Sunday, December 22, 2013

Halo-halo Soekarno

Konon, di banyak tempat, para penonton menurut pada anjuran awal film yang mempersilakan para hadirin menyanyi Indonesia Raya sambil berdiri. Tapi saya tidak mengalaminya. Ingin sebenarnya berdiri dan menyanyi, bukan karena kualitas vokal saya baik dan saya ingin pamer, tapi saya menyukai lagu itu. Saya menghapalnya, sebagaimana saya hapal Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, meskipun saya samasekali tidak menyukai upacara bendera.

Film ini mengisahkan Soekarno dari lahir hingga proklamasi. Gampangnya sih begitu. Film bergenre biografi (yang bagus) yang saya tonton terakhir adalah Lincoln (Daniel Day Lewis pantas disembah untuk aktingnya yang sempurna), dan sempat berharap akan sebagus itu, tapi, ya, sudahlah. Sebelum menonton Lincoln yang serius, saya menonton Lincoln versi ngehe, di mana dia digambarkan sebagai pemburu vampir. Saya sempat berpikir, lucu juga, nih, kalau Indonesia bikin film tokoh dengan versi seperti ini, kebetulan genre biografi sedang banyak dibikin dan genre horor, well, jaman kapan sebenarnya genre ini tidak dibuat? Tapi setelah drama Rachma dan membaca beberapa review yang menyerang film ini, saya tahu, bahwa Soekarno versi pemburu hantu adalah sesuatu yang agak mustahil naik layar di Indonesia.

Secara keseluruhan, film ini cukup mengesankan bagi saya. Ia memberi konteks yang manusiawi. Rangkaian peristiwa dan tokoh-tokoh di dalamnya dapat saya kagumi tapi juga saya kenali karena memiliki keraguan, kebimbangan, dan keputusan-keputusan yang tidak selamanya baik dan benar. Saya menyukai akting Maudy, dialah yang menurut saya memberi daging dan darah pada film ini. Ario Bayu sebagai Soekarno juga lumayan, lah, saya merasakan kesedihannya saat ditinggal Inggit, meskipun wajahnya saat adegan Romusha kurang depresif (keseluruhan adegan itu kurang emosional buat saya). Adegan Soekarno dan Hatta dalam mobil barangkali fiktif, tapi saya yakin seratus persen, bahwa mereka memang pernah membayangkan dengan keraguan bagaimana mereka akan memimpin negara ini. Justru karena pernah ragu, mereka kemudian berusaha sebaik-baiknya.

Soekarno adalah womanizer. Ada banyak bukti tentang itu. Dia juga memilih berkolaborasi dengan Jepang. Jika boleh memilih, tentu saya akan memilih Hatta dalam urusan perempuan dan Sjahrir dalam perkara menghadapi Jepang. Tapi Soekarno adalah Soekarno: yang pertimbangan kolaborasi dengan Jepangnya didukung Inggit, yang kemudian meninggalkan Inggit karena ingin punya keturunan, yang saat sudah tua masih saja memacari remaja. Saya agak geli ketika membaca beberapa review film ini dan memprotes penggambaran Soekarno sebagai womanizer. Apalagi yang menulis rata-rata laki-laki. 

Memangnya kenapa kalau Soekarno mata keranjang? Hanung dan timnya sudah bermurah hati hanya mengangkat kisah Soekarno dengan tiga perempuan dan semua dengan konteks yang jelas dalam cerita. Mien dipilih untuk menjadi salahsatu latar Soekarno merasakan langsung pedihnya kolonialisasi. Tapi apakah Soekarno melawan Belanda hanya karena ditolak oleh ayah pujaan hatinya? Saya tidak akan gegabah menyimpulkan itu, karena beririsan dengan adegan-adegan cinta monyet itu adalah cerita ia dengan HOS Tjokroaminoto dan tokoh-tokoh lain yang pada saat itu melawan Belanda. Buat saya, nampak sekali ia kagum pada Tjokro, dan latihan pidato di kamarnya pun agaknya meniru Tjokro. Dan bukankah ia juga mengamini Tjokro yang mengatakan padanya bahwa seorang pemimpin harus bisa menggenggam hati rakyatnya?

Untuk Inggit, Hanung dan timnya bahkan tidak membahas masa Soekarno sebelum menikah dengan Inggit. Bisa dibayangkan sengitnya orang-orang, adegan Soekarno mendekati Fatmawati saja sudah dihebohkan, apalagi kalau ditunjukkan Soekarno mencumbu Inggit, dia masih muda, Inggit adalah ibu kosnya, dan juga istri orang. Saya justru menyukai gambaran Soekarno-Inggit dalam film ini: Soekarno yang berjuang dan dicintai rakyat, Inggit yang cari uang dan membiayai perjuangan: menyuap sipir untuk ketemu di penjara (sayang, tidak ada adegan penyelundupan buku), juga memberi uang untuk orang-orang memperjuangkan Soekarno dibebaskan. Saya sempat menebak-nebak, karena ada adegan sebar pamflet, uang itu untuk bikin pamflet. Cinta rakyat pada pahlawan memang gratis, tapi kertas, tinta, dan lem tetap harus dibeli. Pada pembuangannya di Bengkulu, Soekarno bahkan menyiratkan bahwa dia adalah suami takut istri. Setidaknya, dia tidak menyangkal tudingan Hatta dan Sjahrir, malah nyepik: dalam beberapa hal dia memang suka dikuasai. 

Pada Fatmawati, Soekarno nampak tertarik padanya karena di kelas, Fatmawati menunjukkan kecerdasannya, bukan karena Fatmawati semata-mata muda, cantik, dan semok. Saat Soekarno genit di pantai pun mereka sedang membicarakan buku. Memang disayangkan, setelah mereka saling cinta, Fatmawati nampak tidak punya peran apa-apa selain memberi Soekarno anak dan menjahit bendera. Tapi memang selain itu, apa lagi jasanya. Fatma masuk ke dalam rumah tangga Soekarno saat Soekarno boleh dibilang mapan: punya rumah yang enak, tidak dipenjara apalagi dibuang, pergi kemana-mana pakai mobil. Mungkin karena inilah Fatma menjadi istri Soekarno yang paling sering "dimunculkan" pada jaman Orde Baru: cocok dengan harapan Tien bahwa ibu negara adalah "ibu-ibu": punya anak dan menjahit bendera, bukan perempuan yang mengorganisasi gerakan, intel Jepang, remaja bau kencur, atau pencari nafkah. Makanya saya agak menyesalkan kenapa yang disorot adalah ketika Fatma menjahit bendera, menggelar bendera itu di meja, bukannya apa arti bendera itu buat Fatma, dan kenapa ia ingin menjahit bendera.

Selain dengan Inggit, saya paling suka adegan Soekarno dengan perempuan adalah penggambaran hubungan dia dengan para pelacur. Di film ini, para pelacur adalah pahlawan juga: pada satu titik mereka punya nasionalisme karena mengagumi Soekarno dan mau berkorban melayani tentara Jepang agar gadis-gadis bisa berhenti diculik untuk dipakai sebagai pemuas nafsu. Tentu, kita semua tahu bahwa usaha ini tidak seluruhnya berhasil, Jepang tetap saja menculiki gadis-gadis dan merusak hidup mereka, tapi para pelacur ini layak diberi penghormatan. Dari beberapa review yang menyatakan Soekarno maniak seks, saya heran tidak ada yang membahas adegan dia menolak seorang pelacur yang bersedia melakukan apa saja untuk Soekarno. Jika dia memang demikian maniak seks, harusnya ada adegan dia dihibur oleh banyak pelacur. Makanya saya bilang, beberapa review yang bilang Soekarno maniak seks itu menggelikan.

Mengapa banyak sekali lelaki yang rewel soal kegenitan Soekarno? Saya melihat orang-orang ingin sekali menyamakan Soekarno dengan Nabi Muhammad: yang punya banyak istri namun melampaui urusan seksualitas. Tapi tentu saja Soekarno bukan nabi, yang mengawini janda karena alasan kemanusiaan dan mengawini anak gadis sahabat dekatnya untuk memperkokoh kedudukan politik. Soekarno sering kawin karena memang dia memenuhi berahinya. Apakah itu perbuatan yang salah? Mungkin ya. Saya tidak menganjurkan kawin terus dan mengejar-ngejar berahi. Tapi apakah menampilkan sisi itu sebuah kesalahan? Kecuali jika mengada-ada, bahwa sebenarnya Soekarno adalah lelaki yang alim dan menjauhi keduniawian tapi digambarkan genit, tentu tidak ada salahnya. Saya tetap salut pada kecerdasan dan perjuangannya meskipun sebal pada sikap genitnya. Ataukah tidak boleh seorang tokoh besar ditampilkan kekerdilannya? Atau, para laki-laki yang bawel ini sebenarnya sedang sibuk dengan asumsinya sendiri tentang kegenitan? Saya tidak tahu. 

Di luar ribetnya urusan penggambaran perempuan, saya malah tidak sreg dengan tidak adanya keterangan bagaimana dia membangun partai: bagaimana dia bergerak dan membangun konsolidasi, bagaimana dia bisa akrab dengan Hatta, seolah-olah seluruh dunia sudah tahu mereka bersahabat dan tidak lagi diperlukan latar untuk itu. Ya, ya,, durasi. Tapi setidaknya boleh, lah, diberi keterangan tertulis, seperti penggalan-penggalan lain yang tidak ada adegannya. Adegan paling menyebalkan buat saya malah adegan sidang perumusan Pancasila. Di sana cuma ada heboh-heboh tidak jelas dari golongan Islam tentang syariat Islam, seolah-olah orang-orang dari pergerakan Islam bukan intelektual yang punya argumen jelas atas kemauannya. Takutnya, adegan ini dipakai sama PKS dan FPI untuk melegitimasi kelakuan mereka yang suka heboh gak jelas dalam ngotot-ngototan membela aturan berbasis Syariah. 

Ngomong-ngomong, sebagai sesama pemuja Gajah Mada, kenapa Yamin gak nongol di film ini, yah? Durasi? Tan Malaka juga tidak ada. Mungkin harus dibikin film tersendiri. Maksud saya Tan Malaka, yah, buka Yamin :P

Tuesday, November 19, 2013

Mengenai Jilbab HItam

Ketika ada ramai-ramai soal Jilbab Hitam, saya sebenarnya tidak begitu kaget. Rasanya sudah tidak asing ada satu akun menulis sesuatu yang dianggap rahasia lalu semua orang heboh karenanya. Sempat kaget karena sekarang yang dibidiknya adalah media massa besar. Beberapa orang mulai bergunjing tentang siapa sebenarnya Jilbab Hitam, maunya apa, dan segera terjadi perdebatan panjang, bertele-tele, dan membosankan tentang anonimitas.

"Kalau berani, jangan bersembunyi di balik akun palsu." "Menyamar itu pengecut." Lalu, di seberangnya, ada juga yang bersorak sorai bergembira dan sibuk meledek, "Media juga kan suka pakai sumber anonim. Ini mah karma." Entah kenapa, orang-orang sepertinya begitu terobsesi kepada moral dan klenik, sehingga yang keluar adalah tuduhan semacam pengecut dan karma. Saya juga memikirkan tentang moral, tentu, dalam persoalan ini, tapi tidak seperti yang dipikirkan orang lain. 

Persoalan moral mengenai akun-akun anonim ini buat saya adalah betapa sering akun-akun semacam ini menggunakan nama samaran yang feminin, atau memakai foto-foto perempuan. Saya menganggap praktek ini seksis bukan kepalang, apalagi bagi akun-akun yang menggunakan foto perempuan seksi. Mengapa harus menggunakan nama yang terdengar perempuan dan atau foto perempuan dalam menyebarkan hal-hal semacam ini? Saya perhatikan sekarang (setelah adminnya ketahuan) Triomacan menggunakan foto Soekarno. Dulu kenapa dia harus memasang foto perempuan, dan bersikap seolah-olah dia perempuan? Cari perhatian? Jadi kalian pikir kalau kalian memajang diri sebagai perempuan, kalian akan lebih cepat populer? Jadi kalian pikir perempuan akan mendapat perhatian lebih semata karena pertama dan terutama dia seorang perempuan? Dan jika memang yang kalian bicarakan itu penting, maka kalian pikir akan terasa lebih istimewa jika kalian dianggap sebagai perempuan? Jika yang kalian sebarkan adalah fitnah, apakah kalian melakukannya dengan pikiran (sadar atau tidak) bahwa fitnah identik dengan perempuan? Kurang ajar sekali. Iya, saya tahu itu strategi penjualan. Dan sepertinya berhasil. Tetap saja, kalian menyebalkan. Oh, dan yang mengolok-olok mereka dengan membikin lelucon tentang hal-hal feminin yang melekat pada identitas palsu itu juga sama saja seksisnya. Sama saja menyebalkannya.

Hal yang lebih mengkhawatirkan buat saya adalah bagaimana kita menyikapi anonimitas. Dalam pemberitaan, setahu saya, tentu boleh menggunakan sumber anonim, tapi kan ada metodologi tertentu. Sama dengan penelitian ilmu sosial, saya kira. Ketika jurnalis atau peneliti berada di lapangan dan meneliti masalah yang sensitif, ada semacam kewajiban untuk memberitahu informan resiko informasi itu untuknya, jika dia sendiri belum mengetahui. Dan kita harus bisa menjamin kerahasiaannya apabila informasi yang dia berikan memiliki resiko besar dan mengancam keselamatan informan tersebut. Bagaimana menguji validitas data yang kita dapatkan? Tentu saja kita harus cross-check data tersebut. Bisa dengan triangulasi, bisa dengan sumber tertulis, bisa dengan hasil observasi kita sendiri. Urusannya metodologis, lah. Saya pikir media massa besar sudah paham betul perkara ini. Jadi saya ketawa saja, pas orang-orang menganggap masalah anonimitas Jilbab Hitam ini sebagai karma. Tapi saya juga menyayangkan orang-orang media yang mengata-ngatai "penyamaran" sebagai sesuatu yang kecut dan penuh takut. Dalam Twitter yang cuma terbatas 140 karakter, mudah sekali memang terperosok untuk mengata-ngatai orang, terlambat menjelaskan dan berujung pada penalaran aneh seperti "karma" di kalangan luas. 

Saya sempat menunggu pembicaraan mengenai anonimitas ini berlanjut ke topik yang lebih serius, dan konon telah diadakan diskusi yang menarik mengenai ini, ya. Syukurlah. Bagaimanapun terasa bebasnya kita berpendapat dibanding jaman Soeharto, kita tidak bisa lupa bahwa ada orang yang masuk bui gara-gara status facebook, BBM, twitter, email, dan lain sebagainya. Dan hukumannya cukup berat. Agak geli-geli ngeri saya membayangkan seseorang harus dibui karena membuat status facebook yang mneyatakan tentang keyakinannya pada atheisme, misalnya. Saya takut kita mengikuti jejak Amerika, yang kini sedang parah-parahnya memenjarakan non-violent offenders. Dalam situasi tidak menguntungkan seperti ini, di mana masih bertebaran pasal-pasal karet, saya pikir adalah wajar menggunakan anonimitas untuk melindungi kebebasan berpendapat kita. Ini bukan soal pengecut atau tidak, tapi ternyata, suka atau tidak, masih ada resiko tertentu dalam mengemukakan pendapat. Jika ada dari kita yang merasa perlu mengemukakan pendapat dengan menggunakan akun anonim, maka kita belum sepenuhnya merdeka. Negara mestinya memberikan jaminan hukum seluas-luasnya dalam kebebasan berpendapat (termasuk bebas dari ancaman kelompok lain ketika mengemukakan pendapat), tapi dalam proses menuju ke sana, saya pikir kebebasan untuk menggunakan akun anonim mesti dipertimbangkan dengan lebih bijak. 

Tentu saja, masalahnya lain lagi apabila yang kita bunyikan adalah fitnah. Kalau kita memiliki data-data yang berpihak pada kebenaran versi kita, pengadilan mungkin bisa menjadi gelanggang yang cocok untuk meneruskan sengketa ini. Yah, mau diselesaikan secara kekeluargaan juga tidak apa-apa. Wajar. Kita kan menganut extended-family.



Udah, ah. Keburu ngantuk. Besok sekolah. Oiya, konon Jilbab Hitam skripsinya tentang Tan Malaka, yah? boleh, kali, lempar file-nya ke email. Lumayan kalo tulisannya bagus. :P

Wednesday, January 16, 2013

Surat untuk Tuan Penyair

Akhir-akhir ini, saya sedang tidak bisa menulis puisi. Memang sebagian besar karena pusing memikirkan judul skripsi, tapi selain itu, ada juga alasan lain. Alasan yang barangkali seperti mengada-ada, tapi demi apapun yang bisa dipercaya dalam pertaruhan sumpah, benar adanya.

Saya sedang malas menjadi penyair. Dulu, saya begitu bersemangat menjadi penyair, dan tidak bisa talak dengan puisi. Sekarang pun masih mencintai puisi, masih berusaha (dan tidak juga berhasil) menulis puisi, tapi, saya malas menghadiri pertemuan penyair. Bukan tidak mau bersilaturahmi, senang sekali rasanya bertemu penyair yang tadinya hanya bisa dikenal lewat karyanya, berdiskusi, membicarakan masa depan puisi. Hanya saja, pada pertemuan-pertemuan seperti itu, kerapkali ada semacam unwanted attention.

Unwanted attention macam apa? Kalau hanya kata-kata, tentu gampang, tinggal dibalas dengan kata-kata lagi. Syukur-syukur bisa bikin puisi. Tapi lebih dari itu saya merasa risih. Saya teringat dulu seorang penyair (no, bukan penyair ini yang memberi saya unwanted attention) pernah berpesan, “Nanti kalau sudah menikah, jangan sampai berhenti menulis puisi.” Saya menyanggupinya. Memangnya seburuk apa pernikahan, sampai-sampai menceraikan seorang penyair dari puisi. (yang mau curhat, silakan hubungi inbox) it’s the unwanted attention that makes me sick. Lebih terganggu lagi ketika mengetahui ada banyak penyair perempuan yang mendapat unwanted attention.

Come on, men. Dunia kepenyairan barangkali memang penuh dengan laki-laki. Dan selalu saja terdengar keluhan kurangnya penyair perempuan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tapi ketika (calon) penyair perempuan datang, kenapa kami disambut dengan banyak unwanted attention? Oke, akan ada suara yang bilang bahwa “Apaan, sih, perempuannya juga mau, kok.” Are you sure? Reaaally sure? Bukan cuma kalian aja yang ke-GR-an gitu? Oh, well, kalau memang benar, selamat. Tapi kalau salah, shit, men, kalian berpotensi kehilangan penyair perempuan, atau jikapun tidak kehilangan, kalian memperkokoh patriarki. Oh, yeah, you’re becomming part of the tyranny. Take that spotlight and goodbye.

And I’m not writing this based on some hearsays. Nope. Saya lelah dan merasa di-bully dengan perhatian-perhatian yang tidak tertuju pada tulisan saya. Dan saya lelah mendengar hal-hal ini terjadi pada penyair perempuan lain. Kalaupun memang puisi saya demikian jelek, kan tinggal bilang, “Males, ah, ngomongin puisi kamu, abis puisi kamu jelek. Yuk, kita ngomongin kamu aja.” There, gitu aja kok repot? Kalo dibilang begitu, saya kan tinggal pergi dan nulis sendiri, edit tulisan sendiri.

Saya juga cape mendengar nasihat dari beberapa kawan penyair laki-laki dan perempuan: “Ya gitu, che, memang banyak penyair yang genit, kamu hati-hati aja.” Uwooow, kenapa saya (dan penyair perempuan muda lain) yang harus berhati-hati? Mengapa tidak mereka saja yang menjaga sikap mereka? Atau lebih jauh: mengapa tidak ada nasihat pada penyair muda laki-laki untuk kelak tidak bersikap seperti senior mereka yang tidak patut dicontoh itu? Ada apa dengan dunia sastra ini hingga perlakuan-perlakuan menyebalkan seperti ini berlangsung berabad-abad?

Let me tell you this, peeps. Satu: tidak adalah tidak, berhenti adalah berhenti. Sebagai penyair, kalian tentu lebih tahu, lebih dapat peka, lebih sensitif merasa penolakan paling tidak kentara sekalipun. Kalau kalian tidak tahu, wah, kasihan sekali. Bagaimana bisa merasakan penderitaan orang antah berantah dan menulis puisi yang baik jika ditolak perempuan di depan mata saja tidak merasa?

Dua. Jika perempuan itu sudah menolak, dan kalian sebenarnya tahu, tapi memilih pura-pura tidak mau tahu dan memanfaatkan kondisi kalian yang lebih superior (entah itu fisik, mental, intelektual maupun status), you’re a fucking bully. Penyair memang istimewa, tapi dalam posisi seperti itu, tidak ada bedanya dengan preman, dengan diktator, dengan manusia menyebalkan dan mengerikan lainnya.

Tiga. Jika memang alasan kalian melakukan hal seperti ini untuk mendapat thrill agar bisa menulis lagi, for fuck’s sake, read a book. Get a life. Kalau hidup kalian membosankan dan enggan membaca, pergilah cari penghiburan yang tidak merugikan orang lain. Kalau masih juga tidak bisa, umm, gantung pena mungkin?
Empat. Jangan karena penyair perempuan tidak ada yang protes terbuka kalian merasa aman. Kalau ini berjalan terus, i’ll find a way to put you behind bars, if i have to. Or you want me to tell your wives?

Udah segitu aja. Terserah mau ditanggepin apa. Dan untuk orang-orang yang merasa tulisan ini untuk mereka, saya akan mengutip Ucok Homicide: “Lebok, tah, anjing.”

Selamat Tahun Baru, panjang umur Puisi.
Kecup jauh dan salam jari tengah,



Pradewi Tri Chatami, mantan calon penyair.

p. s. i mean it. i reaaally mean it.