Monday, March 21, 2011

draft (Biru)

dia terlihat lebih cantik dari yang pernah kulihat. menutup mata indahnya, dia terbaring, rambut panjang kemerahannya terurai dan sebuah mahkota daun jeruk menghiasinya. dia mengenakan gaun hitam berlengan tulip, kulitnya nampak lebih putih.

dalam sekedipan mata, aku melihatnya duduk di dermaga, tujuh tahun lalu. tanpa menoleh, dia berkata padaku, "lelaki pantai, siapa yang pertamakali menggambar Nyai Roro Kidul?" kuingat, aku menangkup pipinya, tersenyum dan menggeleng.
"aku hanya ingin tahu, apakah benar gaunnya berwarna hijau? bukankah kalian tak bisa membedakan hijau dan biru. dan lautan begini biru, kubayangkan ia bangkit dan bergaun biru, dari warna samudera. gaun hijau lebih cocok untuk peri hutan."
"aku tidak tahu, sayangku. aku tak pernah melihatnya. dulu, buyutku melihat temannya direngkuh oleh Nyai, dan beliau bilang Nyai bergaun hijau. tapi seperti yang kau bilang, bahasa kami tak bisa membedakan warna hijau dan biru. mungkin juga warnanya biru, tapi buyutku tak bisa membedakannya. hijau atau biru, beliau hanya punya satu kata: hejo. apa kau bertemu dengan Nyai?"
"tidak. kupikir, jika aku kawin denganmu, lelaki pantai, aku ingin cantik seperti Nyai. tapi kupikir, gaunku atau kebayaku lebih baik berwarna biru laut. selebihnya, biar seperti lukisan Basuki Abdullah."
"kau tak takut Nyai marah?"
"aku melakukan ini untuk menghormatinya. agar sesuai dengan latar pantai ini. sebenarnya ada yang lebih cocok, tapi kau pasti tidak mengharapkan mempelaimu hanya memakai bikini."
"kalau kau mau pakai bikini, lebih baik sekarang saja, tapi hanya di kamarku."
"bermimpilah, aku tak akan ke kamarmu kalau tak kau kawini."

dan aku memang hanya bisa bermimpi. aku bermimpi dia memakai bikini, melepas bikininya, lalu mengenakan gaun biru laut. aku bermimpi dia menungguku di pelaminan, menungguku pulang melaut dengan anakanak kami. aku memimpikan semua yang hilang dari hidupku. semua yang kutinggalkan. semua yang tak pernah luput kusesali.

aku meninggalkannya, dan kini dia pergi selamanya.

"aku ingin sendiri. aku butuh waktu untuk memikirkan hubungan kita."
"terserah. aku tak bisa memaksamu untuk melakukan apapun, atau tidak melakukan apapun."

aku bahkan tak ingat mengapa kami bertengkar. mungkin karena kami memang sering bertengkar. tapi setelah meninggalkannya, aku selalu merindukannya, merindukan kebersamaan kami. aku kehilangan langkah untuk menemuinya. untuk menjemputnya dari kesepian dan penantian. aku lebih memilih pergi dan tak menoleh lagi. kupikir dia akan lebih tenang tanpaku. entah apa lagi yang kupikirkan. semuanya makin kabur, lebur di airmataku. kabar tentangnya datang, kabar yang tak ingin kudengar.

"datanglah ke rumahku. aku ingin bertemu. aku ingin bicara." begitu isi pesan singkatnya. lama aku berpikir, hingga kuyakinkan kakiku untuk pergi.

keluarganya memelukku. "ini permintaan terakhirnya, sebelum dia mendonorkan tubuhnya."

disanalah dia, terbaring menungguku. kakaknya menunjukkan buku catatan harian di tangan kirinya. "dia ingin kau membaca buku hariannya, ada banyak hal yang ingin dia katakan padamu disana."

hanya aku, dia, dan buku catatan hariannya. dulu kami selalu bertukar buku harian, seolah pesan singkat, puisi dan surat belum cukup untuk menyatakan perasaan kami. dia selalu bilang, dia takut kehilanganku di laut. tak selamanya seluler bisa mengantar pesan kami, dia ingin memastikan segalanya. dia selalu merasa semua yang dia lakukan belum cukup untuk menyentuh jiwaku. kekasihku, peri hutan yang diantar pelangi ke muara. kuraih tangan kirinya, sebuah garis dalam tercetak di pergelangannya. aku ingin sekali memarahinya, memarahiku, karena aku selalu terlambat mencegahnya melukai tangannya. tuhan, Nyai, apa yang kulakukan?

kuambil bukunya, sambil tetap menggenggam tangannya. aku tak berani menyentuhnya selain tangan itu, aku takut melukainya.

"sudah kukira, aku akan menyerah dan datang padamu. kali ini yang terakhir, demi tuhan dan Nyai, aku tak berani mengusikmu lagi. aku tak akan membicarakan bagaimana aku menghadapi kesepian dan kerinduan, dan bagaimana usahaku setia dalam penantian. kau akan melihatnya dalam catatan harianku.
hal pertama yang harus kau tahu, adalah keputusanku untuk mengakhiri hidupku selagi tubuhku sehat. kupastikan tubuhku masih berfungsi agar kelak bisa membantu hidup orang lain. hidupku tak banyak berarti. tak banyak yang bisa kulakukan, karena satusatunya yang becus kulakukan adalah menunggumu, berharap kau kembali. menulis semakin sulit karena aku tak bisa berkonsentrasi dalam membaca. tanya keluargaku, aku masih memelihara hawa nafsu membeli buku, tapi tak lagi membacanya. aku tak pandai melakukan hal lain. dan akhirnya, setelah bertahun menabung kesedihan karena tak lagi membukakan pintu depan untukmu, kurasa aku tak sanggup lagi bertahan. usaha terakhirku hanyalah menjaga kesehatan agar setidaknya, kematianku bisa memberi peluang hidup untuk yang lain.
aku menyesal harus membuatmu pergi, dan karena aku tak sanggup untuk melupakanmu, aku harus pergi dari semua jejakmu. aku harus pergi dari rumah, dari biru langit, dari biru samudera, dari rindu, dari tubuhku. kau lihat, aku bahkan tak sanggup menulis surat. lebih baik kau baca saja catatan harianku..."

ada banyak jejak tinta yang kabur karena basah, kukira dia menangis sewaktu menulis, sebagaimana kini saat aku membaca. tuhan, Nyai, kuatkan diriku untuk terus membaca...




-draft. bersambung. maaf, wangsitnya tersendat garagara timnas kalah...

December 26, 2010 at 9:48pm

No comments: