Wednesday, May 23, 2012

Setrika

pakaian Tuan telah saya setrika. jika esok tiba dan Tuan telah rapi, bersiap pergi, ketahuilah, Nyonya telah menyiapkan setrika itu, untuk melicinkan punggung saya, karena saya tidak mahir membungkuk dan tundukkan pandangan.

atau barangkali, Nyonya berpikir setrika itu dapat merapikan nafsu Tuan pada saya, tapi Nyonya tidak tahu tentang itu, dan juga tak perlu tahu.

***

Gadis itu berjalan jauh, menyusuri mimpinya, doa orangtua dan bujukan tetangga. Ia tiba di negeri asing, lama menetap tapi tak kunjung lancar mengucap kata-kata dalam bahasa yang tidak ia pahami. Huruf-huruf kemudian kikis; ia belajar bahasa lain sebagai pelayan rumah majikan: Mandi air panas sedari pagi, hentak bentakan yang tak berujung, setrika di punggung, hingga menjadi pakaian Tuan di malam-malam sepi.

Orangtua dan tetangga sudah lama tidak dapat dihubungi lewat percakapan biasa. Hanya paket kiriman dan alih tabungan, sampai akhirnya semua menemu henti, mereka kebingungan ketika potret si Gadis tersebar di harian nasional: mengabarkan kepulangan yang tertunda, dalam sepeti kekalahan dan kesedihan yang dipaksa redam.



---

tadi waktu nyetrika, perempuan di kepala saya lebih lancar bercerita. barangkali saya perlu menyetrika kepala saya juga.