Monday, March 21, 2011

money money money

Bertanya tentang apa yang belum dibicarakan tentang uang barangkali sama dengan bertanya apa yang belum dibicarakan tentang tuhan dan cinta. Ketiga hal ini penting, beberapa berpikir salahsatu lebih penting dari yang lain, sebagian besar membuat masalah karena tingkat kepentingan salahsatu hal tersebut.

Jika seseorang bertanya pada saya, mana yang akan saya pilih diantara ketiganya, saya mungkin tidak akan bisa menjawab. Saya butuh tuhan, untuk sesekali diseru saat saya sial, beruntung, kaget, dan tidak ada lagi yang bisa diajak curhat: sesuatu yang bisa dicium tanpa perlu bibir lembab, dipeluk tanpa kehadiran daging. Saya butuh uang, well, nyaris untuk segala hal setiap hari. Dan tentu saja cinta penting. Jika disuruh memilih antara punya pacar ganteng atau kaya, mungkin saya akan memilih yang ganteng. Jadi apa yang lebih penting? Tidak tahu.

Sumpah, saya tidak tahu apa yang lebih penting. Yang jelas, akhir-akhir ini saya bermasalah dengan uang. Yang menyebalkan adalah, saya bingung kenapa ini mesti jadi masalah buat saya. Karena terkadang ini adalah masalah orang lain yang kemudian saya ketahui. Terkadang pusing juga kalau cuma punya telinga dan tidak bisa bantu apa-apa. Yaya, terutama saat kau sendiri bermasalah. Meskipun masalahnya tidak begitu besar, namun karena ditumpuk masalah orang lain, yang pada akhirnya entah kenapa jadi masalah saya juga. Memangnya gimana masalahnya?

Saya tibatiba ragu harus mulai dari mana. Dan kalau saya sudah mulai, kapan berhentinya? Ini terlalu konyol. Entah kenapa juga saya habiskan sebelas menit untuk menulis yang tidak jelas saya baca di ruang publik begini. Iyah. Apalagi jika masalahnya adalah karena masalah ini saya jadi tidak bisa tidur dan ingin menangis. Tapi bahkan airmata saya juga urung turun, mungkin lebih ragu dari saya. Atau mungkin airmata saya tahu ada banyak orang yang lebih berhak menangis garagara masalah ini. Seperti mereka yang menceritakan masalahnya kepada saya. Seperti mereka yang tidak bisa saya bantu. Atau mungkin saya memang kebelet menangis bukan sepenuhnya karena masalah uang. Tapi perkara hargadiri. Iyah. Saya kecewa karena apa yang saya lakukan tidak dihargai oleh orang yang mestinya menghargai usaha saya. Dan ini karena uangnya kurang. Hei, saya masih mahasiswa, meskipun dengan nilai buruk, dan entah kapan lulus, tapi saya cuma nyaris menganggur, dan tentu tidak bisa dibandingkan dengan orang lain yang sudah pegang ijazah. Atau tidak punya kegelisahan macam saya: yang selalu harus mengurusi masalah orang lain dan direweli banyak orang. Tidak banyak lho orang yang membuang waktu dengan cara saya: main lalu menangis, dikejarkejar kecemasan dan urusan orang lain.

Iyah. Saya tidak bisa tega dan abai pada masalah yang sampai di mata dan kuping. Meski pada akhirnya tidak bisa bantu apa-apa juga. Tapi saya muak pada simplifikasi masalah. Agak terlambat juga untuk mengeluh. Iyah. Saya suka meledak mendadak. Di saat semua orang berpikir, apa masalahmu? Bukannya tadi juga ketawaketawa? Nah itu masalahnya. Saya tidak tega buat bilang, urus saja urusanmu sendiri dan sepenuhnya abai. Kalaupun saya cuekin orangnya, saya bakal dikejarkejar rasa bersalah. Si rasa bersalah itu jauh lebih jawara daripada preman antekantek rentenir manapun di jagat raya ini. Mereka bisa mengikutimu sampai kamar mandi, menyingkirkan kekhusukan saat mandi dan buang air. Dan mengganggu tidur. Satusatunya pengalih adalah kasmaran. Dan atau buku yang menarik. Dan film bagus.

Balik lagi ke uang. Jika saja kalian tahu, tokoh yang paling saya sebal dalam spongebob adalah Mr. Crab. Yah, meskipun Patrick mungkin dungu, dan Squidward tidak memiliki cukup rasa humor, itu lebih baik daripada orang yang tak bisa melepas kata uang dalam nyaris semua percakapan. Mungkin sebesar itu kesebalan saya sampai saya sebenarnya tidak suka membicarakan uang dengan orang-orang yang paling dekat. Tapi karena uang adalah bagian dari tiga hal paling penting, hal itu menjadi tak terelakkan dan saya harus meminggirkan masalah selera demi menjadi pendengar yang baik. Pada beberapa kasus, sebenarnya tidak begitu masalah. Sebagian lain, menjadi masalah besar karena saya kerap jadi terseret. Dan yang paling menyebalkan adalah ketika saya harus banyak meluangkan waktu untuk menghitung uang saya agar bisa cukup dibagi dengan yang lain dan ternyata tidak cukup, lalu keluhan demi keluhan jatuh menimpa telinga. Please, apa lagi yang kau harapkan dari pengangguran terselubung?

Dengan menulis ini, ini menjadi salahsatu balas dendam yang tidak tepat sasaran. (Sebenarnya, adakah balas dendam yang tepat sasaran? Kecuali nama kita tuhan atau hukum, rasanya tak ada yang berhak menimbang perihal dendam.)


Udah ah cape.

February 25, 2011 at 2:22pm

No comments: