Monday, April 2, 2012

Kembali membaca.

"Seorang lelaki menulis puisi kepada angin. Angin berlari, dan puisi itu tersangkut pada rambut panjang seorang perempuan yang sedang termangu di jendela. Perempuan itu memegang secangkir teh tawar, direguk sesekali, lalu kembali menatap awan. Lama disana. Hingga tehnya habis dan ia hanya menatap langit. Awan sudah pergi. Bulan dan bintang tak kelihatan. Hanya ada sebentang gelap dan sepi. Dan perempuan lelah sendiri.

Ia berdiri, lalu menuju cermin, meraih sisir. Pelahan ia sisiri rambut panjangnya, dan puisi-puisi lelaki tadi berlepasan, kembali pada angin yang menyambut dari luar jendela, menerbangkan puisi itu ke langit, ke sungai, ke laut, ke segala tempat yang jauh, hingga akhirnya jatuh sebagai hujan ke pelipis lelaki, yang masih menulis puisi tentang seorang perempuan berambut panjang yang termangu di jendela..."

***

Aku tahu, Ishtar, aku tak mahir berpuisi, apalagi bercerita. Meskipun aku seringkali mengisahkan banyak hal ketika kita bersama. Kurasa, umur yang panjang kadang-kadang memberimu kelebihan: aku punya waktu lebih panjang waktu yang telah kuhabiskan, karena itu aku pernah mengalami lebih banyak dan pergi ke banyak tempat, bertemu sebanyak mungkin orang, dan dari situ lahirlah cerita-cerita, yang kerap kukisahkan padamu.

Sebagian ceritaku mungkin membuatmu bosan, sebagian kau tanggapi lain dari maksud penceritaanku, sebagian lagi berhasil menarik minatmu. Bagaimanapun, kau selalu punya sudut pandang yang menarik, Ishtar, dan karena itu aku senang bercerita padamu. Tentu, aku lebih senang lagi ketika kau yang bercerita padaku, tentang apa saja, meski aku selalu cemas kalau kau menemukan hal yang membuatmu sedih, lalu kau ceritakan padaku, dan kau nampak semakin sedih. Tapi tanpa cerita apapun, aku tetap senang menghabiskan waktuku berdua denganmu, karena kelak selalu ada cerita dari kebersamaan kita.

Ishtar, aku tahu akhir-akhir ini ada yang belum kau ceritakan. tentang lelaki-lelaki yang mengunjungi mimpimu. Lelaki-lelaki yang bercerita padamu. Lelaki-lelaki yang menarik perhatianmu, menarik cerita-cerita darimu. Seperti biasa, aku tidak punya hak untuk cemburu, apalagi saat kita berdua, kau hadir utuh untukku. Aku percaya padamu. Pada ceritamu, bahkan pada yang tidak kau ceritakan.

Tapi kali ini aku rindu pada ceritamu. Pada puisi-puisi yang kau tulis untukku, tentang mereka. Kali ini aku akan membacanya tanpa melarikan diri darimu. Nanti, saat kita bersitangkap dalam dekap, bacakanlah untukku puisi-puisi itu. Puisi yang telah kau tulis tentang mereka. Puisi-puisi yang lahir dari tanganmu yang gemetar, dari batinmu yang gelisah. Aku ingin membacanya. Aku ingin membacanya.


No comments: