Monday, April 4, 2011

surut

aku melihatmu, jauh diatas tanah. sedikit isak dan bulirbulir hujan matamu mencapaiku. kau berdoa, suaramu serak tapi karena itu doamu seksi. aku ingin merengkuh bahumu dan berkata sudahlah. mana tegarmu saat aku kerap merengek dan meratap, mengisak dan menjerit. kau selalu mampu untuk berbalik dan melangkah, menghitung hal lain yang bisa kau buat benah. ah, andai kau yang disini, aku ragu apakah aku akan mendekat, sekedar menyampaikan doa yang belum juga kuhafal, aku malu pada keluargamu, dan sepertinya tiap berapa langkah, kesadaranku akan terjungkal, dan kenyataan bahwa kau berangkat lebih awal pasti akan membuat tegar jauh mental.

aku terharu karena kau masih tabah meski dengan doa yang semakin putusputus, nafas panjang yang kian sering, dan bisik namaku yang samar, selalu disertai sedu sedan. kau belum juga pulang, masih hendak mengantarku berangkat, tak mau luput sedetikpun. padahal aku sudah tak serewel dulu, menginginkan hadirmu duapuluh lima jam sehari. rasanya tak pernah cukup kita bersama, berbincang menangis memeluk dan melempar canda, menangkap tawa. tawamu kadang menyebalkan, seolah merendahkan, tapi aku suka lepas, lepas tawamu, berderai dan tanpa beban. aku rindu. aku takkan lagi mencubit pipimu, manja, dan berdiskusi. kau lawan bicara yang terpercaya, selalu mampu menyanggah saat kau pikir aku salah, meski percakapan tentang kita kerap mendung yang tak juga selesai. hingga akhirnya aku pergi. aku pamit. dan sekali itu, kau yang merajuk, berusaha mencegat langkahku. ah, sayang, sebagaimana kerap kau tak bisa kutahan, begitu pula kini. aku pulang kepada asalku, dan kau sebaiknya pulang ke rumah. aku takut ingin mengikutimu nanti. dan aku punya janji wawancara.

bertahun, kau semakin jarang berkunjung. dan semakin lama, tangismu berkurang. kau mulai jatuh cinta, meski kau bilang tak sehebat padaku. tak apa, semoga kau bahagia, bukankah sudah kubilang kau akan menikah dengan orang lain. lain kali, ajak dia kemari, bilang tak usah cemburu, aku tak mungkin merayumu, tak akan mengganggu hubungan kalian. kau bilang sepertinya tak usah, lalu kau minta maaf karena sibuk. oh ya, kau jadi dosen? selamat, selamat. kau rindu cubit pipi, padahal dulu kau kesal karena aku acap tak sengaja meremas jerawat. maaf.

sebagianku menulang, sebagian lain mendebu; melayang dan tersapu. namun bagian utamaku menyurut, menyelusup diantara huruphurup, dalam novel dalam puisi, dalam diari yang kau baca dan tangisi. aku melihatmu, kekasihku, beranjak menua, dan semakin dewasa, dan bersemangat. sudah cukup. pada penuh bahagiamu, kutemui utuh legaku.


Monday, February 22, 2010 at 5:44am

No comments: