Monday, April 2, 2012

JIbril


Lelaki itu datang padaku di suatu senja, menyalakan pemantik saat aku ingin merokok. Hujan deras di luar, dan kopiku masih penuh. Aku menawarinya kopi, dan ternyata, dia telah memesan sendiri. Dia bertanya padaku, apakah boleh dia pindah dan duduk di sampingku. Aku mengiyakan tanpa mengangkat wajah dari layar, dan dia hampir duduk di sampingku, tapi kemudian berubah pikiran dan menarik kursinya, agak jauh dariku.

Aku sedang menulis. Sesekali kuangkat wajahku dan menghembuskan asap rokok, berharap asap itu terbang jauh bersama tenggat. Aku sudah mulai kehabisan uang, dan harus mengirim tulisan sebelum tenggat tiba, supaya aku bisa mencari uang pekerjaan lepasan, menerjemahkan jurnal untuk mahasiswa, misalnya. Pikiranku benar-benar sedang sibuk sendiri, hingga lupa, ada seorang asing duduk tak jauh dariku, dan aku masih membutuhkannya; aku lupa bawa pemantik.

Aku melirik ke arahnya sekilas. Wajahnya asing. Dia sedang mereguk kopinya, dan asyik dengan telepon genggam. Aku tak merasa perlu bertanya padanya. Tidak merasa perlu tahu namanya, asalnya, atau apapun. Agak aneh rasanya, karena aku tidak suka ada orang asing di dekatku. Apalagi jika sedang menulis. Tapi kali ini aku tidak peduli. Lagipula, dia tidak menggangguku. Tidak mengajak ngobrol, atau bertanya apa-apa.

Tulisanku nyaris rampung. Kopi sudah tandas entah sejak kapan, dan lelaki itu masih duduk di sana. Kini melamun. Sejak kapan ia melamun? Aku tak memerhatikan. Karena interaksi kami terbatas hanya ketika ia menyalakan pemantik untuk rokokku. Dan memang aku tidak mengangkat mukaku dari layar. Kulirik agak lama. Telepon genggam ia simpan di sebelah bungkus rokok yang hanya berisi dua batang rokok lagi. Tiba-tiba aku ingin bertanya padanya, tapi kuurungkan. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Maka aku kembali menulis, dan menulis. Hanya tinggal paragraf terakhir. Setelah ini, aku akan bertanya dan berterimakasih, karena telah menyalakan pemantik untukku.
Tulisanku sudah rampung, dan saat aku hendak membuka mulutku untuk berkata, dia sudah lebih dulu menoleh dan bertanya, “Sudah selesai?” Aku mengangguk. “Terimakasih.” Ucapku. “Saya yang harus berterimakasih, Nona. Senang bisa ditemani senja ini.” “Maaf, tadi saya sedang bekerja, ada tenggat yang mesti saya penuhi.” “Tidak apa-apa, Nona.” “Oh, ya, panggil saja saya Ishtar.” “Dan saya Jibril.”

 ***

No comments: