Saturday, October 13, 2012

Si Pengungsi Mazen Maarouf


Namanya Mazen Maarouf. Dia adalah penyair keturunan Palestina, dari salahsatu keluarga pengungsi Palestina 1948 yang lahir dan tumbuh di Lebanon. Lahir pada tahun 1978 di kamp pengungsi, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya pada universitas Beirut dan menyandang sarjana Kimia. Empat tahun lalu, ia memulai karir di dunia jurnalistik dengan menjadi sebagai kritikus seni dan teater. Lebih lengkap mengenai biografinya, dapat ditengok disini:


Oke. Saya memang  agak malas menulis ulang biografinya. Mari kita bicarakan hal lain saja. Saya jatuh cinta pada Mazen pada tayangan Poets of Protest bagian ke-5, yang dapat disimak disini:


dan mulai iseng-iseng menerjemahkan apa yang dia sampaikan di film itu, plus beberapa puisinya yang saya tweetkan beberapa minggu lalu. Tak ada niat yang lebih serius, tapi, sejak saya berutang pada Dobby dan dia meminta saya posting di blog, saya akhirnya merasa perlu untuk menulis ulang tweet itu ke dalam satu catatan. Sudah dapat ditebak dari pembukanya yang bertele-tele bahwa saya kesulitan untuk mengawali tulisan ini dan bahwa tulisan ini akan panjang sekali. So here it is.

“It is the mission of how to reconstruct the dirt, this is poetry, maybe to make a rose out of dust.”
Begitulah Mazen berkata pada Roxana Vilk, pembuat film dokumenternya. Film dibuka dengan adegan ia berjalan pada suatu jalan di Reykjavik, Islandia, tempat yang, tak pernah ia bayangkan, tempat ia tinggal kini, dalam rangka writer residency. Ia memperkenalkan diri sebagai seorang Palestin yang seumur hidup tinggal di Beirut dan sekarang, karena alasan (puitis dan) politis, tinggal di Islandia. Ia memasukkan tangannya ke dalam salju dan tersenyum, lalu berkata, “Sungguh ajaib jika kita membayangkan bahwa ini semua adalah bekuan air. Ini adalah sebuah danau, dan disini, kita semua dapat menjadi Kristus karena kita semua dapat berjalan di atas air... yang membeku.”

Sambil berjalan ia berkata, “Menulis puisi adalah perjalanan tanpa arah yang pasti. Yang kubutuhkan sebagai bekal adalah buku catatan. Buku catatan ini adalah tas yang kosong. Dan ketika aku berjalan, aku mengisinya. Terkadang aku tak menulis apa-apa. Sampai dua-tiga bulan, tak juga tulis apapun. Ini kerap membuatku gelisah."

Mengenai tempat tinggal barunya, Mazen bilang, “Datang ke negeri yang damai, tak ada tentara, tak ada senjata, adalah pengalaman yang membingungkan untuk orang yang tumbuh di Arab.” Sebagai keturunan pengungsi Palestin tahun 1948, ia tahu betul bahwa keluarganya mengungsi karena alasan politis. Kini, di Islandia, sebagian alasannya kemari juga karena alasan politis. “Beirut selalu mendatangkan perasaan aneh padaku. Ia adalah kotaku, tapi di sisi lain, ia juga selalu menentangku.”

Di tengah film, ia terbang ke Paris, untuk puisinya yang sedang diterjemahkan di sana. Pada tahun 2002, di Lebanon, dalam puisinya yang berjudul D. N. A, ia menulis tentang Paris, tanah yang belum pernah ia pijak kala itu, tempat yang ia impikan, sebagai tempat untuk berlari, tempat terakhir untuk mendapat hormat. Suatu tempat yang jauh, nun di garis batas cakrawala, dan kini, ia di sana, untuk menerbitkan bukunya.

Di Prancis, orang-orang yang lewat banyak yang mengira ia orang Prancis, dan ia berucap, jika saja orang tahu ia seorang Palestin, orang-orang akan berpikir, “Ah, ia seorang pengungsi,” dan orang-orang akan iba, akan ingin memeluknya dan berkata-kata manis penuh simpati, siap mencurahkan airmata. Pada orang-orang seperti itu ia akan berkata, “Berhentilah. Palestina tak butuh iba. Palestina butuh pikiran jernih. Kami perlu memikirkan masalah kami, kami tak butuh airmata. Tentu akan ada tangis untuk korban. Kamipun menangis untuk hal-hal buruk. Tapi kami tak perlu berselimut duka.”

Ada gembira dan gugup menghadapi puisi-puisinya yang akan diterjemahkan. Bagaimana si terjemahan kelak dapat memantulkan apa yang ia maksudkan, dan bagaimana orang akan berinteraksi dengan teksnya. Mazen, saya juga jadi gugup menerjemahkanmu. Buku puisinya yang ketiga ini: An Angel Suspended on a Clothesline telah terbit di Beirut. Buku itu terbit setelah ia di Islandia, dan ia cukup bahagia, bahwa suaranya tetap berada disana.

“Kondisi Palestina cukup buruk. Kami berucap tak akan kasar terhadap yang lain, tapi dalam hati, tak banyak yang berubah. Ada kebencian, ada semacam sektarianisme yang ekstrim. Sektarianisme politis, bukan agama. Ketika aku datang ke sana, seseorang mengikutiku, mengawasiku. Mereka tak percaya pada siapapun.”

Ketika Arab Spring dimulai, ia terlibat dalam gerakan, dan hasilnya, ia menerima banyak ancaman. “Revolusi pecah di Syria maret 2011. Aku mendukung gerakan itu dengan menulis artikel dan puisi: mendukung revolusi, sekaligus mengkritik rezim. Kau tak bisa mendukung rezim yang membunuhi rakyatnya dengan cara yang begini brutal. Tentu saja ada yang tak senang, dan kau pasti bisa menduga: aku berada di posisi rawan. Ada bedanya antara menjadi orang Lebanon dan Palestin. Kalau kau orang Lebanon, kau boleh mengkritisi rezim di Syria. Seorang Palestin sepertiku, menulis dan mengkritisi rezim, akan mengganggu banyak pihak, karena bagaimanapun, Syria menyeru ‘Bebaskan Palestin’. Rezim berlindung di balik slogan dan seruan itu. Situasinya menjadi amat rumit, hingga aku terpaksa meninggalkan Lebanon dan pergi ke Islandia. Di Lebanon, aku seorang pengungsi. Di Islandia, keungsiannya lebih tebal lagi. Bertumpuk, dan menambah kepekaan dan semangat untuk menulis puisi.”

“Ketika kutulis puisi, aku menyelami Mazen Maarouf lama, ke dalam ceruk-ceruk kenangannya. Dalam puisi-puisi baruku, aku ingin kembali pada diriku. Bukan pada kehidupanku sehari-hari. Tapi pada konsekuensi-konsekuensi dari kehidupan sehari-hari. Aku menulis untuk mencari kepuasan, karena aku tak puas pada dunia. Kupikir puisi membuat ketidakpuasan kita berkurang. Arab tak banyak berubah sejak abad ke-18. Karena itu kamusnya sudah usang. Kita perlu segera merebutnya. Merombaknya. Memperluasnya.”

Di ujung film, ia berjalan-jalan di kota Paris, mengutarakan niatnya untuk menulis salahsatu puisinya di tembok dengan sebatang kapur. Ia mencari tembok yang cocok untuk dicoreti, dan dapat memuat tulisannya meski hanya sehari saja, sebelum dihapus oleh entah siapa.

 “Aku suka pohonan. Untukku, pohon adalah lampu lalu lintas untuk burung-burung. Hanya burung-burung yang mengerti isyaratnya. Karena itulah burung-burung hinggap dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Mengikuti jejak burung, aku akan berjalan searah dengan pohonan.”

Sayang, pohon habis di suatu perempatan, dan tembok yang ia cari belum ketemu. Maka ia bilang, “Sekarang pakai cara Arab saja, lah. Tanya orang lewat.” Beruntung, dua orang lewat yang ia tanya memberinya satu tempat bagus: Passe Muraille Square di Montmartre. Sebuah tempat bagus buat menulis puisi di tembok. Kalau saja di Indonesia ada tembok begitu. Tapi kalaupun ada, tulisan tangan saya buruk, jadi, tetap saya tak akan bisa corat-coret di tembok juga akhirnya. Puisi yang ia tulis di tembok itu berjudul Handmade.

Dan kini waktunya menerjemahkan puisinya. Beberapa puisinya saya dapat film dokumenter, lalu cek blognya:


Saya tak mampu berbahasa Arab, karena itu, saya terjemahkan dari versi Bahasa Inggrisnya saja.


DNA
There’s one way
to scream..
remember that you are Palestinian.
One way to scrutinize your face
in a bus window as date trees and porters flicker past
and break your reflection.
One way
to reach the ozone layer
lightly, like a helium balloon
or to cry
because you’re a bastard.
One way
to place your hands over the breasts of the one you love
and dream
of faraway things:
a small flat in a suburb of Paris, the Louvre,
loads and loads
of loneliness and books.
One way to die:
inciting the snipers
in the early hours of the morning.
To call your cheating girl
a whore.
To smoke weed in a lift,
alone, at eleven o’clock at night;
to write a miserable poem in the bathroom.
One way
to scream in the gutter
where your face waves again
in a toxic puddle
where you remember, in one way,
you are definitely nothing
but
Palestinian.


DNA
Ada satu jalan
untuk teriak...
ingat kau seorang Palestin.
Ada satu cara
‘tuk amati lekat-lekat wajahmu
dalam kaca jendela
saat bus yang melaju
cepat, lewati portir dan pohonan
memecah bayangmu
Ada satu cara
untuk raih lapisan ozon
ringan, seperti balon helium
atau berseru
karena kau anak asu.
Ada satu cara
‘tuk letakkan tanganmu diatas dada kekasihmu
dan mengimpi hal-hal yang jauh: flat kecil di pinggiran Paris, Louvre.
disana ada banyak, banyak sekali
buku-buku dan sepi.
Ada satu cara untuk mati
menghasut para penembak jitu
kala subuh mulai jatuh.
Untuk menyebut kekasihmu yang curang
Si Jalang.
Menghisap ganja dalam lift,
sendiri, tepat pukul sebelas malam;
menulis puisi buruk di kamar mandi.
Ada satu cara
untukmu berteriak dalam parit
tempat parasmu muncul kembali
dari lumpur bertuba
disana, segera ingatan tiba,
apalah kau
kalau bukan
seorang Palestin.



Space

Space
filled with big rocks
like the Moon,
cannot accommodate
the appeal of the lottery vendor
or absorb
the death of a friend.
It does not open
for children who play football
until the end of the day..
but remains
that outer space
the vendor sighs in the face of..
and we see in it
the visage
of a dead friend.
The outer space
that turns its biggest rock
into a ball
kicked hard
by the children
at the end of the day. 


Ruang
Di ruang
penuh batu
sebesar bulan
tak dapat tampung penjaja lotere
atau menyerap
matinya seorang kawan.
ruang itu tak terbuka
untuk anak-anak
bermain bola hingga petang
tapi teronggok di sana
ruang di luar
Si penjaja mendesah pada seraut wajah...
dan kita lihat di dalamnya
raut muka
mati seorang kawan.
Ruang di luar
yang mengubah
batu terbesarnya
menjadi sebuah bola
keras ditendang anak-anak
pada petang.



My Mother’s Hand
My mother's hand is rougher
than the handle of a stripped door.
with it, I lift the first gift I won in a raffle.
with it, I buy an eraser to remove her face.
My mother's face I erase it all
keeping the wrinkles in there facing me,
like the web of a blind spider.


Tangan Ibuku
Tangan ibuku lebih kasar
dari gagang pintu tak bersepuh.
darinya, kuangkat hadiah pertama dari sebuah undian.
darinya, kubeli penghapus untuk memupus parasnya.
Parasnya, kuhapus tak bersisa
jauhkan mataku dari kerutan-kerutan,
yang bagaikan jejaring laba-laba buta. 



Handmade
I have a simple dream
to make another planet
that can house all my enemies
I proceed into it before them
and live there temporarily.
we nibble its delicious pieces
when we are hungry
the last bite of it
the last bite only
deserves
a fight.


Buatan Tangan
Aku punya mimpi sederhana
membuat sebuah planet
yang dapat merumahkan semua musuhku
Aku datang ke sana sebelum mereka
dan tinggal untuk sementara.
kami menggigiti bagian-bagiannya yang enak
di waktu lapar
pada gigitan terakhir
hanya pada catukan terakhir
layak dapatkan
sebuah perlawanan.



 Stray Bullet
After crossing the living room,
the library,
the long hallway
and the picture that holds us on a trip to the River Alkalb,
then passing the automatic washing machine,
and my mother, exhausted
despite the automatic washing machine,
it bends its trajectory with the force of gravity,
finally rests at the back of my head
and
kills you.


Peluru Nyasar
Setelah melewati ruang keluarga,
perpustakaan,
koridor panjang,
dan foto ketika kita berekreasi ke Sungai Alkalb,
lalui mesin cuci otomatis,
ibuku, kelelahan,
meskipun ada mesin cuci otomatis,
ia belokkan lintasannya dibantu gravitasi,
tiba di belakang kepalaku,
dan
membunuhmu.