Wednesday, February 22, 2012

Pangandaran, 27 -28 Oktober 2011.

Sebuah Catatan Kabur yang Terlambat Diunggah

I. Sehabis Petang

Aku tak sempat melihat matari terbenam. Aku kehilangan pemandangan itu, saat matari merah telur sedikit-sedikit tercelup, hingga akhirnya hilang di periuk sup ikan raksasa, berenang-renang di lautan. Matari sudah terlanjur benam, dan aku ingin sekali kencing. Hilanglah semua rencanaku untuk jalan-jalan sore, sebentar berenang lalu baru sibuk mencari tempat inap. Aku harus segera menemukan tempat.

Di sekitar, sepi belaka. Dari awal aku sudah punya firasat buruk tentang tukang becak ini. Sudah kelihatan sikapnya yang transaksional, dan amat berbeda dengan suasana mengiba yang kutemukan dua tahun lalu. Dua tahun lalu, sepertinya setiap orang yang kutemui bersyukur jika bertemu pelancong. Lalu mereka akan bercerita, curhat, tentang bagaimana hidup mereka sesudah tsunami. Kali ini tidak begitu. 

Tukang becak yang menarikku bersikap biasa saja, dan cenderung menjejaliku dengan pertanyaan, mau tinggal dimana, dan sebagainya, dan sebagainya. Kubilang, aku akan menginap di satu tempat di pantai timur, yang dekat dengan pelelangan ikan. Kupikir itu akan cocok dengan jumlah uang sakuku, dan dia sempat sedikit memaksaku untuk melihat-lihat sebuah penginapan, milik pribumi, dekat pantai, dan sebagainya, dan sebagainya. Tidak, kubilang, bergeming di becak, aku mau ke pantai timur.

Tidak. Aku mau ke pantai timur. Lebih baik tunjukkan padaku dimana ATM. Dia mengomel lalu mengantarku. Aku berusaha beramah-ramah dengannya, karena itu kebiasaanku. Aku lebih sering beramah-ramah dengan tukang becak, pedagang, mereka yang tidak memakai seragam. Begitu sampai, ternyata tarif menginap sudah naik, meski masih dibawah seratus ribu, dan aku amat khawatir jika aku kehabisan uang di tengah malam, sedang aku ingin ngebir di pinggir pantai. Tak apalah, aku akhirnya naik becak lagi, minta diantar ke ATM.
Aku masih beramah-ramah padanya, dan kudengar irama nafasnya tersengal. Dalam hati aku mengiba, dia mungkin punya penyakit asthma. Kupikir aku harus membayarnya lebih. Dan ketika sampai kembali ke penginapan, aku membayarnya, menurutku, sudah sepantasnya. Tapi ternyata, uang yang kuberi ia anggap kurang. Kurang samasekali. Dan aku melongo.

Dua tahun lalu, ketika seorang tukang becak kuberi setengah dari yang kuberi padanya kini, ia amat berterimakasih, sampai bertanya apakah esok aku ingin diantar lagi olehnya. Dua tahun lalu, aku tak pernah harus bertengkar masalah tarif. Bahkan aku tak perlu repot-repot menawar harga jasa semacam ini. Dan malam ini, seorang tukang becak memaksaku membayar lima kali lipat dari yang pernah kubayarkan dua tahun lalu. Kubilang, aku hanya akan membayar lebih setengah dari yang telah kuberikan. Aku tak punya lagi uang lebih. Hilang semua pikiran kasihanku padanya, hilang semua keramahanku. Seketika itu pula, aku bersikap dingin dan tidak mau kompromi. Tidak sedikitpun. Apalagi setelah dia mulai menyalah-nyalahkanku. Aku hampir saja berkata yang akan terasa kasar tapi kutahan. Aku hanya memberikan yang bisa kuberikan, dan aku berlalu. Aku tak menoleh lagi.

Di kamar, aku agak menyesal. Maksudku kemari adalah berlibur, tapi hal seperti ini saja sudah membuat mood-ku jatuh. Aku sudah menempuh perjalanan jauh dan lama, sebuah kendara yang panjang dan tak ingin kusia-siakan. Aku ingin sekali saja merasa senang di minggu ini. Sebelum berangkat aku bertengkar, di jalan bertengkar, sekarang bertengkar dengan tukang becak. Rasanya aku membawa pertengkaran kemana-mana. Dan ini melelahkan. Aku ingin mandi.

Aku pergi makan dan berjalan-jalan sebentar. Aku ingin beli bir botol kecil, dan nongkrong di pinggir pantai. Tapi mereka menjual botol besar, aku ragu lalu cari ke tempat lain. Akhirnya menemukan sebotol kecil smirnoff dan dua kaleng bir. Kurasa itu cukup untuk minuman ringan sehabis makan. Nanti jika malam tambah gelap, aku mau nongkrong di pinggir pantai dan minum bir botol besar. Mungkin berbotol-botol, sampai aku susah berdiri. Haha. Tentu saja tidak. Aku tidak merencanakan malam yang tidak akan bisa kutangani. Aku hanya akan nongkrong sampai subuh, berjalan ke arah mercusuar dan memanjatnya. Lagi-lagi tidak mungkin. Yang paling mungkin adalah aku memesan satu dua botol bir, makan popmie, mengoceh, dan mencaritahu apa yang menarik, bagaimana Pangandaran kini. Dan minum kopi bergelas-gelas sampai perutku mulas.

Tapi sesampainya di kamar dan setelah lima menit mengetik, hujan turun deras. Hujan yang mendinginkan bau pantai, suasana yang hampir membuatku sebal karena tidak jadi nongkrong dan berbuat hal yang sia-sia. Tapi kupikir, menulis seperti ini juga tidak kalah sia-sia. Lagipula bagus juga sekarang hujan, siapa tahu nanti agak malam hujan berhenti, dan aku bisa menikmati tengah malam di tengah langit cerah dan laut luas, melolong ke arah lelampu, menegak bir lalu menari memuja setan.

Smirnoff sudah habis. Bir  tinggal sedikit. Kepalaku masih disesaki banyak pertanyaan dan tidak kunjung cengengesan. Masih serius seperti orang-orang yang merencanakan kudeta. Dan tiba-tiba terpikir untuk pergi mengunjungi lokasi pelacuran. Tapi aku sedang tidak punya uang. Tidak mungkin bisa mengobrol dengan salahsatu pelacur itu kalau tidak pegang uang. Lagipula tempatnya cukup jauh dari sini. Aku tidak mungkin tidur. Bukan waktuku, bukan tempatku, dan rasanya rugi menghabiskan uang makan siang seminggu hanya untuk tidur di tempat yang tidak begitu nyaman, tanpa selimut pula.

Bir sudah habis. Sisa makan malamku melambai dari keresek. Tapi aku sudah kenyang. Mungkin nanti. Sinyal hanya GSM. Telepon pintar itu tak lagi mahakuasa. Dia seperti telepon seluler lain, yang hanya bisa dipakai sms dan telepon. Yang berubah menjadi pendiam dalam satu malam. Aku sempat mempertimbangkan ganti nomor dulu untuk semalam, setidaknya sampai besok, aku gatal sekali ingin cekikikan di twiter, cari berita, dan keliling-keliling di wikipedia. Tapi biar saja. Semalam ini puasa bawel. Nostalgia, mengingat-ingat bagaimana rasanya memiliki telepon hanya untuk sms dan telepon. Dan aku tahu, malam ini akan sepi sekali rasanya, tak peduli aku menyetel musik keras pada netbuk, atau jariku ketak ketik ketuk di atas papan kunci. Nyatanya, aku sendirian, di tempat yang jauh dari semua yang kukenal, dan satu-satunya cara bertahan dari cekam hening adalah mengetik.

II. Paruh Kedua Malam

Satu jam menjelang  tengah malam. Satu atau dua jam yang lalu, ada penginap baru di losmen. Mobil pertama kuintip di jendela, karena terus membuka-tutup pintu dan membunyikan alarm. Tak lama, mobil itu pergi. Lalu kupikir, memangnya bisa disewa per jam, ya?  Tapi aku tak begitu hirau. Bukan urusanku. Beberapa lama kemudian, ada dua mobil yang datang. Kukira ini dua keluarga, atau satu keluarga besar. Segera saja, penginapan menjadi berisik dan tidak terkendali. Aku yang tadinya berharap menghabiskan setengah malam untuk tidur sejenak segera dhinggapi perasaan kesal. Jika bocah-bocah berisik itu tak juga diam saat aku mengantuk, aku tidak akan membuang botol smirnoff dan kaleng-kaleng bir itu ke tempat sampah; ada fungsi lain dari sampah itu ternyata. 

Aku mencoba mengerjakan tugasku. Nihil seperti biasa. Aku kekurangan data, aku tak mau memalsu, aku harus pergi ke tempat yang ada di laporan dan observasi betulan. Tidak. Tidak ada waktu. Macet lagi. Dan demi tuhan, bocah-bocah itu berisik sekali. Untuk memperburuk keadaan, ibu dan saudara-saudara dari bocah-bocah itu malah mengomeli bocah-bocah itu sampai mereka jauh lebih berisik dari bocah-bocah itu. Jadi aku tidak bisa memutuskan, siapa yang layak mendapat lemparan botol beling dan kaleng bir, anak-anak kecil yang bandel tapi lucu, atau orang-orang dewasa yang berlomba mengomeli bocah-bocah kecil itu.
Kuputuskan untuk mengintip di jendela dan mendelik. Berhasil. Untuk lima menit mereka tenang. Tapi lima menit berikutnya mereka lebih heboh dari orang yang dapat lotre satu milyar. Aku ingin pula mengomeli mereka, dan orang-orang yang mengomeli mereka, tapi tenggorokanku mulai sakit dan aku mulai batuk. 

Setelah berbaring tidak tenang dan menghabiskan sisa makananku tadi magrib, aku memutuskan ke luar.
Aku mau minum kopi hitam. Biar bisa enak terjaga semalaman. Tapi ibu warung nampak pulas di tengah musik dangdut koplo, aku tak tega membangunkannya. Aku hendak mencari warung lain, tapi kupilih berjalan-jalan saja. Aku berjalan menuju mercusuar yang nampak tidak terawat, lalu mendekati perahu-perahu yang menyala kelap-kelip aneka warna. Mungkin ada orang yang bisa kuajak bicara.

Ombak berdebur di bawah kakiku, bersahut guntur di laut lepas. Aku berjalan pelahan, mungkin juga sempoyongan, seolah takut anyam bambu ini terlepas dan aku terjungkal, lalu berjalan lebih yakin meski lebih lamat, menikmati irama ombak. Aku berjalan lurus, kilat semakin lama semakin sering muncul, dan kali ini aku melihat, bagaimana cahayanya mengubah malam menjadi siang, meski hanya beberapa kejap. Aku tersihir dan terus berjalan, sesekali memandangi perahu-perahu yang semakin dekat, aku semakin tercekat. Hatiku gentar. Dari dulu aku selalu takut petir. Dan menyadari diriku sendiri di sana, di atas anyam bambu, di atas ombak dan guntur berganti pecah beradu galak, aku jadi ciut. Aku merasa kecil sekali.

Kilat, yang sedari tadi timbul tenggelam di lurusanku, seolah pengantin menungguku berjalan di altar, kini tak lagi menampakkan siang di tengah malam. Kuhampiri perahu yang tertambat di ujung dermaga, dan ternyata kosong belaka. Tak ada sesiapa disana. Aku mundur. Sempat terpikir untuk meloncat ke laut, atau ke arah mercusuar, tarikan yang hanya diamini detak jantungku. Bunyi guntur menjulur-julur ke telingaku, dan ombak menyentak-nyentak di ujung batu. Aku berjalan mundur, lebih cepat daripada ketika aku datang, dan sesampainya di jalan raya, aku berjalan lamat lagi. Sesekali aku menoleh ke lelampu yang kelap-kelip nun jauh di sana. Adakah nelayan yang menjaring ikan di perahu nun jauh di tengah laut, atau mereka terombang-ambing begitu saja, menari-nari ditabuh gelombang?

Aku tidak tahu. Aku hanya membeli bir, lalu kembali ke kamar untuk menuliskan ini untukmu.

III. Pagi

Pagi. Mungkin subuh, buatmu. Tapi cahaya matari yang berhasil menembus gerombolan awan kelabu itu pasti merupakan pernyataan kedatangan pagi. Nyaris pupus harapku untuk menikmati si merah itu muncul dari kuali di timur, hujan belum juga reda. Rintik-rintik gerimis yang asin, yang asing itu memenuhi inderaku. Derap sepatu serdadu hujan, mengawal awan berarak ke arah barat. Pergilah ke barat jauh dan hujanilah daerah lain, semalam sudah cukup deras kau beterjunan di sini. Waktuku di sini hampir habis, kurang dari tujuh jam aku harus mengosongkan tempat ini, berkemas, dan mungkin berjalan-jalan. Mungkin juga aku akan mencoba menuntaskan tugas di pinggir pantai, kuharap aku masih punya cukup baterai untuk beberapa jam sebelum pulang. 

Ah, ya, pulang. Apa yang akan kukatakan. Kata-kataku akan tersangkut di tenggorokan. Bagaimana menceritakan kepergianku pada orang yang takut disebut tidak normal, pada orang yang jijik pada orang yang tidak normal, pada orang yang tidak mau tahu alasanku? Pikiranku sedang buruk, bahkan terhadapmu. Aku hanya berharap tidak usah banyak ditanyai, karena aku tidak mencuri dari siapapun. Sekali ini ku tak butuh semua “ih” dan “kenapa” itu. Kalian tidak banyak membantu, dan jikapun niat kalian membantu, kalian tidak membantuku samasekali.

Aku sedang berlibur. Inilah waktuku untuk mengambil nafas dan bersenang-senang. Bukannya berpikir buruk tentang kalian, yang tentu saja menyayangiku, dengan cara kalian sendiri.


IV. Pulang

Hujan nampak tidak ingin berhenti. Aku menunggu hingga jam enam, jam tujuh, jam delapan. Tidak. Hujan tidak ingin berhenti. Maka setengah sembilan aku melangkah keluar. Memesan kopi dan segelas air bening. Lalu berjalan-jalan ke dermaga. Hanya satu orang yang mengenaliku, Aa penunggu warung yang dulu ketika kuliah lapangan Proses Penelitian banyak mengobrol denganku. Hanya ia satu-satunya yang masih ingat kalau aku sudah kuliah. Yang lain menyangka aku sudah bekerja atau anak SMA yang dirundung masalah. Sewaktu aku meminta sebotol bir, mereka seolah ingin melihat KTP-ku untuk memastikan aku cukup umur untuk minum alkohol. 

Ketika hujan agak reda, aku mulai tidak tahan. Segera kulangkahkan kaki ke Pantai Barat, persetan dengan hujan, nanti kalau nyebur akhirnya basah juga. Semakin dekat dengan pantai, semakin terlonjak-lonjak jantungku, dan semakin ringan langkahku. Aku menemukan yang kucari, suasana sepi dan melupakan semuanya, melakukan hanya yang menyenangkan hatiku. Melakukan yang seharusnya selalu kulakukan, tanpa rasa bersalah. Kios-kios sepi dan aku melangkah sendiri, kesedihan yang saling sahut satu sama lain di antara kaki kanan dan kiriku, tapi enggan berbagi. Kesedihan yang hanya milikku, kelegaan yang hanya ada dalam nafasku.

Pantai sepi. Seolah mengatakan, hari ini seluruh pantai milikku. Tapi aku tak pernah ingin memiliki semuanya. Jamuan ini terlalu baik, dan aku bukan tamu istimewa. Pantai ini mengosongkan diri untuk kujelajahi, atau tak ingin kudatangi? Ah, Nyai, aku bermaksud baik datang kemari. Kau telah mengizinkan orang membuat rumah dekat dengan kerajaanmu, izinkan aku menitipkan tubuhku pada kuasamu. Bermurah hatilah, rumahkan aku sejenak saja di sini.

Aku berlari. Aku berlari menyongsong riak-riak gelombang yang nampak tenang sehabis badai. Aku larut ke laut, dan sempat tak peduli jika aku hanyut. Aku tidak mau pulang. Tapi Nyai tidak perlu perempuan gunung. Aku dikembalikannya ke tepian. Tak ada gunanya aku di laut, aku bahkan tak mahir berenang. Aroma tubuhku asam gunung, bukan asin lautan. Tempatku bukan di sini, dan karena itulah aku bahagia. Aku bahagia karena berterima di tempat yang asing, dan jika tempat asing memelukku dengan hangat, mengapa aku harus memecah kaca setiap pagi dan tak ingin melihat dunia?

Maka aku menepi. Tubuh butuh kopi, dan aku harus pulang. Kasihan pemilik losmen, kamar yang kusewa harus cepat dikosongkan dan dibersihkan. Rambutku kusut minta dikeramasi, dan hatiku riang, aku ingin kembali pulang.

Pulang memang berat. Bajuku basah dan pikiranku mulai gelisah. Tapi aku bersyukur aku tak punya banyak uang, jadi aku tidak dihadapkan pada pilihan yang terlalu sulit; pulang atau menggelandang. Menjadi gelandang di lapangan sepakbola itu menyenangkan, tapi di jalanan, buat apa. Buat apa coba? Lagipula, aku ingin membawa pulang perasaan senang. Aku ingin kembali selama kakiku riang dan hatiku lapang. Agar bisa disesaki lagi masalah. Aku datang kesini agar pikiranku kosong, dan kelak diisi ulang di rumah. Di sekolah. 

Jadi aku harus segera pulang.

Sampai jumpa di Bandung!

1 comment:

Pecandumalam said...

Hayo, anak SMA nggak boleh ngebir...