Thursday, April 5, 2012

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Itulah sebabnya, surat yang kukirim untukmu semakin pendek dan semakin banal. Aku tidak lagi bisa berpanjang-panjang menceritakan kecemasanku, tidak tentang negara yang semakin memualkan, atau tentang puisi yang berlari, semakin jauh saja dari jangkauku. Barangkali karena beban kuliah, barangkali aku frustrasi karena belum juga menemukan judul skripsi, atau karena aku tak kunjung bisa mengerjakan statistika. Aku merasa kesepian tanpa dihibur banyak kata-kata. Mungkin mereka pergi setelah aku semakin jarang membaca. Padahal malam-malamku masih jahanam senantiasa: tidur yang singkat dan mimpi-mimpi buruk tak henti berkelebat. Tapi aku tak bisa membaca. Setelah lama kutinggal, aku sepertinya harus mengulangi perkenalanku dengan mereka; mengambil jalan memutar, atau mengadakan semacam ritual, semacam ruwatan, entah apa, agar kami kembali bisa menghentikan gencatan senjata, dan aku kembali bertengkar, setidaknya berpikir, bersama mereka.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Kapan terakhir kali aku membaca? Baru kemarin rasanya. Kapan terakhir kali aku utuh membaca? Aku sudah tak ingat. Beberapa minggu kemarin aku membaca buku anak-anak tentang perpustakaan ajaib dan buku surat. Kau tahu, untuk buku semacam itu saja aku memerlukan waktu yang agak panjang, awalnya karena aku merasa penerjemahannya kurang bagus, tapi kurasa, aku hanya banyak berdalih. Bukankah dulu aku bisa menghabiskan buku seperti itu hanya dalam beberapa jam, tidak peduli seburuk apapun kerja penerjemahnya. Mungkin aku terlalu banyak mengeluh, dan buku-buku itu merasa tak nyaman jika dekat denganku. Bayangkan saja, aku sering menunggui perpustakaan, dan aku hanya bisa membaca beberapa halaman saja selama menunggui perpustakaan. Aku merasa miskin akhir-akhir ini. Aku merasa kering. kau bilang aku harus mulai menjaga jarak dengan telepon genggam. Barangkali kau benar, dan untungnya, di kamar baruku, sinyal untuk telepon genggam tidak begitu baik. Aku tidak lagi banyak menoleh pada telepon genggam. Dan kamarku sepi.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Aku mulai lagi membaca, terengah-engah, tapi kupaksa juga. Rasanya nyaris seperti ketika aku ingin shalat lagi: kadang di tengah-tengah aku lupa bacaan, hitungan rakaat, dan rasanya aku malas melakukannya lagi. Tapi akhirnya kuselesaikan juga. kau tahu betul, itulah caraku mengatasi masalah, melaksanakan hidup. Aku akan berlari, menarik diri, untuk kemudian memaksa diri mneghadapinya dengan segenap ketakutan, kecemasan, dan gengsi, lalu menyelesaikan semuanya. Semakin tua, rasanya semakin memakan waktu yang lama, juga energi yang besar. Tapi aku belum punya cara lain. Cara terburuk pun sepertinya lebih baik daripada diam saja. Aku tidak punya banyak kesabaran untuk duduk diam, dan ketika aku mengalami fase dimana aku lebih banyak diam dan menolak dunia, aku yang kerepotan sendiri. Aku hidup dan melawan karena tidak punya pilihan lain, Sayang. Aku tidak punya pilihan lain. maka terpaksa aku bangun dan menghampiri rak buku, memilih satu judul dan mencoba bersetia membaca.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Kau ingat pada surat-surat awalku? Aku menggugatmu, bahkan sebelum kita berpacaran, sedang kita mulai dilanda kasmaran. Aku menggugat pendapatmu, dan menulis sebuah surat panjang yang isinya aku sudah lupa. Aku juga pernah menulis sebuah esai panjang untuk tugas-tugasmu, atau ketika aku berbeda pendapat denganmu tentang satu masalah tertentu. Aku ingat, jika pendapatku berbeda denganmu, aku akan berlari ke rak buku, membaca, lalu menulis, untuk menyerang pendapatmu. Kau akan membalas dengan lisan, membahas tulisanku, dan kita akan baikan. Aku rindu menulis surat-surat semacam itu. Tapi kau sedang begitu sibuk, sedang aku begitu manja. Aku sudah merasa terlalu nyaman menulis untukmu, dan ketika kau sedang tidak bisa diganggu, aku jadi malas dan taklagi menulis. Terlalu banyak dalih, Sayang. Terlalu banyak dalih. Dan aku mulai lelah membiakkan mereka....

Monday, April 2, 2012

Kembali membaca.

"Seorang lelaki menulis puisi kepada angin. Angin berlari, dan puisi itu tersangkut pada rambut panjang seorang perempuan yang sedang termangu di jendela. Perempuan itu memegang secangkir teh tawar, direguk sesekali, lalu kembali menatap awan. Lama disana. Hingga tehnya habis dan ia hanya menatap langit. Awan sudah pergi. Bulan dan bintang tak kelihatan. Hanya ada sebentang gelap dan sepi. Dan perempuan lelah sendiri.

Ia berdiri, lalu menuju cermin, meraih sisir. Pelahan ia sisiri rambut panjangnya, dan puisi-puisi lelaki tadi berlepasan, kembali pada angin yang menyambut dari luar jendela, menerbangkan puisi itu ke langit, ke sungai, ke laut, ke segala tempat yang jauh, hingga akhirnya jatuh sebagai hujan ke pelipis lelaki, yang masih menulis puisi tentang seorang perempuan berambut panjang yang termangu di jendela..."

***

Aku tahu, Ishtar, aku tak mahir berpuisi, apalagi bercerita. Meskipun aku seringkali mengisahkan banyak hal ketika kita bersama. Kurasa, umur yang panjang kadang-kadang memberimu kelebihan: aku punya waktu lebih panjang waktu yang telah kuhabiskan, karena itu aku pernah mengalami lebih banyak dan pergi ke banyak tempat, bertemu sebanyak mungkin orang, dan dari situ lahirlah cerita-cerita, yang kerap kukisahkan padamu.

Sebagian ceritaku mungkin membuatmu bosan, sebagian kau tanggapi lain dari maksud penceritaanku, sebagian lagi berhasil menarik minatmu. Bagaimanapun, kau selalu punya sudut pandang yang menarik, Ishtar, dan karena itu aku senang bercerita padamu. Tentu, aku lebih senang lagi ketika kau yang bercerita padaku, tentang apa saja, meski aku selalu cemas kalau kau menemukan hal yang membuatmu sedih, lalu kau ceritakan padaku, dan kau nampak semakin sedih. Tapi tanpa cerita apapun, aku tetap senang menghabiskan waktuku berdua denganmu, karena kelak selalu ada cerita dari kebersamaan kita.

Ishtar, aku tahu akhir-akhir ini ada yang belum kau ceritakan. tentang lelaki-lelaki yang mengunjungi mimpimu. Lelaki-lelaki yang bercerita padamu. Lelaki-lelaki yang menarik perhatianmu, menarik cerita-cerita darimu. Seperti biasa, aku tidak punya hak untuk cemburu, apalagi saat kita berdua, kau hadir utuh untukku. Aku percaya padamu. Pada ceritamu, bahkan pada yang tidak kau ceritakan.

Tapi kali ini aku rindu pada ceritamu. Pada puisi-puisi yang kau tulis untukku, tentang mereka. Kali ini aku akan membacanya tanpa melarikan diri darimu. Nanti, saat kita bersitangkap dalam dekap, bacakanlah untukku puisi-puisi itu. Puisi yang telah kau tulis tentang mereka. Puisi-puisi yang lahir dari tanganmu yang gemetar, dari batinmu yang gelisah. Aku ingin membacanya. Aku ingin membacanya.


JIbril


Lelaki itu datang padaku di suatu senja, menyalakan pemantik saat aku ingin merokok. Hujan deras di luar, dan kopiku masih penuh. Aku menawarinya kopi, dan ternyata, dia telah memesan sendiri. Dia bertanya padaku, apakah boleh dia pindah dan duduk di sampingku. Aku mengiyakan tanpa mengangkat wajah dari layar, dan dia hampir duduk di sampingku, tapi kemudian berubah pikiran dan menarik kursinya, agak jauh dariku.

Aku sedang menulis. Sesekali kuangkat wajahku dan menghembuskan asap rokok, berharap asap itu terbang jauh bersama tenggat. Aku sudah mulai kehabisan uang, dan harus mengirim tulisan sebelum tenggat tiba, supaya aku bisa mencari uang pekerjaan lepasan, menerjemahkan jurnal untuk mahasiswa, misalnya. Pikiranku benar-benar sedang sibuk sendiri, hingga lupa, ada seorang asing duduk tak jauh dariku, dan aku masih membutuhkannya; aku lupa bawa pemantik.

Aku melirik ke arahnya sekilas. Wajahnya asing. Dia sedang mereguk kopinya, dan asyik dengan telepon genggam. Aku tak merasa perlu bertanya padanya. Tidak merasa perlu tahu namanya, asalnya, atau apapun. Agak aneh rasanya, karena aku tidak suka ada orang asing di dekatku. Apalagi jika sedang menulis. Tapi kali ini aku tidak peduli. Lagipula, dia tidak menggangguku. Tidak mengajak ngobrol, atau bertanya apa-apa.

Tulisanku nyaris rampung. Kopi sudah tandas entah sejak kapan, dan lelaki itu masih duduk di sana. Kini melamun. Sejak kapan ia melamun? Aku tak memerhatikan. Karena interaksi kami terbatas hanya ketika ia menyalakan pemantik untuk rokokku. Dan memang aku tidak mengangkat mukaku dari layar. Kulirik agak lama. Telepon genggam ia simpan di sebelah bungkus rokok yang hanya berisi dua batang rokok lagi. Tiba-tiba aku ingin bertanya padanya, tapi kuurungkan. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Maka aku kembali menulis, dan menulis. Hanya tinggal paragraf terakhir. Setelah ini, aku akan bertanya dan berterimakasih, karena telah menyalakan pemantik untukku.
Tulisanku sudah rampung, dan saat aku hendak membuka mulutku untuk berkata, dia sudah lebih dulu menoleh dan bertanya, “Sudah selesai?” Aku mengangguk. “Terimakasih.” Ucapku. “Saya yang harus berterimakasih, Nona. Senang bisa ditemani senja ini.” “Maaf, tadi saya sedang bekerja, ada tenggat yang mesti saya penuhi.” “Tidak apa-apa, Nona.” “Oh, ya, panggil saja saya Ishtar.” “Dan saya Jibril.”

 ***