Wednesday, March 30, 2011

taman raflesia

bermain bola sabun di taman membuatku merindukanmu, cintaku. aku suka caramu membuat air sabun yang kau tampung sehabis kita mandi. kau selalu mengejekku, tapi lebih sering ikut berbinarbinar saat aku berhasil membuat bola sabun yang besar, atau jika bola sabun itu sanggup melayang jauh. ah, aku sendirilah yang sering berkata bahwa inilah caraku merayakan kesadaran cinta kita yang pasti singkat dan rapuh. cinta kita yang asyik dan kekanakkanakkan, cinta kita yang siasia dan perih saja.

di taman ini tak ada pelukmu. tak ada ledekanmu, tak ada handukmu, tak ada perang gayung yang selalu kita lakukan jika kau tak sengaja memecahkan bola sabunku. disini hanya ada keriuhan dan keramaian, wajahwajah asing yang mungkin takkan pernah kutemui lg. tapi ingatkah kau bahwa aku pernah tak mengenalimu, dan itulah terakhir kalinya kita bersama, dan aku takkan pernah bisa menemuimu lg? malam itu seolah semilir angin menerbangkan senyum, tatap mata, ciuman, bahkan katakata yang kukenal. seolah angin itu mencuri parasmu, dan menggantinya dengan wajah bintang telenovela yang terlalu ganteng dan terlalu ganjen. saat itu semua bola sabunku kecil dan cepat pecah. mereka seolah isyarat yang cepatcepat kukhianati. ternyata, aku tetap tak rela kau pergi.

tapi mencintaimu, yang kekasih orang lain itu, memang mewajibkanku untuk setia berkhianat, meski segera kuketahui, kita berdua tak cukup berbakat dalam hal itu, dan lebih terlatih untuk memamah perih: hingga kini bayang lengkung punggungmu yang kurus dan bungkuk selalu lebih jelas kuingat daripada bibir dan matamu. dan itulah yang kulihat selalu di dalam bola sabun, kini di taman ini.

heup ah. ieu letah asa pait, bieu bola sabuna peupeus hareupeun beungeut, jigana kaletak. puah, uyuhan beuritmah nu kieu ge didahar (lagu tea gning, TIKUS MAKAN SABUN)


Tuesday, July 6, 2010 at 5:23am

No comments: