Thursday, September 22, 2011

Arsip: Puisi-puisi yang dimuat di Jurnal Sajak

A NIGHT AFTER THE LOVE THAT I WANT TO MAKE

malam ini aku tak mau mandi.

masih meruap peluhmu di pepori rambut
dan kulitku. di labirin telingaku tersesat
nafasmu, di mana aroma pasta gigi berusaha menggusur rokok kretek. tak
kubiarkan tanganku menggaruk apapun, meski nyamuk mendarat di mana pun sesukanya
dan membuatku bentol

aku tak ingin menghapus sidik jarimu.

ah, ada kancing kemejamu tercecer di lantai. Biar kusimpan di toples, bersama
helai
rambutmu yang tadi sempat tertinggal
di jejariku. sambil memandangi toples,
aku tibatiba ingat pelajaran biologi, tentang bintilbintil di lidah. aku meragukan wilayah kekuasaan rasa, karena
runcing ujung lidah maupun pangkal milikmu terasa manis, mungkin karena sisa permen
yang kau kulum sehabis merokok, yang membuat gigimu ngilu
dan kau akhirnya memutuskan untuk gosok gigi.

adakah kau kecap bedanya rasa
antara bahu dan lututku, leher dan punggungku?

kau telah pulang, sedang kini aku meringis
mengingat iris kukumu memanjang di punggung
dan perutku, merinding merasai hidungmu menyusur dada kiriku sungguh
lengket tubuhku
yang berembun hingga kini,

tapi tetap aku tak mau mandi.

sabun akan membilasku,
aku tak sanggup membayangkan sabun bersekongkol dengan shower menjadi
semacam penghapus yang menyapu katakata pak guru
di papan tulis, sementara aku belum selesai mencatat...

tidak, aku tak mau mandi malam ini.


**Sempat dimuat di Pikiran Rakyat 04 April 2010

NARCISSUS

Narcissus, kemarilah. Apa yang kau cari
di telaga itu?
Wajah siapa yang kau amati dari air yang tak jernih lagi?
Narcissus, mengapa kau tak mau bercermin di mataku saja, atau perlukah
kupakai lensa kontak agar kau merasa lebih kerasan sekadar menemukan kau
masih tampan?

Echo, diamlah. Apa lagi yang mesti kau serukan, saat katakata yang berloncatan
hanyalah gema yang tidak dianggap apa-apa? Mengapa mendendam karena kata
cinta yang dipaksa pendam sedang kau memang lebih baik diam?

Nemesis, hentikan ayunan pedangmu.
Mengapa mencelakai anak muda yang baru mengenal rupanya sendiri?
Apalah yang kau sebut kesombongan,
saat tidak akan adil jika kecantikan
hanya dibagi untuk satu orang lain saja?
Bukankah hati yang patah berjamaah akan bisa ditanggung lebih mudah
daripada seluruh negeri menanggung iri
pada gadis yang bahkan tak bisa
mengungkap perasaannya sendiri?


**Sempat dimuat di Pikiran Rakyat 04 April 2010

AKU INGIN KEMBALI MENJADI IBUMU SAJA

aku ingin kembali menjadi ibumu saja.
selalu mendekaplekat dirimu hanya untuk meneguhsiapkan hati, untuk
menyapihmu. aku ingin kembali menjadi ibumu saja.
senantiasa menyiapkan makan malam dan doa, yakin bahwa kau akan
baikbaik saja, bahwa aku perlu menyambutmu pulang, meski tak lagi
kau dentingkan sendok ke piring, dan ranjangmu serapi bulan lalu. bahkan
ponselku semakin jarang berdering.

aku ingin kembali menjadi ibumu saja. yang menangis saat kau lelap, selalu
siap menghalau gundah dengan senyum dan seribu kata bijak yang barangkali
tak sengaja kujiplak.
aku ingin kembali menjadi ibumu saja. memberi dan mencereweti, tanpa
terluka hargadiri saat kau membuang semua ke pojok ingatan,
menyisakan janji salin tanpa kau cuci dari jejak ingkar.
aku ingin kembali menjadi ibumu saja. bertanya bukan
untuk menggiring,
menjawab bukan untuk gelisah yang sengaja dijaring.

aku ingin kembali menjadi ibumu saja.
menua dalam tunggu tanpa layu.


**Sempat dimuat di Pikiran Rakyat 04 April 2010

DENGKING

ringkik malam tersesat di jam tanganku.
membuat puisi-puisiku gemetar
dan aksara-aksara berhamburan.
hujan menancapkan tanya yang itu-itu juga,

“Haruskah kutiduri resahmu tiap fajar mekar?”

ranjang dingin, dan aku sibuk menjilati jemari
sehabis kau cabuti kuku-kuku yang selalu
mencakari mimpimu.


**Sempat dimuat di Pikiran Rakyat 04 April 2010

ANOTHER UNTITLED

Telah kuseka nafasmu
dari leherku;
tapi menghapus
degup jantungmu
di nadiku
tak semudah
mengenyah
remah roti
di sudut bibirmu
tempo hari...

NEGERI INI

negeri ini kucintai dan kubenci dengan alasan yang sama:
karena tak ada yang biasabiasa saja.

Semua di negeri ini selalu terlalu lebih atau sangat kurang, hingga selalu
mencetak pertanyaan yang semua jawabannya tak muat. Dengan itu aku mencintainya,
karena membuatku berpikir keras dan tertawa, menulis dan membaca.

Tapi dengan itu pula negeri ini kubenci,
karena harapan mengempis dengan cepat
dan kecewa datang jauh sebelum lonceng dibunyikan.

Negeri ini selalu mendatangkan semuanya
serba tanggung, bingung dan canggung.

Terkadang cerewet seperti sinetron yang mengandalkan
perempuan pesolek selalu menangis
berhadapan dengan lelaki perajuk di tiap episode.

Namun terkadang dia pendiam tak ubahnya keset yang bertahuntahun hanya
mampu menyambut dengan cara mempersilakan ucapan selamat datangnya dinjak
semua kaki pendatang maupun pemergi.

Negeri ini kucintai karena melahirkan banyak puisi, dan kubenci
karena diselasela tiap sajak terlalu deras airmata dan hela putus asa.

SINDANGSARI, 
LAPORAN PERJALANAN HARI PERTAMA

Barangkali itulah tangga ke surga.

Padipadi gemuk menguning dalam sawah bertingkat diselingi ubi atau kacang tanah,
juga tembakau: yang dalam mataku tampak seperti nasi liwet, ubi dan kacang rebus,
juga rokok kurus yang dilinting sendiri.

Aku luput melihat betapa sepinya kampung selain beberapa orang, embikan
kambing dan lenguh sapi. Aku juga alpa mengabsen tikus ditengah gerumbul padi
yang tinggi, ataupun mencermati secarik kertas di papan pengumuman luar kantor
desa berisi tarif pengurusan administrasi yang jelas disebut dalam dua versi, perda
dan non perda (tanpa mencantumkan bunyi perda apalagi penjelasan tentang siapa itu non perda).

Aku hanya bisa menghitung dua sekolah dasar, negeri dan islami, sembari
mengeluhkan jalan penuh batu yang merusak sepatuku. Aku terpesona pada
sekawanan bambu, selangselang yang mirip nadi, dan keliaran anjing. Aku tak
menghidu bekas longsor dan banjir sejak terheranheran melihat serakan sampah
plastik ditepi jalan setapak.

Aku tetap tersenyum meski tak kujumpai pemuda, hanya anak wanita dan orangtua
yang jelasjelas tak masuk kriteria untuk kugoda. Hingga akhirnya, aku hanya
mengingatkan diri untuk berbaju cerah dan berlengan panjang. Tak ada pohon tua
dan besar yang dengan bijak menghalau terik saat kau menyusur jalan lebar berlubang
itu.


*Sindangsari adalah nama sebuah desa di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang. Desa ini dipilih menjadi tempat penelitian untuk matakuliah Metode Etnografi. Puisi ini lahir setelah observasi hari pertama, 19 April 2010

YANG LUPUT DARI MAUT

adasaja yang luput
dijemput oleh maut.
Perlahan mengabut dalam sekali angin bersiut.
Memerangkap jeda
mengusir Tanya;
tak acuh pada almanak lusuh.

DOA SEBELUM TIDUR

Dua pertiga malam,
simpang sepi;
Pada piyama aku berjanji
Kali ini meriap mimpi
tanpa sesaji jeri
dan asap duka,
tanpa mantra lara.
Semoga matahari lupa
bangun dari cakrawala
dan aku tak perlu terjaga.

MATA-BULAN

Selalu, sabit rembulan di sudut matamu
pelahan berubah menjadi gerhana,
menghunus bimbang di antara leluka yang mengambang;

Menuntunku dari simpang sepi
Ke purna sunyi...


**Sempat dimuat di Pikiran Rakyat 04 April 2010

JAM MALAM

Malam mengangkat senapan
Rumah-rumah dibekap
Jalan-jalan dilapangkan
di sela-sela peluru dan serdadu.