Tuesday, November 19, 2013

Mengenai Jilbab HItam

Ketika ada ramai-ramai soal Jilbab Hitam, saya sebenarnya tidak begitu kaget. Rasanya sudah tidak asing ada satu akun menulis sesuatu yang dianggap rahasia lalu semua orang heboh karenanya. Sempat kaget karena sekarang yang dibidiknya adalah media massa besar. Beberapa orang mulai bergunjing tentang siapa sebenarnya Jilbab Hitam, maunya apa, dan segera terjadi perdebatan panjang, bertele-tele, dan membosankan tentang anonimitas.

"Kalau berani, jangan bersembunyi di balik akun palsu." "Menyamar itu pengecut." Lalu, di seberangnya, ada juga yang bersorak sorai bergembira dan sibuk meledek, "Media juga kan suka pakai sumber anonim. Ini mah karma." Entah kenapa, orang-orang sepertinya begitu terobsesi kepada moral dan klenik, sehingga yang keluar adalah tuduhan semacam pengecut dan karma. Saya juga memikirkan tentang moral, tentu, dalam persoalan ini, tapi tidak seperti yang dipikirkan orang lain. 

Persoalan moral mengenai akun-akun anonim ini buat saya adalah betapa sering akun-akun semacam ini menggunakan nama samaran yang feminin, atau memakai foto-foto perempuan. Saya menganggap praktek ini seksis bukan kepalang, apalagi bagi akun-akun yang menggunakan foto perempuan seksi. Mengapa harus menggunakan nama yang terdengar perempuan dan atau foto perempuan dalam menyebarkan hal-hal semacam ini? Saya perhatikan sekarang (setelah adminnya ketahuan) Triomacan menggunakan foto Soekarno. Dulu kenapa dia harus memasang foto perempuan, dan bersikap seolah-olah dia perempuan? Cari perhatian? Jadi kalian pikir kalau kalian memajang diri sebagai perempuan, kalian akan lebih cepat populer? Jadi kalian pikir perempuan akan mendapat perhatian lebih semata karena pertama dan terutama dia seorang perempuan? Dan jika memang yang kalian bicarakan itu penting, maka kalian pikir akan terasa lebih istimewa jika kalian dianggap sebagai perempuan? Jika yang kalian sebarkan adalah fitnah, apakah kalian melakukannya dengan pikiran (sadar atau tidak) bahwa fitnah identik dengan perempuan? Kurang ajar sekali. Iya, saya tahu itu strategi penjualan. Dan sepertinya berhasil. Tetap saja, kalian menyebalkan. Oh, dan yang mengolok-olok mereka dengan membikin lelucon tentang hal-hal feminin yang melekat pada identitas palsu itu juga sama saja seksisnya. Sama saja menyebalkannya.

Hal yang lebih mengkhawatirkan buat saya adalah bagaimana kita menyikapi anonimitas. Dalam pemberitaan, setahu saya, tentu boleh menggunakan sumber anonim, tapi kan ada metodologi tertentu. Sama dengan penelitian ilmu sosial, saya kira. Ketika jurnalis atau peneliti berada di lapangan dan meneliti masalah yang sensitif, ada semacam kewajiban untuk memberitahu informan resiko informasi itu untuknya, jika dia sendiri belum mengetahui. Dan kita harus bisa menjamin kerahasiaannya apabila informasi yang dia berikan memiliki resiko besar dan mengancam keselamatan informan tersebut. Bagaimana menguji validitas data yang kita dapatkan? Tentu saja kita harus cross-check data tersebut. Bisa dengan triangulasi, bisa dengan sumber tertulis, bisa dengan hasil observasi kita sendiri. Urusannya metodologis, lah. Saya pikir media massa besar sudah paham betul perkara ini. Jadi saya ketawa saja, pas orang-orang menganggap masalah anonimitas Jilbab Hitam ini sebagai karma. Tapi saya juga menyayangkan orang-orang media yang mengata-ngatai "penyamaran" sebagai sesuatu yang kecut dan penuh takut. Dalam Twitter yang cuma terbatas 140 karakter, mudah sekali memang terperosok untuk mengata-ngatai orang, terlambat menjelaskan dan berujung pada penalaran aneh seperti "karma" di kalangan luas. 

Saya sempat menunggu pembicaraan mengenai anonimitas ini berlanjut ke topik yang lebih serius, dan konon telah diadakan diskusi yang menarik mengenai ini, ya. Syukurlah. Bagaimanapun terasa bebasnya kita berpendapat dibanding jaman Soeharto, kita tidak bisa lupa bahwa ada orang yang masuk bui gara-gara status facebook, BBM, twitter, email, dan lain sebagainya. Dan hukumannya cukup berat. Agak geli-geli ngeri saya membayangkan seseorang harus dibui karena membuat status facebook yang mneyatakan tentang keyakinannya pada atheisme, misalnya. Saya takut kita mengikuti jejak Amerika, yang kini sedang parah-parahnya memenjarakan non-violent offenders. Dalam situasi tidak menguntungkan seperti ini, di mana masih bertebaran pasal-pasal karet, saya pikir adalah wajar menggunakan anonimitas untuk melindungi kebebasan berpendapat kita. Ini bukan soal pengecut atau tidak, tapi ternyata, suka atau tidak, masih ada resiko tertentu dalam mengemukakan pendapat. Jika ada dari kita yang merasa perlu mengemukakan pendapat dengan menggunakan akun anonim, maka kita belum sepenuhnya merdeka. Negara mestinya memberikan jaminan hukum seluas-luasnya dalam kebebasan berpendapat (termasuk bebas dari ancaman kelompok lain ketika mengemukakan pendapat), tapi dalam proses menuju ke sana, saya pikir kebebasan untuk menggunakan akun anonim mesti dipertimbangkan dengan lebih bijak. 

Tentu saja, masalahnya lain lagi apabila yang kita bunyikan adalah fitnah. Kalau kita memiliki data-data yang berpihak pada kebenaran versi kita, pengadilan mungkin bisa menjadi gelanggang yang cocok untuk meneruskan sengketa ini. Yah, mau diselesaikan secara kekeluargaan juga tidak apa-apa. Wajar. Kita kan menganut extended-family.



Udah, ah. Keburu ngantuk. Besok sekolah. Oiya, konon Jilbab Hitam skripsinya tentang Tan Malaka, yah? boleh, kali, lempar file-nya ke email. Lumayan kalo tulisannya bagus. :P

No comments: