Tuesday, April 12, 2011

surat untuk bintangmerah

Senja ini, aku berpayung pada secarik hujan. Mencium aroma tanah dan menghirup sejumlah waktu yang sempat singgah, aku teringat padamu.

Pernah kita kuyup, rintikrintik gerimis dari jaketmu yang kelabu, kita gagal menghindari gigil. Kau khawatir, mengingat ringkihku dan sempat kesal pada awan yang seolah pipis sembarangan. Aku bilang aku masih mencintai hujan, dan hadirmu serupa bianglala. Tentu, kau tidak belangbelang tujuh warna, tapi kau cantik, hujan membuat kau tampak lebih segar, dan hatiku jadi mekar.

Kita berjalan di sepanjang trotoar, genggam tanganmu diinterupsi pedagang kakilima dan klakson motor, dan kau mengeluh, susahnya jadi orang miskin, berjalan ditengah hujan dan tak bisa mempertahankan sebatas genggam tangan. Aku tertawa, dan bilang padamu jangan banyak berharap di negara kita dan sungguh aku tak peduli, karena tahu, tatapmu hanya rebah padaku.

Kau terus bertanya apa aku baikbaik saja, seolah tawa tak cukup meyakinkanmu bahwa aku bahagia dan tak kenapakenapa. Kita terus mencari alamat dokter sambil cemas jika aku benarbenar mengidap penyakit serius, dan tiap kau gelisah, kau mencubit tanganku dan menghela nafas panjang. Kau tak pernah tenang jika ingat aku sakitsakitan, tak dulu juga kini. Itulah sebabnya kau kerap marah jika aku tak cukup makan dan istirahat, sembari sesekali menyalahkan diri sendiri. Aku tak suka. Aku tak mau melihatmu sedih cuma karena aku ringkih.

Lalu tiba dimana kau yang terbaring, menahan demam dan rindu. Juga pusing karena aku kesal padamu. Sungguh, kala itu rasanya menyiksa mengetahui kau sakit dan aku bahkan tak bias sekedar mengintip. Kerinduan yang keraskepala dan sakit yang bengal, dan alamatmu tak pernah ada dalam petaku. Baru kemudian kuketahui, kata sabar luput dari benakku, kala itu.

Sabar, kekasihku, adalah anak kita yang paling susah kulahirkan. Ia hanya lahir dari rahimku yang penyayang setelah menunggu dua bulan, dengan ngidam yang menyengsarakan dan memusingkan. Aku hanya bisa berharap kau mau menjadi bidan dan aku cukup mampu untuk persalinan normal. Aku hanya yakin bahwa kau tak akan mencelakakanku dan tetap mencintaiku seperti biasa. Dan aku tahu itu, meski kadang rasanya ingin menarikmu dan bersembunyi di ketiakmu, nguselngusel di dadamu, atau menjambak gemas rambutmu. Tentu, aku lebih ingin mengusap punggungmu, seperti yang selalu kau minta sebagai pengganti ninabobo…

Matahari nyaris melesak di ufuk timur kini, dan hal terakhir yang kau pikirkan adalah kasihan karena aku belum lelap ditengah dingin dan lapar. Ah, sayang, pikirkan kendara dan ranjangmu, disini aku hanya ingin menuntas celah yang tadi senja terbuka. Surat kecil untukmu yang tertunda.
Aku cinta kamu. Kutunggu cubitan kecil ditanganku, dan bahumu untuk kugigit kecil.


sekre wsc, november 2009.

No comments: