Wednesday, March 30, 2011

sehabis menangis di bis

Tadi, dalam pesan singkat kubilang padamu, “Tak usah menemuiku, aku ingin menangis sendirian. “ tentu saja aku bohong. Sambil bergelantungan dalam bus yang tak juga kenyang menambah penumpang, aku menangis. Beberapa orang mulai memerhatikanku; perempuan kurus yang satu tangannya terus memertahankan pegangan dan tangan lain sibuk dengan dua ponsel dan mata yang tiba-tiba menangis. Beberapa anak hanya memerhatikan boneka kucing abu-abu yang menyembul dari tasku yang isinya gagal kutata. Aku menangis, meski terus berusaha memelarkan kantung mataku agar airmata urung terjun ke pipi. Aku ingat kau tak suka aku menangis di tempat umum, kau pernah begitu marah dan meninggalkanku menangis sambil jongkok di pinggir gang. Mungkin kau lupa setelah itu aku kabur dan kau frustrasi mencariku kemana-mana. Tapi sejak itu, aku selalu takut jika ingin menangis di tempat umum.

Kenapa sedih? Entahlah. tadi aku begitu sedih dan terluka, ingin sekali marah pada kalender, pada jarum jam, pada tanganku, pada kakiku, pada wajahku, pada tubuhku, aku ingin mengupas kulitku dan melemparnya ke jendela. Dan aku berharap otakku turut loncat dengan sukarela. “Kenapa sedih?” “Kenapa tidak?”

Mencintaimu, kekasihku, terkadang menjadi semacam berjabatan dengan kesepian yang telah sering kutemui dan berulangkali saling tukar kartunama. Seolah dejavu yang tak ingin kuramal akhirnya apa, dan tak perlu kuingat-ingat lagi bagaimana rasanya. Kesepian yang kerap ingin membuatku berlari menuju jarak terjauh yang asing dan gigil.

Mengkhianatimu, kekasihku, adalah menghadiri jamuan luka yang lain. Pesta pora dari pura-pura dan rasa bersalah, ketakutan pada harapan dan kehendak yang ganjil. “Apa yang telah kau lakukan?” “Aku melakukan hal yang takkan pernah kau lakukan, takkan pernah kau balas, aku ingin pergi dari sepi yang terlalu sering kutemui, dengan orang lain. Aku mulai enggan berharap padamu. Bukankah itu sebuah pengkhianatan untuk kesetiaanmu yang gemilang? ”

Perempuan bodoh. Pengkhianatanmu hanya mainan kanak-kanak yang telah lama tak diproduksi ulang. Kau tetap asing dan diam-diam ditertawakan, dan pada akhirnya, kau adalah pengantin yang berdiri sendirian di altar, sibuk tersenyum pada tamu dan menunggu, mencoba menghitung renda pada gaun sembari memikirkan bagaimana caranya menyenangkan semua orang. Saat kau menoleh, satu-satu kau lihat punggung menjauh, tanpa salam dan lambaian tangan, sedang kau sendirian berpikir dan menghitung renda yang kemudian menjadi basah dan lepas.

“Kenapa kau masih saja mudah takut melukai orang lain dan menangis karenanya? Kenapa kau terus-terusan merasa bersalah dan bersedih?”






**lambung perih kadang bisa bikin lupa sebagian kesedihan. terutama kalau jadinya kesal karena dianggap mengganggu ibadah menulis**


Sunday, July 11, 2010 at 6:28am

No comments: