Tuesday, April 12, 2011

tentang sebuah petang

Hanya saja, terlalu menyengat matahari dan tatapanku sedemikian kabur. Aku menggunakan ibu jari sebelah kanan untuk mengusap alis, berharap menepiskan cahaya yang berlebihan menengok mataku yang lelah. Keningku basah. Mempertahankan beberapa helai kesabaranku untuk menanti senja yang mulai meleleh di langit, jatuh perlahan namun akan hilang dalam seketika. Mataku terlalu lelah kukira, waktu tidur yang hanya sejumput lenyap kualami menjelang siang dan kembali terbangun ketika kukira ada yang berkelebat di samping tempat tidurku. Bayangan, wajahnya sekilas kulihat tapi aku tiba-tiba merasa mengenalnya. Mungkin seseorang yang hendak melarikan diri dari mimpiku namun aku keburu memergokinya. Dia yang lama mengintai saat-saat lenyap sekejap dari alam sadarku, ketika ambang mimpi terbuka pelan dan dia hendak menggantikan peran hidupku.

Menukar maya dengan hidup yang dia pikir penuh warna. Adakah ia ingin mencuri daging dan darahku, menjerit ketika tersandung, mengecap asin airmata dan amisnya luka yang terbuka? Kucampakkan bantal, hendak beranjak tapi masih tersisa pengaruh vodka, atau barangkali aku terengah karena sisa kejar-kejaranku dengannya. Aku punya dua pilihan; menutup tirai, mengusir matahari dan melanjutkan pertengkaranku dengannya, atau pergi ke tempat dimana aku telah berjanji dengan perempuan itu. Ah, kupilih merokok. Masih ada tiga batang yang memungkinkanku memperpanjang kemalasan dan mengelak dari lelah.

Sejauh ini, dia berhasil menyalin wajahku. Kukenali ia saat aku bersitatap dengan cermin, tetapi bayangan yang kutemui saat gegas jagaku lebih mirip dengan bayangan di cermin kamar mandi yang berembun, ditambah beberapa kepulan asap yang sengaja kuhembuskan di wajahku sendiri. Tapi cermin di kamarkupun telah ku singkirkan, karena mengingatkanku akan wajahnya. Langit senja di jendela, abu rokok yang sebentar lagi jatuh. Aku belum berniat membuatnya bermukim di asbak, mungkin akan jatuh di pangkuanku seperti keringat yang pelan terjatuh dari ujung bulu mata. Kenapa aku berkeringat, bukankah aku belum yakin pertarungan dan saling berkejaran dengannya benar-benar terjadi di kamarku yang sempit ini? Apakah ini sepenuhnya mimpi atau entahlah. Semoga tegukan vodka bisa membantu meyakinkanku.

Vodka cuma tinggal seteguk, maka keyakinanku hanya sebatas aku mesti mencari rokok lagi. Kuambil dompet, lebih kurus dari tubuhku dan disanalah aku kembali bertemu dengannya. Dia dalam lembaran foto yang lusuh, mencium rambut kekasihku, kekasihku, yang tak lagi pacarku. Kekasihku, perempuan jalang itu menungguku, berjanji duduk manis sejak senja lahir sampai aku menebas jeda dan jarak diantara kami. Kucabut foto dari dompetku, wajah yang kian mirip dengan wajahnya, wajah bersemut karena lusuh, sinonim wajah embun berasap di cermin. Kubakar foto itu, biar saja dia kepanasan bersama kekasihku. Jadilah abu, jangan pernah mampir, meski cuma di kantukku.

Aku memilih berseteru dengan wajah itu, wajah kalah yang berusaha merebut tempatku duduk menunggu senja. Kursi yang sudah seminggu ini terasa singgasana. Tidak terbuat dari gading gajah purba dan berhias emas, masih rotan yang itu juga, melukis garis-garis di pantatku kukira. Abu dalam asbak, selamat tinggal wajah yang hangus dalam abu, semoga tak ada lagi waktu tersisa untuk mengenangmu. Kau mengingatkanku pada cermin dan wajah seseorang yang bersikukuh merebut tempatku. Ah, aku benar-benar membutuhkan beberapa batang rokok lagi untuk benar-benar menggenapkan ucapan selamat tinggalku pada wajah itu bersama hempasan asap. Mungkin jejaknya memang mengendap dalam paru-paruku, tapi itu jauh lebih baik karena aku tak perlu melihatnya tersenyum getir lalu melemparkanku dari kursi ini. Mungkin bukan aku yang terlempar, maksudku ia mengambil alih bukan hanya kursi ini, tapi juga tubuhku bahkan.

Aku tak merasa perlu menemui perempuan yang menjadikan hatiku serupa acar, dimakan mentah dengan cuka. Aku memar sebelum lebih jauh perempuan itu menyiksa. Kuraih botol vodka, berharap masih ada setetes, tapi bening tubuhnya memantulkan wajah yang tadi kubakar. Wajah penguntit itu seolah enggan enyah. Bagaimana jika dia akan terus membayangiku seumur hidup, senantiasa berjaga mencuri sempat untuk bersalin tempat? Aku butuh lebih banyak rokok. Selot berdecit saat kubuka, pintu berderak, tiba-tiba pergelanganku terasa dingin seolah seseorang memegang tanganku dengan ketat. Tidak menarikku kemanapun hanya memegangku. Senja di luar seakan larut dengan cepat tetapi seperti ke arah tubuhku. Di depan pintu dan senja tulang pergelangan tanganku membeku, seperti dirasuki cuaca yang tiba-tiba, menjalar tumpahan senja. Aku terhempas. Tubuhku dicuri!


*tulisan ini milik pow dan che.

No comments: