Tuesday, April 12, 2011

morning sic

tanpa dihasut mendung di bandung pagi ini, mata saya terbuka dan tibatiba berhujan. barangkali memang sudah lama perih bertumpuk dan sudah semestinya hati saya remuk. tak ada lorong sepi seperti diangankan dalam puisi sapardi, tapi yang saya lakukan hanyalah menangis. mau juga berteriak, tapi apa kata tetangga? saya merasa terlalu berisik. saya berharap bisa patuh pada diam, agar saya tak perlu menyusahkan kupingnya dan mengesalkan pikirnya. ah, kau bahkan berpikir bahwa ada lelaki lain yang lebih mencintaiku, adakah ingin kau katakan bahwa ada perempuan lain yang lebih mencintaimu selain aku? yang kulakukan hanya merawat keriangan kasmaran, tapi mungkin tak menarik lagi karena kini kau dewasa sedang aku hanya menua. memang benar simpulku tempo hari bahwa mudah sekali aku dilupakan, semakin aku mencoba menyeruak hanya membuatmu semakin muak, dan memang, siapa tidak merasa kesal jika harus buang waktu melakukan ini itu? bukankah dengan beberapa batang rokok aku bisa menyuruh orang lain? baik, aku salah merapal mantra, tapi kau tak mau melahap sesaji, hanya melahap sembahku. apa kau tak tega mengusirku dan berharap aku menghukum buang diriku? ah, kau tak suka tanda tanya. lengkungnya membuatmu tersesat lamalama dalam pemilihan kata tanpa kemudian bisa meyakinkan dan melegakan dada kiriku. lalu dengan apa kubujuk hadirmu? puisi dan surat tak mampu mengundangmu, apalagi keluh dan butuhku. lalu bagaimana supaya aku berhenti berharap?


Monday, February 1, 2010 at 8:06am

No comments: