Sunday, October 23, 2011

mengapa sudah lama saya (nampaknya) tak menulis lagi.


Ini bukan salah siapa-siapa. Bahkan, ini bukan kesalahan. Hanya kekalahan lain, di sebuah pertarungan yang itu-itu saja; melawan letakutan-ketakutan yang menyumbat setiap pori-pori, yang membuat pikiran saya berjerawat dan berdaki. Saya masih menulis, tentu. Hanya saja tidak dipublikasikan. Tidak seluruh catatan harian perlu dikabarkan, apalagi, menulis kini seperti berhadapan dengan air gunung yang dingin ketika hendak mandi; tangan yang menjulur ragu menyentuh air, kemudian sejenak bimbang, tidak mau mandi tapi sudah terlanjur telanjang. Di masa-masa panik seperti itu, pilihannya ada tiga: memakai pakaian dan urung mandi, mandi tapi tergesa dan belum tentu bersih, atau sengaja menantang gigil dan istiqomah mandi dengan rinci, sebersih mungkin. 

Saya kerapkali memilih yang pertama, karena saya bukan main pemalas. Ini buruk sekali. Bagaimana mungkin seorang yang berharap menjadi pengrajin kata-kata menghindari bercebur-ceburan dengan kata-kata. Oh, bisa jadi demikian, hanya saja, sudah hampir dapat dipastikan, keterampilannya menurun tajam--kalau bukan terjun bebas lalu mampus ringsek di jurang. Tapi sebenarnya, saya gerah juga. Maka kadang-kadang ada pilihan keempat: mengelap seluruh badan. Tentu saja tidak sesegar mandi, tapi cukup membawa lega dan memuat saya dapat tidur cukup. Dan ketika terbangun, yang pertama terlintas adalah saya harus mandi hari ini. Jika saya tak ingin pergi kemanapun, tentu saya akan menarik selimut, dan berusaha memejam mata. Tapi jika saya ingin pergi, ingin beranjak dari tidur yang sudah tak dapat dilanjut lagi, saya akan memaksa bangun dan mandi. Serinci mungkin. Sebersih mungkin.

Kali lain, saya kerap merindukan mitra menulis, yang mengirimi saya sepucuk surat dan mengharuskan saya membalasnya. Seperti seorang teman atau kekasih yang mengetuk pintu dan mengajak saya berjalan-jalan, dan saya harus mandi dan berapi-rapi. Yang saya butuhkan, akhir-akhir ini, adalah keberangkatan. Jika terus tinggal disini, saya hanya akan berdiam diri, bau, dan dekat dengan undur diri. Menghilang. Karena saya sedang tidak tahan berdua-duaan dengan bayangan sendiri, meskipun di tempat ramai dan banyak orang asing, saya cenderung tiba-tiba tak disana, tak dimanapun selain pergi ke sarang ketakutan-ketakutan yang sebenarnya cukup berlebihan dan menggelikan. 

Lebih dari semua yang saya rindukan, saya rindu sekali menulis puisi. Pekerjaan yang sebenarnya baru beberapa tahun saya seriusi ini seru sekali. Tak ada yang lebih menggairahkan ketimbang berjam-jam menulis puisi, seburuk apapun hasilnya. Rasanya lelah sekali menunggu dapat menulis puisi lagi. Seolah-olah waktu habis begitu cepat sedang saya tak merasa bahagia. Bukan cuma tak bahagia, saat takbisa menulis puisi, rasanya saya menua dengan teramat cepat, dan usia saya terampas sia-sia. Saking putus asanya, kadang-kadang saya ingin jadi penyair ngepet sajalah. Saya pikir saya akan dapat memaksa seseorang untuk menjaga lilin dan telur selama saya keluyuran dan mencuri ide-ide. Tapi sialnya, tak ada satupun dukun yang bisa saya hubungi untuk mewujudkan mimpi itu. Terpaksa, saya mencatat hal-hal lain, untuk menjaga kegatalan menulis. 

Misalnya, saya mencoba menulis perempuan. Tadinya sih, dijuduli sebulan menulis perempuan. Ternyata saya tak sanggup menahan gigil dan hanya dapat beberapa kali menulis serabutan. Ya, semoga saja bisa cukup baik untuk dibagikan di blog atau bukumuka ini pada duadua desember. Kalau tidak, well, berarti keadaan saya lebih mengkhawatirkan daripada yang selalu saya sangkakan.

Tolongin baim, ya alloh....

1 comment:

rezanov said...

mari terus menulisss :D
salam kenal!