Wednesday, March 30, 2011

mourning morning

Siapa yang berhak berkata apa yang layak? tanyaku dengan telunjuk lurus menuding potongan gambar bentrokan dalam koran.

Kau tersenyum dan mereguk kopi, mengambil sebatang rokok namun urung membakarnya saat aku menjauh.

"Kelayakan, kebenaran, apapun namanya, adalah kata-kata paling ajaib sekaligus menyakitkan dalam sejarah manusia. Membuatmu berpikir, berharap, dan berjuang, membuatmu patah hati ketika melihat kenyataan. Patah hati yang akut kerapkali membuatmu marah, sedih dan depresi. Kau, perempuanku yang manis, sepertinya lebih sering mengalami dua hal yang terakhir."

Kita tidak sedang membicarakan tentangku.

"Kita membicarakanmu. Aku mulai khawatir, usia duapupuluhan memberimu kebahagiaan yang berlimpah, tapi juga mendatangkan serentetan kegelisahan. Kekacauan. Terutama pada orang-orang sepertimu."

Selalu, permainan pikiran dan watak ini menjadi topik hangat di tiap waktu. Mengapa kita tidak mencoba sesekali membuang waktu dan bergenit-genit membicarakan cuaca, atau pola belang bulu anak kucing.

"Pada akhirnya, kita tak bisa mengelak dari perbincangan tentangmu. Tentangku. Tentang kita. Lagipula, sudah lama aku ingin bicara tentang ini. Hanya saja, aku takut kau marah."

Mana bisa aku marah kalau kau bangun lebih pagi dan mengantar sarapan ke ranjang? Kejutan manis seperti ini jarang kau lakukan. Kau lebih sering membuatku kaget dengan tiba-tiba menghilang. Dan pemilihan waktumu untuk kembali padaku. Anehnya, aku justru tak pernah kaget saat tahu seluk beluk tentangmu. Ah, sial, kenapa juga aku harus merusak pagi yang cantik dengan potongan gambar di koran?

"Aku tak akan selalu ada disini, menemanimu, menghiburmu meski sebenarnya aku lebih sering membuatmu punya alasan untuk menangis."

Apakah kau akan meninggalkanku lagi? Ayolah, beritahu aku kapan kau akan pergi, jangan pergi begitu saja dan baru mengirim surat sebulan atau enam bulan kemudian. Kau ini tak bisa menulis surat atau memang sengaja membuatku frustrasi?

"Keabadian tubuh membuatku tak pandai menulis. Bukankah menulis adalah menyelamatkan kepingan hidup, membuatnya seolah abadi?"

Kenapa kau tak menelepon?

"Keabadian membuatku malas berurusan dengan teknologi. Apalagi yang berhubungan dengan kecepatan. Membuatku lebih sering merasa bosan."

Buatlah aku abadi, dan kita akan bosan bersama-sama.









Sial, kali ini aku membuatmu menangis.













--Sial, ada orang yang menggangguku menulis. haseum ah.


Tuesday, August 31, 2010 at 12:00pm

No comments: