Tuesday, April 12, 2011

saya marah maka saya menulis lagi.

surat pertama untuk Daya.
(kutulis surat ini dalam demam dan rindu. dalam dendam dan pilu.)

Daya,

barangkali keterlaluan, jika dalam rentang waktu persahabatan kita selama lebih dari lima tahun baru sekali ini aku menulis untukmu. iya, aku terlalu pengecut kukira. aku masih berpikir tak bisa membalas cerpen yang kau buat tentang kita, sewaktu kita masih duduk di bangku sma. entah kenapa selalu aku tersandung ketika mesti menulis untukmu. beribu kata yang berdesak malah tak berhasil menyusun paragraf, beribu rasa yang menyesak tak dapat disusun menjadi cerita yang lengkap. dan kini, kupersilakan rindu mengetuk layar lebih dahulu, biar jejariku tak dibebani banyak persoalan.

Daya,

dalam tahun ini, nasib sepertinya semakin keraskepala untuk menjebak kita menuju kutuk. bahkan aku masih terengahengah, mengejar nafas yang macet karena isakanku tak juga henti. kalau ada semacam wiper di mataku pasti akan agak mudah, mataku tak harus terus berembun. kau tau, dari mata turun ke jari, karena terus merungai mataku, jejariku gempa, hurufhuruf berloncatan; persis seperti perasaan kita.

Daya,

telah berapa kali kita berbagi mimpi agar jarum jam diputar balik, agar almanak menyurut. kita benarbenar berharap agar kita dapat mencegah sesal, karena sesal menjelma siksa. apalagi ini perkara nyawa. kau mendapat nyawamu kembali, sesaat ia sempat meregang (ah, dua hari tentu tak bisa sesaat, apalagi kesakitan yang kau alami membuat detik tak gegas pergi, seolah semua dalam adegan yang diperlambat, dan dimana aku? aku tak disampingmu!) dan jam enam ia tiba di hadapmu, setelah berbulan mengendap dalam perutmu. (Kenanga, ia cantik sekali. ia seperti bidadari yang terbungkus oleh 'halo'. halo itu tak mengapung diatas kepalanya, tapi mewujud selaput mirip gelembung sabun. ia cantik, putih bersih, dan sehat. kakinya masih terlalu mungil, tapi bayiku akan menjadi perempuan yang cantik dan istimewa. kalau saja dia bisa dewasa...) tentu, Daya. ia akan cantik dan istimewa. cerdas dan keraskepala. kubayangkan dia akan seperti mamanya.

Daya,

aku tak disampingmu. saat itu, aku entah dimana dan aku tak datang padamu. aku pernah menawarkan padamu untuk tinggal bersamaku, biar saja bayimu hanya punya mama dan tante, biar kita asuh berdua saja, tapi tawaran itu hanya satu kali, dan apa artinya, ketika kemudian aku malah mengirimimu pesan singkat banyakbanyak untuk mensponsorimu dalam misi yang dapat membuat kalian berdua mati. sungguh, aku belum sepenuhnya sanggup--mungkin takkan pernah, menghadapi kenangan tentang harihari itu, dimana aku lupa bahwa kau sebenarnya selalu memihak Hidup. aku terlalu gugup. aku kehilangan nyali yang kini kusadari, tak pernah betulbetul kumiliki. ah, tanganku masih bau amis darah bayimu.

Daya,

kita pernah berjanji akan menengoknya. jarak mempecundangi kerinduan kita; memaksa kau mengunyah kenang, aku mengulum bayang. hingga akhirnya geligimu retak dan kau telan, meracuni tubuhmu yang kini tak karib dengan sehat. tapi kau masih bisa saja berjalan, entah kekuatan macam apa yang kau punya, yang takkan pernah aku dapatkan. kau bilang kau cuma purapura, kupikir, berpurapura pun aku takkan sanggup. aku terlalu mudah cedera oleh masalah sepele, kehilangan sendal jepit pun bisa membuatku merana. maka aku sepertinya tak bisa menanggung kehilangan sepertimu, darah daging cinta. meski begitu, aku tak ingin menoleh sedikitpun dari lukamu.

Daya,

aku masih dapat menyerapahi bajingan yang sempat kau ludahi itu. sepertinya ia membangkitkan hobiku untuk memaki. ia yang pernah begitu kau cinta dan percaya, ia yang terlalu manja dan keji. ia yang tanpa kita tahu hanya dapat berpikir menggunakan jempol kaki. aku membencinya dan tanpa dipaksa turut mendendam, dan memberinya ruang seluas titik untuk dimaafkan. karena kegenitannya kau nyaris mati dan bayi kalian tak sempat kita gendong. demi tuhan, mengingat namanya saja langsung gemas aku ingin menghajarnya, mencabuti kuku dan giginya satusatu. bahkan ribbuan siksa tak cukup, takkan mampu membayar utangnya padamu.

Daya,

kau selalu percaya pada Hidup. aku terperanjat ketika kau ingin menyerah. tolong jangan menyerah. aku selalu berpaling padamu saat menyerah. bukankah kita pernah percaya bahwa kita kelak (boleh) bahagia? kau berjanji padaku bahwa kita akan bersenang-senang. bahwa aku akan kau ajak tinggal di apartemenmu. kau juga pernah bilang padaku bahwa kau ingin tak ada lagi perempuan yang mesti bernasib sepertimu. bahwa ia mestinya masih hidup jika dunia lebih ramah pada kesahmu.

Daya,

kau berhak bahagia. kau berhak Hidup. demi cintamu pada Livia, dan utang jenguk kita pada tanah Solo. kau tentu tau, bahwa ketika kotak Pandora terbuka, semua kejahatan dan keburukan, tiap penyakit keluar dari kotaknya, kecuali harapan. jika Pandora diizinkan menyimpan harapan, jika Hawa masih bisa berdoa ketika diusir dari surga, maka kita berdua masih punya tiket untuk berbahagia.

Daya,
aku menyayangimu. meski aku menjauh ke Timur dan kau tetap ke arah Barat, persetan dengan arah karena bumi ini masih bulat...


*aku menyatut nama Daya dari cerpenmu. nama Kenanga dari serakan cerita yang belum kurampungkan. Livia karena ia akan tetap hidup di semesta kasih kita. aku menulis ini saat menstruasi dan demam. maaf jika kau tak berkenan. aku masih ingin manjadi orang yang pantas kau panggil teman. i love you, dearest mate.

-kasur, hari pertama desember duaribusembilan. malam sampe adzan awal.

No comments: