Wednesday, March 30, 2011

bunuhdiri

jika bertemu dengan iblis, dan dia menawar jiwa saya, tentu satu yang akan saya tukar adalah nasib buruk ibu saya. nasib buruk ibu saya yang utama adalah menikahi orang yang salah. dari situ nasib buruk lainnya membuntut. kelahiran saya misalnya, yang memang tidak direncanakan tapi seperti bonus dari paket pulsa (murah bersyarat juga bergangguan banyak maksudnya). tapi analoginya kurang tepat dan agak maksa.

ah biarin, kan saya tawar menawar dengan iblis. iblis kan tidak begitu memerhatikan kesalahan kecil seperti itu. dia tahu sekali kata bonus cukup untuk menjelaskan maksud kelahiran saya, apalagi jika ia ingat tuhan senang bercanda dan pemurah.

sampai dmana tadi? oh, lewat saja bagian ini. ini cuma bagian dari senam jempol dan trik saya supaya tulisannya keliatan panjang. oke, iblis sudah kebelet pengen menambah koleksi pendosanya. dengan ini saya tukar jiwa saya dengan terhindarnya ibu saya dari nasib buruk, dibayar kontan.

sah? sah katamu? tunggu dulu, apa kau yakin bahwa pernikahan ibumu adalah nasib buruk yang berdampak sistemik? bukankah semua ada hikmahnya? iya justru karena semua ada hikmahnya, mengapa dia mesti dibiarkan menjalani nasib seburuk itu? jika semua ada hikmahnya, dan saya yakin pada iman dan ketahanan ibu saya, maka dia juga akan mengambil hikmah dari nasib yang lumayan juga nasib yang baik. makanya dia harus dihindarkan dari nasib buruk itu, biar dia dapat yang terbaik.

bagaimana kau bisa tahu bahwa itu yang terbaik, sementara ibumu telah mengambil hikmah dari nasib buruknya? lah, terus kalau begitu itu yang terbaik? kita yang hidup dengan kesadaran bahwa hidup adalah satu garis lurus yang tak bisa dihapus-ulangi memang terpaksa menghibur diri dengan keikhlasan termurah bahwa segala yang terjadi pada kita sudah semestinya dan itulah yang terbaik, karena penyesalan lebih sedikit gunanya ketimbang bersyukur. tapi saya kan lain. saya punya penyesalan yang kuat dan itu bekal saya untuk bertatap muka dgn iblis dan menawarinya jiwa saya. ibu saya berhak untuk mengambil hikmah dari nasib yang lebih baik.

adapun konsekuensinya, selain jiwa saya akan jadi miliknya, adalah tidak akan pernah ada saya. dan jika kau pikir bahwa saya menganggap hidup saya keparat bukan kepalang, kau salah besar. saya senang meskipun saya kurus kering, emosian, tidak pandai debus, dan tidak bisa memasak. saya punya banyak teman baik dan saya mengagumi banyak hal. dan meskipun israel menyebalkan, saya suka produk mereka dan rajin nonton tivi. kucing saya luculucu dan saya cinta sastra, pun sempat bercitacita jadi budha atau bahkan hannibal. tapi semua itu sedikit lebih kecil dari perasaan bahwa ibu saya berhak punya hikmah dalam nasib baik. tentu sedikit lebih kecil maknanya karena iblis pun tahu bahwa saya kesulitan mewujudkan hal ini dan memikirkannya masak-masak.

iblis juga sama seperti kita, lebih senang makanan cepat saji, jiwa yang siap makan karena pikirannya masak. makanya tak semua orang bunuhdiri dengan sukses dan awet dalam sejarah. jiwajiwa tergesa dgn pikiran mentah biasanya lupa diolah dan membusuk di gudang iblis. duh udah ngantuk, jadi intinya kalau transaksinya berhasil, ibu saya akan punya nasib yang baik dan saya tak pernah dlahirkan. pradewi tri chatami sebagai bagian dari nasib buruk ibu saya takkan pernah ada.



gning waas, nya, ngabayangkeun bahwa kita tidak pernah ada, tidak mendapat kesempatan mengenal dua hal terbesar: ada dan tiada.

yu ah cangkeul.


hursday, June 10, 2010 at 3:43pm

No comments: