Monday, March 21, 2011

saya dan mario

Pertemuan pertama saya dengan Mario Vargas Llosa adalah saat kakak saya menyerahkan novel pertamanya, The Time of The Hero untuk diterjemahkan, sekira tahun lalu. Pikiran pertama saya adalah, ""Shit, panjang kieu..." Tapi saya menerimanya, siapa tahu novelnya bagus. Saya tidak pernah mendengar tentang Mario Vargas Llosa sebelumnya, mungkin karena memang saya kurang gaul, dan saya pikir dia penulis yang kurang penting dibanding Gabriel Garcia Marquez. Pada halaman-halaman awal, saya sudah mengira bahwa novelnya akan menarik, tapi saya menemui kesulitan besar karena novel itu berkisah tentang Akademi Militer, sedang saya, meskipun punya kakek pensiunan tentara, amat tak akrab dengan lingkungan akademi militer.



Setelah mengerjakan berhalaman-halaman, saya amat tertarik dengan novel itu, saya tak bisa berhenti membacanya, dan mulai penasaran dengan si pengarang. Maka, seperti remaja belasan tahun yang gandrung pada selebritis saya mulai bertanya-tanya pada Google. Damn, ternyata dia lebih dari sekadar tenar, dia salahsatu sastrawan terpenting abad duapuluh. dia bahkan terlibat jauh dalam politik. Fujimori, yang saya tahu dari berita karena ia kabur ke Jepang dan sekarang dipenjara, adalah yang pada tahun 1990 mengalahkannya dalam pemilu presiden. Wow! Penemuan saya membuat saya senang, tapi juga ketakutan karena saya takut hasil terjemah saya jelek.



Saya berusaha fokus mengerjakannya sebaik mungkin. Hal pertama adalah saya harus mengenal Peru, terutama kota Lima, karena jusul asli novel itu adalah La Ciudad y Los Perros, yang artinya Kota dan Para Anjing. beruntung, saat itu saya sedang mengambil matakuliah Antropologi Perkotaan, dan saya memilih essay tentang kota Lima untuk tugas dan presentasi, agar saya mendapat gambaran tentang kota tersebut. Hal lain yang membuat saya sedikit kesulitan adalah pemetaan kota itu. Saya, yang sering tersasar di kota sendiri agak bingung saat Mario membicarakan tempat-tempat, jalan-jalan, dan peta yang saya dapat dari google kurang memadai untuk membuat saya mengerti tata letak, tata kota itu. Sampai sekarang, saya masih ingat kesalahan-kesalahan terjemahan itu jika saya sedang membaca hasil karya terjemahan, atau bahkan karya dalam bahasa Indonesia. Agak lebay, memang. Oke, sangat lebay. Tapi biarlah lebay, biar saya tidak terlalu berbeda sama orang lain :P



Balik lagi ke Mario Vargas Llosa. Kamis, tanggal 07 Oktober 2010 petang adalah kali pertama saya mengetahui bahwa dia memperoleh anugerah Nobel di bidang Sastra, dan sejak itu, saya cengar-cengir senang sepanjang malam, ikut senang, ikut bersemangat, meski saya pikir, mestinya dia dapat ini dari dulu, dan akhirnya panitia Nobel kembali memilih sastrawan terkenal juga. Saya berusaha mencari alamat emailnya, dan berniat mengirim email norak yang menyatakan bahwa saya adalah salahsatu penggemarnya, dan saya ikut senang dia dapat Nobel. Sayang, niat itu tidak pernah terlaksana, karena saya, si gaptek ini, tidak berhasil menemukan emailnya. Saya masih berharap bisa menghubunginya, dan membicarakan karya-karyanya, pandangan politiknya (apakah ia masih percaya pada pasar bebas, yang sebenarnya tidak banyak memberi kebebasan selain kebebasan pada orang kaya untuk semakin kaya, kebebasan pada jurang pemisah antara kaya-miskin supaya dia tambah nganga?)





yah begitulah. (asa banyak yang mau ditulis teh tapi lupa lagi.)



http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163973

No comments: