Tuesday, April 12, 2011

berlari

Hari ini hari Senin, jadi mestinya aku belum kena sial. Maka aku berusaha mengangkat kelopak mataku, sekedar memicing ke arah ponsel, ada beberapa pesan masuk. Sebentar aku memejam, untuk dapat membuka mata lebih lebar. Kutatap sekeliling, ruangan ini masih memenuhi setiap kategori yang aku tempelkan dalam kenang untuk seruang sekretariat.

Aku masih memeluk erat Beruing, takut ia tiba-tiba pergi dan aku akan merasa rapuh luarbiasa karenanya. Seolah hanya dia yang kumiliki untuk melawan dunia yang dipenuhi penyihir jahat. Kualih pandang pada mata kecilnya, mata yang memahami sendiriku, kejatuhan dan sepiku. Ia seolah menghiburku, jangan kenangkan Eden, buah manis dan lelaki; semua yang akan kau temui lagi hanya jika kau berjalan dan hidup. Begitu katanya, kerap ketika cemas mulai mengunyahku. Tapi sepatuku tinggal sebelah, dan aku punya banyak hal yang mesti kukerjakan disini.

Kemarin, aku meninggalkan lelaki itu tanpa pamit yang baik, cuma karena aku takut akan dentang jam yang bergema dua belas kali. Karena aku takut ia mengenaliku sebagai perempuan yang meninggalkannya selepas diusir dan turun dari Eden. Aku meninggalkannya karena ingin ia mengenalku sebagai perempuan yang lain. Mengenangku sebagai perempuan baru, yang tidak menuntutnya untuk mengembalikan buah manis yang sudah habis, atau Eden yang sudah kikis. Aku tak peduli jika aku menghabiskan sisa hidupku dengan tidur di dekat tungku dan dibisingi orang-orang yang lebih mengerikan dari sinetron manapun. Setidaknya aku tahu ke mana mesti pergi. Aku punya kawan-kawan yang mengubah sampah menjadi lawakan yang nyaris tak habis-habis. Tapi diantara kawanku itu ada dia. Dia yang memegang sepatu kiriku, yang mungkin penasaran dengan sepatu kanan dan kaki yang melangkah tergesa meninggalkannya. Dia yang sepertinya tak lagi mengenaliku.

Aku selalu saja tergesa untuk meninggalkannya. Selalu saja menurut pada kaki yang letaknya jauh dari hati. Dulu cuma karena dia menghabiskan buah manis dari iblis. Iblis memberinya padaku sebagai hadiah selamat datang katanya. Aku tak tahu apa-apa tentang larangan Tuhan, karena mungkin itu urusan lelaki dengan majikannya. Aku kesal karena dia tiba-tiba merebut buah itu dari tanganku, sambil berkata bahwa tak semestinya aku menerima apapun dari Iblis. Kubilang aku iba, dan salut karena tangannya bisa menjangkau buah dari pohon yang kau pagari. Kami bertengkar dan mengganggu tidur siang Tuhan, yang secepatnya menghempas kami dari Eden. Ia memelukku, agar kesakitan itu ia tanggungkan langsung. Aku tak mengerti apa-apa selain merasa berdosa karena ribut-ribut dan mengganggu istirahat majikan. Aku tak mendengar apa-apa yang ia jelaskan. Aku bingung, dan canggung. Aku terlalu terbiasa hidup enak dan bahagia. Kesedihan dan kejatuhan sangat tak tertahankan buatku.

Lama-lama, aku merasa ini semua salahku. Aku mulai mengetahui bahwa buah manis itu tak boleh dimakan, dan kami mesti waspada terhadap Iblis. Aku mulai menjauh darinya. Mulai merasa bahwa aku berpengaruh buruk baginya. Suatu hari, aku pergi meninggalkannya. Aku tak membangunkan tidurnya dan pergi begitu saja. Aku berlari ke arah barat, karena yakin ia tak akan mengejarku atau melacak arahku. Aku tak tahu bahwa tak seperti Eden, bumi ini bulat. Berulangkali kami bertemu dalam tatap sendu dan kaku. Aku kesepian dan sengsara tanpanya, sedang mungkin baginya, selalu ada yang belum lunas, karena aku berlari dan dia tak punya kesempatan menagih sepi yang aku hibahkan padanya.

Dia tak pernah tahu, bahwa derap kakiku sejak itu selalu saja berkhianat pada rinduku. Berkali-kali kami mati dan hidup kembali, untuk menagih janji pertemuan yang tak pernah punya undangan. Dan tiapkali aku bertemu dengannya, aku selalu terlalu malu untuk mengenalkan diriku. Aku kemudian berani berbalik, meski terlambat, dan menemukannya dalam pesta dansa membosankan seorang pangeran murung. Aku tak berani bilang siapa namaku, mungkin dia telah lupa nama asliku. Maka aku mengajaknya mabuk, agar dia tak ingat siapa sebenarnya aku. Malam itu cantik sekali, bulan sipit sabit dan bintang seperti lelampu kota. Aku ingin merengkuhnya dan bilang kita pergi saja, tapi kemudian dentang jam sialan itu mulai mengertap. Alkohol sudah habis, dan aku gemetar menghadapi kemungkinan dia mengenalku. Maka sekali lagi aku lari, tersandung dan meninggalkan sepatu kiriku. Biar saja kakiku lecet, biar saja dia mengutukku atau apalah. Biar aku pergi dan menyesal sendiri, seperti malam ini. Malam dimana airmataku adu deras dengan hujan....

(belum diedit, takut keburu selasa, saya suka sial di hari selasa....)

No comments: