Monday, March 21, 2011

tears

beberapa orang menganggap bahwa yang jujur hanyalah airmata. saat luka teramat nganga maupun melayangi riang, satu dua butirnya adalah bukti paling absah, tak bisa terbantah. tentu, siapapun itu tak pernah melihat buaya menangis. sebab jika pernah, mereka barangkali akan menyeberang ke sisi lain dan berkata bahwa airmata dusta semata. atau mungkin mereka tak pernah menonton sinetron, dimana airmata berasal dari tetes air dalam botol kecil dan naskah juga seruan sutradara. sejujurnya, dalam seni peran, airmata bisa mendapat posisi lebih terhormat. saya sendiri kerap bertanya, jika seseorang memerankan yang berada dalam naskah (saya bingung mesti memakai kata seseorang atau sesuatu di hadapan kata tokoh), dan sang aktor menghayati perannya, sampai menangis karena peran itu -dalam suasana dan plot di naskah- mendorongnya untuk menangis, saya tak bisa menentukan itu bohongan atau betulan. apakah memang tak tertahankan atau untuk memperdaya. karena untuk menghayati peran dibutuhkan sekurangkurangnya simpati, dan simpati saja bisa menghasilkan airmata yang jujur. bagaimanapun, derita itu berasal dari naskah, yang merupakan karangan. dan dalam arahan sutradara. dan jika kita mengubah kata naskah menjadi nasib dan sutradara menjadi tuhan, sejujur apakah airmata dalam hidup kita? seterbuka apapun kalimat dan adegan, secuek apapun sutradara, keduanya tetap ada dan tak terhindarkan. gerak hanya sebatas nyali kita menyodorkan kemungkinan, dan menurut saya, tak pernah senyum sang pengarah lebih lebar tinimbang saat kita menghampirinya dan menjejalinya dengan penafsiran kita, karena ia bukan cuma pengarah. ia pencipta. kita, ciptaan itu, hanya berhasil kalau kita lebih brilian dari yang diharapkan.

sebentar, sebentar. tadinya saya mau nulis tentang airmata bahagia. kenapa tibatiba jadi ada tuhan? lalu kemana pacar saya, yang tadi ada dalam kelebat inspirasi dan niat?

hei, terlalu banyak dan dalam tulisanmu! tulisanmu tambah jelek!

apa kamu ikutikut kesini segala? asam lambung harusnya diam saja di lambung, tak usah punya keinginan buat tercantum.

eh, kantuk datang...

No comments: