Wednesday, January 16, 2013

Surat untuk Tuan Penyair

Akhir-akhir ini, saya sedang tidak bisa menulis puisi. Memang sebagian besar karena pusing memikirkan judul skripsi, tapi selain itu, ada juga alasan lain. Alasan yang barangkali seperti mengada-ada, tapi demi apapun yang bisa dipercaya dalam pertaruhan sumpah, benar adanya.

Saya sedang malas menjadi penyair. Dulu, saya begitu bersemangat menjadi penyair, dan tidak bisa talak dengan puisi. Sekarang pun masih mencintai puisi, masih berusaha (dan tidak juga berhasil) menulis puisi, tapi, saya malas menghadiri pertemuan penyair. Bukan tidak mau bersilaturahmi, senang sekali rasanya bertemu penyair yang tadinya hanya bisa dikenal lewat karyanya, berdiskusi, membicarakan masa depan puisi. Hanya saja, pada pertemuan-pertemuan seperti itu, kerapkali ada semacam unwanted attention.

Unwanted attention macam apa? Kalau hanya kata-kata, tentu gampang, tinggal dibalas dengan kata-kata lagi. Syukur-syukur bisa bikin puisi. Tapi lebih dari itu saya merasa risih. Saya teringat dulu seorang penyair (no, bukan penyair ini yang memberi saya unwanted attention) pernah berpesan, “Nanti kalau sudah menikah, jangan sampai berhenti menulis puisi.” Saya menyanggupinya. Memangnya seburuk apa pernikahan, sampai-sampai menceraikan seorang penyair dari puisi. (yang mau curhat, silakan hubungi inbox) it’s the unwanted attention that makes me sick. Lebih terganggu lagi ketika mengetahui ada banyak penyair perempuan yang mendapat unwanted attention.

Come on, men. Dunia kepenyairan barangkali memang penuh dengan laki-laki. Dan selalu saja terdengar keluhan kurangnya penyair perempuan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tapi ketika (calon) penyair perempuan datang, kenapa kami disambut dengan banyak unwanted attention? Oke, akan ada suara yang bilang bahwa “Apaan, sih, perempuannya juga mau, kok.” Are you sure? Reaaally sure? Bukan cuma kalian aja yang ke-GR-an gitu? Oh, well, kalau memang benar, selamat. Tapi kalau salah, shit, men, kalian berpotensi kehilangan penyair perempuan, atau jikapun tidak kehilangan, kalian memperkokoh patriarki. Oh, yeah, you’re becomming part of the tyranny. Take that spotlight and goodbye.

And I’m not writing this based on some hearsays. Nope. Saya lelah dan merasa di-bully dengan perhatian-perhatian yang tidak tertuju pada tulisan saya. Dan saya lelah mendengar hal-hal ini terjadi pada penyair perempuan lain. Kalaupun memang puisi saya demikian jelek, kan tinggal bilang, “Males, ah, ngomongin puisi kamu, abis puisi kamu jelek. Yuk, kita ngomongin kamu aja.” There, gitu aja kok repot? Kalo dibilang begitu, saya kan tinggal pergi dan nulis sendiri, edit tulisan sendiri.

Saya juga cape mendengar nasihat dari beberapa kawan penyair laki-laki dan perempuan: “Ya gitu, che, memang banyak penyair yang genit, kamu hati-hati aja.” Uwooow, kenapa saya (dan penyair perempuan muda lain) yang harus berhati-hati? Mengapa tidak mereka saja yang menjaga sikap mereka? Atau lebih jauh: mengapa tidak ada nasihat pada penyair muda laki-laki untuk kelak tidak bersikap seperti senior mereka yang tidak patut dicontoh itu? Ada apa dengan dunia sastra ini hingga perlakuan-perlakuan menyebalkan seperti ini berlangsung berabad-abad?

Let me tell you this, peeps. Satu: tidak adalah tidak, berhenti adalah berhenti. Sebagai penyair, kalian tentu lebih tahu, lebih dapat peka, lebih sensitif merasa penolakan paling tidak kentara sekalipun. Kalau kalian tidak tahu, wah, kasihan sekali. Bagaimana bisa merasakan penderitaan orang antah berantah dan menulis puisi yang baik jika ditolak perempuan di depan mata saja tidak merasa?

Dua. Jika perempuan itu sudah menolak, dan kalian sebenarnya tahu, tapi memilih pura-pura tidak mau tahu dan memanfaatkan kondisi kalian yang lebih superior (entah itu fisik, mental, intelektual maupun status), you’re a fucking bully. Penyair memang istimewa, tapi dalam posisi seperti itu, tidak ada bedanya dengan preman, dengan diktator, dengan manusia menyebalkan dan mengerikan lainnya.

Tiga. Jika memang alasan kalian melakukan hal seperti ini untuk mendapat thrill agar bisa menulis lagi, for fuck’s sake, read a book. Get a life. Kalau hidup kalian membosankan dan enggan membaca, pergilah cari penghiburan yang tidak merugikan orang lain. Kalau masih juga tidak bisa, umm, gantung pena mungkin?
Empat. Jangan karena penyair perempuan tidak ada yang protes terbuka kalian merasa aman. Kalau ini berjalan terus, i’ll find a way to put you behind bars, if i have to. Or you want me to tell your wives?

Udah segitu aja. Terserah mau ditanggepin apa. Dan untuk orang-orang yang merasa tulisan ini untuk mereka, saya akan mengutip Ucok Homicide: “Lebok, tah, anjing.”

Selamat Tahun Baru, panjang umur Puisi.
Kecup jauh dan salam jari tengah,



Pradewi Tri Chatami, mantan calon penyair.

p. s. i mean it. i reaaally mean it.

15 comments:

Bernando J. Sujibto said...

akhirnya aku bisa baca tulisanmu ini.... selamat sore penyair

Bahrul Ulum A. Malik said...

hae, salam hormatku. saya suka dengan tulisan ini, "menantang"

eRniTa GaYaTRi said...

satu kata untuk tulisan ini: SALUT!!! *cheers* :)

Rosena Nmotise said...

salam #mawarnakal ;)

wit jati said...

wahhh... yang ke empat itu kok seakan semua perempuan penyair mengalamai hal yang sama ya... pdahal mungkin hanya sebagian kecil yang mengalami seperti itu.. dan penyair perempuan yang mengalami itu mungkin kebetulan berada di tempat yang salah..

iburumahan said...

Kebanyakan org mengaku/merasa sbg penyair padahal cuma bisa jd penyihir...komat kamit memperdaya ppuan

iburumahan said...

Kebanyakan org mengaku/merasa sbg penyair padahal cuma bisa jd penyihir...komat kamit memperdaya ppuan

Yusuf Anas said...

phewww....
what a relieve to read this...
thaks a lot!

Ekohm Abiyasa said...

Salam

Pradewi Tri Chatami said...

makasih semuanya :)

Choi Roniday said...

Wow gaya penulisan keren abis and menantang. Mantab mantab mbk pradewi

Anonymous said...

for fuck’s sake ....

Anonymous said...

good job

Anonymous said...

kabayang euy... hayang maehan lalaki kitu.... @wit jati kalau sexual harrassment bersifat kultural di organisasi atau komunitas penyair, wartawan, aktivist, politisi.... ya hampir semua ken donk kecuali nenek-nenek kali.... itu sebabnya komunitas yang maskulin begitu sulit ditembus perempuan... makanya susaah nambah anggota perempuan...

Andu Syahda said...

Sitok Srengenge?