Monday, March 21, 2011

di kamar

akhirnya, aku punya waktu untuk menghabiskan waktu sendiri di ranjang. sendiri di kamar, menutup pintu dari dengung kulkas dan raung tv menyiarkan gosip selebriti. aku tidak sedang sakit. aku hanya ingin sendiri, berbaring, berselimut, menghindari jamuan cahaya matahari. aku ingin menangis, tapi tidak bisa. aku ingin merobek dadaku dan mencabut jantungku. tidak. aku ingin tidur tanpa harus terbangun oleh kecupan orang asing. aku ingin lelap, dan terbangun sebagai salahsatu pahlawan yang berkeliaran malam-malam dan menangkapi penjahat. penjahat besar yang membikin pajak mahal untuk bukuku, orangorang yang mengurangi butir nasi di piringku. aku benci matahari. dia juga membenciku. tapi aku juga sedang kesal pada hujan yang bersikap sok pahlawan dalam melerai aku dan matahari. siapa yang kini butuh kau, hujan? kau cuma bikin banjir.

ibu, aku mau tidur. tapi aku ingin sekali menangis dulu. aku janji tidak berisik. aku akan menangis pelan. lagipula aku takut jika menangis keras, kantuk tidak akan nyaman berkunjung.

aku haus. tapi aku tak mau keluar kamar. aku pinjam siletmu, bu. untung tadi aku menaruh gelasku di meja. dan untung aku punya buah di dadaku. kau tahu, aku pandai mengupas buah. buah di dadaku berair banyak. sedikit saja mengupas sudah banyak yang bisa kuminum.

kantuk tak suka aku mengupas buah di dadaku. ia pergi. ah, keberuntungan sedang ada di pihakku. aku menemukan jarum jahit ibu. aku tak pandai menjahit, tapi kalau cuma pasang kancing dan ritsleting, enteng, lah. mungkin mataku lebih cantik dengan aksesori baru. tapi kalau menjahit kelopak begini mesti hatihati, kau tak mau salah menjahitkan kelopakmu pada bola matamu. bukan apa-apa, tapi jahitannya longgar. percuma.

hei, aku akhirnya menangis.

menangis dalam gelap.

December 24, 2010 at 9:18am

No comments: