Monday, March 21, 2011

surat dari neraka

ishtar senja, atas rayumu aku mencoba menulis surat. aku membayangkan bibir mungilmu tersenyum, lalu tertawa seusai membaca surat ini. tentu, perempuan yang karib dengan katakata sepertimu akan tergelak meski ditahan karena kasihan, membaca surat yang kutulis matimatian. memang, ini bukan kali pertama aku menulis surat. aku pernah remaja dan dimabuk kasmaran, menulis cinta dengan huruf kapital dimanamana, dengan jantung berdegup tak karuan menulis segala macam kata paling gombal yang ada di kubangan tinta, di tempurung kepala. tapi itu kesalahan yang kucoba tebus dengan menggadaikan kematianku-hidup, kusebut-dan menjadi mahluk aneh yang digilai produser film, band metal, dan berkat aktor tampan: semua perempuan muda. setelah kesalahan sialan itu, jika perlu aku hanya menyalin. tiap wilayah di seluruh dunia ini selalu ada penyair, entah mereka menulis, bergumam atau menyanyikannya. aku tinggal menyalin dan memberikannya pada perempuanperempuan kesepian atau perempuan manapun yang kutemui saat aku kurang kerjaan. itu terkadang menyenangkan karena seperti kau tahu, aku hidup terlalu lama dan malas mencatat. semua kata mulai pudar dan makna mengelupas, berserakan dan aku tak tertarik lagi untuk membenahi prasangka dan kejemuanku terhadap katakata.

lalu kau hadir.
sampai kini, aku tak tahu apakah harus menyebutmu kutukan atau berkah, tapi firasatku mengenai dirimu adalah praduga paling tepat yang pernah kumiliki: aku akan menyesal jika aku tak menyambutmu dalam hidupku. kau selalu bertanya mengapa, mengapa, dan aku selalu mengelak dari jawab. kali ini, akan kusebut beberapa...
barangkali, yang menarik perhatianku adalah keceriaanmu (yang semakin langka), musim semi yang selalu kucium dari ujung rambutmu, atau kemurunganmu yang kian dalam, labirin kesepian yang mengherankan dan terkadang menjengkelkan, kegigihanmu untuk mudah bertanya dan terluka, sinismu yang akut dan hampir membuatku frustrasi (untuk manusia yang berumur pendek, jumlah keluhanmu benarbenar mencengangkan!), pelukanmu yang erat dan manja, kecupankecupanmu yang manis...

tidakkah kau merasa bahwa aku mencurangimu dengan meringkus pesonamu pada halhal yang hanya bagian kecil darimu? inilah mengapa aku tak suka mengapamu, baik dalam perkara alasan mencintaimu, maupun menulis surat. aku tak punya keyakinanmu pada keajaiban puisi, meski kerap tersentuh oleh ketulusan penyairnya atau pengagum beratnya sepertimu. ingatanku baik, dan lebih bagus jika banyak yang kulupakan, karena meski waktu luangku banyak, nyaris semua ingatanku adalah kekalahan yang sama: aku mencintai sesuatu, mencintai orangorang, dan mereka mati, hilang. sebaik apapun persahabatanku dengan izrail, ia selalu mengambil yang kukasihi.

itukah yang ingin kau baca? tentu bukan. itu bahkan bukan yang ingin kuceritakan. tapi sama dengan yang terjadi padamu, kita mulai mengangkat pena, membayangkan tulisan secantik peri, dan saat membaca, kita sadar kita berhadapan dengan monster jahat yang kerasukan iblis paling haram jadah.
tapi aku tak akan menghapus dan memperbaiki surat ini. biar kau sulap saja surat jelek ini jadi apapun yang kau inginkan.

oiya, aku sedang di neraka. berjemur...

Sunday, October 3, 2010 at 12:57am

No comments: