapat melihatmu kembali dari kematian.

Adalah Izabella yang memisahkan kita; kau bertamasya ke Pulau Nonce dan aku tersesat di Pulau Jam Tujuh Malam, dimana semua kenang bersarang. Langkah-langkah Carrion segera saja jelas di telingaku, dan cacing mimpi buruknya mengenali takutku. Pangeran Tengah Malam itu tiba-tiba mengingatkanku pada masa kecil yang jauh, saat aku masih anak-anak canggung dan gelisah. Teman-teman telah dikaburkan usia dan airmata, sedang hasrat memertahankan bagian hidup muram kian keraskepala.

Terkadang, ketika bangun dari tidur aku membayangkan Ricardito yang duduk di dekat jendela, menempuh delapanbelas jam, menatap pemandangan yang silih-ganti dari desa, ladang terbengkalai, dan perkebunan. Akan seperti apa Lima, ibukota nun jauh disana? Berjam-jam mengatasi bosan dan kantuk demi melihat lelampu berderet menghampiri serupa pawai obor, hanya untuk terbangun di pinggiran kota dan menyaksi lelaki yang tak ia kenali mencium ibunya, lalu mengecup pipinya. Di kamar yang asing dan sunyi belaka, ia terkenang bibi Adelia, terkenang cerita serigala yang menakuti hantu dengan lolongan panjang, gemetar berdoa meminta pagi tiba agar bisa kembali ke desa.

Tapi pagi di hidupku selalu lebih ngeri. Ia mengingatkanku pada tugas kuliah dan nilai yang berantakan. Pagi adalah pertemuan dengan orang asing yang membuatku kikuk. Adalah tahun-tahun yang kuhabiskan dengan entah apa, tak memberiku apa-apa selain kenyataan pahit bahwa aku tak pernah dapat membantu sesiapa. Barangkali karena itu aku tak pernah berani menghadapi huruf-huruf yang kususun. Aku harus berpaling dari lara, meski tanganku masih dalam genggam pilu. Nasib tak pernah kasihan pada sayu mataku, atau jumlah berat badanku. Tak ada yang memedulikanku selain kata-kata dan jalan yang ada di depan, jalan yang membuatku tak punya pilihan selain terus melangkah dan mencatat arah.

Lelaki dalam cerita, bukankah luka dan cinta selalu pertama, selalu baru, seolah disana tak ada kata deja vu, meski mungkin belati yang menurih dada kirimu adalah yang pula menyayat nadiku. Adakah yang baru yang dapat kau kisahkan kepadaku?

on Wednesday, March 16, 2011 at 8:52pm