Tuesday, April 12, 2011

berlari

Hari ini hari Senin, jadi mestinya aku belum kena sial. Maka aku berusaha mengangkat kelopak mataku, sekedar memicing ke arah ponsel, ada beberapa pesan masuk. Sebentar aku memejam, untuk dapat membuka mata lebih lebar. Kutatap sekeliling, ruangan ini masih memenuhi setiap kategori yang aku tempelkan dalam kenang untuk seruang sekretariat.

Aku masih memeluk erat Beruing, takut ia tiba-tiba pergi dan aku akan merasa rapuh luarbiasa karenanya. Seolah hanya dia yang kumiliki untuk melawan dunia yang dipenuhi penyihir jahat. Kualih pandang pada mata kecilnya, mata yang memahami sendiriku, kejatuhan dan sepiku. Ia seolah menghiburku, jangan kenangkan Eden, buah manis dan lelaki; semua yang akan kau temui lagi hanya jika kau berjalan dan hidup. Begitu katanya, kerap ketika cemas mulai mengunyahku. Tapi sepatuku tinggal sebelah, dan aku punya banyak hal yang mesti kukerjakan disini.

Kemarin, aku meninggalkan lelaki itu tanpa pamit yang baik, cuma karena aku takut akan dentang jam yang bergema dua belas kali. Karena aku takut ia mengenaliku sebagai perempuan yang meninggalkannya selepas diusir dan turun dari Eden. Aku meninggalkannya karena ingin ia mengenalku sebagai perempuan yang lain. Mengenangku sebagai perempuan baru, yang tidak menuntutnya untuk mengembalikan buah manis yang sudah habis, atau Eden yang sudah kikis. Aku tak peduli jika aku menghabiskan sisa hidupku dengan tidur di dekat tungku dan dibisingi orang-orang yang lebih mengerikan dari sinetron manapun. Setidaknya aku tahu ke mana mesti pergi. Aku punya kawan-kawan yang mengubah sampah menjadi lawakan yang nyaris tak habis-habis. Tapi diantara kawanku itu ada dia. Dia yang memegang sepatu kiriku, yang mungkin penasaran dengan sepatu kanan dan kaki yang melangkah tergesa meninggalkannya. Dia yang sepertinya tak lagi mengenaliku.

Aku selalu saja tergesa untuk meninggalkannya. Selalu saja menurut pada kaki yang letaknya jauh dari hati. Dulu cuma karena dia menghabiskan buah manis dari iblis. Iblis memberinya padaku sebagai hadiah selamat datang katanya. Aku tak tahu apa-apa tentang larangan Tuhan, karena mungkin itu urusan lelaki dengan majikannya. Aku kesal karena dia tiba-tiba merebut buah itu dari tanganku, sambil berkata bahwa tak semestinya aku menerima apapun dari Iblis. Kubilang aku iba, dan salut karena tangannya bisa menjangkau buah dari pohon yang kau pagari. Kami bertengkar dan mengganggu tidur siang Tuhan, yang secepatnya menghempas kami dari Eden. Ia memelukku, agar kesakitan itu ia tanggungkan langsung. Aku tak mengerti apa-apa selain merasa berdosa karena ribut-ribut dan mengganggu istirahat majikan. Aku tak mendengar apa-apa yang ia jelaskan. Aku bingung, dan canggung. Aku terlalu terbiasa hidup enak dan bahagia. Kesedihan dan kejatuhan sangat tak tertahankan buatku.

Lama-lama, aku merasa ini semua salahku. Aku mulai mengetahui bahwa buah manis itu tak boleh dimakan, dan kami mesti waspada terhadap Iblis. Aku mulai menjauh darinya. Mulai merasa bahwa aku berpengaruh buruk baginya. Suatu hari, aku pergi meninggalkannya. Aku tak membangunkan tidurnya dan pergi begitu saja. Aku berlari ke arah barat, karena yakin ia tak akan mengejarku atau melacak arahku. Aku tak tahu bahwa tak seperti Eden, bumi ini bulat. Berulangkali kami bertemu dalam tatap sendu dan kaku. Aku kesepian dan sengsara tanpanya, sedang mungkin baginya, selalu ada yang belum lunas, karena aku berlari dan dia tak punya kesempatan menagih sepi yang aku hibahkan padanya.

Dia tak pernah tahu, bahwa derap kakiku sejak itu selalu saja berkhianat pada rinduku. Berkali-kali kami mati dan hidup kembali, untuk menagih janji pertemuan yang tak pernah punya undangan. Dan tiapkali aku bertemu dengannya, aku selalu terlalu malu untuk mengenalkan diriku. Aku kemudian berani berbalik, meski terlambat, dan menemukannya dalam pesta dansa membosankan seorang pangeran murung. Aku tak berani bilang siapa namaku, mungkin dia telah lupa nama asliku. Maka aku mengajaknya mabuk, agar dia tak ingat siapa sebenarnya aku. Malam itu cantik sekali, bulan sipit sabit dan bintang seperti lelampu kota. Aku ingin merengkuhnya dan bilang kita pergi saja, tapi kemudian dentang jam sialan itu mulai mengertap. Alkohol sudah habis, dan aku gemetar menghadapi kemungkinan dia mengenalku. Maka sekali lagi aku lari, tersandung dan meninggalkan sepatu kiriku. Biar saja kakiku lecet, biar saja dia mengutukku atau apalah. Biar aku pergi dan menyesal sendiri, seperti malam ini. Malam dimana airmataku adu deras dengan hujan....

(belum diedit, takut keburu selasa, saya suka sial di hari selasa....)

tentang sebuah petang

Hanya saja, terlalu menyengat matahari dan tatapanku sedemikian kabur. Aku menggunakan ibu jari sebelah kanan untuk mengusap alis, berharap menepiskan cahaya yang berlebihan menengok mataku yang lelah. Keningku basah. Mempertahankan beberapa helai kesabaranku untuk menanti senja yang mulai meleleh di langit, jatuh perlahan namun akan hilang dalam seketika. Mataku terlalu lelah kukira, waktu tidur yang hanya sejumput lenyap kualami menjelang siang dan kembali terbangun ketika kukira ada yang berkelebat di samping tempat tidurku. Bayangan, wajahnya sekilas kulihat tapi aku tiba-tiba merasa mengenalnya. Mungkin seseorang yang hendak melarikan diri dari mimpiku namun aku keburu memergokinya. Dia yang lama mengintai saat-saat lenyap sekejap dari alam sadarku, ketika ambang mimpi terbuka pelan dan dia hendak menggantikan peran hidupku.

Menukar maya dengan hidup yang dia pikir penuh warna. Adakah ia ingin mencuri daging dan darahku, menjerit ketika tersandung, mengecap asin airmata dan amisnya luka yang terbuka? Kucampakkan bantal, hendak beranjak tapi masih tersisa pengaruh vodka, atau barangkali aku terengah karena sisa kejar-kejaranku dengannya. Aku punya dua pilihan; menutup tirai, mengusir matahari dan melanjutkan pertengkaranku dengannya, atau pergi ke tempat dimana aku telah berjanji dengan perempuan itu. Ah, kupilih merokok. Masih ada tiga batang yang memungkinkanku memperpanjang kemalasan dan mengelak dari lelah.

Sejauh ini, dia berhasil menyalin wajahku. Kukenali ia saat aku bersitatap dengan cermin, tetapi bayangan yang kutemui saat gegas jagaku lebih mirip dengan bayangan di cermin kamar mandi yang berembun, ditambah beberapa kepulan asap yang sengaja kuhembuskan di wajahku sendiri. Tapi cermin di kamarkupun telah ku singkirkan, karena mengingatkanku akan wajahnya. Langit senja di jendela, abu rokok yang sebentar lagi jatuh. Aku belum berniat membuatnya bermukim di asbak, mungkin akan jatuh di pangkuanku seperti keringat yang pelan terjatuh dari ujung bulu mata. Kenapa aku berkeringat, bukankah aku belum yakin pertarungan dan saling berkejaran dengannya benar-benar terjadi di kamarku yang sempit ini? Apakah ini sepenuhnya mimpi atau entahlah. Semoga tegukan vodka bisa membantu meyakinkanku.

Vodka cuma tinggal seteguk, maka keyakinanku hanya sebatas aku mesti mencari rokok lagi. Kuambil dompet, lebih kurus dari tubuhku dan disanalah aku kembali bertemu dengannya. Dia dalam lembaran foto yang lusuh, mencium rambut kekasihku, kekasihku, yang tak lagi pacarku. Kekasihku, perempuan jalang itu menungguku, berjanji duduk manis sejak senja lahir sampai aku menebas jeda dan jarak diantara kami. Kucabut foto dari dompetku, wajah yang kian mirip dengan wajahnya, wajah bersemut karena lusuh, sinonim wajah embun berasap di cermin. Kubakar foto itu, biar saja dia kepanasan bersama kekasihku. Jadilah abu, jangan pernah mampir, meski cuma di kantukku.

Aku memilih berseteru dengan wajah itu, wajah kalah yang berusaha merebut tempatku duduk menunggu senja. Kursi yang sudah seminggu ini terasa singgasana. Tidak terbuat dari gading gajah purba dan berhias emas, masih rotan yang itu juga, melukis garis-garis di pantatku kukira. Abu dalam asbak, selamat tinggal wajah yang hangus dalam abu, semoga tak ada lagi waktu tersisa untuk mengenangmu. Kau mengingatkanku pada cermin dan wajah seseorang yang bersikukuh merebut tempatku. Ah, aku benar-benar membutuhkan beberapa batang rokok lagi untuk benar-benar menggenapkan ucapan selamat tinggalku pada wajah itu bersama hempasan asap. Mungkin jejaknya memang mengendap dalam paru-paruku, tapi itu jauh lebih baik karena aku tak perlu melihatnya tersenyum getir lalu melemparkanku dari kursi ini. Mungkin bukan aku yang terlempar, maksudku ia mengambil alih bukan hanya kursi ini, tapi juga tubuhku bahkan.

Aku tak merasa perlu menemui perempuan yang menjadikan hatiku serupa acar, dimakan mentah dengan cuka. Aku memar sebelum lebih jauh perempuan itu menyiksa. Kuraih botol vodka, berharap masih ada setetes, tapi bening tubuhnya memantulkan wajah yang tadi kubakar. Wajah penguntit itu seolah enggan enyah. Bagaimana jika dia akan terus membayangiku seumur hidup, senantiasa berjaga mencuri sempat untuk bersalin tempat? Aku butuh lebih banyak rokok. Selot berdecit saat kubuka, pintu berderak, tiba-tiba pergelanganku terasa dingin seolah seseorang memegang tanganku dengan ketat. Tidak menarikku kemanapun hanya memegangku. Senja di luar seakan larut dengan cepat tetapi seperti ke arah tubuhku. Di depan pintu dan senja tulang pergelangan tanganku membeku, seperti dirasuki cuaca yang tiba-tiba, menjalar tumpahan senja. Aku terhempas. Tubuhku dicuri!


*tulisan ini milik pow dan che.

kamis ini, untuk pagi yang masih bersembunyi

dalam lelah, ia menghela nafas. ia menatap lelaki di sampingnya dan tersenyum, betapa mudah ia jatuh terlelap. lelaki itu begitu mudah terpejam hingga kadang perempuan itu cemas kekasihnya dicuri mimpi. ada sejuta peri dalam mimpi yang mau mengajakmu menari atau sekedar haha hihi.

perempuan itu menoleh. aku tak sanggup kehilangan tukang tidur ini, maka ia mesti bebas bernyanyi dengan mimpi. barangkali bisa hilang perih itu. perempuan itu menyelimuti kekasihnya dan mengecup kelopak matanya. aih, mata yg tak bisa kujewer, pikirnya.

ia beranjak, seketika menyurut dalam bayang, kembali pada kertas, pada bolpoin, pada tangan, pada badan, pada kepala, pada jejaring pikir seorang perempuan yg termangu di kursi, membelakangi dengkur halus kekasihnya..



Thursday, November 5, 2009 at 1:22am

sebelum lonceng berbunyi dua kali subuh ini

batuk terus menjegal kantuk.
lagilagi perempuan itu bersitegang dengan bebayang, hanya karena huruphurup di layar dan suara yg mengalir lewat ponselnya. barangkali memang ia terlalu kurangajar, masih saja menggenggam mimpi yg meminang airmatanya sendiri. ia yakin, karena sekali dua masih ada yg melamar sabarnya, meminang genang doa yg mengundang kenang, beriakriak di telaga benaknya.

ah, maaf tak kunjung menjabatnya, sehingga lagilagi melafal jejak dosanya yg semakin memenuhi setapak pandangnya. katakan padaku kekasihku, jika mimpi ini tidaklah keluar dari lapangan ikhlasmu. ia diam mengingat beku yang ia hadapi. lelaki itu mematung lalu hanya menyodorkan punggung.

oh dewadewa, kadang aku tak sudi memanggul kecewa dan tak bisa menambal sudut mataku yg bocor... tapi kalian dewa lelaki, tak mau mengerti dan turut menyalahkan perempuan ini.

perempuan itu meratap, hingga tak ada tembok harap, hingga tak ada ceria yg sekedar hinggap.

scratches

hanya tinggal seiris kelam pada dua pertiga malam. suarasuara sudah lama berhamburan keluar, hanya suara musik berebut lampu sorot kupingku dengan adzan. aku mencari-cari jejakmu, sekedar ucapan selamat malam, tapi aku malah bertabrakan dengan ucapan selamat pagi dari wajah yang tak kukenali. sementara dengkurmu pudar dalam dengusku.
***

sudah pernah kubilang, jangan jatuh cinta padaku. aku akan pelanpelan mencekikmu dengan kecemburuan dan seribu satu kegilaan yang lebih suka kau sebut tuntutan. tapi dulu kau delapan belas tahun, tak mengenal perempuan dan mendadak jatuh cinta. lebih dari sekedar naksir, kau memujaku. aku tak pernah dicintai seruncing itu, dan rasanya begitu terhormat karena tak pernah seseorang hanya mencintaiku seperti itu. maka kudekap kau makin erat, karena lamalama, yang aku tahu, di sekelillngku betapa sulitnya memaku tatap lelaki hanya pada seorang perempuan. tentu, ini juga karena berulangkali aku lebur, meski aku tak suka bercerita tentang bagaimana jiwaku guncang dan lelangit hatiku runtuh, hingga aku lebih suka mengarang cerita yang manis dan menyembunyikan sebagian lukaku. di kemudian hari, aku tak sanggup berbohong dan di depanmu pendetaku, aku melakukan banyak pengakuan.
***

mau nerusin keburu ngantuk ah.

surat untuk bintangmerah

Senja ini, aku berpayung pada secarik hujan. Mencium aroma tanah dan menghirup sejumlah waktu yang sempat singgah, aku teringat padamu.

Pernah kita kuyup, rintikrintik gerimis dari jaketmu yang kelabu, kita gagal menghindari gigil. Kau khawatir, mengingat ringkihku dan sempat kesal pada awan yang seolah pipis sembarangan. Aku bilang aku masih mencintai hujan, dan hadirmu serupa bianglala. Tentu, kau tidak belangbelang tujuh warna, tapi kau cantik, hujan membuat kau tampak lebih segar, dan hatiku jadi mekar.

Kita berjalan di sepanjang trotoar, genggam tanganmu diinterupsi pedagang kakilima dan klakson motor, dan kau mengeluh, susahnya jadi orang miskin, berjalan ditengah hujan dan tak bisa mempertahankan sebatas genggam tangan. Aku tertawa, dan bilang padamu jangan banyak berharap di negara kita dan sungguh aku tak peduli, karena tahu, tatapmu hanya rebah padaku.

Kau terus bertanya apa aku baikbaik saja, seolah tawa tak cukup meyakinkanmu bahwa aku bahagia dan tak kenapakenapa. Kita terus mencari alamat dokter sambil cemas jika aku benarbenar mengidap penyakit serius, dan tiap kau gelisah, kau mencubit tanganku dan menghela nafas panjang. Kau tak pernah tenang jika ingat aku sakitsakitan, tak dulu juga kini. Itulah sebabnya kau kerap marah jika aku tak cukup makan dan istirahat, sembari sesekali menyalahkan diri sendiri. Aku tak suka. Aku tak mau melihatmu sedih cuma karena aku ringkih.

Lalu tiba dimana kau yang terbaring, menahan demam dan rindu. Juga pusing karena aku kesal padamu. Sungguh, kala itu rasanya menyiksa mengetahui kau sakit dan aku bahkan tak bias sekedar mengintip. Kerinduan yang keraskepala dan sakit yang bengal, dan alamatmu tak pernah ada dalam petaku. Baru kemudian kuketahui, kata sabar luput dari benakku, kala itu.

Sabar, kekasihku, adalah anak kita yang paling susah kulahirkan. Ia hanya lahir dari rahimku yang penyayang setelah menunggu dua bulan, dengan ngidam yang menyengsarakan dan memusingkan. Aku hanya bisa berharap kau mau menjadi bidan dan aku cukup mampu untuk persalinan normal. Aku hanya yakin bahwa kau tak akan mencelakakanku dan tetap mencintaiku seperti biasa. Dan aku tahu itu, meski kadang rasanya ingin menarikmu dan bersembunyi di ketiakmu, nguselngusel di dadamu, atau menjambak gemas rambutmu. Tentu, aku lebih ingin mengusap punggungmu, seperti yang selalu kau minta sebagai pengganti ninabobo…

Matahari nyaris melesak di ufuk timur kini, dan hal terakhir yang kau pikirkan adalah kasihan karena aku belum lelap ditengah dingin dan lapar. Ah, sayang, pikirkan kendara dan ranjangmu, disini aku hanya ingin menuntas celah yang tadi senja terbuka. Surat kecil untukmu yang tertunda.
Aku cinta kamu. Kutunggu cubitan kecil ditanganku, dan bahumu untuk kugigit kecil.


sekre wsc, november 2009.

berhenti menulis

saya sedang memikirkan untuk berhenti menulis. sulit memang. rasanya seperti keinginan untuk berhenti makan, yang kadang-kadang kumat dan membuat saya kurus kering. memang, ini disebabkan oleh saya semacam perasaan kesia-siaan. saya merasa apa yang saya tulis biasa saja dan nyaris tidak berguna. bukan bermaksud untuk kualat pada jempol-jempol dan komentar yang katakanlah, menganggap tulisan saya cukup lumayan (dan membuat saya ge-er tentu), tapi saya kan cuma nulis tentang saya. apa gunanya. sedang untuk menulis diluar hal itu saya belum juga mampu. saya juga tidak menafikan bahwa baru saja ada teman yang minta di-tag tulisan saya yang lama, dan dia bilang terserah mau tag yang mana. barangkali itu cukup berarti bahwa dia memperhatikan tulisan saya dan cukup menyukainya. lalu apa gunanya?

keraguan ini memang muncul karena dipicu oleh orang lain juga. tentu, dia tak bisa sepenuhnya dianggap orang lain. tapi rasanya tak adil membebankan masalah seperti ini padanya. oh, dewadewa, rasanya sesak memikirkan berhenti menulis, ketika saya tahu, ini setidaknya hal yang paling bisa saya lakukan dengan riang dan agak becus, mengingat saya tidak bisa mengerjakan apapun dengan baik, dan saya selalu merasa (tentu, sebagian karena saya selalu dikata-katai "apa sih yang bisa becus kamu lakukan?" sialnya, ketika saya menulis, sebagian besar yang mengata-ngatai saya itu gak appreciate sama tulisan saya. dari situ juga mungkin, saya jadi merasa tulisan saya percuma, dan seakan-akan menjadi pelarian karena saya malas melakukan hal lain.)

saya memang cengeng. sentimentil. mungkin karena itu juga labil dan menyebalkan. mungkin karena itu juga saya merasa harus lari dari banyak hal, dan menganggap hidup saya aneh karena saya tidak sesuai untuk kehidupan. mungkin karena itu juga saya mudah kecewa pada diri saya dan orang lain. meski pada akhirnya, selalu merasa saya yang salah dan jahat. ah, betapa sakitnya perasaan seperti ini. betapa saya mesti banyak-banyak menangis lagi, betapa saya ingin tidur dan tak perlu bangun lagi.

kamar: rabu, 18 november 2009. 04....-05.19 WIB

saya marah maka saya menulis lagi.

surat pertama untuk Daya.
(kutulis surat ini dalam demam dan rindu. dalam dendam dan pilu.)

Daya,

barangkali keterlaluan, jika dalam rentang waktu persahabatan kita selama lebih dari lima tahun baru sekali ini aku menulis untukmu. iya, aku terlalu pengecut kukira. aku masih berpikir tak bisa membalas cerpen yang kau buat tentang kita, sewaktu kita masih duduk di bangku sma. entah kenapa selalu aku tersandung ketika mesti menulis untukmu. beribu kata yang berdesak malah tak berhasil menyusun paragraf, beribu rasa yang menyesak tak dapat disusun menjadi cerita yang lengkap. dan kini, kupersilakan rindu mengetuk layar lebih dahulu, biar jejariku tak dibebani banyak persoalan.

Daya,

dalam tahun ini, nasib sepertinya semakin keraskepala untuk menjebak kita menuju kutuk. bahkan aku masih terengahengah, mengejar nafas yang macet karena isakanku tak juga henti. kalau ada semacam wiper di mataku pasti akan agak mudah, mataku tak harus terus berembun. kau tau, dari mata turun ke jari, karena terus merungai mataku, jejariku gempa, hurufhuruf berloncatan; persis seperti perasaan kita.

Daya,

telah berapa kali kita berbagi mimpi agar jarum jam diputar balik, agar almanak menyurut. kita benarbenar berharap agar kita dapat mencegah sesal, karena sesal menjelma siksa. apalagi ini perkara nyawa. kau mendapat nyawamu kembali, sesaat ia sempat meregang (ah, dua hari tentu tak bisa sesaat, apalagi kesakitan yang kau alami membuat detik tak gegas pergi, seolah semua dalam adegan yang diperlambat, dan dimana aku? aku tak disampingmu!) dan jam enam ia tiba di hadapmu, setelah berbulan mengendap dalam perutmu. (Kenanga, ia cantik sekali. ia seperti bidadari yang terbungkus oleh 'halo'. halo itu tak mengapung diatas kepalanya, tapi mewujud selaput mirip gelembung sabun. ia cantik, putih bersih, dan sehat. kakinya masih terlalu mungil, tapi bayiku akan menjadi perempuan yang cantik dan istimewa. kalau saja dia bisa dewasa...) tentu, Daya. ia akan cantik dan istimewa. cerdas dan keraskepala. kubayangkan dia akan seperti mamanya.

Daya,

aku tak disampingmu. saat itu, aku entah dimana dan aku tak datang padamu. aku pernah menawarkan padamu untuk tinggal bersamaku, biar saja bayimu hanya punya mama dan tante, biar kita asuh berdua saja, tapi tawaran itu hanya satu kali, dan apa artinya, ketika kemudian aku malah mengirimimu pesan singkat banyakbanyak untuk mensponsorimu dalam misi yang dapat membuat kalian berdua mati. sungguh, aku belum sepenuhnya sanggup--mungkin takkan pernah, menghadapi kenangan tentang harihari itu, dimana aku lupa bahwa kau sebenarnya selalu memihak Hidup. aku terlalu gugup. aku kehilangan nyali yang kini kusadari, tak pernah betulbetul kumiliki. ah, tanganku masih bau amis darah bayimu.

Daya,

kita pernah berjanji akan menengoknya. jarak mempecundangi kerinduan kita; memaksa kau mengunyah kenang, aku mengulum bayang. hingga akhirnya geligimu retak dan kau telan, meracuni tubuhmu yang kini tak karib dengan sehat. tapi kau masih bisa saja berjalan, entah kekuatan macam apa yang kau punya, yang takkan pernah aku dapatkan. kau bilang kau cuma purapura, kupikir, berpurapura pun aku takkan sanggup. aku terlalu mudah cedera oleh masalah sepele, kehilangan sendal jepit pun bisa membuatku merana. maka aku sepertinya tak bisa menanggung kehilangan sepertimu, darah daging cinta. meski begitu, aku tak ingin menoleh sedikitpun dari lukamu.

Daya,

aku masih dapat menyerapahi bajingan yang sempat kau ludahi itu. sepertinya ia membangkitkan hobiku untuk memaki. ia yang pernah begitu kau cinta dan percaya, ia yang terlalu manja dan keji. ia yang tanpa kita tahu hanya dapat berpikir menggunakan jempol kaki. aku membencinya dan tanpa dipaksa turut mendendam, dan memberinya ruang seluas titik untuk dimaafkan. karena kegenitannya kau nyaris mati dan bayi kalian tak sempat kita gendong. demi tuhan, mengingat namanya saja langsung gemas aku ingin menghajarnya, mencabuti kuku dan giginya satusatu. bahkan ribbuan siksa tak cukup, takkan mampu membayar utangnya padamu.

Daya,

kau selalu percaya pada Hidup. aku terperanjat ketika kau ingin menyerah. tolong jangan menyerah. aku selalu berpaling padamu saat menyerah. bukankah kita pernah percaya bahwa kita kelak (boleh) bahagia? kau berjanji padaku bahwa kita akan bersenang-senang. bahwa aku akan kau ajak tinggal di apartemenmu. kau juga pernah bilang padaku bahwa kau ingin tak ada lagi perempuan yang mesti bernasib sepertimu. bahwa ia mestinya masih hidup jika dunia lebih ramah pada kesahmu.

Daya,

kau berhak bahagia. kau berhak Hidup. demi cintamu pada Livia, dan utang jenguk kita pada tanah Solo. kau tentu tau, bahwa ketika kotak Pandora terbuka, semua kejahatan dan keburukan, tiap penyakit keluar dari kotaknya, kecuali harapan. jika Pandora diizinkan menyimpan harapan, jika Hawa masih bisa berdoa ketika diusir dari surga, maka kita berdua masih punya tiket untuk berbahagia.

Daya,
aku menyayangimu. meski aku menjauh ke Timur dan kau tetap ke arah Barat, persetan dengan arah karena bumi ini masih bulat...


*aku menyatut nama Daya dari cerpenmu. nama Kenanga dari serakan cerita yang belum kurampungkan. Livia karena ia akan tetap hidup di semesta kasih kita. aku menulis ini saat menstruasi dan demam. maaf jika kau tak berkenan. aku masih ingin manjadi orang yang pantas kau panggil teman. i love you, dearest mate.

-kasur, hari pertama desember duaribusembilan. malam sampe adzan awal.

tentang malaikat yang pagi ini ngopi di pinggir ranjangku

1
aku hampir saja mengira dia adalah jelangkung, karena dia datang tak diundang, dan sepertinya akan pulang tanpa perlu diantar. tidurku tak begitu nyenyak, dan seperti biasa asam lambung yang menjadi sirine agar aku cepat-cepat bangun dan minum segelas air bening. tapi tiba-tiba mataku bertabrakan dengan cengirnya. sosok yang selalu saja kubayangkan sebagai lelaki (sungguh, ini garagara kalian para kiyai). dia bertanya kabar, dan kujawab saja buruk. dia nyengir makin lebar. dan setelah berbasabasi, kutanya maksud datangnya, dia malah bilang aku datang sesuai inginnya. eh? lalu dia mengeluarkan secangkir kopi dari jubahnya, menghirupnya.

tentu saja, aku tak perlu bilang bahwa aku yang memberimu mimpi yang baik dan melepas sayapku untuk terbangmu. tapi akhir-akhir ini kau banyak sekali mengeluhkan silaunya cahaya matahari dan mimpi buruk, juga seribu satu kesialan. jika sayapmu terluka, jangan datang padaku, aku ini bukan mantri atau dokter. kenapa kau tidak berterimakasih padaku waktu kau kuberi sayap, eh? kau memang pelupa kurangajar. tidakkah seseorang pernah memberitahumu bahwa hanya kenangan yang benar-benar nyata?

kau mau aku copot sayap itu? bagus, bagus.... setelah kau lukai baru kau kembalikan dengan jutaan kesah. kau ini berlebihan. umurmu duadua tapi umur gelisahmu berkalikali lipat. kenapa kau tak bersenangsenang seperti kebanyakan orang seumurmu? temanku bilang, mencabut nyawamu samasekali tidak sulit, dan kau sendiri tampaknya tak begitu keberatan. kau pikir kami tidak bosan menghadapi perengek sepertimu?

kupikir dulu kau ingin terbang, dan aku memberikanmu sayapku, seperti sering aku melakukannya pada orang lain. iya, itu artinya kau tidak luarbiasa istimewa, tapi kau sendiri tak begitu perlu menjadi seperti itu, eh? lagipula, kau tak berbakat menjadi orang hebat. mana ada orang hebat mau mengembalikan sayap. dan kau terlalu plinplan. orang plinplan mungkin bisa jadi presiden, tapi belum tentu bisa jadi orang hebat.

dia menyeruput kopinya. dan bilang bahwa dia tahu sakitku, maka takkan menawariku minum kopi. ternyata dia masih sangat sopan, memberiku alasan tak berbagi kopi. atau dia memang senang bicara? ah, biar saja. aku masih terlalu kaget karena datangnya. karena ini bukan mimpi. dan aku tau, hanya aku yang bisa melihatnya. begitu kan cerita di filmfilm? ah, aku ingin tidur lagi. malas sekali diceramahi seperti ini. palingpaling nanti dia bilang, aku harus banyakbanyak bersyukur, blahblahblah....

kau tau maksudku dan tidak menyukai kedatanganku. pecundang saja masih mengharapkan kedatanganku. kau ini memang benarbenar perengek. jenis manusia yang paling dulu dilempar ke neraka. tapi kau bahkan tidak peduli jika ke neraka. kalau kau berkeras tak mau mendengar, harusnya yang kau kembalikan adalah telinga, bukan sayap yang sudah penuh sayat.

kau yang membuat hidupmu susah. aku sudah memberimu masalah dan kau memperumit urusanmu. mungkin harusnya kau ikut tim perumus nasib. jarang ada orang yang memperumit urusannya sepertimu. kami para malaikat harus belajar tentang arti kata sial padamu. dan kau harus belajar cuti gelisah pada kami. jangan terlalu keiblisiblisan. dia juga awalnya perengek sepertimu. dan kau tau, kesepian apa yang dia emban karena rengekannya pada kaummu. kau takut pada sepi, tapi kau terus saja berulah. aku takkan berhenti bicara. siapa tau kau ingat satu dua ucapanku dan mau menurut. menurut seperti kami, jadi tak ada penjara sepi dan neraka. dan aku mungkin akan membantumu menjahit sayapsayapmu, agar kau bisa terbang lagi.

aku tak mau terbang lagi. aku ingin menjejak tanah. tapi barangkali sayap itu memang kuperlukan. dan kau tau untuk apa.

kalaupun aku tak tau, yang aku butuhkan adalah kau mau mendengarku. itu saja kali ini. senangsekali mengobrol denganmu, meski kau menurunkan derajat keraskepalamu kali ini. mungkin, lain kali aku mesti datang saat senja? saat kau bersemangat?




**tadinya mau update status, tapi gening panjang dan kepikiran jadi cerita. ini versi mentah. kalian tau saya tak bisa memasak, jadi tak usah berharap ini nanti matang.

kasur, 10 desember 2009, 12:35pm

rindu

(tiba-tiba sudut mataku bocor
ketika teringat
gelakanmu,
kekasihku)

kau dulu berkata
turun berkah seribu malam
pada namaku
kala kau rindu

betapa tiga baris
puisimu pernah bisa
merangkum
kita.

kita baru saja
mencari keping aksara
untuk kembali pada
kata bahagia

dan tiba-tiba,
seseorang berbisik
padaku,

kusapu jejakmu
kuhapus parasku,
agar aku makin
merindukanmu.

"bukankah rindu
tak mengecewakan
seperti cinta?"

malam terperosok
kedalam lengang.
embun meluluhkan
bisiknya.

tapi kau,
juga angin berbisik itu tahu,
tak pernah mudah bagiku
membasuh kata.

dan aku
kini parau
mengeja sendu.


**pusing. kamar, 13 desember 2009.
***terimakasih pada kakak saya, Maulida Sri Handayani. karena komennya, saya meralat bagian tengah puisi ini. ^_^

api

mulamula, api dan cahaya adalah sepasang anak kembar terkasih. merekalah yang membuat swarga terang dan hangat, sehingga warnawarni terlihat. hidup rasanya sudah cukup. tapi si kembar tak tau, bahwa mereka belum cukup. mereka tak tau apaapa, sampai mereka kemudian menyadari, orangtua mereka kerap menyendiri berjamjam, mencomot tanah disanasini, mengambil air di tiap sungai, orangtua itu sibuk sekali. lamalama, si kembar penasaran, terutama api. aku memberi kalian adik. jawab orangtua. cahaya tersenyum, sedang api agak cemberut. kau pasti akan lebih mengasihi adik baru itu. apa kami belum cukup? apa kami kurang baik? kurang lucu? orangtua menggeleng. api melengos.

beberapa hari kemudian, orangtua menuntun bentukan tanah. mereka tampak asyik sekali. mereka bercakap, dan orangtua menunjuk tiap benda, mengajaknya ke tiap sudut surga. cahaya kadang tertawa melihat gumpal tanah itu memegang sesuatu, atau terjatuh. dalam hati ia merasa bahwa adiknya itu hebat. sebaliknya, api terus saja menggerutu. sempat iseng ia membakar tanah dari belakang sampai orangtua marah sekali. api semakin gusar. ia mengingatingat selama ini hidupnya diberikan untuk orangtua. ia mencintainya, memberinya kehangatan, menjadi penerang saat cahaya tak ada. tapi orangtua malah membuat gumpalan tanah, bersamanya sepanjang waktu, dan tak lagi menghiraukannya. cahaya kerap menghiburnya, tapi api tetap susah menerima perlakuan orangtua, hingga tiba hari itu.

bersujudlah kalian pada adik kalian ini. cahaya meredup dan bersujud, sedang api malah berkobar dan nyaris membakar tanah jika orangtua tak cepat mendekapnya. apaapaan ini? aku ini api, dan dia cuma tanah, dengan mudah bisa kubuat musnah! namaku adam. jawab tanah. lalu ia mendongak, siapa namamu? api terkejut. apa itu nama? cahaya kaget namun tetap bersujud. kau lihat, dia bicara dengan suara, dia bahkan punya nama. orangtua menarik api. mengapa kau membangkang? tanyanya. aku tak suka padanya! tak cukup kau membuatnya kau menyuruhku bersujud untuknya! apa kau tidak tau bahwa aku mencintaimu, bahwa aku cemburu?



**terinspirasi ketika malam mengenang Rumi sang Pencinta di Kedai Buku Nalar. this is what i think of love and It.


Sunday, December 20, 2009 at 11:19am

farewell


akhirnya, hanya kurang dari duapuluh empat jam saya mesti mengganti kalender. kalender yang di tiap bulannya ada angka yang dicoret, dimaki, dinista, ditangisi, disyukuri, disumpahi, digelaki. betapa tahun yang berat dan sesak, gila dan berbahaya. terkadang, saya pikir tahun ini seolah keji tak berkesudahan, melelahkan. seolah saya tak diberi libur untuk merasa bahwa 'kali ini tidak ada apa-apa'. tahun ini penuh sekali dengan apa-apa.

hal pertama yg ingin saya tulis dan tertawakan adalah saya bertengkar hebat dengan dua lakilaki di rumah. yg pertama lebih dari sekedar pantas untuk saya gebuki habis-habisan (sayang, saya cuma sempat mematahkan gantungan baju yg saya pukulkan ke meja ketika dia makan, menarik kerah kemejanya, menyumpahinya, dan membekap mulutnya dengan tangan). dia adalah orang yang tidak usah disebut nama dan sapaan sopan lainnya, seseorang yang nyaris saya kategorikan sebagai sesuatu. seseorang yg membuat saya berpikir jangan-jangan saya ini pendendam, temperamental. seseorang yg memenuhi semua syarat masuk neraka jika memang itu ada. dan hukuman neraka manapun sepertinya cocok buatnya. ya tuhan, semoga saya tidak ada mirip-miripnya dengan dia, soeharto, dan hitler. amin. oh ya, sial sekali, ada banyak waktu ketika saya lupa saya benci padanya dan ingin menghabisinya. mungkin karena saya malas dan merasa repot untuk cuma mengingatnya.

laki-laki yang satu lagi membuat saya kabur dari rumah. bertengkar hebat satu kali, yang melukainya dan kadang membuat saya merasa itu adalah peristiwa konyol (saya tak melukainya. sumpah. tanya saja kalau tidak percaya). meskipun dia suka menyebalkan, tapi dia tidak jahat. dan saya hanya kadang kesal dan marah, tidak sampai benci. saya malah sayang padanya, dan menghargai jika dia berbuat baik dan manis di rumah, dan jika dia kumat menyebalkan, saya menggerutu diam-diam dan membuat lelucon tentangnya. masalah kabur, lihat saja catatan Beruing.

saya membantu dan mensponsori teman saya membunuh yang paling dikasihinya. meski dengan berbagai apologi untuk meringankan beban, saya merasa menjadi orang ketiga yang paling berdosa dalam hal ini. dan luka ini amat sukar dialihkan, disembuhkan, bahkan enggan saya enyahkan. saya tidak tau, harus seperti apa memperbaiki hal ini, kecuali janji pada diri saya sendiri bahwa saya tak akan pernah meninggalkannya lagi. adalah saya, sahabat paling goblok sedunia yang tidak datang untuk setidaknya setor kuping untuk curhatnya. seumur hidup, semoga dosa macam ini adalah yang pertama dan terakhir. amit-amit jika terjadi lagi, kemungkinannya adalah depresi super berat dan bunuh diri. saya tak mungkin berlumur darah lebih lagi.

saya memang cengeng. lembek. epesmeer. setiap masalah yang agak berat bisa jadi rumit, dan yang rumit menjadi rujit. seperti taun ini. saya terguncang mendapati saya bisa membenci dan mendendam, kabur, dan membunuh. sampai saya sempat meninggalkan laki-laki yang saya curigai sebagai belahan hati. sampai terkadang saya cuma bengong di jalan dan menghabiskan hari dengan mengutuk matahari. sampai saya tidak fokus studi. sampai kemudian ketika dua orang besar negara ini meninggal rasanya seperti mimpi.

ah, selamat tinggal duaribusembilan. pergilah jauh-jauh, jangan pernah sudi mampir.

farewell.



Thursday, December 31, 2009 at 12:41am

untuk seorang ibu yang hebat

bayiku mati. sejak saat itu, bahagia dihapus dari kamusku. beranda pikirku kelabu, dan hanya luka yang menjadi tirai hatiku. bayiku mati. tak ada yang menginginkannya selain aku, tak ada yang mencintainya selain aku. tidak bahkan ayahnya sendiri. aku mencintai bayiku setengah mati, membenci ayahnya sampai aku mati. tidak. sampai kubur pun aku akan tetap membencinya. karena jika hanya sampai mati, kini aku sudah mati. bagian dari diriku sudah mati. aku bahkan tidak tahu dimana mayatnya. apakah seorang ibu masih dapat disebut ibu jika ia membiarkan bayinya mati dan tidak tahu dimana kuburnya?

bayiku mati, bayiku mati. sahabatku bilang, aku tetap seorang ibu, jika aku masih rajin berdoa demi bayiku, jika aku masih menyimpan cintaku padanya, aku masih seorang ibu. tentu aku berdoa untuknya. mencintainya. dia bahkan selalu datang di mimpiku, menjelma gadis kecil yang lucu, barangkali dia tak marah padaku. bayiku, gadis kecilku, sejak dulu ia sekutuku, memahamiku dan tak pernah membangkang padaku.

ah, bayiku, bayiku, bayiku mati. aku merasa sendiri, sebatang kara. hari-hari kulalui dengan menyalin kesepian dan sandiwara yang itu-itu juga. hanya ada beberapa teman dan sahabat-sahabat yang dihitung jari yang sesekali menghiburku, juga keluargaku yang tidak mengetahui apapun. kelak, jika bayiku punya adik, akan kuberitahu bahwa dia punya kakak yang sudah meninggal.

bayiku mati, bayiku mati, bayi mungilku mati. ada berapa perempuan yang menjadi ibu sepertiku? di tengah kelelahan mencuri harapan, aku hanya ingin agar tak ada ibu yang bayinya mesti mati semuda gadis kecilku. perempuan harus bisa mempertahankan bayinya jika ia memilih begitu. perempuan lain harus punya pilihan itu. karena aku tidak.


$%$%#%&^%&%&$&*T(*&%*%&^%&**&)()*_(_+_)+_*^^$%%##@#%&*&(*()

*kumat being masochistic*

P. S. buat ibu yang satu ini, YOU ARE HUMAN AND YOU DESRVED TO BE HAPPY!


Saturday, January 2, 2010 at 9:13pm

o, bukumuka

aku sudah terbiasa dilupakan. diantara lesatan perbaruan status, tumpukan catatan, bongkar pasang wajah, aku menghilang. hanya satu dari sekian daftar teman. sesekali bertemu di jendela obrolan, atau coretan dinding. kadang orang-orang yang kupikir mungkin takkan kutemui tiba-tiba menyapa, barangkali terantuk pada kesepian, atau tercegat kebosanan. namun hanya sekali dua berpapasan. aku selalu merasa terlupakan, yakin bahwa beberapa jenak kemudian aku bukan sesiapa. hanya sepotong nama, wajah yang samar. tanpa kenangan, tanpa kerinduan, tanpa kebencian, tanpa cengang. tanpa kesan. seolah dengan masuk mengetik alamat surat elektronik dan katakunci, aku bersiap menjelajahi kota yang cepat mati, cepat bangkit kembali, gelombang kata angka tanda yang mungkin bisa menenggelamkan perahu nuh.

ah, aku hanya jenuh. (dan merasa bulat-bulat dilupa)



Saturday, January 23, 2010 at 5:16am

hurt

ada banyak tikus berkeliaran di tubuh kiriku. mereka memakan saraf di otakku, mengunyah katup jantungku, mencakari lambungku. mereka membuatku merasa sedih dan terbuang, meletupkan duka yang siasia. mereka membuatku kesakitan namun hanya bisa diam. aku ingin melompat memuntahkan mereka bersama otakku yang cecer, jantungku yang rombeng, juga lambungku yang penuh lubang. memuntahkan mereka semua, agar hilang setiap tangis dan ringis yang percuma.


Sunday, January 24, 2010 at 5:27pm

apalah arti kerinduan yang sejak sabtu kemarin terus kuserukan?

Monday, January 25, 2010 at 3:07pm


tapi kau tak datang. tak juga menelponku. tak mengirim surat, pesan pendek, apalagi titip bunga. aku sudah hapal tabiatmu tapi terus menabung harap. menumpuk mimpi. memanen sepi dan menadah perih.

tidak, kau tak juga datang. tak beri aku kejutan sekedar untuk mengesalkanku bahwa tuduhku meleset. kau tetap saja tak datang, tak peduli, tidak bahkan sedikit mengasihaniku.

pintu belum berderit dan salammu tak juga sampai. kau benarbenar tak datang.

because i feel like it

akhir-akhir ini, saya merasa bahwa kebebasan saya mulai habis. saya kerap resah dan hati saya kesemutan jika ingat bahwa saya semakin jarang berbuat dan berkata "Because I Feel Like It." sepertinya kesembronoan saya mulai membuat saya salah tingkah, tak bisa ditanggapi sebagai petualangan kecelakaan sejarah. beberapa orang bilang, itu tandanya saya mulai dewasa, tapi bukankah pepatah Cina mengatakan bahwa "Orang bijak adalah orang yang riang, karena dia menerima kenyataan". sedangkan saya jarang lagi merasa riang, meskipun selera humor saya tidak raib.

saya merindukan keriangan saya. kangen pada perasaan bebas yang ringan dan meringankan. saya memang masih beruntung ketimbang orang-orang lain yang mesti bekerja keras dan bahkan tidak bisa update status tiap hari, tapi saya kini tak lagi merasa tenang dan dikejar-kejar. saya tahu, itu adalah konsekuensi, lagipula itu pilihan saya sendiri, tanpa ada peluru di kepala saya. lalu kenapa saya merasa harus berlari lebih cepat?

mungkin saya harus menganggap ini semua bermain. saya sedang kucing-kucingan dengan tenggat, jadi wajar jika saya dan dia saling mengejar. dan bukankah lelah tak dikeluhkan ketika kita bermain?


Friday, January 29, 2010 at 8:26pm

being naive

barangkali, hanya sakit yang kerap mengingatkanku bahwa aku masih hidup, bahwa aku telah melewati sehat dan kebahagiaan. bahwa aku pernah tertawa, merasa lega. bahwa ternyata sudah lama rabuku menghirup udara dunia.

betapa sakit mampu mengurai dulu dan kini bukan hanya kejapan mata, bukan hanya rangkaian gambar dalam kenang yang dapat diputar berulang. dulu dan kini, bagaimanapun merupakan jembatan sekali seberang tak bisa kembali. berkali-kali, aku tersentak karena kini ternyata menghadirkan diri dalam bentak yang galak, cukup membuat muak dan sesak.

sebagai perempuan yang naif, saya barangkali terlalu banyak berharap. berharap pada Ayah yang tiba-tiba harus dianggap tiada, sembari terkadang masih merindukannya, berharap ia kembali dan menimang saya seperti masa kecil dulu. menatapnya sebagai orang asing adalah salah satu jalan menyadari bahwa dia pergi dan saya tak usah merapal mantra agar ia pulang kemari. jikapun ia pulang, ia akan menjadi orang asing, atau yang saya kenal dari dosa-dosanya yang kerap disempurnakan akhir-akhir ini. dia beranjak tua dan saya barangkali akan semakin dewasa, dengan takut-takut, harus saya akui bahwa saya takut mengikuti jalannya sambil mematangkan dendam.

dan saya mengulang naif padanya. tiba-tiba bertahun telah kami jalani berdua, tanpa saya sadari bahwa perjalanan membawa perubahan padanya. saya selalu merasa bangga, bahwa matanya akan selalu milik saya, karena darinya saya belajar untuk tak melihat yang lain. saya tidak pernah tahu bahwa saya bisa juga cemburu, dan bahwa akhirnya orang yang tidak pernah saya duga yang mengenalkan saya pada sensasi penuh jengah itu. sungguh, saya selalu merasa bahwa hanya ada saya, dan kini, saya harus mulai mendengar kembali kemungkinan bahwa semua orang bisa berubah dan meninggalkan saya tiba-tiba. mungkin tidak akan seekstrim itu. tapi matanya tak lagi milik saya, seketika, saya memutar kenang dan membuat alasan, semua yang saya yakini menjadi tidak masuk akal. menjadi sekabut mimpi, dan bumi yang saya pijak pelan-pelan hilang, saya mengambang, bertumpu pada cekat di kerongkongan dan kata-kata....


Saturday, January 30, 2010 at 7:34pm

morning sic

tanpa dihasut mendung di bandung pagi ini, mata saya terbuka dan tibatiba berhujan. barangkali memang sudah lama perih bertumpuk dan sudah semestinya hati saya remuk. tak ada lorong sepi seperti diangankan dalam puisi sapardi, tapi yang saya lakukan hanyalah menangis. mau juga berteriak, tapi apa kata tetangga? saya merasa terlalu berisik. saya berharap bisa patuh pada diam, agar saya tak perlu menyusahkan kupingnya dan mengesalkan pikirnya. ah, kau bahkan berpikir bahwa ada lelaki lain yang lebih mencintaiku, adakah ingin kau katakan bahwa ada perempuan lain yang lebih mencintaimu selain aku? yang kulakukan hanya merawat keriangan kasmaran, tapi mungkin tak menarik lagi karena kini kau dewasa sedang aku hanya menua. memang benar simpulku tempo hari bahwa mudah sekali aku dilupakan, semakin aku mencoba menyeruak hanya membuatmu semakin muak, dan memang, siapa tidak merasa kesal jika harus buang waktu melakukan ini itu? bukankah dengan beberapa batang rokok aku bisa menyuruh orang lain? baik, aku salah merapal mantra, tapi kau tak mau melahap sesaji, hanya melahap sembahku. apa kau tak tega mengusirku dan berharap aku menghukum buang diriku? ah, kau tak suka tanda tanya. lengkungnya membuatmu tersesat lamalama dalam pemilihan kata tanpa kemudian bisa meyakinkan dan melegakan dada kiriku. lalu dengan apa kubujuk hadirmu? puisi dan surat tak mampu mengundangmu, apalagi keluh dan butuhku. lalu bagaimana supaya aku berhenti berharap?


Monday, February 1, 2010 at 8:06am
obsesi, adalah kata yang tidak diternakkan di pikiran saya. dia berkeliaran di tetangga, di iklan, di slogan. saya yang semakin lama semakin tak mesra dengan semboyan menjadi pemalas dan sibuk dengan murung dan marah. saya masih kaget dengan perubahan iklim dalam karakter saya, mungkin karena ada semacam el nino, yang mengguruntanduskan jiwa saya. keinginan saya tidak jelas, apalagi usaha mencapainya. memang, saya jadi rajin menulis, jadi berharap suatu saat jadi penulis, dan meski belum heroik, setidaknya saya berusaha. di sisi lain, saya menunjukkan minim bakat sebagai mahasiswa. nilai saya jelek, kehadiran saya dicegat sakit dan terlambat, tugas saya keteteran, dan ujian saya paspasan. saya tidak pandai merayu dosen juga tidak cukup putus asa untuk matimatian mengejar nilai dari dosen. jika dosen bilang saya tidak boleh ujian setelah bolos lebih dari empat kali, dan ketika ditawar oleh tugas tidak mempan, maka saya memilih untuk tidak repot2 lagi masuk kelasnya. daya bujuk saya lemah. saya tidak mau mengemis nilai, dan jika saya tidak cepat lulus, dosendosen yang tidak bisa saya tawar turut andil dalam keterlambatan itu. bukan, bukan saya ingin melempar tanggungjawab, tapi saya telah berusaha menawar dengan wajar, jika dipersulit terus, maka saya tidak mau merendahkan diri lagi. tidak saat ini. dan saya tidak mau bayar buat nilai. dosen sudah digaji dan saya sudah bayar spp. untungnya, memang belum pernah saya dimintai uang oleh dosen.
saya sebenarnya bingung menghadapi kuliah. di satu sisi, saya kadung jatuh cinta pada antropologi. keluasan cakupan dan cara pandangnya membuat saya bergairah, dan saya merasa butuh banyak tau lagi, karena akan menjadi bahan yang melimpah jika saya ingin membuat novel. saya juga merasa bahwa meskipun pacar saya bilang saya tumpul dalam kritik sosial, sebenarnya saya punya semacam awareness bahwa banyak masalah di sekitar saya yang beberapa celahnya dapat dijawab antropologi. saya bangga belajar antropologi, meski tidak begitu bangga menjadi mahasiswi fisip unpad. dan tentu, saya ingin bisa meneliti. kalaupun kelak ternyata tidak ahli, setidaknya saya bisa tahu cara mengambil data (dan hati kalau bisa) masyarakat. lalu kenapa saya malas? kenapa saya sakitsakitan? itu mungkin di bab lain. saya merasa tidak begitu bodoh, dan akhirakhir ini semakin disibukkan oleh pertanyaan mengapa kemampuan saya tidak maksimal? adalah ketua jurusan dan dosen wali saya yang menggugat kecuekan saya dengan kepercayaan mereka akan kemampuan saya dan kekhawatiran mereka akan nilainilai yang memprihatinkan. saya jadi malu sendiri karena mereka, dan banyak teman di antrop kerap membenturkan saya pada pendapat bahwa saya bermasalah karena saya tidak sebodoh jumlah ipk saya.

kini, saya harus punya jampijampi khusus agar bisa lulus. dua kata sederhana yang jika dikerjakan berat juga sebenarnya. dua kata, semangat dan rajin. dua kata itu agar saya punya obsesi sarjana.

Tuesday, February 9, 2010 at 7:50pm

sayu

konon, orang bilang mata saya itu sayu. kesannya saya nampak mengantuk, sedih, sakit, melamun. saya selalu menganggapnya sebagai bagian dari takdir, lebih permanen dari kesialan di hari selasa. karena mata sayu ini, banyak orang mengira hidup saya sulit, tragis, kesinetronsinetronan. memang, ada banyak hal yang saya alami yang pasti seketika membuat orang bersyukur karena tidak punya nasib seburuk saya. tapi itu tentu masalah cetek dbanding orangorang hebat lain yang dipercaya untuk menyelesaikan masalah lebih besar. tapi untuk apa mengukur derita, toh chairil selalu berkata, "nasib adalah kesunyian masing-masing". sungguh, binatang jalang yang terbuang itu saya amini.

pada mata sayu ini memang kerap banyak kesedihan. tapi setengahnya adalah duka karena luka orangorang terdekat saya. tiapkali saya tau orang di dekat saya punya masalah, bersedih atau marah, saya tidak bisa masa bodoh. saya yang cengeng ini pasti turut sedih, dan ributribut berdoa. hati saya acap hanyut pada kepedihan yang selalu hampir selesai, hanya hampir. perih menggapaigapai dari dada kiri, merambat pada kerongkongan, dan merobek tanggul airmata di sudutsudut jendela jiwa itu. saatsaat itu, saya kerap berharap punya mata yang berbinar, agar bisa membuat orang di dekat saya itu menjadi segar, ringan, agar beban bisa disimpan. maka saya sekuatnya menahan sedih itu, setidaknya agar tak menangis di depan empu masalah. adakalanya saya membuat lelucon, sering bersikap galak, dan di waktu lain saya tak kuat, sekonyongkonyong menangis. sebelum momen terakhir itulah, mata saya benarbenar sayu.

ditulis karena sudah lama ingin menulis ini. untuk mamah dan kdua kakak juga keluarga, sahabat, teman dan tentu bintangmerah.

saya ingin menjadi lebih kuat agar bisa menguatkan orangorang yang saya sayangi...


Wednesday, February 10, 2010 at 8:32pm

lullaby

ada yang berangkat saat kedua kelopak lekat.
menuju dunia yang bercahaya pekat,
kabut yang menggeliat.

ada yang pulang saat mata memejam.
kepada harap yang meluap,
doadoa ganjil yang malumalu,

dan pertemuan yang selalu saja hampir.

selamat merenangi malam,
merenungi kalam.
jika kalian berharap mendapat cerita "dewasa", tidak usah melanjutkan membaca catatan saya. saya tidak pandai merangkai kisah yang di dalamnya harus mencantumkan ukuran beha, diameter dan panjang penis. sungguh cerita seperti itu selalu membuat saya heran, bagaimana kau tau ukuranukuran itu? apakah sebelum bercinta masih punya waktu untuk lihat ukuran beha, atau bawa meteran tukang jahit untuk mengukur panjang dan lingkar? bah, omongkosong. bercinta bukan sedang ingin membuat bangunan hingga tak perlu semua terukur pasti.

oke, sudah saya bilang, saya tidak akan bikin cerita esek-esek. belum kepikiran. yang kepikiran sekarang adalah pikiran saya macet. ada lampu merah yang mengganggu kelancaran katakata, hingga yang ingin saya ungkap malah terjebak, terperangkap, menunggu lampu merah berubah hijau agar ceritanya runut, agar katakata melintas wajar, tidak tergesa karena terlambat, tertahan oleh lampu merah yang terus menyala di otak saya. ah, padahal banyak yang ingin saya ceritakan. tapi sama seperti kondisi lampu merah lain, katakata berdesakan, berimpitan, masingmasing menunggu ingin melesat duluan ke tujuan. kalau sudah begini saya yang jadi pusing. rangkaian kalimat yang hendak saya ceritakan bisa bertebaran, berloncatan, berhamburan, sibuk sendiri sampai lupa diri bahwa mereka, meskipun bisa berpinak menjadi cerita sendiri, saat ini hanya bagian dari satu cerita biasa dalam catatan harian.

duh, bising sekali kepala saya! katakata meniru kendaraan di kotakota, berebut memencet klakson! sialan!

Monday, April 4, 2011

suicidal dream

saya tau, banyak orang menganggap bunuhdiri adalah tindakan pecundang putus asa, bahwa itu jalan pintas. hahahaha. saya sudah tidak ingin lagi jadi pahlawan, tidak peduli omongan orang. sudah lama dianggap tak berguna selain jadi keranjang sampah dan penganggur, juga tidak punya bakat apaapa. saya sering memimpikan saya lompat dari jendela gedung tinggi, kehabisan darah karena memotong urat nadi, dan menenggelamkan diri di sungai seperti virginia. apa hari baik untuk mati? apa saja asal jangan selasa. saya masih punya mimpi, tapi sepertinya mimpi saja sudah cukup baik. nanti juga ada orang yang lebih berbakat akan mewujudkan mimpi saya. hahahaha. saya ingin tertawa merayakan nyeri dan sepi. merayakan kekalahan pada nasib atas semua harap saya yang selalu diejek nasib dengan cara yang paling merendahkan harga diri. kau cengeng, kau egois dan otoriter. terserah. kadang terlambat itu fatal. siapa bilang terlambat lebih baik daripada tidak samasekali? orang yang menciptakan peribahasa itu tentu tidak mengerti pentingnya unit gawat darurat dan tidak pernah diusir dari kelas oleh dosen disiplin. terlambat sama dengan tidak samasekali. ah, umurmu baru dua dua. iyah, twenty three sounds sexy. aku sengaja tidak makan. bukan hanya tidak selera, kadang aku sengaja agar tubuhku sakit juga, karena sakit perasaan tidak dapat izin dokter. juliet, mana obat purapura matimu? jika tak mati hari ini aku butuh obat itu, tapi jangan bilang2 pada pacarku, nanti dia sebodoh romeo. penyihir, berikan aku apel yang kau berikan pada putri yang membuatnya tertidur di peti kaca. ah, tak ada asahan, pisau dapur ini tumpul dan atap rumah trlalu rendah, aku tak bisa terbang! kepalaku sakit, perutku juga. kenapa? minta makan? diam, aku ingin mengobrol dengan izrail. pus, pus, pus... ah, apa kau masih panen di haiti? datanglah di jam makan siang, aku menunggu.



Saturday, February 13, 2010 at 10:27am

surut

aku melihatmu, jauh diatas tanah. sedikit isak dan bulirbulir hujan matamu mencapaiku. kau berdoa, suaramu serak tapi karena itu doamu seksi. aku ingin merengkuh bahumu dan berkata sudahlah. mana tegarmu saat aku kerap merengek dan meratap, mengisak dan menjerit. kau selalu mampu untuk berbalik dan melangkah, menghitung hal lain yang bisa kau buat benah. ah, andai kau yang disini, aku ragu apakah aku akan mendekat, sekedar menyampaikan doa yang belum juga kuhafal, aku malu pada keluargamu, dan sepertinya tiap berapa langkah, kesadaranku akan terjungkal, dan kenyataan bahwa kau berangkat lebih awal pasti akan membuat tegar jauh mental.

aku terharu karena kau masih tabah meski dengan doa yang semakin putusputus, nafas panjang yang kian sering, dan bisik namaku yang samar, selalu disertai sedu sedan. kau belum juga pulang, masih hendak mengantarku berangkat, tak mau luput sedetikpun. padahal aku sudah tak serewel dulu, menginginkan hadirmu duapuluh lima jam sehari. rasanya tak pernah cukup kita bersama, berbincang menangis memeluk dan melempar canda, menangkap tawa. tawamu kadang menyebalkan, seolah merendahkan, tapi aku suka lepas, lepas tawamu, berderai dan tanpa beban. aku rindu. aku takkan lagi mencubit pipimu, manja, dan berdiskusi. kau lawan bicara yang terpercaya, selalu mampu menyanggah saat kau pikir aku salah, meski percakapan tentang kita kerap mendung yang tak juga selesai. hingga akhirnya aku pergi. aku pamit. dan sekali itu, kau yang merajuk, berusaha mencegat langkahku. ah, sayang, sebagaimana kerap kau tak bisa kutahan, begitu pula kini. aku pulang kepada asalku, dan kau sebaiknya pulang ke rumah. aku takut ingin mengikutimu nanti. dan aku punya janji wawancara.

bertahun, kau semakin jarang berkunjung. dan semakin lama, tangismu berkurang. kau mulai jatuh cinta, meski kau bilang tak sehebat padaku. tak apa, semoga kau bahagia, bukankah sudah kubilang kau akan menikah dengan orang lain. lain kali, ajak dia kemari, bilang tak usah cemburu, aku tak mungkin merayumu, tak akan mengganggu hubungan kalian. kau bilang sepertinya tak usah, lalu kau minta maaf karena sibuk. oh ya, kau jadi dosen? selamat, selamat. kau rindu cubit pipi, padahal dulu kau kesal karena aku acap tak sengaja meremas jerawat. maaf.

sebagianku menulang, sebagian lain mendebu; melayang dan tersapu. namun bagian utamaku menyurut, menyelusup diantara huruphurup, dalam novel dalam puisi, dalam diari yang kau baca dan tangisi. aku melihatmu, kekasihku, beranjak menua, dan semakin dewasa, dan bersemangat. sudah cukup. pada penuh bahagiamu, kutemui utuh legaku.


Monday, February 22, 2010 at 5:44am

oh, death.

saya belum juga menghapal doa. juga entah apa yang harus saya bicarakan, tapi saya merasa sedih dan sangat bingung. saya menyukai filmfilm yang berdarah-darah, film pembunuhan, tapi saya selalu bingung setiap orang yang saya kenal meninggal. mungkin karena saya selalu merasa saya tidak berhak hidup, bahwa saya tidak berguna, bahwa saya hanya tinggal menuggu waktu untuk benar-benar bunuh diri. saya masih tertahan, meski dalam setiap imajinasi terliar, saya selalu membayangkan kematian saya dengan dua cara, bunuhdiri atau kecelakaan.

memang, saya mulai mempertimbangkan bahwa mungkin akan ada yang sedih jika saya meninggal, tapi saya yakin, kematian saya akan berlalu dengan cepat, semoga semua orang yang pernah saya salahi memaafkan dan melupakan saya. untuk apa saya hidup? mereka, teman-teman saya itu adalah orang-orang yang bersemangat, orang-orang yang Hidup, dan tiba-tiba, mereka dipanggil. dan lepas sudah nyawa itu. tuhan, kenapa bukan saya? kenapa? kenapa mereka? apakah kau sengaja mengulur waktu agar aku bisa berbuat sesuatu? tapi apa? apa yang saya mampu, tuhan? apa? saya tidak bisa melakukan apapun dengan baik, saya juga bahkan tidak bisa membahagiakan orang-orang terdekat saya. menyenangkan juga tidak. oke, fine, kau suruh aku berubah. tapi untuk apa? untuk apa? untuk apa?

jika memang selama ini umur saya hanya dihambur-hamburkan, apakah saya punya jatah untuk sekadar memperbaiki langkah? sekadar membuat orang-orang yang saya kenal tersenyum, sekadar melihat mereka senang, sekadar mengetahui bahwa saya tidak meyusahkan mereka, sekadar, hanya sekadar.

tuhan...



March 9, 2010 at 2:54pm