Wednesday, March 30, 2011

mengenai Hari Marsinah

maaf jika ternyata tulisan ini pendek dan miskin. tadinya mau nulis status, tapi kepanjangan.

Marsinah. nama itu barangkali dianggap bertuah bagi orangorang yang masih menaruh peduli pada sejarah pergerakan buruh di Indonesia. buat generasi alay (tidak merujuk spesifik pada kelompok umur, tapi fokus di batok kepala), nama itu samasekali tidak ada funky-funkynya. saya, di satu pihak, masih menganggap kiri itu seksi, maka nama Marsinah terngiang sebagai pukau, sebagai bekas luka yang magis, seolah cacat di kening Harry Potter, kematian Marsinah adalah tapak kesakitan 'kenangkenangan' dari tokoh jahat yang punya kekuatan besar. jika di masakini banyak yang mengusulkan mendiang menjadi pahlawan nasional, saya memberikan persetujuan penuh untuk itu. dan semestinya tak harus ada masalah. tapi seharian ini, saya banyak menemukan gagasan yang menurut saya agak mengecewakan.

beberapa orang yang menuntut Marsinah menjadi pahlawan, membuat perbandingan menggelikan dengan Kartini. sebagian menganggap bahwa Marsinahlah yang pantas jadi pahlawan, dan Kartini cuma perempuan cengeng, bahwa hari Kartini harusnya dihapus saja. orangorang ini menurut saya agak aneh, terutama bagi mereka yang terkenal sebagai penulis, apalagi berkelamin perempuan.

pertanyaan saya pada mereka, aapakah jika perempuan jenis unggulan satu menjadi pahlawan, maka yang lain mesti minggir? perempuan sering merasa kecewa karena porsi yang diberikan pada kita terlalu sedikit, tapi mengapa memperburuknya dengan ide menggusur perempuan satu demi yang lain padahal duaduanya punya kualitas sebagai pahlawan? pada yang merasa mereka penulis, atau setidaknya hobi menulis, tidakkah kita punya harga diri kolektif karena seorang perempuan diabadikan namanya sebagian besar karena dia melawan dan berjasa besar dari hasil penanya? apakah kita tidak malu menjadi orang yang makan dari tulisan tapi merendahkan penulis besar, mereduksi cetak tintanya sebagai sebatas curhat, padahal dia melampaui masanya dan tidak dibayar! dan jika memang ada jenis pahlawan satu yang lebih layak didaku daripada yang lain, harusnya ketika ada usul Gusdur jadi pahlawan, coret saja Jenderal Soedirman misalnya. tapi kan tidak seperti itu. baik Marsinah dan Kartini maupun Gusdur dan Jenderal Soedirman memiliki jalan kepahlawanan masingmasing, persoalan masingmasing, kegilaan masingmasing yang kesemuanya memiliki tempat untuk kita saluti. jika tidak, barangkali kita mesti bertanya sejauh apa makna pahlawan bagi kita, sedalam apa kita menghayati perjuangan mereka.

// hanya kemarahan yang akan membuat saya susah tidur kalau tidak dituliskan. end of note//



Saturday, May 8, 2010 at 12:11pm

No comments: