Tuesday, April 12, 2011

being naive

barangkali, hanya sakit yang kerap mengingatkanku bahwa aku masih hidup, bahwa aku telah melewati sehat dan kebahagiaan. bahwa aku pernah tertawa, merasa lega. bahwa ternyata sudah lama rabuku menghirup udara dunia.

betapa sakit mampu mengurai dulu dan kini bukan hanya kejapan mata, bukan hanya rangkaian gambar dalam kenang yang dapat diputar berulang. dulu dan kini, bagaimanapun merupakan jembatan sekali seberang tak bisa kembali. berkali-kali, aku tersentak karena kini ternyata menghadirkan diri dalam bentak yang galak, cukup membuat muak dan sesak.

sebagai perempuan yang naif, saya barangkali terlalu banyak berharap. berharap pada Ayah yang tiba-tiba harus dianggap tiada, sembari terkadang masih merindukannya, berharap ia kembali dan menimang saya seperti masa kecil dulu. menatapnya sebagai orang asing adalah salah satu jalan menyadari bahwa dia pergi dan saya tak usah merapal mantra agar ia pulang kemari. jikapun ia pulang, ia akan menjadi orang asing, atau yang saya kenal dari dosa-dosanya yang kerap disempurnakan akhir-akhir ini. dia beranjak tua dan saya barangkali akan semakin dewasa, dengan takut-takut, harus saya akui bahwa saya takut mengikuti jalannya sambil mematangkan dendam.

dan saya mengulang naif padanya. tiba-tiba bertahun telah kami jalani berdua, tanpa saya sadari bahwa perjalanan membawa perubahan padanya. saya selalu merasa bangga, bahwa matanya akan selalu milik saya, karena darinya saya belajar untuk tak melihat yang lain. saya tidak pernah tahu bahwa saya bisa juga cemburu, dan bahwa akhirnya orang yang tidak pernah saya duga yang mengenalkan saya pada sensasi penuh jengah itu. sungguh, saya selalu merasa bahwa hanya ada saya, dan kini, saya harus mulai mendengar kembali kemungkinan bahwa semua orang bisa berubah dan meninggalkan saya tiba-tiba. mungkin tidak akan seekstrim itu. tapi matanya tak lagi milik saya, seketika, saya memutar kenang dan membuat alasan, semua yang saya yakini menjadi tidak masuk akal. menjadi sekabut mimpi, dan bumi yang saya pijak pelan-pelan hilang, saya mengambang, bertumpu pada cekat di kerongkongan dan kata-kata....


Saturday, January 30, 2010 at 7:34pm

No comments: