Tuesday, April 12, 2011

obsesi, adalah kata yang tidak diternakkan di pikiran saya. dia berkeliaran di tetangga, di iklan, di slogan. saya yang semakin lama semakin tak mesra dengan semboyan menjadi pemalas dan sibuk dengan murung dan marah. saya masih kaget dengan perubahan iklim dalam karakter saya, mungkin karena ada semacam el nino, yang mengguruntanduskan jiwa saya. keinginan saya tidak jelas, apalagi usaha mencapainya. memang, saya jadi rajin menulis, jadi berharap suatu saat jadi penulis, dan meski belum heroik, setidaknya saya berusaha. di sisi lain, saya menunjukkan minim bakat sebagai mahasiswa. nilai saya jelek, kehadiran saya dicegat sakit dan terlambat, tugas saya keteteran, dan ujian saya paspasan. saya tidak pandai merayu dosen juga tidak cukup putus asa untuk matimatian mengejar nilai dari dosen. jika dosen bilang saya tidak boleh ujian setelah bolos lebih dari empat kali, dan ketika ditawar oleh tugas tidak mempan, maka saya memilih untuk tidak repot2 lagi masuk kelasnya. daya bujuk saya lemah. saya tidak mau mengemis nilai, dan jika saya tidak cepat lulus, dosendosen yang tidak bisa saya tawar turut andil dalam keterlambatan itu. bukan, bukan saya ingin melempar tanggungjawab, tapi saya telah berusaha menawar dengan wajar, jika dipersulit terus, maka saya tidak mau merendahkan diri lagi. tidak saat ini. dan saya tidak mau bayar buat nilai. dosen sudah digaji dan saya sudah bayar spp. untungnya, memang belum pernah saya dimintai uang oleh dosen.
saya sebenarnya bingung menghadapi kuliah. di satu sisi, saya kadung jatuh cinta pada antropologi. keluasan cakupan dan cara pandangnya membuat saya bergairah, dan saya merasa butuh banyak tau lagi, karena akan menjadi bahan yang melimpah jika saya ingin membuat novel. saya juga merasa bahwa meskipun pacar saya bilang saya tumpul dalam kritik sosial, sebenarnya saya punya semacam awareness bahwa banyak masalah di sekitar saya yang beberapa celahnya dapat dijawab antropologi. saya bangga belajar antropologi, meski tidak begitu bangga menjadi mahasiswi fisip unpad. dan tentu, saya ingin bisa meneliti. kalaupun kelak ternyata tidak ahli, setidaknya saya bisa tahu cara mengambil data (dan hati kalau bisa) masyarakat. lalu kenapa saya malas? kenapa saya sakitsakitan? itu mungkin di bab lain. saya merasa tidak begitu bodoh, dan akhirakhir ini semakin disibukkan oleh pertanyaan mengapa kemampuan saya tidak maksimal? adalah ketua jurusan dan dosen wali saya yang menggugat kecuekan saya dengan kepercayaan mereka akan kemampuan saya dan kekhawatiran mereka akan nilainilai yang memprihatinkan. saya jadi malu sendiri karena mereka, dan banyak teman di antrop kerap membenturkan saya pada pendapat bahwa saya bermasalah karena saya tidak sebodoh jumlah ipk saya.

kini, saya harus punya jampijampi khusus agar bisa lulus. dua kata sederhana yang jika dikerjakan berat juga sebenarnya. dua kata, semangat dan rajin. dua kata itu agar saya punya obsesi sarjana.

Tuesday, February 9, 2010 at 7:50pm

No comments: