Monday, January 16, 2012

pangandaran

: Nyai Roro KIdul

kemanapun kuhadapkan langkah,
milikmulah Barat dan Timur, Nyai;
baik abu langit maupun abu lautan.

sisa gerimis masih asin, kabut putih mengapas selimuti hutan.
hujan disambut laut, kembali, kembali ke asali.
ataukah itu airmatamu, Nyai?

Nyai, aku datang pada-Mu tanpa sesaji.
perempuan gunung ini tak mahir berenang,
tak karib dengan kerang dan karang.
kerinduanku pada pantai-Mu adalah
keinginan asing  untuk memasrahkan diri pada gelombang
larut pada laut pada kalut pada senggugut pada maut...

tidak. setelah lama kuserahkan diriku pada gulung ombak,
Kau kembalikanku ke tepian. pantai masih sepi, masih kelabu
seperti tadi pagi. hanya ada beberapa pasang kelelawar berkitar-kitar,
perahu-perahu bisu dan warung-warung yang murung.

matari melumurkan coklat di kulitku, sedikit hangat di dadaku.
Kau tak ingin kutemani, maka aku harus segera berkemas, Nyai.
sebelum jam berdentang duabelas kali.

aku pulang sendiri,
dan kesepian ini
enggan dibagi.
kesedihan
ini enggan  ditinggalkan.

Pangandaran, 27-28 Oktober 2011

No comments: