Thursday, June 23, 2011

pada suatu sore (gagal nonton)

Ini saya curhat dulu. Kalo males baca, sekip ajah langsung ke bawah. Okeh.

Sore tadi, saya pergi ke Gedung Indonesia Menggugat untuk acara nonton bareng dan diskusi film Il Postino. Acara di jadwal mulai jam tiga sore, dan saya tiba di GIM jam setengah empat. Di lahan parkir, saya lihat banyak mobil. Agak mengherankan, tapi kemudian saya lihat pintu kafe samping tertutup, pasti ada acara di kafe, pikir saya, karena minggu sebelumnya pun ada acara di situ. Saya agak bergegas, melongok ke dalam, ada layar putih, tapi tak ada gambar film. Saya agak kaget juga ada banyak kursi di dalam. Formal amat, biasanya kami lesehan saja nonton. Sebelum saya masuk gedung, kekagetan saya bertambah ketika mang-mang berbaju security bertanya “Ada perlu apa, Mbak?” Astaga, saya kan kesini nyaris tiap minggu. Bukannya sok beken, tapi tempat ini amat familiar, dan pengunjung tetapnya adalah wajah-wajah yang saya kenal. Saya sudah amat biasa datang, jadi ketika ditanya ada perlu apa, saya jadi agak blah bloh dan menjawab kurang yakin, “mau nonton.” Mang-mang itu tersenyum dan mempersilakan saya.

Saya masuk, tapi di ruang yang mestinya dipakai nonton, isinya diskusi, bapak-bapak semua. Sekilas saya baca, Saresehan Sepakbola. WTF? Seorang teman yang boleh dikata ‘panitia’ acara nonton akhirnya bilang kalau acara nonton batal. Ruangannya dipake gitu. Shit. Dalam bingung saya ikut dia ke atas, ke IM Books,selirik saya lihat ada kopi dan cemilan di kafe. Pasti dari acara itu. Saya mengobrol sebentar dengan AQ, yang mengonfirmasi batalnya acara nonton. Oke, saya minta aja deh file filmnya. Dan saya dapat banyak sekali bonus film. Horeeeee. Saya kesal juga acara batal. Dan saya bilang, boleh gak nyicip makanannya. Lumayan.

Saya ke bawah, ambil kopi. Yah, kopinya encer. Kurang pahit. Di meja saya temukan makalah yang saya foto dan twitkan. Oh, acara bola. Saya cuma kepikiran kasih tahu Zen, dan karena tidak dijawab, saya jadi pingin tahu acaranya. Mengendap-endaplah saya ke pintu ruangan, dan ngambil makalah satu lagi. Lewat di depan pintu, saya foto-foto sebentar keadaan di dalam. saya malas masuk. Ngapain juga? Jadi saya kembali ke kafe, ngopi dan membacai makalah-makalah itu, sedikit ngobrol-ngobrol. Yap, acara ini dadakan. Baru dua hari kemarin ada pemberitahuan.

Saya sudah kehabisan obrolan, akhirnya saya dengar isi diskusi nyebut-nyebut Persib. There, dituntun magic word itu saya langsung masuk ke dalam ruangan, meskipun isi ruangannya haseum sekali, cuma bapak-bapak tua, dan ternyata mereka membicarakn persib sebagai PT., bahwa bola di Indonesia belum jadi bisnis, bahwa PT. PBB itu bla bla bla. Busa-busa semua. Sampai tiba sesi terakhir tanya-jawab. Saya gak begitu menyimak pertanyaan-pertanyaan dan juga jawaban, kecuali yang nanya soal George Toisutta (dari Jakarta FC), yang dijawab oleh Sumaryoto, yang intinya George Toisutta, sesuai yang ia tahu dari Cipta Lesmana George itu Bandung Raya dan PSAD, dan keduanya tidak berafiliasi dengan PSSI. Belum beres Sumaryoto bicara, seorang bapak-bapak interupsi, gak terima sama omongannya. Saya agak ngarep suasana berubah chaos, karena si bapak-bapak itu, yang ternyata dari PSAD kelihatan emosional. Tapi, ternyata tidak terjadi chaos. Maklum juga, sudah pada tua, dan hari sudah sore, jadi mereka mungkin tidak punya tenaga buat berkelahi.

Sumaryoto menjawab cukup diplomatis. Cari aman kalau kata saya mah. Dia bilang ya itu kan kata Cipta Lesmana, bla bla bla, sampai akhirnya bapak-bapak dari PSAD itu melunak, merayu-rayu Sumaryoto, bilang kalau Agum itu susah diajak bicara, dan dia berharap Sumaryoto dapat membawa perubahan. Dia percaya Sumaryoto dapat membawa perubahan. Tapi kalau nyambung sama omongannya di luar, Sumaryoto hanya berharap KLB mencapai kuorum, dan mudah-mudahan tidak ada perubahan. Poor you, bapak GT fans... jadi gitu. Saya penyimak diskusi yang buruk kalo gak ada catatan dan gak ada rekaman. Apalagi gak nikutan dari awal. Jadi mungkin sekali saya salah ngerti. Atau apalah. eh, saya udah minta soft copy makalah pak Sumaryoto, dengan alasan makalah yang di-print gak ada halaman pertamanya. Tapi dia gak mau kasih

Well, curhatnya udah kebanyakan. Jadi ini saya scan makalahnyah.

p.s. halaman pertama ari makalah Sumaryoto gak ada.

Makalah satu:

Sarasehan Sepakbola Indonesia
"Menggugat Prestasi
" Bandung, 23 Juni 2011

"Sanksi FIFA, Perlukah Dikhawatirkan?"
Oleh: HADI BASALAMAH

Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional Indonesia (GRSNI)

Sekapur Sirih
Kurun dua bulan terakhir, sepakbola Indonesia digegerkan oleh untaian kata berbunyi "Sanksi FIFA." Melihat kebelakang, sebenarnya kata-kata yang sama sempat beredar di masyarakat tepatnya pada tahun 2009 yang lalu. Namun bedanya, kata sanksi pada tahun tersebut langsung disuarakan oleh FIFA namun gemanya tidak dahsyat seperti saat ini. Pada saat itu, kejengkelan FIFA kepada PSSI sangat cepat dan tepat diantispiasi oleh mereka-mereka yang merasa 'memiliki' sepakbola negeri ini. Sedangkan kondisi 2-3 bulan terakhir, kata sanksi FIFA justru gencar dimunculkan oleh orang hidonesia sendiri dan gemanya jauh lebih menggegerkan karena mereka yang merasa 'paling mengetahui' bola negeri ini gagah bersahut-sahutan, meyakinkan kita bahwa bila Indonesia melawan kehendak FIFA, tamatlah riwayatmu kini. Padahal sungguh jauh panggang dari api. Alih-alih menentang statuta FIFA, kali ini justru kita yang bersemangat menegakkan statuta FIFA. Statuta yang sudah amat lama dipermainkan di negeri ini atas bantuan oknum FIFA di Swiss sana.

Seperti yang kita ketahui bersama, pada tahun 2009, FIFA sempat sangat kesal dengan Indonesia. Indonesia pada saat itu dianggap 'nekad' mengutak-atik pasal sakral dalam statuta FIFA, khususnya pasal yang melarang dengan tegas bahwa siapapun yang hendak menjadi anggota komite eksekutif" sebuah asosiasi sepakbola, haruslah bersih dari perkara hukum.

Peran Media Massa dalam polemik sanksi FIFA

Saat ini, selain kejujuran, akal sehat adalah barang langka di Indonesia. Begitu mudahnya seseorang atau bahkan sekelompok orang di Indonesia saat ini terpengaruh atau terperdaya oleh pemikiran yang menyesatkan. Celakanya, jalur efektif untuk membangun opini sesat dan penggelapan fakta justru dilakukan oleh (beberapa) media massa.

Media massa yang tujuan keberadaannya sesungguhnya sangat mulia karena memiliki peran besar membangun peradaban sebuah bangsa, di tangan yang salah malah menjadi alat menghancurkan peradaban bangsa itu sendiri. Khusus untuk kasus polemik sanksi FIFA ini, sangat telanjang terlihat di mata kita bahwa beberapa media bukannya menyampaikan semangat kejujuran dan pembelaan terhadap harga diri bangsa dari pelecehan oknum-oknum FIFA, sebaliknya malah menjadi agen-agen yang terdepan mengaburkan fakta, dan juga secara membabi buta dan teramat kasar berpihak pada sesuatu yang tampak benar dipermukaan, tetap sesungguhnya amat mencelakai bangsa ini bila tetap diberi peran.

Nah, bila dibanding dengan situasi saat ini, menurut hemat saya dan seharusnya memang begitulah adanya, kadar kesalahan Indonesia saat ini masih jauh sekali dari yang pernah dilakukan (ingat 2009) tapi tetap tidak dikenai sanksi. Rasanya aneh kalau kesalahan yang teramat fatal seperti memperkosa statuta FIFA saja tidak dihukum, masak hanya karena teguh mempertahankan keinginan untuk mendapat jawaban yang rasional, cerdas, dan jujur dari FIFA—soal kenapa kandidat ketua umum PSSI yang tidak pernah dihukum (dipenjara) tidak diijinkan menjadi peserta pemilihan— malah dihukum.

Lampiran; Fakta-fakta yang menjauhkan kita jauh dari logika sanksi

*Selama ini tidak terbukti ada intevensi pemerintah dalam kisruh PSSI, dengan demikian FIFA tidak punya alasan memberi sanksi bagi Indonesia.

*Dalam sidang Komite Asosiasi FIFA yang berlangsung Selasa (1/3/2011) sore waktu setempat di Zurich, Swiss, sanksi terhadap Indonesia tidak dibahas. Sekjen FIFA Jerome Valcke juga menegaskan tidak ada hukuman untuk Indonesia.

*Selain membebaskan sanksi, FIFA memberi kesempatan bagi Indonesia untuk menggelar kongres sekali lagi sebelum 30 Juni 2011, yang akhirnya diundur menjadi 9 Juli 2011.

*Indonesia tidak melanggar statuta FIFA. Sebaliknya, FIFA telah melanggar statunya sendiri karena melarang pasangan George Toisutta-Arifin Panigoro maju ke pencalonan ketua umum-wakil ketua umum PSSI.

*Wapres FIFA Pangeran Ali Bin Al Hussein justru kaget dan mempertanyakan alasan KN melarang George Toisutta-Arifin Panigoro ikut dalam Kongres PSSI.

*Sebaliknya, PSSI malah pernah melanggar statuta FIFA karena sebelumnya meloloskan nama Nurdin Halid dalam proses verifikasi calon ketua umum.

*Liga Primer Indonesia (LPI) yang dinilai ilegal dan jadi salah satu alasan pencekalan terhadap Arifin Panigoro telah diakui oleh PSSI melalui Komite Normalisasi (KN), itupun berdasar surat imbauan FIFA.

*Gagalnya Kongres PSSI di Hotel Sultan, Jakarta, pada Jumat (20/5) malam, lebih dikarenakan keputusan Ketua KN Agum Gumelar yang menutupnya secara sepihak. Padahal kongres berjalan kondusif. Kalaupun ada hujan interupsi, itu tak lebih hanya merupakan dinamika demokrasi.

*Kisruh di kongres itu merupakan puncak dari berbagai persoalan masa lalu. Sementara di sisi lain masyarakat berharap segera ada perubahan agar sepakbola nasional bisa diperhitungkan di tingkat dunia.

*Kasus yang terjadi di Indonesia berbeda dengan yang dialami Brunei Daressalam dan Bosnia. Brunei mendapatkan sanksi dari FIFA akibat intervensi pihak kerajaan terhadap otoritas sepakbola negeri kaya minyak tersebut. Brunei diskorsing 20 bulan dan sanksi itu baru dicabut 31 Mei 2011.

Sedangkan Bosnia dijatuhi sanksi 2 bulan karena Federasi Sepakbola Bosnia-Herzegovina (FFBH) memiliki tiga presiden sekaligus. Hukuman terhadap Bosnia lebih pendek karena mereka cepat menyelesaikan masalah internalnya.

Menurut saya bahwa pada hakekatnya kekisruhan ini adalah resistensi dan arogansi dari rezim lama telah gagal dalam kepengurusannya membina dan membangun sepakbola Indonesia 10 tahun terakhir ini yang ingin tetap berkuasan dan dengan boneka-bonekanya untuk menggagalkan semua gerakan reformasi sepakbola Indonesia. Kita semua tahu bahwa kegagalan dalam kepengurusan dan pembinaan rezim lama ini adalah karena "salah ures", sepakbola telah digunakan sebagai alat kepentingan kelompok dan individu yang tujuannya bukan prestasi dan fair play, tetapi kekuasaan politiknya demi memperkaya diri dan pertarungan pundi-pundi ekonominya. Cukup sudah, kejenuhan masyarakat bola akan fenomena ini dengan gerakan reformasi untuk mengembalikan olahraga yang kita cintai ini kepada pemiliknya haras tuntas selesai pada kongres 9 juli nanti. Ancaman-ancaman sanksi yang mereka gaungkan kita haras hadapi dengan tegar, selama tak ada pelanggaran terhadap statuta, dan sampai saat ini belum ada kasus dari gerakan reformasi ini yang melanggar rambu-rambu statuta dan atau electoral code. Vice President FIFA, Prince Ali dan Executive Board o/AFC sekarang sudah mulai sadar bahwa kekisruhan di Indonesia karena adanya konspirasi oknum-oknum rezim lama dengan kroni-nya di FIFA untuk tetap bisa berkuasa dengan segala cara.

Seandainya Sanksi FIFA tetap terjadi

Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional Indonesia (GRSNI) adalah salah satu unsur dari puluhan unsur pecinta sepakbola yang ada di Indonesia yang ingin melihat sepakbola Indonesia maju. GRSNI adalah salah satu unsur pecinta sepakbola Indonesia yang menginginkan sepakbola negeri ini terbebas dari segala bentuk pengelolaan yang bersifat curang, dan koruptif. GRSNI juga berharap agar siapapun pengelola sepakbola ngeri ini, haruslah memiliki rasa malu bila tidak sanggup mencetak prestasi dan mengharumkan nama Indonesia. Dan oleh karenanya siap mundur setiap saat.
Barangkali karena kita dianggap membandel tetap ngotot menuntut FIFA untuk menjawab secara rasional dan sungguh-sungguh jujur perihal larangan FIFA atas sosok yang bersih dari perkara hukum untuk maju ke podium pemilihan, maka kita haras dibungkam dengan sanksi.

Seandainya sanksi itu terjadi, menurut hemat kami tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Mengapa demikian? Saya mencoba menjawab hal ini dengan berkaca pada sebuah kalimat filosofis berikut; kekuasaan akan selalu ditutup dengan kebohongan, dan kebohongan adalah alat yang selalu digunakan untuk melanggengkan kekuasaan.
Oleh GRSNI, kata kunci yang haras dibongkar dari untaian kata filosofis di atas adalah pada kata kebohongan. Maka kebohonganlah yang selama ini hendak kita singkirkan jauh-jauh. Kita ingin kebohongan yang mengakibatkan sinar kebenaran ditubuh sepakbola Indonesia terus tertutup, akhirnya terkuak terang. Bila seandainya sanksi itu tiba, maka itu adalah momentum yang tepat bagi kita untuk menerangi rumah sepakbola yang seharasnya tempat memajang berbagai bukti prestasi malah menjadi gudang menyimpan segala kebohongan dan kebusukan perbuatan oknum perusak sepakbola Indonesia.

Selama masa sanksi terjadi, kita haras bergerak bersama mengusir mereka yang selalu menjual harga diri bangsa ini lewat sepakbola, kita harus tegar bekerja keras membenahi sepakbola kita yang miskin prestasi karena "salah uras".
Intinya, kami hanya ingin menyampaikan bahwa, bangsa ini tidak perlu khawatir bila kita sampai terkena sanksi, karena sesungguhnya hal yang terpenting dalam masa tersebut adalah:

1. Reformasi Organisasi Sebagai Langkah Awal:

A. Adopsi Statuta FIFA secara utuh
Pentingnya statuta FIFA diadopsi oleh anggotanya ditegaskan oleh induk organisasi sepakbola dunia itu dalam kata pengantar standar statute FIFA yang dipublikasikan pada Juni 2005.

B. Standarisasi Keanggotaan Klub PSSI
Agar sebuah klub sepakbola dapat diakui sebagai klub professional, maka salah satu syarat dalam lisensi klub profesional adalah klub tersebut mempunyai status badan hukum yang berorientasi laba (dalam hal ini perseroan terbatas).

C. Merintis Gedung Milik Sendiri
PSSI sebagai organisasi tertua di Republik Indonesia sudah seharasnya menunjukkan kapasitas sebagai organisasi yang mapan dan mandiri. Apalagi sepakbola Indonesia sejatinya kaya akan komoditas-komoditas usaha yang belum tergali secara maksimal. Hingga hari ini, PSSI belum mempunyai asset tersendiri yang layak dibanggakan. Kantor masih sewa, lapangan latihan untuk timnas pun masih pinjam. Ini jelas tidak membanggakan bagi sebuah organisasi tertua dan berpengalaman di mdonesia. Sementara negara yang bara merintis semacam Timor Leste telah menyelesaikan pembangunan gedung tersendiri untuk federasinya berkat bantuan FIFA melalui program FIFA Goal Programme. Kantor PSSI milik sendiri sesungguhnya dapat diwujudkan melalui FIFA Goal Programme, karena FIFA ingin semua anggotanya dapat mandiri dari ketergantungan sebagaimana FIFA dapat menghidupi organisasinya melalui produk-produk kompetisinya. Maka dari hasil pendapatan yang diperoleh melalui produk-produk kompetisi yang dikelolanya, FIFA ingin memberikan kontribusi balik kepada para anggotanya dalam wujud FIFA Goal Programme.

D. Memperjelas status Independensi Klub dan Liga
Liga tanpa klub, maka bukan merapakan liga. Liga tidak akan ada tanpa pesertanya, yaitu klub sehingga wajar jika dikatakan bahwa klub-klub adalah pemilik sebenarnya dari sebuah liga atau kompetisi. Maka dari itu sebenarnya pengelola liga adalah suatu badan organisasi yang mendapat amanah dari para klub anggotanya untuk mengelola pelaksanaan liga yang bersangkutan dengan tetap memegang asas melindungi kepentingan klub pesertanya. Konsep ini sudah diterapkan dalam pelaksanaan kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI). Klub-klub itulah yang menentukan bagaimana roda kompetisi LPI digulirkan. Klub-klub itu pulalah yang menentukan bagaimana roda kompetisi LPI digulirkan. Klub-klub itu pula yang menikmati keuntungan dari pemasukan yang berhasil diraih LPI melalui penjualan hak siar kepada stasiun televise dan penjaringan sponsor.

E. Peningkatan SDM di bidang Teknik
Persepakbolaan kita memang sudah tertinggal cukup jauh dari Negara-negara tetangga di ASEAN, apalagi Asia. Tak hanya dari segi prestasi, kita juga mulai tertinggal jauh dalam menghasilkan tenaga-tenaga di bidang teknik seperti pelatih, wasit, serta pelaksana pertandingan lainnya. Untuk itu, kita perlu segera mengejar ketertinggalan itu sekarang juga. Kursus-kursus dan penyegaran untuk pelatih maupun wasit perlu diperbanyak. Di sisi lain, peningkatan kualitas dan standarisasi pun harus dilakukan agar tenaga pelatih maupun wasit kita kembali diperhitungkan di pentas internasional.

F. Good Football Governance
Tata kelola yang baik sangat penting untuk sebuah federasi sepakbola. Terutama guna mewujudkan pengelolaan yang efektif dan menunjukkan akuntabilitas serta transparansi. Hal ini demi kepentingan semua klub dan kemajuan persepakbolaan Indonesia. Tata kelola yang baik tidak serta-merta menjamin keberhasilan persepakbolaan nasional bila tidak diiringi dengan perbaikan manajemen, pengawasan, dan yang paling penting keberlanjutan dari PSSI baik di tingkat pusat maupun daerah dan seluruh elemen pendukungnya, termasuk klub.

2. Kompetisi yang Mandiri dan Profesional

A. Melepaskan diri dari ketergantungan terhadap APBD
B. Mendorong kemandirian klub
C. Transparansi keuangan dan peniadaan biaya Nonteknis
D. Mengelola dukungan masyarakat
E. Memantapkan Liga Profesional
F. Sinkronisasi pelaksanaan kompetisi

3. Pembinaan Usia Muda yang Lebih Serius

A. Pentingnya Standarisasi SSB
Standarisasi SSB tidak saja dibutuhkan untuk mencetak pemain-pemain berbakat di Indonesia agar bisa bersaing dengan Negara-negara lain. Standarisasi juga dibutuhkan agar SSB tidak sekedar menjadi institusi bisnis, melainkan juga bertanggung jawab dalam mencetak bakat-bakat muda dibidang sepakbola. Standarisasi SSB setidaknya meliputi tiga hal:

- Standarisasi kurikulum
- Standarisasi tim pelatih melalui lisensi kepelatihan
- Standarisasi infrastruktur

B. Pemassalan Festival Sepakbola Usia Dini
Selama ini, lembaga pengelola sepakbola di Indonesia masih memprioritaskan pembinaan pemain-pemain senior melalui penyelenggaraan kompetisi senior. Untuk pembinaan usia dini dan usia muda justru pihak-pihak swasta seperti Medco Foundation, Danone Aqua atau Kompas Gramedia yang member perhatian lebih pada segmen ini. Pihak swasta itu secara rutin mengadakan kejuaraan tahunan untuk para pemain usia muda.

C. Kerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional
Pembinaan pemain usia dini (grass roots) dan usia muda akan dilakukan dengan melibatkan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Sebagai kementerian yang membawahi sekolah-sekolah formal di seluruh Indonesia, Kemendiknas bisa dikatakan mempunyai sumber daya besar berupa bakat-bakat yang tersebar di seluruh Indonesia. Para pemain usia dini dan muda yang merupakan calon-calon pemain profesional ini sebagian besar merupakan pelajar-pelajar yang mengenyam pendidikan formal di sekolah-sekolah umum.

D. Revitalisasi Diklat Sepakbola
Salah satu contoh embrio pembinaan usia muda yang melibatkan Kemendiknas adalah Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP). Sayangnya, embrio itu tidak mampu dipertahankan sebagai wadah pembinaan berkesinambungan. Belakangan perhatian terhadap program PPLP semakin berkurang. Akibatnya program ini bisa dikatakan belum mampu beroperasi secara maksimal dan cederung terbengkalai.

E. Pembentukan Akademi Sepak Bola Tingkat Nasional
Kebutuhan akan adanya Akademi Sepakbola yang dikelola oleh PSSI menjadi salah satu jawaban untuk pembmaan pemain usia dini dan usia muda. Akademi semacam ini, selain harus ada di level klub, sepatutnya juga ada di level federasi.

F. Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Pelatih
Persoalan lain yang selama ini menjadi hambatan dalam pembinaan pemain usia dini dan usia muda adalah masalah jumlah dan kualitas pelatih. Untuk pelatih senior dengan lisensi tertinggi yang berhak melatih tim-tim profesional, meski dikatakan masih kurang, tapi jumlahnya sudah lumayan memadai di Indonesia sehingga sebagian besar diantaranya bahkan tidak berkesempatan menangani klub professional.

4. Penerapan Sport Science dalam Sepakbola Indonesia

A. Tantangan Penerapan Sport Science
Persoalan Indonesia dalam penerapan Sport Science adalah minimnya SDM, karena perguruan tinggi di Indonesia, khususnya FPOK, masih menitikberatkan pada kependidikan olahraga, bukan pada iptek olahraga. Sport Science sendiri merupakan aplikasi dari basic science seperti matematika, fisika, kimia dan biologi. Sport Science ini harus tertuang dalam panduan operasional yang jelas, detail, dan kreatif. Formulasi itu perlu disusun dan disebarluaskan agar diketahui oleh pelaku sepakbola di negeri ini, dari pengurus PSSI, pengurus klub, dan stakeholder sepakbola lainnya.

B. Pelaksanaan Kerjasama Internasional untuk penerapan Sport Science
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengadaptasi pendekatan Sport Science dari Negara yang telah maju di bidang ini. Hal ini membutuhkan hubungan baik antarnegara yang bisa membuahkan pertukaran iptek. Pelaku sepakbola nasional Arifin Panigoro telah mengawalinya melalui kerjasama dengan Australian Institute of Sport (AIS). Negara ini memang dikenal luas telah mengembangkan Sport Science secara konsisten dan sudah tampak hasilnya dalam performa tim nasional Australia. Pertemuan pertama telah dilakukan pada 5 April 2011 di Jakarta dengan perwakilan AIS untuk pembicaraan awal mengenai kerjasama ini. Pihak Kemenpora pun sudah melakukan hal ini, mulai menjalin kerjasama dengan Korea National Sport University (KNSU). PSSI dapat mempererat komunikasi dan kerjasama dengan Kemenpora, sebagai kementerian yang membawahi bidang olahraga dimana sepakbola termasuk di dalamnya, untuk mempercepat proses pembelajaran dan penerapan sport science dalam lingkungan sepakbola nasional.

5. Pembentukan Tim Nasional yang berkualitas

A. Pembenahan Tim Nasional yang menyeluruh
Timnas adalah produk dari sebuah proses panjang yang saling berkesinambungan. Dari permasalahan infrastruktur, pembinaan usia dini, kualitas kompetisi, serta bagaimana manajemen timnas itu sendiri dijalankan. Infrastruktur yang memadai adalah kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar. Hanya dengan infrastruktur yang memadai, maka talenta-talenta yang kita miliki akan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Pemerintah harus berperan aktih memenuhi tersedianya infrastruktur ini. Di sisi lain, tugas PSSI juga untuk meyakinkan pemerintah bahawa tanpa peran serta mereka, akan sulit melahirkan dan menumbuhkan bakat-bakat yang ada di negeri ini.

B. Pembentukan Manajemen Tim Nasional yang Mandiri
Hal ini dilakukan agar dapat memberikan prestasi maksimal, dan timnas pun harus dibangun secara progresif dan menyeluruh. Pembentukan timnas tidak boleh lagi dilakukan secara instan. Untuk itu, timnas harus dikelola secara profesional dengan ditunjang oleh manajemen yang mandiri, kuat, dan memiliki orientasi bisnis. Ke depannya, manajemen timnas harus bisa menghasilkan pemasukan dari kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Dengan begitu, mereka akan bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa bergantung kepada kucuran dana dari PSSI maupun bantuan dari Pemerintah melalui APBN. Bahkan manajemen timnas diharapkan kelak justru bisa memberikan kontribusi lebih besar kepada PSSI. Bukan saja berupa prestadi yang telah lama diidam-idamkan pecinta sepakbola di Tanah Air, melainkan juga kontribusi dari sisi komersial.
Demikianlah makalah saya, semoga bisa membantu dan membuka wawasan mengenai sanksi FIFA. Semoga Allah SWT menunjukkan kepada kita sosok kebenaran dan jalan yang lurus agar perjalanan sepakbola kita terus di ridhoi dan diberi keberkahan. Amin. "Mari Bung, Benahi dan Rebut Kembali!" Wasalam. Terima kasih.

Makalah 2:

MAKALAH
"TUJUH BUTIR MENUJU SUKSES KLB PSSI"

















Oleh:
Drs. H. Sumaryoto
Ketua Indonesia Football Watch (IFW)/
Anggota Komite Normalisasi PSSI













Jakarta, 23 Juni 2011

mengusung George Toisutta dan Arifin Panigoro. Padahal kalau kedua nama tersebut diakomodasi, atau paling tidak sekadar dibacakan dalam KLB, otomatis FIFA akan menjatuhkan sanksi karena dengan demikian KLB dianggap gagal lantaran tidak sejalan dengan garis kebijakan FIFA. Sanksi itu berupa suspend hingga banned (pembekuan).

Siapa yang akan rugi bila PSSI terkena sanksi? Tentu kita semua. Lihatlah nasib anak-anak kita yang sedang belajar sepakbola dan bermimpi bertanding di event internasional. Bila PSSI terkena sanksi, mimpi mereka pun akan kandas.

Lihat pula adik-adik kita yang kini menjadi pemain sepakbola profesional dan menggantungkan hidup keluarganya pada sepakbola. Bila PSSI terkena sanksi, mereka pun akan gantung sepatu dan kehilangan mata pencaharian. Kalau keluarga mereka telantar, siapa yang mau bertanggung jawab?

Lihat pula nasib pelatih, wasit, dan inspektur pertandingan yang menggantungkan hidup pada sepakbola, serta pedagang kali lima yang biasa mengais rezeki di setiap pertandingan sepakbola. Bila PSSI terkena sanksi dan pertandingan-pertandingan berkurang, sumber nafkah mereka pun terancam.

Lihat pula nasib Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang akan berlaga pada SEA Games XXVI di Palembang, November mendatang. Bila PSSI terkena sanksi, otomatis Timnas tak akan bisa bertanding, kendati di kandang sendiri. Kesebelasan negara lain juga tidak berani bertanding melawan Indonesia, karena mereka pun akan langsung terkena sanksi. Bahkan mungkin tidak akan ada pertandingan sepakbola di SEA Games 2011.

Demi suksesnya KLB PSSI, semestinyalah masing-masing pihak menanggalkan hawa nafsu atau egosentrisme masing-masing. Dalam konteks ini perlu dilakukan pertemuan antara Ketua KN Agum Gumelar, George Toisutta, Arifin Panigoro, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, dan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/Komite Olimpiade Indonesia (KONI/KOI) Rita Subowo. Pertemuan tersebut untuk membangun kesepakatan setengah kamar, sehingga KLB di Solo tinggal ketok palu saja. Bila perbedaan pendapat antar-pihak-pihak tersebut sudah dapat diselesaikan, maka 80 persen dari persoalan KLB sudah selesai.

Butir kedua yang menjadi prasyarat suksesnya KLB adalah dukungan dari delegasi pemegang hak suara.
"Vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan," kata pepatah Latin yang dipopulerkan oleh Alcuin pada abad ke-8 dan sejarawan Inggris, William Malbesbury, pada abad ke-12.

"Salah satu dari lima cara untuk menang adalah merebut simpati dan dukungan rakyat/' kata Sun Tzu, filsuf dan ahli strategi perang asal China yang hidup pada tahun 500 Sebelum Masehi (SM).

Dalam konteks ini, terutama untuk mengukur seberapa besar kekuatan suara masing-masing pihak, perlu dipetakan kekuatan para pemegang hak suara KLB, antara yang mendukung keputusan FIFA dan yang menolak keputusan FIFA melarang George Toisutta dan Arifin Panigoro. Peta kekuatan suara ini sangat penting bagi lancar dan suksesnya KLB.

Berdasarkan pengamatan sementara, kekuatan pendukung keputusan FIFA atau segaris dengan tugas KN adalah 51 dari 100 suara delegasi pemegang hak suara KLB, dan kekuatan yang menolak keputusan/ketetapan FIFA adalah 49 dari 100 suara delegasi pemegang hak suara KLB, atau rasionya 51:49.

Tabel Peta Kekuatan Suara

No. Delegasi KLB Pendukung FIFA Penolak FIFA Jumlah
1. Pengprov PSSI 14 19 33
2. LSI 7 8 15
3. Divisi Utama 6 10 16
4. Divisi I 9 5 14
5. Divisi II 9 3 12
6. Divisi III 6 4 10
Jumlah Total 51 49 100

Catatan: Dari 101 Delegasi Pemegang Hak Suara, 1 (satu) di antaranya terkena diskualifikasi, yakni PSM Makassar, sehingga jumlahnya menjadi 100.

Dalam kaitan ini perlu dilakukan pertemuan Ketua KN Agum Gumelar dengan semua calon Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan komisioner Komite Eksekutif PSSI Periode 2011-2015.
Butir ketiga yang menjadi prasyarat suksesnya KLB PSSI adalah kecakapan KN dalam memimpin sidang. Untuk itu, diperlukan strategi jitu.

"Strategi adalah senjata paling ampuh dalam sebuah perang," kata Sun Tzu, filsuf dan ahli strategi perang asal China, penulis buku "The Art of War" atau "Seni Berperang", yang hidup pada tahun 500 Sebelum Masehi (SM). Dalam "The Art of War", Sun Tzu juga menulis, "Panglima yang cakap merupakan aset yang paling berharga."
Dalam kaitan ini, KN selaku "Panglima" KLB juga harus cakap dan memiliki strategi jitu supaya dapat mengendalikan para peserta, sehingga bila ada peserta yang mencoba memancing kekisruhan seperti yang terjadi pada Kongres PSSI 20 Mei 2011 di Hotel Sultan, Jakarta, pemimpin sidang dengan mudah dapat mengendalikannya.

Apalagi, dalam strategi ke-18 dari 36 strategi perangnya, Sun Tzu menulis,
"Kalahkan musuh dengan menangkap pemimpinnya. jika tentara musuh kuat tetapi dipimpin oleh komandan yang mengandalkan uang dan ancaman, maka ambil pemimpinnya. Jika komandan mati atau tertangkap, maka sisa pasukannya akan terpecah belah atau lari ke pihak anda. Akan tetapi jika pasukan terikat atas sebuah loyalitas terhadap komandannya, maka berhati-hatilah karena pasukan akan dapat melanjutkan perlawanan dengan motivasi balas dendam."

Belajar dari pengalaman penyelenggaraan Kongres PSSI 20 Mei 2011 di Hotel Sultan, Jakarta, yang berakhir deadlock, maka perlu dibentuk Steering Committee (SC) atau Panitia Pengarah dan Organizing Committee (OC) atau Panitia Pelaksana. Dari tujuh komisioner KN, perlu ada penegasan pembagian tugas, tiga orang sebagai SC, tiga orang sebagai OC, satu orang, yakni Ketua KN Agum Gumelar sebagai Ketua SC/OC. Perlu pula dibentuk Panitia Lokal KLB.

Butir keempat yang menjadi prasyarat suksesnya KLB PSSI adalah kelengkapan dan kesiapan perangkat KLB, seperti dasar hukum yang menjadi legitimasi KLB, administrasi, hotel tempat KLB, ID Card delegasi, fasilitas Electronic Voting atau E-Voting, setting arena KLB, layar, sound system atau tata suara, kertas suara, papan nama dan sebagainya.

Butir kelima yang tak kalah penting bagi prasyarat suksesnya KLB PSSI adalah suasana kultural dan spiritual serta kondisi keamanan Kota Solo, keamanan di dalam dan di luar arena KLB, dan atmosfer sepakbola Kota Solo yang kondusif.

1. Suasana Kultural.
Solo dikenal sebagai Kota Budaya yang warganya memiliki tingkat kesantunan yang tinggi. Kesantunan ini diharapkan bisa "menular" ke para peserta KLB, sehingga mereka bisa bersikap santun di arena persidangan. Terkait hal ini, Walikota Surakarta Joko Widodo selaku tuan rumah mengambil prakarsa bahwa para peserta KLB yang mendarat di Bandara Adi Sumarmo akan disambut dengan tarian tradisional, serta disediakan pendamping atau pager ayu hingga ke tempat KLB. Juga akan dilakukan kirab peserta KLB. Panitia juga akan menggelar pertunjukan wayang kulit pada malam sebelum KLB dengan dalang Ki Jlitheng Suparman dari Sukoharjo dengan lakon "Lahirnya Gatotkaca", diiringi dengan pentas musik keroncong oleh Grup Musik Keroncong "Gesang".

2. Suasana Spiritual.
Masyarakat Solo meyakini bahwa 9 Juli 2011 atau 7 Ruwah dalam penanggalan Jawa, jatuh pada hari Sabtu Pon yang berwatak lakuning banyu (aliran air), wasesa segara (seperti laut), di mana para pemimpin, termasuk pemimpin KN, pemimpin klub sepakbola dan Pengurus Provinsi PSSI yang menjadi peserta KLB, diharapkan dapat lembah manah (rendah hati) dan sabar.

3. Keamanan.
Kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) Kota Solo relatif stabil sehingga sangat kondusif bagi penyelenggaraan KLB. Kondisi Kamtibmas di dalam dan di luar lokasi KLB juga diupayakan kondusif.

4. Atmosfer Sepakbola.
Atmosfer sepakbola Kota Solo juga sangat mendukung. Pasca-penetapan Solo sebagai lokasi KLB, misalnya, masyarakat sepakbola kota ini langsung menggelar doa bersama demi suksesnya acara KLB. Inilah atmosfir yang kita harapkan.

Butir keenam yang menjadi prasayat suksesnya KLB PSSI ialah sikap tegas pemerintah. Dengan diberikannya kesempatan terakhir ini, kita juga berharap pemerintah tidak gamang lagi. Pemerintah wajib turut serta menciptakan iklim kondusif bagi terselenggaranya KLB. Langkah paling konkret dan mudah dilakukan adalah mengimbau George Toisutta-Arifin Panigoro untuk legawa menerima keputusan FIFA. Apalagi masih ada beberapa tokoh alternatif yang tak kalah kelas dari keduanya untuk memimpin PSSI. Sebagai KSAD, kita yakin bila pemerintah mengimbau, Pak George Toisutta niscaya menurutinya. Begitu pun Pak Arifin Panigoro yang kita kenal dekat dengan Pak SBY.

Butir ketujuh yang menjadi prasyarat suksesnya KLB PSSI adalah doa restu dari seluruh rakyat Indonesia bagi aman, lancar, tertib, damai, dan demokratisnya penyelenggaraan KLB sehingga berhasil melahirkan pengurus baru PSSI yang bersih dan profesional. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Doa adalah senjata bagi orang beriman."

Untuk itu, marilah kita berdoa bagi suksesnya KLB PSSI di Solo.
KLB adalah kesempatan terakhir yang diberikan FIFA setelah Kongres 20 Mei 2011 gagal. Untuk itu, marilah kita gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, karena kesempatan emas tak pernah datang dua kali, dengan menanggalkan hawa nafsu dan egosentisme kita masing-masing. Marilah kita selamatkan PSSI dari ancaman sanksi FIFA dengan menyukseskan KLB di Solo supaya berhasil melahirkan pengurus baru PSSI demi masa depan sepakbola Indonesia.

Marilah kita gunakan KLB sebagai ajang rekonsiliasi (islah) bagi pihak-pihak yang selama ini berbeda pendapat.

Akhirnya, izinkan saya menutup makalah ini dengan mengutip ayat (11) Surat Ar Rad: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya."

Jakarta, 23 Juni 2011

.
Sumaryoto



***maaaaaaap, agak berantakan. sayanya keburu lapar mau ngedit teh. gapapa yah. da baik :)