Monday, January 16, 2012

Kelahiran

Ibuku selalu bilang,
Aku lahir di bawah naungan dewa kegelapan,
di waktu yang amat tidak tepat.

Bagiku tak pernah ada dewa kegelapan,
yang ada hanya kehabisan minyak atau
takada kayu yang dapat dibakar.

Dan tanggal berapa, jam berapakah
waktu yang tidak tepat itu?

Ada duapuluh empat jam, duabelas bulan,
tujuh hari dalam seminggu, dan
takada satupun yang bernama
waktu yang tidak tepat.

Aku atau waktu yang tidak tepat itu, Bu?

Aku tak menabung dendam padamu setelah tahu
kau hanyutkan aku, meski
aku tak mungkin dapat hanyutkan anakku sendiri.

Jika anakku memang harus dibunuh,
aku akan menemaninya mendegup jantung
hingga yang terakhir kali.

Aku akan menatap matanya sampai kemudian
jariku yang mesti memejamkannya.

Aku akan memberinya penguburan
yang layak dan doadoa
serta taburan bunga dan gerimis airmata.

Aku tak akan membiarkan
anakku hanyut di sungai dalam keranjang.

Pernahkah terpikir olehmu bahwa aku bisa
mati dimakan buaya?

Terkadang pasrah dan sombong tiada beda.

Apa yang membuatmu yakin bahwa
kau cukup istimewa
sehingga Tuhan memberimu isyarat dan
doamu dijamin kabul sepenuhnya?

Kau takbisa menyalahkanku mengibu
pada perempuan yang menyusuiku,
yang mendongeng sebelum aku tidur,
yang bersenandung di kala aku murung.

Kau takbisa memintaku kembali menjadi anakmu,
aku juga takpernah menginginkan
menjadi anak Tuhan.

Bu, apakah kau menjual kelahiran anakmu
untuk kelahiran anak Tuhan?


bandung, 2011

No comments: