Saturday, October 13, 2012

Si Pengungsi Mazen Maarouf


Namanya Mazen Maarouf. Dia adalah penyair keturunan Palestina, dari salahsatu keluarga pengungsi Palestina 1948 yang lahir dan tumbuh di Lebanon. Lahir pada tahun 1978 di kamp pengungsi, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya pada universitas Beirut dan menyandang sarjana Kimia. Empat tahun lalu, ia memulai karir di dunia jurnalistik dengan menjadi sebagai kritikus seni dan teater. Lebih lengkap mengenai biografinya, dapat ditengok disini:


Oke. Saya memang  agak malas menulis ulang biografinya. Mari kita bicarakan hal lain saja. Saya jatuh cinta pada Mazen pada tayangan Poets of Protest bagian ke-5, yang dapat disimak disini:


dan mulai iseng-iseng menerjemahkan apa yang dia sampaikan di film itu, plus beberapa puisinya yang saya tweetkan beberapa minggu lalu. Tak ada niat yang lebih serius, tapi, sejak saya berutang pada Dobby dan dia meminta saya posting di blog, saya akhirnya merasa perlu untuk menulis ulang tweet itu ke dalam satu catatan. Sudah dapat ditebak dari pembukanya yang bertele-tele bahwa saya kesulitan untuk mengawali tulisan ini dan bahwa tulisan ini akan panjang sekali. So here it is.

“It is the mission of how to reconstruct the dirt, this is poetry, maybe to make a rose out of dust.”
Begitulah Mazen berkata pada Roxana Vilk, pembuat film dokumenternya. Film dibuka dengan adegan ia berjalan pada suatu jalan di Reykjavik, Islandia, tempat yang, tak pernah ia bayangkan, tempat ia tinggal kini, dalam rangka writer residency. Ia memperkenalkan diri sebagai seorang Palestin yang seumur hidup tinggal di Beirut dan sekarang, karena alasan (puitis dan) politis, tinggal di Islandia. Ia memasukkan tangannya ke dalam salju dan tersenyum, lalu berkata, “Sungguh ajaib jika kita membayangkan bahwa ini semua adalah bekuan air. Ini adalah sebuah danau, dan disini, kita semua dapat menjadi Kristus karena kita semua dapat berjalan di atas air... yang membeku.”

Sambil berjalan ia berkata, “Menulis puisi adalah perjalanan tanpa arah yang pasti. Yang kubutuhkan sebagai bekal adalah buku catatan. Buku catatan ini adalah tas yang kosong. Dan ketika aku berjalan, aku mengisinya. Terkadang aku tak menulis apa-apa. Sampai dua-tiga bulan, tak juga tulis apapun. Ini kerap membuatku gelisah."

Mengenai tempat tinggal barunya, Mazen bilang, “Datang ke negeri yang damai, tak ada tentara, tak ada senjata, adalah pengalaman yang membingungkan untuk orang yang tumbuh di Arab.” Sebagai keturunan pengungsi Palestin tahun 1948, ia tahu betul bahwa keluarganya mengungsi karena alasan politis. Kini, di Islandia, sebagian alasannya kemari juga karena alasan politis. “Beirut selalu mendatangkan perasaan aneh padaku. Ia adalah kotaku, tapi di sisi lain, ia juga selalu menentangku.”

Di tengah film, ia terbang ke Paris, untuk puisinya yang sedang diterjemahkan di sana. Pada tahun 2002, di Lebanon, dalam puisinya yang berjudul D. N. A, ia menulis tentang Paris, tanah yang belum pernah ia pijak kala itu, tempat yang ia impikan, sebagai tempat untuk berlari, tempat terakhir untuk mendapat hormat. Suatu tempat yang jauh, nun di garis batas cakrawala, dan kini, ia di sana, untuk menerbitkan bukunya.

Di Prancis, orang-orang yang lewat banyak yang mengira ia orang Prancis, dan ia berucap, jika saja orang tahu ia seorang Palestin, orang-orang akan berpikir, “Ah, ia seorang pengungsi,” dan orang-orang akan iba, akan ingin memeluknya dan berkata-kata manis penuh simpati, siap mencurahkan airmata. Pada orang-orang seperti itu ia akan berkata, “Berhentilah. Palestina tak butuh iba. Palestina butuh pikiran jernih. Kami perlu memikirkan masalah kami, kami tak butuh airmata. Tentu akan ada tangis untuk korban. Kamipun menangis untuk hal-hal buruk. Tapi kami tak perlu berselimut duka.”

Ada gembira dan gugup menghadapi puisi-puisinya yang akan diterjemahkan. Bagaimana si terjemahan kelak dapat memantulkan apa yang ia maksudkan, dan bagaimana orang akan berinteraksi dengan teksnya. Mazen, saya juga jadi gugup menerjemahkanmu. Buku puisinya yang ketiga ini: An Angel Suspended on a Clothesline telah terbit di Beirut. Buku itu terbit setelah ia di Islandia, dan ia cukup bahagia, bahwa suaranya tetap berada disana.

“Kondisi Palestina cukup buruk. Kami berucap tak akan kasar terhadap yang lain, tapi dalam hati, tak banyak yang berubah. Ada kebencian, ada semacam sektarianisme yang ekstrim. Sektarianisme politis, bukan agama. Ketika aku datang ke sana, seseorang mengikutiku, mengawasiku. Mereka tak percaya pada siapapun.”

Ketika Arab Spring dimulai, ia terlibat dalam gerakan, dan hasilnya, ia menerima banyak ancaman. “Revolusi pecah di Syria maret 2011. Aku mendukung gerakan itu dengan menulis artikel dan puisi: mendukung revolusi, sekaligus mengkritik rezim. Kau tak bisa mendukung rezim yang membunuhi rakyatnya dengan cara yang begini brutal. Tentu saja ada yang tak senang, dan kau pasti bisa menduga: aku berada di posisi rawan. Ada bedanya antara menjadi orang Lebanon dan Palestin. Kalau kau orang Lebanon, kau boleh mengkritisi rezim di Syria. Seorang Palestin sepertiku, menulis dan mengkritisi rezim, akan mengganggu banyak pihak, karena bagaimanapun, Syria menyeru ‘Bebaskan Palestin’. Rezim berlindung di balik slogan dan seruan itu. Situasinya menjadi amat rumit, hingga aku terpaksa meninggalkan Lebanon dan pergi ke Islandia. Di Lebanon, aku seorang pengungsi. Di Islandia, keungsiannya lebih tebal lagi. Bertumpuk, dan menambah kepekaan dan semangat untuk menulis puisi.”

“Ketika kutulis puisi, aku menyelami Mazen Maarouf lama, ke dalam ceruk-ceruk kenangannya. Dalam puisi-puisi baruku, aku ingin kembali pada diriku. Bukan pada kehidupanku sehari-hari. Tapi pada konsekuensi-konsekuensi dari kehidupan sehari-hari. Aku menulis untuk mencari kepuasan, karena aku tak puas pada dunia. Kupikir puisi membuat ketidakpuasan kita berkurang. Arab tak banyak berubah sejak abad ke-18. Karena itu kamusnya sudah usang. Kita perlu segera merebutnya. Merombaknya. Memperluasnya.”

Di ujung film, ia berjalan-jalan di kota Paris, mengutarakan niatnya untuk menulis salahsatu puisinya di tembok dengan sebatang kapur. Ia mencari tembok yang cocok untuk dicoreti, dan dapat memuat tulisannya meski hanya sehari saja, sebelum dihapus oleh entah siapa.

 “Aku suka pohonan. Untukku, pohon adalah lampu lalu lintas untuk burung-burung. Hanya burung-burung yang mengerti isyaratnya. Karena itulah burung-burung hinggap dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Mengikuti jejak burung, aku akan berjalan searah dengan pohonan.”

Sayang, pohon habis di suatu perempatan, dan tembok yang ia cari belum ketemu. Maka ia bilang, “Sekarang pakai cara Arab saja, lah. Tanya orang lewat.” Beruntung, dua orang lewat yang ia tanya memberinya satu tempat bagus: Passe Muraille Square di Montmartre. Sebuah tempat bagus buat menulis puisi di tembok. Kalau saja di Indonesia ada tembok begitu. Tapi kalaupun ada, tulisan tangan saya buruk, jadi, tetap saya tak akan bisa corat-coret di tembok juga akhirnya. Puisi yang ia tulis di tembok itu berjudul Handmade.

Dan kini waktunya menerjemahkan puisinya. Beberapa puisinya saya dapat film dokumenter, lalu cek blognya:


Saya tak mampu berbahasa Arab, karena itu, saya terjemahkan dari versi Bahasa Inggrisnya saja.


DNA
There’s one way
to scream..
remember that you are Palestinian.
One way to scrutinize your face
in a bus window as date trees and porters flicker past
and break your reflection.
One way
to reach the ozone layer
lightly, like a helium balloon
or to cry
because you’re a bastard.
One way
to place your hands over the breasts of the one you love
and dream
of faraway things:
a small flat in a suburb of Paris, the Louvre,
loads and loads
of loneliness and books.
One way to die:
inciting the snipers
in the early hours of the morning.
To call your cheating girl
a whore.
To smoke weed in a lift,
alone, at eleven o’clock at night;
to write a miserable poem in the bathroom.
One way
to scream in the gutter
where your face waves again
in a toxic puddle
where you remember, in one way,
you are definitely nothing
but
Palestinian.


DNA
Ada satu jalan
untuk teriak...
ingat kau seorang Palestin.
Ada satu cara
‘tuk amati lekat-lekat wajahmu
dalam kaca jendela
saat bus yang melaju
cepat, lewati portir dan pohonan
memecah bayangmu
Ada satu cara
untuk raih lapisan ozon
ringan, seperti balon helium
atau berseru
karena kau anak asu.
Ada satu cara
‘tuk letakkan tanganmu diatas dada kekasihmu
dan mengimpi hal-hal yang jauh: flat kecil di pinggiran Paris, Louvre.
disana ada banyak, banyak sekali
buku-buku dan sepi.
Ada satu cara untuk mati
menghasut para penembak jitu
kala subuh mulai jatuh.
Untuk menyebut kekasihmu yang curang
Si Jalang.
Menghisap ganja dalam lift,
sendiri, tepat pukul sebelas malam;
menulis puisi buruk di kamar mandi.
Ada satu cara
untukmu berteriak dalam parit
tempat parasmu muncul kembali
dari lumpur bertuba
disana, segera ingatan tiba,
apalah kau
kalau bukan
seorang Palestin.



Space

Space
filled with big rocks
like the Moon,
cannot accommodate
the appeal of the lottery vendor
or absorb
the death of a friend.
It does not open
for children who play football
until the end of the day..
but remains
that outer space
the vendor sighs in the face of..
and we see in it
the visage
of a dead friend.
The outer space
that turns its biggest rock
into a ball
kicked hard
by the children
at the end of the day. 


Ruang
Di ruang
penuh batu
sebesar bulan
tak dapat tampung penjaja lotere
atau menyerap
matinya seorang kawan.
ruang itu tak terbuka
untuk anak-anak
bermain bola hingga petang
tapi teronggok di sana
ruang di luar
Si penjaja mendesah pada seraut wajah...
dan kita lihat di dalamnya
raut muka
mati seorang kawan.
Ruang di luar
yang mengubah
batu terbesarnya
menjadi sebuah bola
keras ditendang anak-anak
pada petang.



My Mother’s Hand
My mother's hand is rougher
than the handle of a stripped door.
with it, I lift the first gift I won in a raffle.
with it, I buy an eraser to remove her face.
My mother's face I erase it all
keeping the wrinkles in there facing me,
like the web of a blind spider.


Tangan Ibuku
Tangan ibuku lebih kasar
dari gagang pintu tak bersepuh.
darinya, kuangkat hadiah pertama dari sebuah undian.
darinya, kubeli penghapus untuk memupus parasnya.
Parasnya, kuhapus tak bersisa
jauhkan mataku dari kerutan-kerutan,
yang bagaikan jejaring laba-laba buta. 



Handmade
I have a simple dream
to make another planet
that can house all my enemies
I proceed into it before them
and live there temporarily.
we nibble its delicious pieces
when we are hungry
the last bite of it
the last bite only
deserves
a fight.


Buatan Tangan
Aku punya mimpi sederhana
membuat sebuah planet
yang dapat merumahkan semua musuhku
Aku datang ke sana sebelum mereka
dan tinggal untuk sementara.
kami menggigiti bagian-bagiannya yang enak
di waktu lapar
pada gigitan terakhir
hanya pada catukan terakhir
layak dapatkan
sebuah perlawanan.



 Stray Bullet
After crossing the living room,
the library,
the long hallway
and the picture that holds us on a trip to the River Alkalb,
then passing the automatic washing machine,
and my mother, exhausted
despite the automatic washing machine,
it bends its trajectory with the force of gravity,
finally rests at the back of my head
and
kills you.


Peluru Nyasar
Setelah melewati ruang keluarga,
perpustakaan,
koridor panjang,
dan foto ketika kita berekreasi ke Sungai Alkalb,
lalui mesin cuci otomatis,
ibuku, kelelahan,
meskipun ada mesin cuci otomatis,
ia belokkan lintasannya dibantu gravitasi,
tiba di belakang kepalaku,
dan
membunuhmu.

Wednesday, May 23, 2012

Setrika

pakaian Tuan telah saya setrika. jika esok tiba dan Tuan telah rapi, bersiap pergi, ketahuilah, Nyonya telah menyiapkan setrika itu, untuk melicinkan punggung saya, karena saya tidak mahir membungkuk dan tundukkan pandangan.

atau barangkali, Nyonya berpikir setrika itu dapat merapikan nafsu Tuan pada saya, tapi Nyonya tidak tahu tentang itu, dan juga tak perlu tahu.

***

Gadis itu berjalan jauh, menyusuri mimpinya, doa orangtua dan bujukan tetangga. Ia tiba di negeri asing, lama menetap tapi tak kunjung lancar mengucap kata-kata dalam bahasa yang tidak ia pahami. Huruf-huruf kemudian kikis; ia belajar bahasa lain sebagai pelayan rumah majikan: Mandi air panas sedari pagi, hentak bentakan yang tak berujung, setrika di punggung, hingga menjadi pakaian Tuan di malam-malam sepi.

Orangtua dan tetangga sudah lama tidak dapat dihubungi lewat percakapan biasa. Hanya paket kiriman dan alih tabungan, sampai akhirnya semua menemu henti, mereka kebingungan ketika potret si Gadis tersebar di harian nasional: mengabarkan kepulangan yang tertunda, dalam sepeti kekalahan dan kesedihan yang dipaksa redam.



---

tadi waktu nyetrika, perempuan di kepala saya lebih lancar bercerita. barangkali saya perlu menyetrika kepala saya juga.

Thursday, April 5, 2012

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Itulah sebabnya, surat yang kukirim untukmu semakin pendek dan semakin banal. Aku tidak lagi bisa berpanjang-panjang menceritakan kecemasanku, tidak tentang negara yang semakin memualkan, atau tentang puisi yang berlari, semakin jauh saja dari jangkauku. Barangkali karena beban kuliah, barangkali aku frustrasi karena belum juga menemukan judul skripsi, atau karena aku tak kunjung bisa mengerjakan statistika. Aku merasa kesepian tanpa dihibur banyak kata-kata. Mungkin mereka pergi setelah aku semakin jarang membaca. Padahal malam-malamku masih jahanam senantiasa: tidur yang singkat dan mimpi-mimpi buruk tak henti berkelebat. Tapi aku tak bisa membaca. Setelah lama kutinggal, aku sepertinya harus mengulangi perkenalanku dengan mereka; mengambil jalan memutar, atau mengadakan semacam ritual, semacam ruwatan, entah apa, agar kami kembali bisa menghentikan gencatan senjata, dan aku kembali bertengkar, setidaknya berpikir, bersama mereka.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Kapan terakhir kali aku membaca? Baru kemarin rasanya. Kapan terakhir kali aku utuh membaca? Aku sudah tak ingat. Beberapa minggu kemarin aku membaca buku anak-anak tentang perpustakaan ajaib dan buku surat. Kau tahu, untuk buku semacam itu saja aku memerlukan waktu yang agak panjang, awalnya karena aku merasa penerjemahannya kurang bagus, tapi kurasa, aku hanya banyak berdalih. Bukankah dulu aku bisa menghabiskan buku seperti itu hanya dalam beberapa jam, tidak peduli seburuk apapun kerja penerjemahnya. Mungkin aku terlalu banyak mengeluh, dan buku-buku itu merasa tak nyaman jika dekat denganku. Bayangkan saja, aku sering menunggui perpustakaan, dan aku hanya bisa membaca beberapa halaman saja selama menunggui perpustakaan. Aku merasa miskin akhir-akhir ini. Aku merasa kering. kau bilang aku harus mulai menjaga jarak dengan telepon genggam. Barangkali kau benar, dan untungnya, di kamar baruku, sinyal untuk telepon genggam tidak begitu baik. Aku tidak lagi banyak menoleh pada telepon genggam. Dan kamarku sepi.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Aku mulai lagi membaca, terengah-engah, tapi kupaksa juga. Rasanya nyaris seperti ketika aku ingin shalat lagi: kadang di tengah-tengah aku lupa bacaan, hitungan rakaat, dan rasanya aku malas melakukannya lagi. Tapi akhirnya kuselesaikan juga. kau tahu betul, itulah caraku mengatasi masalah, melaksanakan hidup. Aku akan berlari, menarik diri, untuk kemudian memaksa diri mneghadapinya dengan segenap ketakutan, kecemasan, dan gengsi, lalu menyelesaikan semuanya. Semakin tua, rasanya semakin memakan waktu yang lama, juga energi yang besar. Tapi aku belum punya cara lain. Cara terburuk pun sepertinya lebih baik daripada diam saja. Aku tidak punya banyak kesabaran untuk duduk diam, dan ketika aku mengalami fase dimana aku lebih banyak diam dan menolak dunia, aku yang kerepotan sendiri. Aku hidup dan melawan karena tidak punya pilihan lain, Sayang. Aku tidak punya pilihan lain. maka terpaksa aku bangun dan menghampiri rak buku, memilih satu judul dan mencoba bersetia membaca.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Kau ingat pada surat-surat awalku? Aku menggugatmu, bahkan sebelum kita berpacaran, sedang kita mulai dilanda kasmaran. Aku menggugat pendapatmu, dan menulis sebuah surat panjang yang isinya aku sudah lupa. Aku juga pernah menulis sebuah esai panjang untuk tugas-tugasmu, atau ketika aku berbeda pendapat denganmu tentang satu masalah tertentu. Aku ingat, jika pendapatku berbeda denganmu, aku akan berlari ke rak buku, membaca, lalu menulis, untuk menyerang pendapatmu. Kau akan membalas dengan lisan, membahas tulisanku, dan kita akan baikan. Aku rindu menulis surat-surat semacam itu. Tapi kau sedang begitu sibuk, sedang aku begitu manja. Aku sudah merasa terlalu nyaman menulis untukmu, dan ketika kau sedang tidak bisa diganggu, aku jadi malas dan taklagi menulis. Terlalu banyak dalih, Sayang. Terlalu banyak dalih. Dan aku mulai lelah membiakkan mereka....

Monday, April 2, 2012

Kembali membaca.

"Seorang lelaki menulis puisi kepada angin. Angin berlari, dan puisi itu tersangkut pada rambut panjang seorang perempuan yang sedang termangu di jendela. Perempuan itu memegang secangkir teh tawar, direguk sesekali, lalu kembali menatap awan. Lama disana. Hingga tehnya habis dan ia hanya menatap langit. Awan sudah pergi. Bulan dan bintang tak kelihatan. Hanya ada sebentang gelap dan sepi. Dan perempuan lelah sendiri.

Ia berdiri, lalu menuju cermin, meraih sisir. Pelahan ia sisiri rambut panjangnya, dan puisi-puisi lelaki tadi berlepasan, kembali pada angin yang menyambut dari luar jendela, menerbangkan puisi itu ke langit, ke sungai, ke laut, ke segala tempat yang jauh, hingga akhirnya jatuh sebagai hujan ke pelipis lelaki, yang masih menulis puisi tentang seorang perempuan berambut panjang yang termangu di jendela..."

***

Aku tahu, Ishtar, aku tak mahir berpuisi, apalagi bercerita. Meskipun aku seringkali mengisahkan banyak hal ketika kita bersama. Kurasa, umur yang panjang kadang-kadang memberimu kelebihan: aku punya waktu lebih panjang waktu yang telah kuhabiskan, karena itu aku pernah mengalami lebih banyak dan pergi ke banyak tempat, bertemu sebanyak mungkin orang, dan dari situ lahirlah cerita-cerita, yang kerap kukisahkan padamu.

Sebagian ceritaku mungkin membuatmu bosan, sebagian kau tanggapi lain dari maksud penceritaanku, sebagian lagi berhasil menarik minatmu. Bagaimanapun, kau selalu punya sudut pandang yang menarik, Ishtar, dan karena itu aku senang bercerita padamu. Tentu, aku lebih senang lagi ketika kau yang bercerita padaku, tentang apa saja, meski aku selalu cemas kalau kau menemukan hal yang membuatmu sedih, lalu kau ceritakan padaku, dan kau nampak semakin sedih. Tapi tanpa cerita apapun, aku tetap senang menghabiskan waktuku berdua denganmu, karena kelak selalu ada cerita dari kebersamaan kita.

Ishtar, aku tahu akhir-akhir ini ada yang belum kau ceritakan. tentang lelaki-lelaki yang mengunjungi mimpimu. Lelaki-lelaki yang bercerita padamu. Lelaki-lelaki yang menarik perhatianmu, menarik cerita-cerita darimu. Seperti biasa, aku tidak punya hak untuk cemburu, apalagi saat kita berdua, kau hadir utuh untukku. Aku percaya padamu. Pada ceritamu, bahkan pada yang tidak kau ceritakan.

Tapi kali ini aku rindu pada ceritamu. Pada puisi-puisi yang kau tulis untukku, tentang mereka. Kali ini aku akan membacanya tanpa melarikan diri darimu. Nanti, saat kita bersitangkap dalam dekap, bacakanlah untukku puisi-puisi itu. Puisi yang telah kau tulis tentang mereka. Puisi-puisi yang lahir dari tanganmu yang gemetar, dari batinmu yang gelisah. Aku ingin membacanya. Aku ingin membacanya.


JIbril


Lelaki itu datang padaku di suatu senja, menyalakan pemantik saat aku ingin merokok. Hujan deras di luar, dan kopiku masih penuh. Aku menawarinya kopi, dan ternyata, dia telah memesan sendiri. Dia bertanya padaku, apakah boleh dia pindah dan duduk di sampingku. Aku mengiyakan tanpa mengangkat wajah dari layar, dan dia hampir duduk di sampingku, tapi kemudian berubah pikiran dan menarik kursinya, agak jauh dariku.

Aku sedang menulis. Sesekali kuangkat wajahku dan menghembuskan asap rokok, berharap asap itu terbang jauh bersama tenggat. Aku sudah mulai kehabisan uang, dan harus mengirim tulisan sebelum tenggat tiba, supaya aku bisa mencari uang pekerjaan lepasan, menerjemahkan jurnal untuk mahasiswa, misalnya. Pikiranku benar-benar sedang sibuk sendiri, hingga lupa, ada seorang asing duduk tak jauh dariku, dan aku masih membutuhkannya; aku lupa bawa pemantik.

Aku melirik ke arahnya sekilas. Wajahnya asing. Dia sedang mereguk kopinya, dan asyik dengan telepon genggam. Aku tak merasa perlu bertanya padanya. Tidak merasa perlu tahu namanya, asalnya, atau apapun. Agak aneh rasanya, karena aku tidak suka ada orang asing di dekatku. Apalagi jika sedang menulis. Tapi kali ini aku tidak peduli. Lagipula, dia tidak menggangguku. Tidak mengajak ngobrol, atau bertanya apa-apa.

Tulisanku nyaris rampung. Kopi sudah tandas entah sejak kapan, dan lelaki itu masih duduk di sana. Kini melamun. Sejak kapan ia melamun? Aku tak memerhatikan. Karena interaksi kami terbatas hanya ketika ia menyalakan pemantik untuk rokokku. Dan memang aku tidak mengangkat mukaku dari layar. Kulirik agak lama. Telepon genggam ia simpan di sebelah bungkus rokok yang hanya berisi dua batang rokok lagi. Tiba-tiba aku ingin bertanya padanya, tapi kuurungkan. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Maka aku kembali menulis, dan menulis. Hanya tinggal paragraf terakhir. Setelah ini, aku akan bertanya dan berterimakasih, karena telah menyalakan pemantik untukku.
Tulisanku sudah rampung, dan saat aku hendak membuka mulutku untuk berkata, dia sudah lebih dulu menoleh dan bertanya, “Sudah selesai?” Aku mengangguk. “Terimakasih.” Ucapku. “Saya yang harus berterimakasih, Nona. Senang bisa ditemani senja ini.” “Maaf, tadi saya sedang bekerja, ada tenggat yang mesti saya penuhi.” “Tidak apa-apa, Nona.” “Oh, ya, panggil saja saya Ishtar.” “Dan saya Jibril.”

 ***

Wednesday, March 7, 2012

scratch. satu.

kamu harus cepat pulang, sayang. kekasihku akan datang, lima menit lagi. kali ini, kita tidak usah berpelukan, kau tak perlu mengecup mata kananku, tak perlu ada ritual-ritual sampai jumpa; kita tidak usah bertemu lagi.

sejak awal aku tahu, mengundangmu dalam keseharianku hanya akan mendatangkan celaka. tapi ini lebih gawat, aku mengabadikanmu dalam puisi, dan selamanya, patah hati akan perpisahan ini takkan bisa dibenahi, karena aku selalu akan berkesempatan mengenangmu lewat setiap kata, bahkan pada koma dan tanda tanya.

aku menutup pintu dan jendela, tapi masih merekam bayang punggungmu, dan selamanya, itu tidak akan hilang. aku tidak bisa berpaling kemana-mana setelah mengekalkanmu dalam aksara.

tubuhmu barangkali sudah bersama kekasihmu lagi, tapi ciuman-ciuman panjang dan pelukanmu masih gemetar dalam semesta catatku. kupenjarakan batinku dengan kenangan, dan siapa teman sekamar yang lebih kurang ajar darinya?

Saya Tak Punya Waktu

saya tak punya waktu. setiapkali memandang buku yang belum juga sempat saya selesaikan, saya selalu menghibur diri dengan alasan-alasan. tidak, saya tak punya waktu. saya sudah mulai masuk sekolah, ada kegiatan-kegiatan lain yang menyita waktu, atau saya butuh istirahat.

saya tak punya waktu. setiapkali memandang tulisan-tulisan yang belum rampung, misalnya novel yang harus segera diubah plotnya, puisi yang luput dari sunting, tugas kuliah, catatan-catatan atas buku, film, diskusi, dan perjalanan yang tidak juga usai, saya selalu beralasan kecapean, tidak menemukan mood yang tepat, hilang minat, dan sebagainya. tapi terutama: saya tak punya waktu.

saya tak punya waktu, kecuali untuk dibuang. kecuali untuk membuat tulisan-tulisan tidak penting seperti sekarang, kecuali untuk bergosip, kecuali untuk melamun, kecuali untuk mnghindari kehidupan. saya tak punya waktu, sayang, bahkan untuk bercinta denganmu. padahal tentu, saya rindu.

saya tak punya waktu. kecuali untuk melarikan diri. dari kecemasan-kecemasan yang memburu, dari kewajiban-kewajiban yang tidak pernah ingin aku tuntaskan.

Wednesday, February 22, 2012

Pangandaran, 27 -28 Oktober 2011.

Sebuah Catatan Kabur yang Terlambat Diunggah

I. Sehabis Petang

Aku tak sempat melihat matari terbenam. Aku kehilangan pemandangan itu, saat matari merah telur sedikit-sedikit tercelup, hingga akhirnya hilang di periuk sup ikan raksasa, berenang-renang di lautan. Matari sudah terlanjur benam, dan aku ingin sekali kencing. Hilanglah semua rencanaku untuk jalan-jalan sore, sebentar berenang lalu baru sibuk mencari tempat inap. Aku harus segera menemukan tempat.

Di sekitar, sepi belaka. Dari awal aku sudah punya firasat buruk tentang tukang becak ini. Sudah kelihatan sikapnya yang transaksional, dan amat berbeda dengan suasana mengiba yang kutemukan dua tahun lalu. Dua tahun lalu, sepertinya setiap orang yang kutemui bersyukur jika bertemu pelancong. Lalu mereka akan bercerita, curhat, tentang bagaimana hidup mereka sesudah tsunami. Kali ini tidak begitu. 

Tukang becak yang menarikku bersikap biasa saja, dan cenderung menjejaliku dengan pertanyaan, mau tinggal dimana, dan sebagainya, dan sebagainya. Kubilang, aku akan menginap di satu tempat di pantai timur, yang dekat dengan pelelangan ikan. Kupikir itu akan cocok dengan jumlah uang sakuku, dan dia sempat sedikit memaksaku untuk melihat-lihat sebuah penginapan, milik pribumi, dekat pantai, dan sebagainya, dan sebagainya. Tidak, kubilang, bergeming di becak, aku mau ke pantai timur.

Tidak. Aku mau ke pantai timur. Lebih baik tunjukkan padaku dimana ATM. Dia mengomel lalu mengantarku. Aku berusaha beramah-ramah dengannya, karena itu kebiasaanku. Aku lebih sering beramah-ramah dengan tukang becak, pedagang, mereka yang tidak memakai seragam. Begitu sampai, ternyata tarif menginap sudah naik, meski masih dibawah seratus ribu, dan aku amat khawatir jika aku kehabisan uang di tengah malam, sedang aku ingin ngebir di pinggir pantai. Tak apalah, aku akhirnya naik becak lagi, minta diantar ke ATM.
Aku masih beramah-ramah padanya, dan kudengar irama nafasnya tersengal. Dalam hati aku mengiba, dia mungkin punya penyakit asthma. Kupikir aku harus membayarnya lebih. Dan ketika sampai kembali ke penginapan, aku membayarnya, menurutku, sudah sepantasnya. Tapi ternyata, uang yang kuberi ia anggap kurang. Kurang samasekali. Dan aku melongo.

Dua tahun lalu, ketika seorang tukang becak kuberi setengah dari yang kuberi padanya kini, ia amat berterimakasih, sampai bertanya apakah esok aku ingin diantar lagi olehnya. Dua tahun lalu, aku tak pernah harus bertengkar masalah tarif. Bahkan aku tak perlu repot-repot menawar harga jasa semacam ini. Dan malam ini, seorang tukang becak memaksaku membayar lima kali lipat dari yang pernah kubayarkan dua tahun lalu. Kubilang, aku hanya akan membayar lebih setengah dari yang telah kuberikan. Aku tak punya lagi uang lebih. Hilang semua pikiran kasihanku padanya, hilang semua keramahanku. Seketika itu pula, aku bersikap dingin dan tidak mau kompromi. Tidak sedikitpun. Apalagi setelah dia mulai menyalah-nyalahkanku. Aku hampir saja berkata yang akan terasa kasar tapi kutahan. Aku hanya memberikan yang bisa kuberikan, dan aku berlalu. Aku tak menoleh lagi.

Di kamar, aku agak menyesal. Maksudku kemari adalah berlibur, tapi hal seperti ini saja sudah membuat mood-ku jatuh. Aku sudah menempuh perjalanan jauh dan lama, sebuah kendara yang panjang dan tak ingin kusia-siakan. Aku ingin sekali saja merasa senang di minggu ini. Sebelum berangkat aku bertengkar, di jalan bertengkar, sekarang bertengkar dengan tukang becak. Rasanya aku membawa pertengkaran kemana-mana. Dan ini melelahkan. Aku ingin mandi.

Aku pergi makan dan berjalan-jalan sebentar. Aku ingin beli bir botol kecil, dan nongkrong di pinggir pantai. Tapi mereka menjual botol besar, aku ragu lalu cari ke tempat lain. Akhirnya menemukan sebotol kecil smirnoff dan dua kaleng bir. Kurasa itu cukup untuk minuman ringan sehabis makan. Nanti jika malam tambah gelap, aku mau nongkrong di pinggir pantai dan minum bir botol besar. Mungkin berbotol-botol, sampai aku susah berdiri. Haha. Tentu saja tidak. Aku tidak merencanakan malam yang tidak akan bisa kutangani. Aku hanya akan nongkrong sampai subuh, berjalan ke arah mercusuar dan memanjatnya. Lagi-lagi tidak mungkin. Yang paling mungkin adalah aku memesan satu dua botol bir, makan popmie, mengoceh, dan mencaritahu apa yang menarik, bagaimana Pangandaran kini. Dan minum kopi bergelas-gelas sampai perutku mulas.

Tapi sesampainya di kamar dan setelah lima menit mengetik, hujan turun deras. Hujan yang mendinginkan bau pantai, suasana yang hampir membuatku sebal karena tidak jadi nongkrong dan berbuat hal yang sia-sia. Tapi kupikir, menulis seperti ini juga tidak kalah sia-sia. Lagipula bagus juga sekarang hujan, siapa tahu nanti agak malam hujan berhenti, dan aku bisa menikmati tengah malam di tengah langit cerah dan laut luas, melolong ke arah lelampu, menegak bir lalu menari memuja setan.

Smirnoff sudah habis. Bir  tinggal sedikit. Kepalaku masih disesaki banyak pertanyaan dan tidak kunjung cengengesan. Masih serius seperti orang-orang yang merencanakan kudeta. Dan tiba-tiba terpikir untuk pergi mengunjungi lokasi pelacuran. Tapi aku sedang tidak punya uang. Tidak mungkin bisa mengobrol dengan salahsatu pelacur itu kalau tidak pegang uang. Lagipula tempatnya cukup jauh dari sini. Aku tidak mungkin tidur. Bukan waktuku, bukan tempatku, dan rasanya rugi menghabiskan uang makan siang seminggu hanya untuk tidur di tempat yang tidak begitu nyaman, tanpa selimut pula.

Bir sudah habis. Sisa makan malamku melambai dari keresek. Tapi aku sudah kenyang. Mungkin nanti. Sinyal hanya GSM. Telepon pintar itu tak lagi mahakuasa. Dia seperti telepon seluler lain, yang hanya bisa dipakai sms dan telepon. Yang berubah menjadi pendiam dalam satu malam. Aku sempat mempertimbangkan ganti nomor dulu untuk semalam, setidaknya sampai besok, aku gatal sekali ingin cekikikan di twiter, cari berita, dan keliling-keliling di wikipedia. Tapi biar saja. Semalam ini puasa bawel. Nostalgia, mengingat-ingat bagaimana rasanya memiliki telepon hanya untuk sms dan telepon. Dan aku tahu, malam ini akan sepi sekali rasanya, tak peduli aku menyetel musik keras pada netbuk, atau jariku ketak ketik ketuk di atas papan kunci. Nyatanya, aku sendirian, di tempat yang jauh dari semua yang kukenal, dan satu-satunya cara bertahan dari cekam hening adalah mengetik.

II. Paruh Kedua Malam

Satu jam menjelang  tengah malam. Satu atau dua jam yang lalu, ada penginap baru di losmen. Mobil pertama kuintip di jendela, karena terus membuka-tutup pintu dan membunyikan alarm. Tak lama, mobil itu pergi. Lalu kupikir, memangnya bisa disewa per jam, ya?  Tapi aku tak begitu hirau. Bukan urusanku. Beberapa lama kemudian, ada dua mobil yang datang. Kukira ini dua keluarga, atau satu keluarga besar. Segera saja, penginapan menjadi berisik dan tidak terkendali. Aku yang tadinya berharap menghabiskan setengah malam untuk tidur sejenak segera dhinggapi perasaan kesal. Jika bocah-bocah berisik itu tak juga diam saat aku mengantuk, aku tidak akan membuang botol smirnoff dan kaleng-kaleng bir itu ke tempat sampah; ada fungsi lain dari sampah itu ternyata. 

Aku mencoba mengerjakan tugasku. Nihil seperti biasa. Aku kekurangan data, aku tak mau memalsu, aku harus pergi ke tempat yang ada di laporan dan observasi betulan. Tidak. Tidak ada waktu. Macet lagi. Dan demi tuhan, bocah-bocah itu berisik sekali. Untuk memperburuk keadaan, ibu dan saudara-saudara dari bocah-bocah itu malah mengomeli bocah-bocah itu sampai mereka jauh lebih berisik dari bocah-bocah itu. Jadi aku tidak bisa memutuskan, siapa yang layak mendapat lemparan botol beling dan kaleng bir, anak-anak kecil yang bandel tapi lucu, atau orang-orang dewasa yang berlomba mengomeli bocah-bocah kecil itu.
Kuputuskan untuk mengintip di jendela dan mendelik. Berhasil. Untuk lima menit mereka tenang. Tapi lima menit berikutnya mereka lebih heboh dari orang yang dapat lotre satu milyar. Aku ingin pula mengomeli mereka, dan orang-orang yang mengomeli mereka, tapi tenggorokanku mulai sakit dan aku mulai batuk. 

Setelah berbaring tidak tenang dan menghabiskan sisa makananku tadi magrib, aku memutuskan ke luar.
Aku mau minum kopi hitam. Biar bisa enak terjaga semalaman. Tapi ibu warung nampak pulas di tengah musik dangdut koplo, aku tak tega membangunkannya. Aku hendak mencari warung lain, tapi kupilih berjalan-jalan saja. Aku berjalan menuju mercusuar yang nampak tidak terawat, lalu mendekati perahu-perahu yang menyala kelap-kelip aneka warna. Mungkin ada orang yang bisa kuajak bicara.

Ombak berdebur di bawah kakiku, bersahut guntur di laut lepas. Aku berjalan pelahan, mungkin juga sempoyongan, seolah takut anyam bambu ini terlepas dan aku terjungkal, lalu berjalan lebih yakin meski lebih lamat, menikmati irama ombak. Aku berjalan lurus, kilat semakin lama semakin sering muncul, dan kali ini aku melihat, bagaimana cahayanya mengubah malam menjadi siang, meski hanya beberapa kejap. Aku tersihir dan terus berjalan, sesekali memandangi perahu-perahu yang semakin dekat, aku semakin tercekat. Hatiku gentar. Dari dulu aku selalu takut petir. Dan menyadari diriku sendiri di sana, di atas anyam bambu, di atas ombak dan guntur berganti pecah beradu galak, aku jadi ciut. Aku merasa kecil sekali.

Kilat, yang sedari tadi timbul tenggelam di lurusanku, seolah pengantin menungguku berjalan di altar, kini tak lagi menampakkan siang di tengah malam. Kuhampiri perahu yang tertambat di ujung dermaga, dan ternyata kosong belaka. Tak ada sesiapa disana. Aku mundur. Sempat terpikir untuk meloncat ke laut, atau ke arah mercusuar, tarikan yang hanya diamini detak jantungku. Bunyi guntur menjulur-julur ke telingaku, dan ombak menyentak-nyentak di ujung batu. Aku berjalan mundur, lebih cepat daripada ketika aku datang, dan sesampainya di jalan raya, aku berjalan lamat lagi. Sesekali aku menoleh ke lelampu yang kelap-kelip nun jauh di sana. Adakah nelayan yang menjaring ikan di perahu nun jauh di tengah laut, atau mereka terombang-ambing begitu saja, menari-nari ditabuh gelombang?

Aku tidak tahu. Aku hanya membeli bir, lalu kembali ke kamar untuk menuliskan ini untukmu.

III. Pagi

Pagi. Mungkin subuh, buatmu. Tapi cahaya matari yang berhasil menembus gerombolan awan kelabu itu pasti merupakan pernyataan kedatangan pagi. Nyaris pupus harapku untuk menikmati si merah itu muncul dari kuali di timur, hujan belum juga reda. Rintik-rintik gerimis yang asin, yang asing itu memenuhi inderaku. Derap sepatu serdadu hujan, mengawal awan berarak ke arah barat. Pergilah ke barat jauh dan hujanilah daerah lain, semalam sudah cukup deras kau beterjunan di sini. Waktuku di sini hampir habis, kurang dari tujuh jam aku harus mengosongkan tempat ini, berkemas, dan mungkin berjalan-jalan. Mungkin juga aku akan mencoba menuntaskan tugas di pinggir pantai, kuharap aku masih punya cukup baterai untuk beberapa jam sebelum pulang. 

Ah, ya, pulang. Apa yang akan kukatakan. Kata-kataku akan tersangkut di tenggorokan. Bagaimana menceritakan kepergianku pada orang yang takut disebut tidak normal, pada orang yang jijik pada orang yang tidak normal, pada orang yang tidak mau tahu alasanku? Pikiranku sedang buruk, bahkan terhadapmu. Aku hanya berharap tidak usah banyak ditanyai, karena aku tidak mencuri dari siapapun. Sekali ini ku tak butuh semua “ih” dan “kenapa” itu. Kalian tidak banyak membantu, dan jikapun niat kalian membantu, kalian tidak membantuku samasekali.

Aku sedang berlibur. Inilah waktuku untuk mengambil nafas dan bersenang-senang. Bukannya berpikir buruk tentang kalian, yang tentu saja menyayangiku, dengan cara kalian sendiri.


IV. Pulang

Hujan nampak tidak ingin berhenti. Aku menunggu hingga jam enam, jam tujuh, jam delapan. Tidak. Hujan tidak ingin berhenti. Maka setengah sembilan aku melangkah keluar. Memesan kopi dan segelas air bening. Lalu berjalan-jalan ke dermaga. Hanya satu orang yang mengenaliku, Aa penunggu warung yang dulu ketika kuliah lapangan Proses Penelitian banyak mengobrol denganku. Hanya ia satu-satunya yang masih ingat kalau aku sudah kuliah. Yang lain menyangka aku sudah bekerja atau anak SMA yang dirundung masalah. Sewaktu aku meminta sebotol bir, mereka seolah ingin melihat KTP-ku untuk memastikan aku cukup umur untuk minum alkohol. 

Ketika hujan agak reda, aku mulai tidak tahan. Segera kulangkahkan kaki ke Pantai Barat, persetan dengan hujan, nanti kalau nyebur akhirnya basah juga. Semakin dekat dengan pantai, semakin terlonjak-lonjak jantungku, dan semakin ringan langkahku. Aku menemukan yang kucari, suasana sepi dan melupakan semuanya, melakukan hanya yang menyenangkan hatiku. Melakukan yang seharusnya selalu kulakukan, tanpa rasa bersalah. Kios-kios sepi dan aku melangkah sendiri, kesedihan yang saling sahut satu sama lain di antara kaki kanan dan kiriku, tapi enggan berbagi. Kesedihan yang hanya milikku, kelegaan yang hanya ada dalam nafasku.

Pantai sepi. Seolah mengatakan, hari ini seluruh pantai milikku. Tapi aku tak pernah ingin memiliki semuanya. Jamuan ini terlalu baik, dan aku bukan tamu istimewa. Pantai ini mengosongkan diri untuk kujelajahi, atau tak ingin kudatangi? Ah, Nyai, aku bermaksud baik datang kemari. Kau telah mengizinkan orang membuat rumah dekat dengan kerajaanmu, izinkan aku menitipkan tubuhku pada kuasamu. Bermurah hatilah, rumahkan aku sejenak saja di sini.

Aku berlari. Aku berlari menyongsong riak-riak gelombang yang nampak tenang sehabis badai. Aku larut ke laut, dan sempat tak peduli jika aku hanyut. Aku tidak mau pulang. Tapi Nyai tidak perlu perempuan gunung. Aku dikembalikannya ke tepian. Tak ada gunanya aku di laut, aku bahkan tak mahir berenang. Aroma tubuhku asam gunung, bukan asin lautan. Tempatku bukan di sini, dan karena itulah aku bahagia. Aku bahagia karena berterima di tempat yang asing, dan jika tempat asing memelukku dengan hangat, mengapa aku harus memecah kaca setiap pagi dan tak ingin melihat dunia?

Maka aku menepi. Tubuh butuh kopi, dan aku harus pulang. Kasihan pemilik losmen, kamar yang kusewa harus cepat dikosongkan dan dibersihkan. Rambutku kusut minta dikeramasi, dan hatiku riang, aku ingin kembali pulang.

Pulang memang berat. Bajuku basah dan pikiranku mulai gelisah. Tapi aku bersyukur aku tak punya banyak uang, jadi aku tidak dihadapkan pada pilihan yang terlalu sulit; pulang atau menggelandang. Menjadi gelandang di lapangan sepakbola itu menyenangkan, tapi di jalanan, buat apa. Buat apa coba? Lagipula, aku ingin membawa pulang perasaan senang. Aku ingin kembali selama kakiku riang dan hatiku lapang. Agar bisa disesaki lagi masalah. Aku datang kesini agar pikiranku kosong, dan kelak diisi ulang di rumah. Di sekolah. 

Jadi aku harus segera pulang.

Sampai jumpa di Bandung!

Monday, January 16, 2012

Kelahiran

Ibuku selalu bilang,
Aku lahir di bawah naungan dewa kegelapan,
di waktu yang amat tidak tepat.

Bagiku tak pernah ada dewa kegelapan,
yang ada hanya kehabisan minyak atau
takada kayu yang dapat dibakar.

Dan tanggal berapa, jam berapakah
waktu yang tidak tepat itu?

Ada duapuluh empat jam, duabelas bulan,
tujuh hari dalam seminggu, dan
takada satupun yang bernama
waktu yang tidak tepat.

Aku atau waktu yang tidak tepat itu, Bu?

Aku tak menabung dendam padamu setelah tahu
kau hanyutkan aku, meski
aku tak mungkin dapat hanyutkan anakku sendiri.

Jika anakku memang harus dibunuh,
aku akan menemaninya mendegup jantung
hingga yang terakhir kali.

Aku akan menatap matanya sampai kemudian
jariku yang mesti memejamkannya.

Aku akan memberinya penguburan
yang layak dan doadoa
serta taburan bunga dan gerimis airmata.

Aku tak akan membiarkan
anakku hanyut di sungai dalam keranjang.

Pernahkah terpikir olehmu bahwa aku bisa
mati dimakan buaya?

Terkadang pasrah dan sombong tiada beda.

Apa yang membuatmu yakin bahwa
kau cukup istimewa
sehingga Tuhan memberimu isyarat dan
doamu dijamin kabul sepenuhnya?

Kau takbisa menyalahkanku mengibu
pada perempuan yang menyusuiku,
yang mendongeng sebelum aku tidur,
yang bersenandung di kala aku murung.

Kau takbisa memintaku kembali menjadi anakmu,
aku juga takpernah menginginkan
menjadi anak Tuhan.

Bu, apakah kau menjual kelahiran anakmu
untuk kelahiran anak Tuhan?


bandung, 2011

pangandaran

: Nyai Roro KIdul

kemanapun kuhadapkan langkah,
milikmulah Barat dan Timur, Nyai;
baik abu langit maupun abu lautan.

sisa gerimis masih asin, kabut putih mengapas selimuti hutan.
hujan disambut laut, kembali, kembali ke asali.
ataukah itu airmatamu, Nyai?

Nyai, aku datang pada-Mu tanpa sesaji.
perempuan gunung ini tak mahir berenang,
tak karib dengan kerang dan karang.
kerinduanku pada pantai-Mu adalah
keinginan asing  untuk memasrahkan diri pada gelombang
larut pada laut pada kalut pada senggugut pada maut...

tidak. setelah lama kuserahkan diriku pada gulung ombak,
Kau kembalikanku ke tepian. pantai masih sepi, masih kelabu
seperti tadi pagi. hanya ada beberapa pasang kelelawar berkitar-kitar,
perahu-perahu bisu dan warung-warung yang murung.

matari melumurkan coklat di kulitku, sedikit hangat di dadaku.
Kau tak ingin kutemani, maka aku harus segera berkemas, Nyai.
sebelum jam berdentang duabelas kali.

aku pulang sendiri,
dan kesepian ini
enggan dibagi.
kesedihan
ini enggan  ditinggalkan.

Pangandaran, 27-28 Oktober 2011

puisi pada bunga rampai jilfest

DAYANG SUMBI

Kelak, kau akan tahu bahwa semua usahaku untuk
meremukkanmu adalah utang budi yang
takkan bisa kau bayar.

Tidakkah kau tahu telaga yang kau buat
takkan pernah cukup menampung
sesalku?

Aku menantimu, mencari-cari wajahmu
dalam pintal benang dan kerisik semak.

Lama sudah kau kucari, Anakku.
tapi kau kembali untuk menjadi kekasih
yang tak pernah bisa kumiliki.
Kususui kau dulu. Kutimang-timang
dengan sayang.
Kini kususui kau lagi.
Lalu aku kau pangku.
Kau panggil sayangku.

Mengapa, Anakku.
Mengapa kau lupakan aku dan bersikeras jadi
Kekasihku
jika masih kau tanggungkan luka di
kepalamu?

Bandung, 13 Maret-10 November 2011



KEPADA JURU WARTA

Juru warta, ada berita apa hari ini?

Kutulis ini saat mendung tak cukup menampung segenap murung, dan kala setiap puisi yang hendak kutulis diculik urung. Ada banyak hal berkejaran minta perhatian, dan aku adalah juri yang buruk dalam menentukan siapa dari mereka yang menang balapan. Gelisah mengerkahku, dan aku hanya ingin tahu, ada berita apa hari ini?

Juru warta, adakah kabar yang enak untuk didengar?

Ini tak berarti aku menutup mata dan telinga dari media. Mungkin salahsatu berita buruk yang kubaca berasal dari laporanmu, tapi adakah berita baik yang sempat kau catat, yang dimuat tempat kerjamu dan luput kuamat? Berkali-kali aku bangun tidur dengan segenap yakin, bahwa akan ada berita baik hari ini, tapi berkali-kali pula, imanku runtuh; dan yang tersisa hanya remah-remah asa, terlalu sedikit untuk menyumbang tenaga menghadapi hari-hari yang semakin tak ingin kulewati.

Juru warta, apa kabar kebenaran hari ini?

Selalu, dalam bayangku kau seorang yang memikul beban kebenaran untuk disampaikan, seorang yang tak gentar pada gosip-gosip samar. Tapi siapakah yang memiliki kebenaran? Adakah yang lebih benar dari yang pernah kau temui dan beritakan?


Bandung, 3 April 2011