Monday, January 16, 2012

puisi pada bunga rampai jilfest

DAYANG SUMBI

Kelak, kau akan tahu bahwa semua usahaku untuk
meremukkanmu adalah utang budi yang
takkan bisa kau bayar.

Tidakkah kau tahu telaga yang kau buat
takkan pernah cukup menampung
sesalku?

Aku menantimu, mencari-cari wajahmu
dalam pintal benang dan kerisik semak.

Lama sudah kau kucari, Anakku.
tapi kau kembali untuk menjadi kekasih
yang tak pernah bisa kumiliki.
Kususui kau dulu. Kutimang-timang
dengan sayang.
Kini kususui kau lagi.
Lalu aku kau pangku.
Kau panggil sayangku.

Mengapa, Anakku.
Mengapa kau lupakan aku dan bersikeras jadi
Kekasihku
jika masih kau tanggungkan luka di
kepalamu?

Bandung, 13 Maret-10 November 2011



KEPADA JURU WARTA

Juru warta, ada berita apa hari ini?

Kutulis ini saat mendung tak cukup menampung segenap murung, dan kala setiap puisi yang hendak kutulis diculik urung. Ada banyak hal berkejaran minta perhatian, dan aku adalah juri yang buruk dalam menentukan siapa dari mereka yang menang balapan. Gelisah mengerkahku, dan aku hanya ingin tahu, ada berita apa hari ini?

Juru warta, adakah kabar yang enak untuk didengar?

Ini tak berarti aku menutup mata dan telinga dari media. Mungkin salahsatu berita buruk yang kubaca berasal dari laporanmu, tapi adakah berita baik yang sempat kau catat, yang dimuat tempat kerjamu dan luput kuamat? Berkali-kali aku bangun tidur dengan segenap yakin, bahwa akan ada berita baik hari ini, tapi berkali-kali pula, imanku runtuh; dan yang tersisa hanya remah-remah asa, terlalu sedikit untuk menyumbang tenaga menghadapi hari-hari yang semakin tak ingin kulewati.

Juru warta, apa kabar kebenaran hari ini?

Selalu, dalam bayangku kau seorang yang memikul beban kebenaran untuk disampaikan, seorang yang tak gentar pada gosip-gosip samar. Tapi siapakah yang memiliki kebenaran? Adakah yang lebih benar dari yang pernah kau temui dan beritakan?


Bandung, 3 April 2011

No comments: