Monday, March 21, 2011

untuk pow sirunggawir

Lelaki dalam cerita, masihkah kau baru menemu lelap saat fajar tiba? Aku mengamati jejakmu, dari jalan lain, hati-hati di belakang. Terkadang, aku sengaja mendahuluimu, diam-diam menyimpan cermin di pinggangku, mengintip arahmu. Kau menolak naik perahu saat banjir besar, kau menertawakan berhala tapi menolak turut mengayun kapak di altar, kau juga tak tak ikut pergi ke gunung mencari wajah Tuhan. Tapi kau mau menyepi di gua dan pasrah dalam penyaliban. Dalam hela putus asa, kau tak memanggil Bapa, namun memikirkan petunjuk dari sembahyang Bunda.

Aku masih menyimpan puisi-puisimu, ratapan yang tak terjangkau telinga kelelawar, demikian rahasia hingga kadang aku tak berhenti mengulang-baca. Kau memasang perangkap dan kita terjebak disana selamanya, di bawah naungan pesona sihir kata-kata. Aku mengekormu, memungut apa yang kau jatuhkan, dan menyalin semua yang kau katakan. Aku adalah muridmu yang paling rajin, mungkin karena itulah, dikala kebangkitan, akulah yang dapat melihatmu kembali dari kematian.

Adalah Izabella yang memisahkan kita; kau bertamasya ke Pulau Nonce dan aku tersesat di Pulau Jam Tujuh Malam, dimana semua kenang bersarang. Langkah-langkah Carrion segera saja jelas di telingaku, dan cacing mimpi buruknya mengenali takutku. Pangeran Tengah Malam itu tiba-tiba mengingatkanku pada masa kecil yang jauh, saat aku masih anak-anak canggung dan gelisah. Teman-teman telah dikaburkan usia dan airmata, sedang hasrat memertahankan bagian hidup muram kian keraskepala.

Terkadang, ketika bangun dari tidur aku membayangkan Ricardito yang duduk di dekat jendela, menempuh delapanbelas jam, menatap pemandangan yang silih-ganti dari desa, ladang terbengkalai, dan perkebunan. Akan seperti apa Lima, ibukota nun jauh disana? Berjam-jam mengatasi bosan dan kantuk demi melihat lelampu berderet menghampiri serupa pawai obor, hanya untuk terbangun di pinggiran kota dan menyaksi lelaki yang tak ia kenali mencium ibunya, lalu mengecup pipinya. Di kamar yang asing dan sunyi belaka, ia terkenang bibi Adelia, terkenang cerita serigala yang menakuti hantu dengan lolongan panjang, gemetar berdoa meminta pagi tiba agar bisa kembali ke desa.

Tapi pagi di hidupku selalu lebih ngeri. Ia mengingatkanku pada tugas kuliah dan nilai yang berantakan. Pagi adalah pertemuan dengan orang asing yang membuatku kikuk. Adalah tahun-tahun yang kuhabiskan dengan entah apa, tak memberiku apa-apa selain kenyataan pahit bahwa aku tak pernah dapat membantu sesiapa. Barangkali karena itu aku tak pernah berani menghadapi huruf-huruf yang kususun. Aku harus berpaling dari lara, meski tanganku masih dalam genggam pilu. Nasib tak pernah kasihan pada sayu mataku, atau jumlah berat badanku. Tak ada yang memedulikanku selain kata-kata dan jalan yang ada di depan, jalan yang membuatku tak punya pilihan selain terus melangkah dan mencatat arah.

Lelaki dalam cerita, bukankah luka dan cinta selalu pertama, selalu baru, seolah disana tak ada kata deja vu, meski mungkin belati yang menurih dada kirimu adalah yang pula menyayat nadiku. Adakah yang baru yang dapat kau kisahkan kepadaku?

on Wednesday, March 16, 2011 at 8:52pm

No comments: